Di sebuah dunia yang damai, tempat berbagai ras hidup berdampingan, seorang gadis ras campuran menjalani kehidupan normalnya yang tampak biasa.
Namun, perlahan sesuatu yang terasa asing menghampiri. Mimpi yang terasa nyata.
Aroma kematian yang menyusup. Dan sesuatu yang mengincarnya dari balik kegelapan.
Rahasia masa lalu, makhluk terkutuk, dan gerbang yang seharusnya tetap tertutup perlahan bergerak menuju satu titik temu.
Tak semua yang melindungi berniat baik. Tak semua mimpi ingin dilupakan.
Ketika kebenaran akhirnya menuntut harga, hanya satu pertanyaan yang tersisa:
apa sebenarnya yang ada dibalik dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amateurss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kelas alkemi
Pintu kayu terbuka dengan derit pelan. Ruangan itu luas, beratap tinggi, dengan balok-balok kayu yang menghitam oleh usia dan uap reaksi kimia. Beberapa rak bahan ramuan disandarkan didinding. Meja batu persegi panjang besar lengkap dengan berbagai peralatan peracikan ramuan berada tepat ditengah ruangan dengan kursi-kursi kecil di sekelilingnya. Satu kursi kayu besar diujung untuk pengajar, dengan sebuah koper besar didepannya. Di dinding, simbol-simbol rune mantra dipahat langsung ke tembok batu, sebagian pudar, sebagian masih tajam.
Ursha'el memasuki ruang kelas alkemi yang masih lengang. kelas memang masih akan dimulai 30 menit lagi, beberapa siswa yang telah datang terlebih dahulu mengarahkan pandangannya pada suara derit pintu.
“Pagi, Ursha!” sapa salah seorang teman sekelasnya dengan senyum lebar, seorang gadis elf berambut merah sebahu.
“Datang awal kali kau. Biar kutebak… mimpi diinjak tahi raksasa lagi?” ujarnya sambil terkekeh kecil.
“Ah… diamlah, Vivi. Kepalaku pening. Semalam susah tidur,” keluh Ursha’el sembari meletakkan tasnya di samping Vivi. Ia duduk lesu, lalu merebahkan kepala di atas meja, kedua tangannya terlipat menopang kening.
“Oh, ayolah, Ursha, jangan terlihat seperti goblin suram.” Senyum Vivi memudar, ia menopangkan kepalanya dengan satu lengan sembari menatap seonggok makhluk hijau lesu di sampingnya. “Kenapa sih? Emang seseram itu, ya?”.
Ursha’el menghela napas panjang, ia tidak langsung menjawab. "Entahlah, Vivi," gumamnya, suara teredam oleh lengannya. “Makin lama makin aneh, makin terasa nyata", ujar Ursha'el.
Vivi mengernyit tipis, lalu memiringkan kepalanya. “Nyata gimana maksudmu?” tanyanya pelan, mulai agak khawatir.
Ursha’el menelan ludah. Ia mengangkat kepalanya sedikit, cukup untuk menatap permukaan meja batu yang penuh goresan bekas eksperimen lama.
“Bukan cuma mimpi,” katanya lirih. “Aku bisa mencium baunya. Mendengar gelegar suaranya. Bahkan… rasa takutnya.” Ia mengepalkan jari, lalu mengendurkannya lagi. “Seperti aku benar-benar pernah berada di sana. Seperti itu benar benar pernah terjadi”
Vivi terdiam sejenak, lalu mendengus kecil. “Kalau begitu, mungkin semalam kau terlalu serius belajar alkemi. Otakmu mulai mencampur mimpi dan reaksi ramuan sihir.” Ia mencoba tersenyum, namun jelas dalam sorot matanya tampak kekhawatiran tipis. “Atau jangan-jangan kau mulai berbakat jadi peramal?, oh, atau mungkin kau kena ramuan jahil si Luce lagi?”
Ursha’el tersenyum tipis, hambar. “Kalau itu bakat, aku ingin mengembalikannya.”
Tiba-tiba terdengar bunyi langkah kaki lain di luar ruangan, disusul suara pintu yang dibuka dan ditutup. Dua siswa manusia masuk sambil bercakap pelan. Salah satunya langsung mencuri perhatian.
Rambutnya agak acak, seragam akademinya dikenakan sembarangan, kancing atas dibiarkan terbuka. Ia berhenti sejenak di ambang ruang kelas, mengamati, lalu matanya jatuh pada Ursha’el yang masih bersandar lesu di meja. Senyum jahil merekah perlahan di wajahnya.
“Oh…” ucapnya panjang, dramatis. Ia melangkah mendekat sambil berputar perlahan seperti seorang penari tango yang keseleo, suaranya dibuat lembut berlebihan bagai seorang penyair gagal.
“Bunga hijau yang anggun,” katanya sambil meletakkan satu tangan di dada, “kenapa kau terlihat layu di pagi yang begitu cerah ini?”
Vivi mendengus. “Astaga, dia datang.”
Ursha’el bahkan tak mengangkat kepala. “Pergi, Luce. Aku tidak sedang dalam suasana hati untuk… apa pun ini.”
Namun Luce tak peduli. Ia menarik kursi di seberang Ursha’el, duduk terbalik, dagunya disangga punggung kursi. “Ah, tapi lihatlah dirimu,” lanjutnya, nadanya makin lebay. “Kelopakmu tertunduk, auramu redup, seolah embun pagi berubah jadi air mata.” Ia menghela napas pura-pura pilu. “Apakah malam terlalu kejam padamu, wahai bunga hijau yang tumbuh ditengah ribuan tulip?”
Vivi menyikut lengan Ursha’el. “Kupikir tadi aku yang berlebihan. Ternyata dia juaranya.”, gumam Vivi, lebih ke dirinya sendiri.
Ursha’el akhirnya mengangkat kepala, mata keemasannya menatap Luce datar tanpa ekspresi. “Kalau kau selesai berakting, tolong ingatkan aku. Aku hampir tersentuh.”
Luce terkekeh, sama sekali tak tersinggung. “Oh, dingin sekali. Padahal aku datang membawa simpati setulus berlian murni.” Luce mencondongkan tubuh, “apa yang terjadi denganmu, bunga hijau? Kenapa kau terlihat seperti habis dicampur ramuan kegelisahan dan bubuk kesedihan?”. Tanya Luce dengan nada menjengkelkan, namun tersirat simpati didalam suaranya.
Ursha'el mengangkat kepalanya. "Hei, Luce, aku ingin bertanya sesuatu, jawab dengan jujur". Ujar Ursha'el dengan nada serius, matanya menatap tajam. "Kau tidak sedang mengerjai ku lagi kan?".
"huh??", Luce mengernyitkan dahi, ekspresinya melunak. "Maksudnya?"
Ursha’el menatap Luce dalam-dalam. “Maksudku… semalam aku bermimpi, mimpi yang sangat aneh, seperti bukan sekadar mimpi. Kau… mengerjai aku dengan ramuan jahil mu lagi?”
Luce menatapnya dalam kebingungan. Ada jeda sejenak, lalu ia menggeleng tipis. Luce menjawab dengan nada serius. “Ursha… aku bersumpah, aku tidak tahu menahu soal itu. Kau tahu sendiri, kan, aku sudah kapok setelah kejadian seminggu lalu. Itu mungkin berasal darimu sendiri.”
Vivi yang duduk di samping menatap waspada. “Ah, benarkah?”, ujarnya penuh curiga. "Minggu lalu kau membuat kami berdua mencium aroma kentut sepanjang hari dengan ramuan bodoh mu."
"Dia berkata jujur," ujar Ursha'el datar sembari menenggelamkan kepalanya kembali ke meja.
"Awww~~~, Ursha'el yang anggun percaya padaku, aku jadi benar-benar terharu...", ujar Luce, kembali dengan senyum menjengkelkan dan nada lebay nya. "bolehkah aku mengetahui mimpi seperti apa yang mengganggu bunga yang indah ini?. Barangkali aku bisa membantu, seingatku aku punya buku penerjemah mimpi peninggalan mendiang orang tuaku dirumah".
"Oh, benarkah?." Ursha'el kembali menatap Luce, "jadi kau bisa memahami artinya?."
"yah,...... mungkin?, jika aku menemukannya dalam buku itu, aku sendiri tak yakin, tapi aku akan mencoba mencarinya untuk bunga hijau yang anggun ini, hehehe". Luce mengambil selembar kertas dari tasnya, memberinya pada Ursha'el. "Tulis disini, dengan segala detailnya, deskripsikan selengkap mungkin,..tulisan bisa lebih menunjukkan sesuatu daripada sekedar cerita lisan".
“Wah, ide bagus,” Ursha'el menerima kertas itu, dia mengangguk paham, telinga runcingnya kembali tegak karena bersemangat. Dengan segera ia menuliskan semua yang ada didalam mimpinya.
"Ummm... Ursha, Luce, ngomong-ngomong... kalian mencium sesuatu?", tanya Vivi pelan. pandangannya menjelajahi ruang kelas alkimia yang sudah ramai. "seperti aroma...
lumpur busuk?".
Ursha'el sedikit terkejut, ia berhenti menulis. Pandangannya tertuju ke mata jingga Vivi. "kau... menciumnya juga?", tanya Ursha'el pelan. "Kukira hanya aku saja yang menciumnya."
"Oh,... maksud kalian aroma busuk samar?, tampaknya itu muncul dari koper Professor Ojike", jawab Luce, pandangannya menuju ke koper besar diujung meja batu, didepan kursi pengajar.
tiba-tiba pintu kelas berderit, seorang dwarf tua dengan jubah alkimia berwarna biru tua, penuh noda ramuan, rambut abu-abu lebat, dan janggut yang panjang sampai dada melangkah masuk. Ia membawa sebuah tongkat kayu berujung kristal putih yang berkilau samar, serta beberapa buku besarnya di tangan lain. para siswa segera duduk di kursi masing-masing, bersiap untuk memulai pelajaran alkimia pagi ini, kelas pun dimulai.