"PERINGATAN : Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, atau alur, Adalah Hasil Imajinasi Penulis, Murni Kebetulan Semata. Interpretasi agama dalam cerita ini merupakan bagian dari pengembangan karakter dan tidak dimaksudkan untuk mengubah ajaran atau akidah yang ada." Terimakasih 🙏
Ameera Nafeeza memiliki segalanya yang di ditawarkan dunia. Namun di balik pakaian rancangan desainer dan pesta kaum sosialita, jiwanya terasa hampa.
Hidupnya berubah drastis saat ia menyelamatkan Syifa Azzahra, seorang wanita Muslimah yang taat, dari seorang pencopet jalanan.
Bukannya dompet, Ameera justru memegang sebuah Al-Qur'an bersampul beludru, sebuah pemberian dari Syifa yang menjadi awal dari kebangkitan spiritualnya. Demi mencari ketenangan yang belum pernah ia rasakan, Ameera meninggalkan kehidupan kelas atasnya untuk tinggal di sebuah pesantren yang tenang.
Di sana, ia bertemu dengan Liam Al-Gazhi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Seorang Ayah
Mobil SUV hitam itu membelah jalanan Jakarta yang mulai padat oleh kendaraan yang pulang kantor. Di dalam kabin, suasana terasa kontras dengan kemacetan di luar. Aroma parfum kayu cendana milik Liam bercampur dengan wangi bunga melati dari jilbab Ameera, menciptakan harmoni yang menenangkan.
Liam menyetir dengan satu tangan, sementara tangan kirinya menggenggam erat jemari Ameera yang diletakkan di atas paha. Sesekali, Liam mengangkat tangan istrinya itu dan mengecup punggung tangannya dengan lembut.
"Mas masih tidak menyangka kau nekat ke rumah sakit tadi," ucap Liam sambil terkekeh pelan, melirik Ameera dengan tatapan menggoda. "Istriku yang pendiam di pesantren dulu, ternyata bisa jadi singa betina kalau suaminya diganggu, ya?"
Ameera mencubit lengan Liam pelan, wajahnya merona merah. "Habisnya Mas Liam terlalu baik. Kalau tidak aku beri tanda kepemilikan, mungkin dr. Asena itu sudah merasa punya harapan setinggi langit. Aku hanya ingin memastikan dia tahu jalan pulang."
Liam tertawa lepas, suara tawa yang sangat jarang terdengar oleh siapa pun kecuali Ameera. "Terima kasih sudah menjagaku, Ameera. Tapi kau tahu sendiri, jangankan Jerman, seluruh dunia pun tidak akan bisa mengalihkan pandanganku darimu."
Tiba-tiba, kemacetan di depan mereka berhenti total. Suara klakson bersahutan, dan dari arah trotoar, segerombolan remaja berseragam sekolah berlarian dengan beringas. Mereka membawa penggaris besi, kayu, bahkan ada yang mengayunkan ikat pinggang dengan gir motor di ujungnya. Tawuran pecah tepat beberapa meter di depan mobil mereka.
Ameera tersentak. Ia secara refleks memegang perut buncitnya dan merapat ke arah Liam. Matanya menatap ngeri ke arah seorang remaja yang terjatuh dan nyaris terinjak-injak oleh lawan-lawannya.
"Astagfirullah... Mas, lihat itu," bisik Ameera dengan nada gemetar. "Kenapa mereka begitu benci satu sama lain? Padahal mereka masih sangat muda."
Liam segera mengunci seluruh pintu mobil dan menenangkan Ameera. Ia mengusap bahu istrinya agar tetap tenang. "Jangan dilihat, Sayang. Istighfar."
Setelah beberapa menit yang mencekam, polisi datang dan membubarkan massa. Mobil-mobil kembali bergerak perlahan melewati sisa-sisa batu dan botol pecah di aspal. Namun, raut wajah Ameera tetap muram. Pikirannya melayang jauh ke masa depan.
"Mas..." panggil Ameera lirih. "Tadi hasil USG bilang anak kita laki-laki, kan?"
Liam mengangguk mantap. "Iya, alhamdulillah. Seorang jagoan kecil."
"Aku takut, Mas," suara Ameera parau. "Dunia di luar sana begitu keras. Bagaimana kalau nanti saat dia besar, dia salah pergaulan? Bagaimana kalau dia jadi kasar seperti itu? Aku tidak sanggup kalau harus melihat anakku sendiri terjerumus dalam kehancuran."
Liam menepikan mobilnya sejenak di bahu jalan yang agak sepi. Ia memutar tubuhnya sepenuhnya ke arah Ameera, mengambil kedua tangan istrinya dan menatap mata Ameera dengan sorot mata yang paling menenangkan yang ia miliki.
"Tenang, Sayang. Tarik napas dulu," ucap Liam lembut.
Ia meletakkan tangannya di atas perut Ameera yang buncit, merasakan gerakan halus dari dalam sana. "Anak kita tidak akan tumbuh sendirian. Dia punya ibu yang sudah merasakan pahit manisnya dunia dan memilih kembali ke jalan cahaya. Dia punya ayah yang akan selalu berdiri di depannya untuk memberikan teladan."
Liam menarik Ameera ke dalam pelukannya, membiarkan kepala istrinya bersandar di dadanya yang bidang.
"Insya Allah, dia akan jadi anak yang sholeh, Ameera. Kita tidak hanya akan memberinya harta atau pendidikan tinggi, tapi kita akan menanamkan Al-Qur'an di hatinya sejak ia masih dalam kandungan. Anak yang hatinya terpaut pada Masjid, tidak akan punya ruang untuk kebencian di jalanan."
Liam mencium kening Ameera dengan sangat lama. "Tugas kita adalah mendoakannya tanpa putus dan mendidiknya dengan cinta. Selebihnya, biarlah Allah yang menjaga. Ingat, dia adalah anak dari seorang wanita hebat yang berani berhijrah. Allah tidak akan menyia-nyiakan perjuangan ibunya."
Ameera menarik napas panjang, beban di pundaknya terasa sedikit terangkat. Ucapan Liam selalu punya cara untuk menyembuhkan kecemasannya.
"Terima kasih, Mas. Aku hanya ingin dia jadi pria yang sepertimu. Yang kuat tapi lembut, yang pintar tapi tetap menundukkan pandangan."
"Kalau dia sepertiku, berarti dia harus siap-siap dicemburui oleh istrinya yang cantik nanti," goda Liam lagi, mencoba mencairkan suasana.
Ameera akhirnya tertawa kecil, memukul pelan dada Liam. "Mas! Masih saja sempat bercanda!"
Mobil kembali melaju, kali ini dengan perasaan yang lebih ringan. Di tengah kerasnya kota Jakarta, di dalam mobil itu, dua hati saling menguatkan, berjanji untuk membangun benteng iman bagi malaikat kecil yang sebentar lagi akan hadir mewarnai dunia mereka.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰