Pembalasan Item Surgawi
"Sampah tidak berguna." Itulah julukan bagi Tian Feng. Di saat murid lain bertaruh nyawa demi setetes energi kultivasi, Feng justru memilih tidur malas sebagai pelayan di Paviliun Pengobatan.
Namun, dunia tidak tahu bahwa Feng menyembunyikan rahasia besar: Ia adalah keturunan terakhir Aliran Tao Terlarang yang diburu seluruh dunia.
Dengan bantuan Perkamen Alkimia Arus Balik, Feng mengambil jalan pintas mematikan. Ia bisa menjadi kuat dalam semalam tanpa latihan! Tapi, surga tidak memberi cuma-cuma. Setiap kekuatan instan menciptakan Hutang Karma—sebuah "penagihan" nyawa yang datang dalam bentuk petir bencana dan musuh-musuh haus darah.
Demi menyembunyikan identitasnya, Feng rela difitnah sebagai "Kelinci Percobaan Medis" yang sekarat. Namun, saat segel giok di dadanya retak dan para Tetua mulai mengincarnya, si pemalas ini terpaksa bangun.
Satu pil untuk menghancurkan pedang jenius. Satu teknik untuk membungkam langit.
Mampukah Tian Feng melunasi hutang karmanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raden Saleh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SABOTASE ALKIMIA
Lorong Paviliun Pengobatan yang remang-remang masih berbau asap kimia sisa ledakan kecil yang diciptakan Feng. Tiga pembunuh bayaran Klan Lu tergeletak tak berdaya, paru-paru mereka lumpuh sementara oleh campuran bubuk saraf buatan Feng.
Xuelan menatap punggung Feng yang kurus. Di garis waktu sebelumnya, ia melihat Feng sebagai pahlawan yang bercahaya keemasan dengan sayap takdir. Namun sekarang, melihat Feng kembali dalam raga pelayan medis yang ringkih namun memiliki ketenangan seorang dewa, hatinya berdenyut nyeri.
"Feng, bahumu..." Xuelan mendekat, jemarinya yang gemetar menyentuh luka goresan ungu di bahu Feng. "Racun Lipan Hitam. Ini adalah racun khusus koleksi pribadi Tetua Lu. Jika kau tidak segera mengeluarkannya, meridianmu akan hancur dalam satu jam."
Feng menoleh perlahan. Ia bisa melihat kecemasan yang mendalam di mata Xuelan—sebuah tatapan yang tidak pernah ia dapatkan di awal garis waktu sebelumnya. Ia merasakan kehangatan yang asing menjalar di dadanya, sesuatu yang lebih kuat daripada energi Chi mana pun.
"Jangan khawatir, Xuelan," bisik Feng. Ia memegang tangan Xuelan yang berada di bahunya. Sentuhan itu membuat keduanya tersentak; ada aliran listrik statis yang melompat di antara mereka, sisa-sisa ikatan karma dari masa depan yang mencoba menyatu kembali. "Aku sudah terbiasa menjadi tempat pembuangan racun di tempat ini. Justru racun inilah yang akan menjadi katalis untuk memicu pemecahan segel giokku."
“Cukup adegan mesranya, Tuan Muda,” suara Yue Er menyela di dalam kepala Feng, nadanya ketus dan dingin. “Gadis teratai itu mungkin mengingat segalanya, tapi dia tetaplah 'beban' jika kau tidak bisa berdiri tegak. Cepat masuk ke laboratorium Guru Lin. Aku merasakan aura Tetua Lu sedang menuju ke sini dengan pasukan yang lebih besar.”
Feng melepaskan tangan Xuelan dengan lembut. "Ayo. Kita tidak punya waktu."
Mereka berlari menuju Aula Alkimia Utama di ujung koridor. Di sana, Guru Lin sedang berdiri di depan kuali perunggu raksasa, tampak bingung menatap tumpukan bahan obat yang berantakan. Wajahnya yang tua tampak lebih lelah, namun matanya masih memancarkan kebaikan yang tulus—sosok ayah yang belum tahu bahwa muridnya baru saja kembali dari kematian.
"Feng? Nona Xuelan? Apa yang kalian lakukan di sini sepagi ini?" Guru Lin mengerutkan kening. "Dan kenapa ada bau belerang di jubahmu, Feng?"
"Guru, tidak ada waktu untuk menjelaskan," Feng melangkah maju, langsung menuju rak penyimpanan bahan-bahan terlarang di belakang kuali. "Tetua Lu telah mengkhianati sekte. Dia mengirim pembunuh untuk menghabisiku. Saya butuh Batu Guntur dan Esensi Api Tanah sekarang juga."
Guru Lin tertegun. "Apa yang kau bicarakan, Nak? Tetua Lu adalah pilar sekte. Dan bahan-bahan itu... itu adalah bahan peledak tingkat tinggi! Kau bisa menghancurkan paviliun ini!"
Xuelan melangkah maju, berdiri di samping Feng. "Guru Lin, percayalah padanya. Apa yang dia katakan adalah kebenaran. Puncak Awan Putih sedang dalam bahaya besar, dan hanya Feng yang bisa menghentikannya."
Melihat ekspresi serius di wajah murid jenius seperti Xuelan, keraguan Guru Lin mulai goyah. Namun, sebelum ia sempat menjawab, pintu aula alkimia meledak hancur.
BRAKK!
Tetua Lu masuk dengan jubah merah kebesarannya yang berkibar. Di tangannya, ia memegang Jam Pasir Pembalik Takdir yang masih berpendar biru redup. Di belakangnya, selusin pengawal elit Klan Lu mengepung ruangan.
"Lin, minggir!" raung Tetua Lu. Matanya merah, penuh dengan kegilaan seorang pria yang hampir kehilangan segalanya. "Serahkan anak itu padaku sekarang, atau aku akan membakar seluruh Paviliun Pengobatan bersama isinya!"
Guru Lin terkejut, ia segera merentangkan tangannya di depan Feng. "Tetua Lu! Apa maksudnya ini? Feng hanyalah pelayan medis—"
"Dia bukan pelayan medis!" potong Tetua Lu. "Dia adalah iblis yang akan menghancurkan masa depan klan-ku! Aku telah melihatnya! Aku telah melihat kehancuran yang dia bawa!"
Feng melangkah keluar dari balik punggung Guru Lin. Ia menatap Tetua Lu dengan seringai malas yang mematikan. "Kau melihat kehancuranmu sendiri, bukan? Kau takut karena kau tahu, di garis waktu mana pun, kau hanyalah batu loncatan bagiku."
"BUNUH DIA!" teriak Tetua Lu.
Para pengawal melesat maju. Guru Lin mencoba merapalkan mantra pertahanan, namun ia ditebas mundur oleh gelombang energi dari jam pasir Tetua Lu.
Xuelan menarik pedangnya, berdiri di depan Feng. "Jangan biarkan mereka mendekat!"
Feng tidak tinggal diam. Ia menyambar sebotol Alkohol Murni dan sekantong Bubuk Mesiu Kasar dari meja laboratorium. Dengan gerakan yang sangat presisi, ia melemparkannya ke dalam kuali alkimia raksasa yang sedang menyala.
"Guru Lin, maafkan saya soal kuali ini!" teriak Feng.
Ia menarik Liontin Giok dari lehernya dan melemparkannya tepat ke tengah kobaran api di dalam kuali yang baru saja ia beri "bahan bakar" tambahan.
BOOM!
Ledakan itu tidak menghancurkan ruangan, namun menciptakan gelombang kejut energi yang sangat murni. Kobaran api di dalam kuali berubah menjadi hijau zamrud. Liontin giok itu pecah di tengah api, melepaskan ribuan tahun energi karma yang terpendam.
Seketika, seluruh aula alkimia tersedot ke dalam pusaran energi.
Feng merentangkan tangannya, membiarkan racun Lipan Hitam di bahunya ditarik masuk ke dalam pusaran tersebut sebagai "umpan".
“Saatnya penagihan, Feng!” Yue Er berteriak.
Cahaya hijau dari kuali itu melesat masuk ke dalam tubuh Feng, memaksa meridiannya yang rusak untuk terbuka secara paksa. Rasa sakitnya luar biasa—seperti seribu pisau yang menguliti tubuhnya dari dalam. Feng memuntahkan darah hitam, namun matanya justru bersinar lebih terang.
Xuelan, yang melihat Feng kesakitan, mencoba mendekat. "Feng!"
Namun, aura yang memancar dari Feng mendorongnya mundur. Tekanan di ruangan itu meningkat hingga lantai marmer mulai retak.
Tetua Lu mencoba menggunakan jam pasirnya untuk memutar balik waktu kembali beberapa menit, namun ia menyadari bahwa energi hijau dari kuali Feng mengunci aliran waktu di ruangan itu.
"Tidak mungkin! Bagaimana kau bisa melawan hukum waktu?!" teriak Tetua Lu panik.
"Karena waktu adalah hutang yang dipinjam dari alam semesta," suara Feng terdengar berat dan bergema, meskipun tubuhnya masih gemetar menahan transformasi. "Dan aku baru saja menyita bunganya."
Feng melangkah keluar dari pusat pusaran energi. Kulitnya yang pucat kini memancarkan cahaya keemasan tipis. Racun di bahunya hilang, digantikan oleh tanda pusaran kecil yang berpendar. Ia belum kembali ke kekuatan penuhnya di masa depan, tapi ia baru saja melompati sepuluh tingkat kultivasi dalam sepuluh detik.
Feng menatap Tetua Lu. Ia mengangkat tangannya, dan tiba-tiba Jam Pasir Pembalik Takdir di tangan Tetua Lu mulai retak.
"Kau meminjam kekuatan yang bukan milikmu, Lu," ucap Feng. "Sekarang, aku menagihnya kembali."
PRANG!
Jam pasir itu hancur berkeping-keping. Energi biru di dalamnya tidak menghilang, melainkan tersedot masuk ke dalam telapak tangan Feng.
Tetua Lu jatuh berlutut, wajahnya menua sepuluh tahun dalam sekejap karena beban karma yang berbalik menghantamnya. Pengawal-pengawalnya yang ketakutan segera melarikan diri, meninggalkan pemimpin mereka yang kini tak berdaya.
Feng berjalan mendekati Tetua Lu yang gemetar. Ia hendak melancarkan serangan terakhir, namun sebuah tangan lembut menahan lengannya.
Xuelan berdiri di sana, napasnya memburu. Matanya penuh dengan emosi yang kompleks. "Feng... jangan. Jika kau membunuhnya sekarang, faksi penegak hukum sekte akan datang mengejarmu sebelum kau siap. Biarkan dia hidup dalam kehinaan, biarkan dia melihat klan-nya runtuh perlahan-lahan... seperti yang kau rencanakan."
Feng menatap Xuelan. Ketegangan di wajahnya perlahan mencair. Sentuhan Xuelan adalah jangkar yang menahannya agar tidak tersesat kembali ke dalam kedinginan otoritas karma.
"Kau benar," Feng menurunkan tangannya. Ia menoleh ke arah Guru Lin yang masih terpana di sudut ruangan. "Guru, sepertinya saya butuh sup yang sangat banyak hari ini."
Guru Lin mengerjapkan mata, menatap kualinya yang hancur, lalu menatap muridnya yang kini tampak seperti sosok asing yang agung. "Feng... apa yang sebenarnya terjadi padamu?"
"Saya hanya baru saja melunasi hutang tidur saya, Guru," jawab Feng dengan senyum malas yang kembali muncul di wajahnya.
Namun, kedamaian itu hanya sesaat.
Tiba-tiba, dari reruntuhan jam pasir di lantai, sebuah asap hitam keluar dan membentuk bayangan Yue Er yang bermanifestasi sebagian. Ia tidak menatap Tetua Lu, melainkan menatap Xuelan dengan tatapan tajam.
"Selamat, Gadis Teratai," bisik Yue Er, suaranya bisa didengar oleh Xuelan. "Kau memenangkan hatinya untuk saat ini. Tapi ingat, setiap detik yang kau habiskan bersamanya adalah detik yang kau curi dari takdirku. Aku akan mengawasi setiap sentuhanmu."
Xuelan tidak mundur. Ia justru menggenggam tangan Feng lebih erat, menatap balik bayangan Yue Er dengan keberanian yang baru. "Aku tidak mencuri apa pun. Aku hanya menjaga apa yang menjadi milikku sejak awal waktu."
Feng merasa berada di tengah-tengah dua badai yang berbeda, namun untuk pertama kalinya, ia tidak merasa mengantuk.
"Yah," gumam Feng sambil menatap langit-langit yang hancur. "Sepertinya 'perang domestik' ini akan jauh lebih sulit daripada melawan seluruh Istana Karma."