Warning!! Hanya untuk pembaca 21 tahun ke atas.
Lyra menjadi wanita yang haus akan kasih sayang setelah kepergian suaminya. Usia pernikahannya baru berjalan 2 bulan, namun harus berakhir dengan menyandang status janda di tinggal mati. Bertemu Dika seorang lelaki yang bekerja di daerah tempat tinggalnya. Membuat mereka terlibat dengan hubungan cinta yang penuh dosa.Tapi siapa sangka, ternyata Dika sudah menikah, dan terobsesi kepada Lyra.
Lyra akhirnya memutuskan untuk sendiri menjalani sisa hidupnya. Namun ia bertemu Fandi, rekan kerjanya yang ternyata memendam rasa padanya.
Bagaimana kisah kehidupan dan cinta Lyra selanjutnya?
Yuk simak kisahnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Masa Lalu Lyra
Bab 2
Masa Lalu Lyra
Masih lama menunggu kepulangan Dika setelah bekerja, siang itu Lyra menyesapi teh hangatnya sambil duduk memandang keluar jendela.
Rumah kontrakan petak berukuran 6x6 meter menjadi tempat Lyra bernaung. Hanya segitu kemampuan Lyra untuk melindungi dirinya sendiri dari panas dan hujan. Makan seadanya dengan pekerjaan serabutan. Lyra yang tidak mengenyam pendidikan tinggi membuatnya susah mencari pekerjaan.
Lyra teringat pada masa lalunya. Dulu ia tinggal di desa bersama keluarganya, membantu Ayah dan Ibunya bekerja di sawah. Membajak tanah, dan menanam padi di tanah milik orang yang berstatus sewa. Kehidupan yang jauh dari kata mewah. Malah terkesan miskin dan sederhana.
Sampai pada suatu ketika banjir bandang datang melanda. Bencana besar yang begitu hebatnya meluluh lantakan kampung halamannya. Korban berjatuhan dimana-mana. Bahkan ada yang hilang dengan jasad yang tidak pernah di temukan. Mungkin terseret jauh ke dalam hutan oleh banjir bandang. Atau tertimbun lumpur yang begitu dalam.
-
-
-
Lyra menyeka air matanya yang mengembun di pelupuk mata. Kejadian 4 tahun silam begitu sulit untuk ia lupakan. Bencana banjir bandang telah merenggut nyawa kedua orang tuanya serta kedua adiknya. Menyebabkan ia harus hidup luntang lantung tanpa kepastian.
Napas Lyra terasa sedikit sesak. Namun kenangan masa lalu terus terlintas di kepalanya. Bagaimana ia bertemu Irwan, suami yang sangat di cintai olehnya.
...----------------...
Flashback On
"Cepat, raih tali ini!"
"Aku takut Pak..., hiks!"
"Buang rasa takutmu! Cepat ambil talinya, keburu rumah itu hanyut terbawa banjir!"
Seorang laki-laki dengan tegas memberi arahan kepada Lyra yang terjerat di atas atap rumah yang telah tenggelam ditelan banjir bandang. Hujan yang mengguyur lokasi semakin membuat air meluap dan banjir semakin besar.
Atap rumah yang dinaiki Lyra tadi sudah memberi tanda-tanda akan hanyut diterjang bandang. Lelaki yang mengarahkannya tadi mau tidak mau mengambil resiko dengan terjun memegang tali tambang untuk mendekat pada sang wanita.
"Irwan! Bahaya!"
Seruan teriakan teman-teman tim SAR nya tidak lelaki itu pedulikan. Ia hanya fokus untuk menyelamatkan Lyra yang sudah terlihat putus asa dalam kesedihan.
Lelaki yang dipanggil Irwan itu berhasil menaiki atap rumah dimana Lyra berada. Meski seluruh pakaiannya sudah basah bercampur lumpur, ia mengikat tali tambang di tubuh Lyra untuk membawanya ke tepi, ke tempat yang lebih aman.
"Pegang talinya yang kuat!"
"Terus Bapak gimana?"
"Kita akan terjun sama-sama. Teman-teman tim akan menarik kita dari sana. Kamu siap?" Ujar Irwan.
Lyra pasrah dan menurut saja.
Ia memegang kuat tali tambang yang sudah terikat di tubuhnya. Lalu bersama Irwan yang juga memegang tali yang sama dibelakangnya, mereka pun melompat menerjang arus air yang tidak begitu deras di bagian tepi.
Lyra tadi selamat. Tapi tangisnya tak berhenti memikirkan ayah dan ibunya, serta adik-adiknya yang terseret banjir entah kemana.
"Berlindunglah di tempat pengungsian. Disana ada pakaian yang bisa kamu gunakan dan juga makanan untuk mengganjal perut sampai bantuan logistik berikutnya datang. Tim SAR masih berusaha mencari korban lainnya. Bersabarlah, doakan saja keluargamu segera di temukan dan dalam keadaan selamat. " Ujar Irwan yang merasa kasihan dengan wanita tadi.
Masih sesunggukan wanita itu menatap sedih kepada Irwan. Ia pun mengangguk perlahan dan beranjak bangun. Lalu dengan langkah gontai dengan sisa tenaga, ia mengikuti orang lain yang juga menuju tempat pengungsian.
-
-
-
Hujan telah reda. Namun malam terasa dingin dan mencekam. Banyak warga yang kehilangan harta bendanya, juga orang-orang yang mereka sayangi termasuk Lyra. Mereka berkumpul meski tidak memiliki ikatan keluarga. Menjadi saudara dalam sebuah tragedi yang menyesakkan dada.
Lyra merebahkan dirinya di lantai dingin di sebuah bangunan perkantoran yang belum selesai dibangun dan menjadi tempat untuk pengusian. Tim SAR terus berjaga bergiliran, bertugas dari pagi sampai tengah malam.
Lyra beranjak bangun begitu melihat lelaki yang menolongnya tadi masuk ke barak pengungsian. Lelaki itu tampak kelelahan dan beristirahat sambil mengganjal perutnya dengan sebuah roti dan segelas air.
Ragu-ragu Lyra mendekat, ia ingin menanyakan kabar orang tuanya serta adik-adiknya.
Merasa diperhatikan, lelaki tadi menoleh. Ia ingat wajah wanita muda yang di tolongnya siang tadi.
"Ada apa? Kenapa nggak tidur?"
"Pak, apa keluarga saya sudah ketemu?"Tanya Lyra, tak sabar ingin tahu.
"Saya nggak tahu pasti. Tapi ada beberapa korban yang di temukan lagi sampai malam ini. Kamu bisa cek besok pagi di bangunan kosong di ujung sana. Siapa tahu ada yang kamu kenali."
Jantung Lyra berdegub kencang mendengar informasi yang diberikan lelaki yang bernama Irwan. Lyra tidak siap jika harus mencari keluarganya di antara mayat-mayat korban banjir bandang. Lyra berharap keluarga masih bertahan di luar sana dan menunggu tim SAR datang menolong mereka.
"Beristirahat lah. Besok saya akan bantu kamu mengenali korban-korban disana."
Lyra mengangguk lemah. Lalu kembali ke tempat peristirahatannya semula.
-
-
-
Keesokan harinya. Sesuai janjinya, lelaki bernama Irwan itu menemani Lyra mengenali beberapa korban yang di temukan.
Jantung Lyra berdegub kencang mendatangi tempat dimana mayat yang di temukan di kumpulkan menjadi satu. Kakinya lemas melihat puluhan mayat berjejer di lantai basah dan belum di kuburkan mengingat air masih menggenang di seluruh permukaan tanah setinggi lebih dari satu meter. Mayat-mayat itu pun belum semua di identifikasi dan belum di ambil oleh keluarga atau kerabat mereka.
Satu persatu Lyra mencoba mengenali. Hatinya pilu melihat korban-korban yang nyaris tak bisa di kenali. Namun ada yang menarik perhatian Lyra di ujung barisan. Pakaian yang sangat ia kenali karena ia sering mencucinya dan melipatnya sehari-hari.
Deg,
Lyra terpaku. Kakinya terasa begitu berat untuk melangkah. Semakin ia mencoba mengenali pakaian itu, semakin wajahnya memucat tanpa kata. Tangannya mulai dingin, napasnya mulai tercekat, bahkan debaran jantung tak lagi teratur.
"Kamu nggak apa-apa?"
Di belakang Lyra Irwan merasa prihatin melihat gadis itu. Ia ingin menggenggam tangan Lyra yang terkepal memutih untuk sekedar menguatkan. Tapi ia tahu, untuk saat ini gadis itu memang harus memiliki ketabahan yang besar.
Tanpa menjawab Irwan, Lyra mencoba melangkah meski terasa berat. Mendatangi tubuh yang sudah terbujur kaku di lantai. Wajah pucat pasi dan di lumuri sedikit lumpur merobohkan kaki Lyra yang berdiri dengan sekuat hati. Dan dunia Lyra pun runtuh seketika.
"Ayaaaah... Huwuwuu...... Ayaaah..."
Tangisnya pecah saat mengenali jasad itu. Jasad yang penuh kasih sayang yang telah membesarkannya sampai 2 hari yang lalu, kini terbujur kaku.
Dengan tangan gemetar, ia mencoba menyentuh tubuh sang Ayah. Mendekap meski jenazah itu sudah mulai mengeluarkan bau tak sedap. Air matanya terus mengalir di pipi, isak tangis tak terbendung melulu lantakan semangat hidupnya. Sederet kenangan pun berputar di kepalanya. Kenangan bersama sang ayah yang begitu banyak membekas di hatinya.
Tidak hanya sampai disitu, matanya kembali menangkap jasad di samping ayahnya yang sangat ia kenali. Adiknya yang paling kecil pun rupanya telah terbujur kaku.
"Miraaa...Huwuwuu......"
Kembali hati Lyra hancur dengan tangisan pilu panjang menyesakkan dada.
Irwan merangkul Lyra untuk mencoba memberi kekuatan kepada Lyra. Hatinya pilu melihat Lyra bersedih atas kehilangan Ayah dan saudaranya. Irwan tahu ucapan tak akan begitu berarti untuk saat ini. Tapi ia tetap mencoba untuk menguatkan meski ia tidak tahu apakah ucapannya mampu menahan kesedihan yang membanjiri Lyra.
"Sabar, Allah lebih sayang mereka. Ini ujian untuk kita semua agar kita selalu ingat kepada-Nya."
"Huwuwuu..."
Lama Lyra menangis menghadapi jenazah Ayah dan adiknya. Ia kembali teringat Ibu dan satu lagi adiknya yang lain yang masih belum di temukan. Ada secuil harapan yang mendorong Lyra untuk mencoba untuk berdiri. Dibantu oleh Irwan, ia memeriksa lagi, apakah Ibu dan adiknya yang lain juga berada disini, atau masih berjuang di luar sana.
Dan kenyataan menghantam Lyra bertubi-tubi. Ia menemukan Ibu dan adiknya yang lain sudah tak bernyawa lagi tak jauh dari beberapa jenazah di di depannya. Semua anggota keluarganya meninggal dalam tragedi banjir bandang.
-
-
-
Kering air mata Lyra menangisi semua kepergian keluarganya. Kini ia sebatang kara dan tak punya tempat tinggal. Apalagi harta untuk bertahan dari penderitaan. Menambah terpuruknya Lyra dengan hati yang tak lagi memiliki rasa untuk hidup.
Setelah banjir mereda 3 hari kemudian, barulah pemakaman masal diadakan. Isak tangis keluarga yang masih hidup mengiringi pemakaman yang tidak biasa ini. Masih memandangi gundukan tanah, Lyra tidak tahu kemana ia harus pergi. Tak ada lagi semangat hidup yang menuntunnya untuk berdiri.
Satu persatu keluarga korban mulai pergi. Namun Lyra masih berdiri, dengan tatapan kosong tanpa arti.
Irwan merasa begitu prihatin melihat Lyra. Ia mencoba mendekat dan berkata :
"Dik, saya akan pulang. Masa bertugas saya sudah selesai disini. Ada rekan lain yang akan menggantikan saya. Apa kamu mau ikut saya?"
-
-
-
Bersambung...
Jangan lupa dukung Author dengan like dan komen ya, terima kasih 🙏😊
pas pulang lyra udah pergi.. kayaknya bakalan nambah Maslah deh Novia.. mending ber3 bicaranya..klo sepihak gitu nantinya badan dika dikamu tapi hati dan jiwanya di lyra