NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Tiri

Obsesi Sang Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Bad Boy / Enemy to Lovers / Saling selingkuh / Ibu Tiri / Konflik etika
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Lalalati

Bian menjalani kehidupan remajanya dengan sempurna. Ia cewek cantik dan bergaul dengan anak-anak paling populer di sekolah. Belum lagi Theo, cowok paling ganteng dan tajir itu kini berstatus sebagai pacarnya dengan kebucinan tingkat dewa.

Namun tiba-tiba kesempurnaan masa remajanya itu runtuh porak poranda setelah kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai dan bertukar pasangan dengan sepasang suami istri dengan satu anak laki-laki yang juga muncul sebagai guru baru di sekolahnya bernama Saga, cowok cassanova tampan dengan tubuh tinggi kekar idaman para wanita.

Di tengah masalahnya dengan Saga yang obsesif, hubungannya dengan Theo terus merenggang. Alasannya karena Theo selalu mengatakan hal yang sama, 'harus nemenin mama.'

Semakin hari Bian semakin curiga. Hingga ia mengetahui bahwa Theo...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalalati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Diskusi Keluarga

"Apa...? Cerai..." Bian masih belum merasakan reaksi apa pun di dalam hatinya. Ia masih mencerna makna kata yang ia ucapkan ulang setelah kedua orang tuanya mengucapkan kata itu.

Diana dan Radit saling menatap penuh rasa bersalah. "Iya, Nak. Mommy dan Daddy sudah resmi bercerai," ucap Radit menekankan ucapan sang mantan istri.

Barulah Bian merasakan sesuatu di dalam hatinya. Sakit yang menjalar tiba-tiba, bahkan air matanya luruh begitu saja.

"Cerai? Mommy dan Daddy cerai?" Bian tak paham. Kenapa tiba-tiba ia mendapatkan kabar yang baginya aneh ini. "Mommy dan Daddy resmi bercerai, itu artinya bukan mau, tapi udah bener-bener pisah?" Bian lebih seperti bergumam menganalisis keadaan yang sedang dialaminya.

"Iya, Nak. Kami sudah selesai memproses perceraian kami hari ini. Jadi mulai hari ini Mommy dan Daddy bukan lagi suami dan istri," terang Radit dengan hati-hati.

"Tapi...tapi kenapa bisa?! Kenapa Mommy sama Daddy tiba-tiba cerai? Ditambah kenapa gak tanya pendapat Bian dulu? Kenapa Bian baru dikasih tahu sekarang? Bukannya bulan lalu Daddy sama Mommy bulan madu? Kenapa sekarang malah cerai? Kenapa, Mom, Dad?!"

Bian tak kuasa membendung emosinya. Semua ini terlalu tiba-tiba dan membuatnya syok. Seingatnya selama ini kedua orang tuanya baik-baik saja, bahkan jarang sekali bertengkar meskipun keduanya memang bukan pasangan yang romantis.

"Baby, Mommy sama Daddy janji gak akan ada yang berubah di antara kita. Cuma status kami aja yang berubah. Kamu tetap anak kami sampai kapan pun. Kamu mau ketemu kapan pun sama kami, kami gak akan saling melarang," tambah Diana. Ia tak tega melihat sang putri yang begitu kebingungan dan terkejut dengan situasi ini.

"Tapi kalau cerai kalian akan pisah tempat tinggal, 'kan?! Gimana bisa Mommy bilang semuanya akan tetap sama? Terus Bian ikut siapa?!" isak Bian histeris.

Radit berpindah duduk ke sebelah sang putri. Ia memeluk Bian dan membiarkannya menangis sementara ia mengusap rambutnya menenangkan. "Maafkan Mommy dan Daddy, Nak. Sekarang kamu tenangkan diri kamu, supaya Daddy bisa ceritakan kenapa Mommy dan Daddy memutuskan bercerai."

Bian masih menangis sesenggukan sambil memeluk sang ayah. Dibanding dengan Diana, Bian memang lebih dekat dengan Radit. Diana sendiri bukan tipe wanita yang keibuan, sementara Radit sangat kebapak-an. Meskipun demikian mereka berdua sangat menyayangi putri semata wayang mereka sama besar.

Diana pun menyeka air mata sang putri. "Baby, udah jangan nangis lagi. Lihat muka kamu jadi gak cantik lagi."

"Gimana Bian gak nangis. Mommy dan Daddy tiba-tiba kayak gini sama Bian," isak Bian sesenggukan.

Radit menatap kepada Diana. Bibirnya bergerak tanpa suara mencoba mengatakan, 'biarkan dulu dia nangis.' Diana langsung paham sehingga ia pun hanya bisa mengusap punggung sang putri.

Kemudian Bian sudah lebih tenang. "Sekarang ceritain, kenapa Mommy sama Daddy mutusin buat...cerai?" Saat akan mengatakan kata cerai isak Bian muncul kembali tanpa bisa ia cegah.

"Baiklah, sekarang Daddy akan ceritakan." Radit mengangguk sekilas pada Diana, disahuti dengan anggukan Diana tanda ia setuju Radit yang menceritakannya.

"Kamu inget 'kan, bulan lalu Daddy dan mommy pergi ke Yogyakarta buat honeymoon?" tanya Radit memulai ceritanya, Bian mengangguk seraya menyeka air matanya. "Di sana, Mommy dan Daddy bertemu lagi dengan mantan pacar Mommy dan Daddy waktu kuliah dulu. Dan ternyata perasaan kami belum berubah."

"Barengan? Kenapa bisa kebetulan Mommy dan Daddy bisa ketemu sama mantan pacar masing-masing?" tanya Bian.

"Mereka bareng karena mereka adalah suami istri juga, Nak," terang Radit.

"Apa? Jadi Mommy dan Daddy tukeran pasangan sama Mereka?"

"Sebenarnya..." Diana menambahkan. "Dulu Mommy, Daddy, dan mereka terlibat satu kesalahpahaman sampai mereka mutusin buat nikah. Jadi akhirnya Mommy dan Daddy putus dengan pasangan masing-masing. Cukup lama setelah mereka nikah, Mommy dan Daddy gak sengaja ketemu lagi setelah beberapa tahun, dan barulah kami memutuskan untuk nikah juga."

"Karena pertemuan di Yogyakarta itulah akhirnya kesalah pahaman kami selama bertahun-tahun bisa diluruskan," jelas Radit.

"Dan," sambung Diana. "Saat semuanya udah clear, kami memutuskan untuk kembali kepada pasangan semula."

***

Di sebuah rumah mewah, sepasang suami istri dan putra mereka tengah duduk bersama di ruang keluarga.

"Ayah sama Ibu mau cerai?" ulang seorang pria tampan seraya menatap kedua wajah orang tuanya bergantian.

"Iya, Saga. Kamu gak salah denger, hari ini kami udah resmi bercerai," terang Kaisar, ayah dari Saga.

Saga terdiam mencerna situasi keluarganya yang tiba-tiba saja berubah ini.

"Tapi Ayah rasa ini bukan masalah besar buat keluarga kita. Kamu udah dewasa, udah lulus kuliah. Ayah yakin kamu bisa menerimanya dengan baik. Iya 'kan?" tambah Kaisar.

"Juga, ada satu hal lagi yang harus kamu tahu, setelah kami resmi bercerai, kami akan menikah lagi dengan sepasang suami istri yang adalah teman lama kami. Sebulan yang lalu saat kami ke Yogyakarta, gak sengaja kami bertemu lagi sama mereka. Dulu ada kesalahpahaman yang bikin kami pisah sama pasangan masing-masing. Tapi semua itu udah clear sekarang, jadi kami memutuskan untuk kembali ke pasangan masing-masing. Ibu akan kembali bersama dengan Raditya, kekasih ibu yang dulu. Dan ayah kamu akan kembali bersama dengan Diana," terang sang ibu.

"Jadi Ayah sama Ibu tukar pasangan? Gitu?" tanya Saga setelah cukup lama terdiam.

"Iya. Kamu sudah dewasa Ayah yakin kamu bisa menerima keadaan ini."

Saga berpikir sejenak lalu berkata, "gak masalah. Kalau itu keputusan terbaik buat Ayah sama Ibu, ya udah, aku sih gak masalah."

Kaisar dan Soraya saling tatap dengan lega. Mereka tahu perceraian bukan hal yang akan ditentang oleh sang putra semata wayang.

"Oh ya, aku juga ada yang mau aku omongin sama Ayah dan Ibu," ujar Saga dengan tenangnya. "Aku gak akan balik ke New York. Aku akan nerima tawaran Om Sandi buat jadi guru di sekolahnya."

"Kamu? Jadi guru? Ayah gak salah denger?" tanya Kaisar tak yakin sang putra akan cocok dengan pekerjaan itu.

"Cuma sekitar enam bulan aja. Om Sandi pengen ngelihat kemampuan aku dalam mengelola orang-orang sebelum dia kasih aku kerjaan di perusahaannya dia. Tapi gak tahu kenapa, dia malah pengen lihatnya aku mengelola anak-anak sekolahan, bukan langsung aja biarin aku magang di perusahaannya dia."

"Udah Ayah bilang, kamu magang di perusahaan Ayah aja. Masih belum terlambat buat berubah pikiran," saran Kaisar.

"Ibu setuju," ujar Soraya mengiyakan. Ia pun lebih setuju jika sang putra melanjutkan perusahaan milik mantan suaminya itu. "Lebih baik kamu di perusahaan Kaisar."

"Aku udah bilang 'kan, aku gak suka ngurusin pabrik tekstil. Aku lebih pengen ngelola perusahaannya Om Sandi. Ayah sama Ibu tahu sendiri aku sukanya have fun, happy-happy. Jadi perusahaan entertainmentnya Om Sandi cocok banget sama aku."

"Tapi Ibu gak yakin kamu bisa jadi seorang guru, Nak."

"Kan gak permanen aku jadi guru di sana. Ini cuma ngikutin syarat dari Om Sandi aja."

"Lagian Sandi aneh banget minta kamu jadi guru di sana buat ngelihat kemampuan kamu," protes Kaisar.

"Sekolahnya Sandi 'kan emang khusus dia bikin buat nyari talent-talent yang bisa dia debutin jadi artis atau model. Jadi aku pikir masuk akal biarin Saga jadi guru di sana, Kai." Soraya menanggapi ucapan Kaisar. Lalu ia beralih pada Saga. "Tapi Ibu berpesan sama kamu, Saga, jaga sikap kamu di sana. Guru tetap aja guru yang harus menjaga wibawanya di depan para murid."

"Ibu khawatir banget, sih? Emang aku mau ngapain? Yang namanya di sekolah aku bakal nyoba buat ngajar dengan baik. Masa yang lain-lain," elak Saga. Belum apa-apa sang ibu sudah bisa membaca rencananya, gerutunya dalam hati.

"Maksud Ibu kamu, kamu jangan sampai mendekati siswi-siswi di sana. Fokus dengan pekerjaan kamu supaya Sandi bisa kasih kamu pekerjaan di perusahaannya, bukan memacari murid-murid kamu nantinya," ujar Kaisar memperjelas.

...Raditya

...

...Diana...

...Kaisar...

...Soraya...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!