Aruna, dokter bedah jenius dari masa depan, terbangun di tubuh Lin Xi, seorang putri terbuang yang dihukum mati karena fitnah. Di dunia yang memuja kekuatan kultivasi, Lin Xi dianggap "sampah" karena jalur energinya hancur.
Namun, bagi Aruna, tak ada yang tak bisa disembuhkan oleh pisau bedahnya. Menggunakan ilmu medis modern, ia memperbaiki tubuhnya sendiri dan bangkit dari liang lahat untuk menuntut balas dendam.Takdir mempertemukannya dengan Kaisar Yan, penguasa kejam yang sekarat karena kutukan darah. Dengan satu tusukan jarum, Aruna menyelamatkannya dan memulai kontrak berbahaya: Aruna menjadi tabib pribadinya, dan sang Kaisar menjadi tameng bagi balas dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hutan Terlarang
Setelah Kaisar Yan berhasil menstabilkan energinya, pria itu jatuh pingsan karena kelelahan yang luar biasa. Lin Xi tidak mempedulikannya lebih jauh. "Tidur saja dulu, Tuan Kaisar. Tubuhku sendiri juga sudah di ambang batas," gumamnya.
Lin Xi menyeret tubuhnya yang lemah menuju sebuah gua kecil di dekat aliran sungai tersembunyi. Kondisi tubuhnya saat ini benar-benar hancur. Selain racun yang menyumbat jalur energinya, tubuh Lin Xi yang asli menderita kekurangan nutrisj parah. Tulang rusuknya menonjol, dan kulitnya pucat pasi.
"Oke, Aruna. Saatnya melakukan operasi besar pada diri sendiri," katanya sambil duduk bersila di atas batu datar.
Sebagai dokter bedah, hal pertama yang ia lakukan adalah meditasi pembersihan. Di dunia kultivasi ini, meditasi bukan sekadar duduk diam, melainkan mengatur aliran Qi untuk menyapu kotoran di dalam pembuluh darah.
Lin Xi memejamkan mata. Ia mulai membayangkan aliran energi di tubuhnya seperti aliran air di dalam pipa. Benar saja, ia menemukan tujuh sumbatan hitam yang sangat pekat di titik-titik saraf utamanya. Inilah yang oleh orang kuno disebut sebagai "Akar Roh yang Mati".
"Ini bukan mati, ini cuma diracuni secara diam-diam selama bertahun-tahun," geram Lin Xi.
Ia mengambil kembali jarum peraknya. Dengan tangan yang sangat stabil, ia menusukkan jarum itu ke titik saraf di pergelangan tangannya sendiri.
Jleb!
Rasa sakit yang hebat langsung menyerang otaknya. Tubuh Lin Xi gemetar hebat, keringat dingin bercucuran deras. "Tahan... jangan pingsan sekarang," bisiknya menyemangati diri sendiri.
Ia mulai menggerakkan Qi yang baru saja ia bebaskan sedikit tadi untuk mendorong racun itu keluar melalui pori-pori kulit. Proses ini disebut Pembersihan Sumsum. Biasanya, kultivator butuh waktu berbulan-bulan untuk melakukan ini, tapi Lin Xi menggunakan pengetahuan tentang tubuh manusia untuk mencari jalan pintas.
Perlahan tapi pasti, cairan hitam berbau busuk mulai keluar dari kulitnya. Bau amis racun itu sangat menyengat, tanda bahwa tubuhnya sedang membuang sampah yang sudah mengendap selama belasan tahun.
"Satu lagi... di titik Dantian!"
Lin Xi menusukkan jarum terakhir tepat di bawah pusarnya.
BOOM!
Sebuah ledakan energi kecil terjadi di dalam tubuhnya. Lin Xi merasakan sensasi hangat yang sangat nyaman mengalir ke seluruh ujung jari kaki dan tangannya. Jalur energinya yang tadinya sempit seperti gang kecil, kini melebar seperti jalan raya.
"Hah... hah... berhasil," desahnya sambil menyeka keringat.
Sekarang, "Akar Roh" miliknya tidak lagi hitam, melainkan mulai memancarkan cahaya hijau samar—tanda kehidupan. Meskipun masih di tingkat paling dasar (Tingkat Pemula), setidaknya ia bukan lagi "si sampah" yang bisa ditindas siapa saja.
Setelah pembersihan racun selesai, Lin Xi beralih ke luka fisik. Ia berjalan ke pinggir sungai dan mencari tanaman obat. Beruntung bagi Lin Xi, Hutan Terlarang ini penuh dengan tanaman langka yang dianggap beracun oleh orang awam, padahal di tangan dokter ahli, itu adalah obat tingkat tinggi.
Ia menemukan tanaman Rumput Darah Naga dan Bunga Penenang Jiwa. Lin Xi mengunyah tanaman itu hingga habis lalu mengoleskannya ke bekas luka cambukan di punggung dan kakinya. Rasa perihnya luar biasa, tapi dalam hitungan menit, luka-luka itu mulai menutup dan mengering.
"Ilmu medis di dunia ini memang gila. Kalau di dunia modern, luka begini butuh waktu berminggu-minggu untuk sembuh," batinnya takjub.
Sambil menunggu obatnya meresap, Lin Xi membersihkan lumpur di wajahnya menggunakan air sungai yang jernih. Begitu kotoran itu hilang, wajah asli Lin Xi pun terlihat.
Ia tertegun menatap pantulan dirinya di air. Wajah itu sangat cantik, dengan mata besar yang tajam dan bibir kecil yang merah alami. Satu-satunya masalah hanya tubuhnya yang terlalu kurus.
"Wajah secantik ini malah dibilang pembawa sial oleh keluarga Lin? Dasar orang-orang buta," ejeknya.
Tiba-tiba, perutnya berbunyi nyaring. Rasa lapar yang luar biasa melanda. Sudah dua hari Lin Xi yang asli tidak diberi makan sebelum dikubur.
Lin Xi melihat ke arah sungai. Ada beberapa ikan energi yang berenang dengan lincah. Dengan gerakan cepat yang didorong oleh Qi, ia menangkap dua ekor ikan hanya dengan tangan kosong. Ia segera membuat api unggun kecil dan membakar ikan itu.
Saat ia sedang asyik makan, sebuah bayangan besar muncul dari kegelapan hutan. Seekor Serigala Api tingkat rendah muncul, mengincar ikan—atau mungkin mengincar Lin Xi sebagai hidangan utama.
Lin Xi tidak lari. Ia justru tersenyum sinis sambil memegang dahan pohon yang ujungnya sudah ia runcingkan.
"Bagus. Aku butuh latihan sedikit untuk membiasakan diri dengan kekuatan baru ini," tantangnya.
Serigala itu melompat dengan taring yang menyala. Namun, di mata Lin Xi yang merupakan ahli bedah tubuh, gerakan serigala itu terasa lambat. Ia bisa melihat dengan jelas di mana letak sendi dan titik saraf fatal makhluk itu.
Lin Xi menghindar dengan langkah ringan ke samping. Begitu serigala itu melewatinya, ia menusukkan dahan runcingnya tepat ke bawah ketiak serigala—titik paling lemah dari pelindung energinya.
Jleb!
Serigala itu melolong kesakitan dan langsung ambruk seketika. Saraf penggeraknya lumpuh total.
Lin Xi berjalan mendekat, menatap serigala itu dengan dingin. "Jangan salahkan aku. Di dunia ini, yang kuat yang menang, kan? Dan hari ini, aku mutuskan untuk jadi yang terkuat."
Ia mengambil Inti Energi kecil dari tubuh serigala itu—sebuah kristal merah yang mengandung kekuatan. Tanpa ragu, Lin Xi menelannya. Rasa hangat langsung menyebar ke seluruh tubuhnya, meningkatkan level kultivasinya selangkah lebih maju.
Setelah merasa cukup kuat dan lukanya benar-benar sembuh, Lin Xi kembali ke tempat Kaisar Yan pingsan. Pria itu sudah mulai sadar. Matanya yang merah menatap Lin Xi yang kini sudah bersih dan terlihat sangat berbeda dari "mayat hidup" tadi.
"Kau... sudah sembuh secepat itu?" tanya Kaisar Yan tak percaya. Tadi ia melihat gadis ini penuh luka dan hampir mati, sekarang ia tampak sangat segar bahkan auranya mulai terasa kuat.
"Aku dokter, Tuan Kaisar. Kalo nggak bisa sembuhin diri sendiri, mending balik lagi ke dalem peti tadi," jawab Lin Xi santai sambil memberikan sisa ikan bakar pada sang kaisar.
Kaisar Yan menerima ikan itu dengan ragu. "Terima kasih... Lin Xi."
"Nggak perlu makasih. Inget janji Tuan tadi, bawa aku ke kota dan jadi tamengku. Karena beberapa hari lagi, aku bakal dateng ke kediaman Jenderal Lin buat bikin perhitungan," ucap Lin Xi dengan mata yang menyala penuh dendam.
Lin Xi berdiri, menatap matahari yang mulai terbit di ufuk timur Hutan Terlarang. Hari ini, status "Sampah Keluarga Lin" resmi berakhir. Hari ini, sang Ratu Medis mulai mengukir namanya di dunia kultivasi.