NovelToon NovelToon
Mafia Jatuh Cinta Pada Gadis Desa

Mafia Jatuh Cinta Pada Gadis Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Identitas Tersembunyi / Mafia
Popularitas:453
Nilai: 5
Nama Author: indah yuni rahayu

Jovan adalah pewaris mafia paling berbahaya di kota. Luka tembak dan pengkhianatan memaksanya melarikan diri ke sebuah desa terpencil, tempat seorang gadis sederhana bernama Mika menyelamatkan nyawanya.

Dengan identitas palsu sebagai petani buah, Jovan hidup di dunia yang tak pernah ia kenal—tenang, jujur, dan penuh kehangatan.

Di sanalah ia jatuh cinta pada Mika, tanpa ia sadari bahwa cintanya adalah ancaman.

Karena saat masa lalu mengejarnya, Mika bukan hanya gadis desa…dia adalah sandera paling berharga di dunia mafia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Rumah Gadis Desa

Angin dari kebun buah menyejukkan udara hangat yang masih tersisa setelah matahari terbit.

Lampu jalan LED di pinggir jalan desa sudah tidak lagi memancarkan cahaya putih lembut. Rumah Mika sederhana, tapi sudah dilengkapi listrik dan Wi-Fi.

Dari jendela, terlihat layar televisi yang mati, menunggu aliran listrik stabil dari panel surya di atap.

Mika menatap tubuh pria asing yang terluka parah itu, terbaring di depan pintu rumahnya. Darah mengotori pakaian mahalnya, dan napasnya tersengal setiap beberapa detik. Tangannya gemetar saat menarik selimut tipis untuk menutupi noda darah.

“Astaghfirullah… siapa kamu…?” gumamnya pelan, menahan gemetar. Pria itu membuka mata sebentar, lalu menutupnya kembali, napasnya tersendat karena sakit.

Di sudut rumah, ayahnya, Pak Raka, berdiri dengan tangan bersandar pada tongkat. Matanya yang tajam menatap sosok itu. Rambutnya yang mulai memutih. Wajahnya keras, tapi sorot matanya menahan kekhawatiran yang dalam.

“Ayah… dia… dia terluka parah. Kalau tidak ditolong, dia bisa mati,” Mika tergagap, suaranya hampir putus di tengah ketegangan.

Pak Raka menatap tubuh itu lama. “Orang kota… dan tampaknya bukan orang biasa,” gumamnya, matanya menyapu bekas luka tembak yang menganga di bahu, noda darah yang membasahi jas mahal, dan wajah yang menegang karena rasa sakit.

Mika menggenggam tangan ayahnya. “Tapi Ayah… Bukankah Ayah selalu mengajarkanku untuk hidup saling tolong menolong,”

Pak Raka menarik napas panjang, matanya menatap keluar jendela, melihat jalan desa yang sepi, mobil warga yang parkir di tepi, dan lampu jalan yang menyoroti dedaunan. “Kalau kita membiarkannya mati, kita berdosa. Tapi jika membiarkannya masuk rumah… bisa membawa bencana ke desa ini.”

Ia menundukkan kepala sejenak, kemudian kembali menatap putrinya. “Rawat dia. Tapi kita harus berhati-hati. Desa ini kecil, rumor akan menyebar cepat. Tetap waspada.”

Tetangga pertama yang curiga hanya 1 atau 2 orang yang sedang menyiram kebun atau memberi makan ternak, hanya pengamatan secara diam-diam, bukan bisik-bisik ramai melihat Mika menyeret tubuh seseorang masuk ke dalam rumah.

“Siapa itu?” tanya seorang wanita sambil menahan napas, menutupi mulutnya dengan masker kain.

“Jangan-jangan penjahat… atau orang kaya yang melarikan diri?”

Bisik-bisik itu menyebar perlahan, langkah kaki terdengar berhati-hati.

Mata-mata desa memantau dari kejauhan, tapi suasana tetap tenang. Desa ini damai, tapi rasa penasaran warga tetap tinggi.

Sementara itu, ratusan kilometer dari desa, di pusat kota, Levis duduk di ruang kerjanya yang modern. Layar monitor menampilkan rekaman ledakan mobil yang menewaskan Leon. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya—dingin, puas, dan penuh perhitungan.

“Dia dianggap mati… tapi aku tahu di mana dia bersembunyi,” gumam Levis. Ia menekan tombol telepon pintar. “Siapkan semua. Segera kita ambil alih kekuasaan. Desa itu… akan menjadi awal pengawasan kita.”

Tangan Levis menekan meja kaca, wajahnya tegang. “Jovan… sepupuku yang terlalu kuat. Kau akan jatuh perlahan, dan aku akan duduk di puncak sementara dunia mengira kau mati.”

Di rumah Mika, Jovan membuka mata perlahan. Pandangannya kabur, rasa sakit di bahu dan kepalanya membuatnya mengerang. Mika menepuk bahunya, mencoba menenangkan napasnya sendiri yang tercekat.

“Tenang… aku di sini. Tidak apa-apa… semuanya akan baik-baik saja,” kata Mika lembut, mencoba menenangkan pria asing itu.

Jovan menatap sekeliling. Rumah sederhana, lampu LED redup, aroma tanah basah dan buah dari kebun. Dunia yang sama sekali berbeda dari gedung kaca dan darah yang selama ini menjadi rumahnya.

Ia mengerang pelan, mencoba mengingat apa yang terjadi, tapi kepalanya berat, tubuhnya lemah.

Trauma Leon muncul di benaknya, bayangan sahabatnya yang tewas dalam ledakan masih segar, menusuk setiap kenangan yang ia miliki. Jovan menutup mata, menahan gemetar yang tidak hanya berasal dari luka fisik.

Pak Raka menggeser tongkatnya sedikit, matanya menyapu halaman rumah yang mulai terang oleh celah matahari yang masuk lewat jendela.

Suaranya berat, menahan kekhawatiran sekaligus kemarahan yang terselubung. “Kalau berita ini sampai ke telinga orang-orang desa, kita bisa dicurigai. Dan siapa yang tahu, mungkin ada yang ingin memanfaatkan keadaan?”

Mika menunduk. “Aku tahu, Ayah. Tapi… aku tidak bisa membiarkannya mati. Kau tahu, ini… ini soal nyawa manusia. Aku tidak bisa menutup mata.”

Pak Raka menghela napas panjang, menepuk bahu putrinya dengan lembut. “Baiklah, Nak. Rawat dia… tapi tetap waspada. Jangan sampai ada yang masuk atau melihat lebih dekat.”

Di luar rumah, suara hewan malam—kucing, anjing, dan burung hantu—bergema pelan, menambah sunyi yang terasa tegang. Sesekali, suara kendaraan ringan dari jalan desa terdengar, namun tetap jauh.

Jovan membuka matanya lagi, mencoba menelan rasa sakit yang membanjiri tubuhnya. Ia menatap Mika yang sibuk menyiapkan kain bersih dan air hangat. Ada sesuatu dalam sorot matanya yang membuat Jovan terdiam: kepedulian yang tulus, meski gadis itu jelas tidak mengetahui siapa dirinya sebenarnya. Ia menelan ludah, rasanya pahit, sambil mencoba memaksakan senyum tipis.

“Kau… sangat baik,” bisiknya pelan, suaranya serak karena luka dan kelelahan.

Mika tersentak, menatapnya dengan mata terbuka lebar. “Eh… kau bisa bicara?” tanyanya gugup. Hatinya berdebar lebih kencang dari sebelumnya.

“Ya… sedikit,” jawab Jovan pelan, menahan sakit di bahu dan kepalanya. Ia mencoba menggerakkan tangan, tapi nyeri membuatnya menjerit tipis. Mika segera memegangi tangannya.

Pak Raka menatap mereka berdua. Hatinya campur aduk antara kekhawatiran dan lega. “Kau lihat? Dia masih hidup. Tapi kita harus tetap hati-hati… dan tidak boleh memberi tahu orang lain,” ucapnya tegas.

Jovan menutup mata lagi, merasakan tangan Mika yang menempel lembut di bahunya saat membersihkan darah. Untuk pertama kalinya, di tengah luka dan trauma, ia merasakan sesuatu yang asing—ketenangan, bahkan hangatnya sebuah perhatian sederhana.

Tapi di sudut hati, namanya Leon dan pengkhianatan Levis terus berulang, mengingatkannya bahwa kedamaian ini sementara.

“Kau pasti haus… ini, minum sedikit,” ucap Mika, menunduk sambil menyerahkan botol itu.

Jovan menatap botol air itu, lalu menatap Mika. “Kau… sungguh… perhatian,” bisiknya serak, suara masih tergagap karena rasa sakit dan kelelahan.

Mika menatap keranjang buah yang baru ia petik dari kebun pagi itu. Ia menarik napas, sedikit menyesal karena tidak jadi pergi ke pasar seperti biasanya.

“Sepertinya… buah ini harus menunggu… Aku tidak bisa meninggalkanmu sekarang,” gumam Mika lirih, matanya tetap menatap Jovan yang terengah-engah. Ia menaruh keranjang di sudut rumah, di dekat jendela, agar udara pagi tetap menyegarkan buah-buahan itu.

“Apa… namamu?” tanya Jovan pelan, suaranya serak karena rasa sakit.

Mika terkejut sebentar, menatapnya. Ia tersenyum tipis, sedikit malu. “Aku… Mika,” jawabnya lembut. “Mika.”

Jovan mengangguk pelan, seakan ingin mengingat nama itu. “Mika… aku berterima kasih padamu… Mika. Aku… belum pernah ada yang menolongku seperti ini,” katanya, matanya menatap langsung ke wajahnya.

Mika menunduk, pipinya memerah sedikit. “Kau harus tetap hidup… itu saja yang penting sekarang,” gumamnya, suaranya lembut tapi tegas.

“Jovan… namaku Jovan.”

1
Mulaini
Semoga aja Leon masih hidup dan mungkin yang terbakar supirnya.
Mulaini
Siapa laki² yang turun dari mobil hitam apakah salah satu musuh Jovan?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!