NovelToon NovelToon
Bangkit Setelah Dihancurkan

Bangkit Setelah Dihancurkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Trauma masa lalu / CEO / Romantis / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa
Popularitas:893
Nilai: 5
Nama Author: Kumi Kimut

Kehidupan Nana berubah total saat sang ibu tiada. Nana terpaksa tinggal bersama ayah dan ibu tiri yang memiliki dua anak perempuan. Perlakuan saudara tiri dan ibu tiri membuatnya menderita. Bahkan saat dirinya akan menikah, terpaksa gagal karena fitnah sang ibu tiri.

Setelah semua kegetiran itu, Nana memilih untuk bangkit. Dia bersumpah akan membalas semua perbuatan jahat yang dilakukan oleh ibu dan saudara tirinya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kumi Kimut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 - Misteri Yang Terbongkar

Sambungan telepon terputus. Napas Pak Fandi memburu—seperti seseorang yang sedang dikejar bayangannya sendiri. Isna bukan tipe yang hanya menakut-nakuti. Ia tahu betul itu. Perempuan itu berani, licik, dan punya sesuatu yang bisa menghancurkan semuanya.

Tangan Fandi gemetar saat memegang dinding. Dunia terasa berputar.

Nama baik. Jabatan. Anak. Makam istrinya yang bahkan masih basah.

Semua seperti hendak runtuh bersamaan.

Tanpa pikir panjang, ia melangkah ke kamar. Pintu terbuka pelan, aroma obat dan wangi lembut milik Diana masih tertinggal di udara. Hatinya langsung menciut.

“Maafkan aku…” gumamnya lirih, padahal tak ada siapa pun di sana.

Ia membuka lemari. Tumpukan kain rapi, selendang, beberapa lipatan baju tidur—semua masih seperti semula. Lalu tangannya menemukan kotak kayu kecil berlapis kain beludru.

Kotak perhiasan Diana.

Jari-jarinya bergetar saat mengangkatnya. Tutupnya dibuka pelan, seolah takut membangunkan sesuatu. Di dalamnya ada cincin emas, gelang tipis, kalung sederhana—semua peninggalan yang pernah jadi kebanggaan istrinya.

Air mata Fandi pecah seketika.

“Dian…” suaranya patah. “Aku… harus menyelesaikan ini. Aku janji… demi nama kita. Demi anak.”

Ia menutup kotak itu tergesa. Menyeka wajah dengan punggung tangan, lalu melangkah keluar.

Begitu pintu kamar terbuka, ia langsung bertemu tatap dengan Nana.

Gadis itu berdiri di ambang pintu, matanya sembab, namun kini memandang tajam. Tatapannya jatuh ke kotak di tangan ayahnya.

“Ayah ambil apa?” suara Nana pelan, tapi dingin.

Fandi spontan menyembunyikan kotak itu di balik tubuhnya.

Refleks yang justru membuat semuanya terlihat lebih mencurigakan.

“Bukan apa-apa,” katanya terburu-buru. “Ayah cuma… beres-beres barang Ibu.”

Alis Nana mengerut.

“Beres-beres?” suaranya meninggi sedikit. “Baru beberapa jam setelah Ibu dikubur?”

Fandi menelan ludah.

“Nak, tolong… jangan ribut dulu. Ini urusan Ayah.”

Nana maju selangkah. Air matanya kembali menetes, tapi kini disertai amarah yang menyala.

“Itu kotak Ibu, Yah,” katanya getir. “Kenapa Ayah bawa keluar? Mau disimpan? Dijual?”

Pertanyaan terakhir itu menggantung, membuat udara seolah membeku.

Fandi tak menjawab. Tangannya justru semakin kuat menggenggam kotak itu.

Nana menutup mulutnya, tertegun.

“Serius?” suaranya bergetar. “Ayah bahkan belum selesai nangis, tapi udah kepikiran ngambil perhiasan Ibu? Buat apa? Buat perempuan itu?”

Kata “perempuan itu” membuat Fandi menunduk dalam.

“Nana—”

“Jawab!” seru Nana, kali ini tak sanggup menahan.

Fandi menghela napas panjang. Lututnya rasanya lemah. Ia duduk di kursi, menatap lantai.

“Ayah… terjebak, Nak,” katanya pelan. “Ada hal yang Ayah nggak bisa jelaskan sekarang. Tapi Ayah butuh ini.”

Ferdi lantas berlari.

Langkahnya terburu-buru, kacau, seolah ada api yang membakar dari belakang.

“Nggak, Yah! Jangan pergi!” seru Nana sambil berusaha menarik lengan ayahnya.

Namun Ferdi malah menepis. Dorongan itu tidak keras — tapi cukup membuat Nana hilang keseimbangan. Ia terjatuh. Lututnya membentur lantai, perih, sedikit berdarah.

“A—ah…” Nana meringis, menahan sakit.

Ferdi menoleh sepersekian detik. Ada rasa bersalah jelas di matanya.

“Maafkan Ayah…,” ucapnya lirih, hampir tak terdengar.

Lalu ia pergi.

Pintu tertutup terbanting. Suara mesin mobil menyala, dan beberapa detik kemudian, deru roda menjauh meninggalkan rumah dan meninggalkan Nana sendirian.

Nana menangis — bukan lagi hanya karena kehilangan Ibu.

Tapi karena ayahnya terasa seperti orang asing.

“Kenapa semua orang ninggalin aku?” bisiknya getir.

Ia menatap kotak perhiasan yang tak sempat ia rebut. Hampa. Dingin. Perih.

Rumah Isna.

Di ruang tamu yang penuh bunga plastik dan hiasan emas imitasi, Isna berdiri di depan cermin besar. Gaun pengantin putih sederhana menempel di tubuhnya. Wajahnya dipoles tebal, seolah pesta besar akan berlangsung sebentar lagi.

Namun di balik senyum yang ia paksakan, ada ketegangan.

Ibunya berdiri di sudut ruangan, menyilangkan tangan.

“Isna, ini keterlaluan,” katanya dingin. “Istri orang baru meninggal. Kamu malah begini?”

Ayahnya menambahkan, suaranya berat, kecewa, “Kamu pikir ayah tidak tahu apa yang kamu lakukan sama istri kepala desa?"

"Diam pak! Kalau bapak sampai buka mulut, kita semua akan masuk ke dalam penjara bersama-sama!"

***

Bersambung...

1
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!