Alam Atas (Tiga Puluh Tiga Surga) sedang menghadapi akhir dari usianya yang telah berjalan miliaran tahun. Energi Dao mulai membeku. Para Penguasa Purba menyebutnya Kalpa Angin Salju. Untuk bertahan hidup dari kiamat kosmik ini, para penguasa Alam Atas menanam "Ladang Dunia Fana" (seperti dunia asal Shen Yu) untuk memanen energi kehidupan.
Kedatangan Shen Yu (Ketiadaan) dan Lin Xue (Teratai Primordial) adalah anomali. Bagi Alam Atas, Lin Xue adalah kayu bakar abadi yang bisa menghangatkan mereka dari musim dingin kosmik, sedangkan Shen Yu adalah badai salju yang akan mempercepat kehancuran mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Tarian Tiga Hukum
Surga Kedua - Langit di Atas Kota Roda Besi.
Puing-puing kapal perang emas yang masih terbakar berjatuhan seperti hujan meteor di sekeliling medan pertempuran. Di tengah kehancuran itu, tiga Dewa Sejati dari Pengadilan Langit mematung. Mata tanpa pupil mereka yang biasanya memancarkan arogansi abadi, kini bergetar oleh emosi fana yang telah lama mereka lupakan: ketakutan.
"Dia... dia menghapus eksistensi kapal suci kita..." gumam Dewa Angin Kosmik, jubah platinanya berkibar liar menahan gelombang kejut dari tebasan Shen Yu.
"Jangan tertipu oleh ilusi matamu!" raung Dewa Api Suci, api putih meledak dari seluruh tubuhnya, membakar udara di sekitarnya hingga menjadi ruang hampa. "Dia hanyalah manusia fana! Dagingnya pasti memiliki batas! Jika satu hukum tidak bisa membunuhnya, kita gunakan tiga!"
Dewa Petir dan Dewa Angin mengangguk serentak. Insting dewa mereka memperingatkan bahwa pemuda berjubah hitam di hadapan mereka adalah sosok yang harus dimusnahkan saat ini juga, atau Pengadilan Langit akan menghadapi Kehancurannya.
Ketiga Dewa Sejati itu melesat membentuk formasi segitiga di udara, mengelilingi Shen Yu.
Mereka merentangkan tangan mereka ke tengah. Hukum Petir, Angin Kosmik, dan Api Suci meledak secara bersamaan, saling mengunci dan beresonansi satu sama lain. Langit Surga Kedua terkoyak, menampilkan ruang hampa kosmik di baliknya.
"Formasi Penghakiman Surga: Trinitas Pemusnah!"
Seketika, sebuah badai raksasa bermanifestasi. Badai itu bukanlah elemen fisik, melainkan pusaran hukum alam murni. Angin kosmik merobek pertahanan ruang, petir menghancurkan jiwa, dan api suci meleburkan materi. Ketiga hukum itu memusat lurus ke arah Shen Yu, berniat menggilingnya hingga tak tersisa satu pun.
Di bawah, Lin Xue memegang gagang pedangnya erat-erat. "Tiga hukum Dewa Sejati yang disatukan... Kekuatannya berlipat ganda menyentuh Dewa Sejati Tahap Menengah."
Namun, di tengah pusaran kehancuran itu, tawa Shen Yu justru menggelegar. Tawa yang sangat arogan, menggema mengalahkan gemuruh petir surgawi.
"Tiga cacing yang menggabungkan diri tetaplah cacing!" raung Shen Yu.
Sang Tiran tidak menggunakan Domain Ketiadaan untuk bertahan. Sebaliknya, ia membiarkan badai Trinitas Pemusnah itu menghantam tubuh fisiknya.
BLAAAAAARRRR!
Lautan api, petir, dan angin kosmik menelan Shen Yu sepenuhnya. Ketiga Dewa Sejati menyeringai, yakin bahwa tidak ada Dewa Fana yang bisa bertahan dari penggilingan hukum absolut tersebut.
Namun, seringai mereka membeku saat sesosok bayangan hitam berjalan santai keluar dari pusat badai tersebut.
Shen Yu menepis sisa-sisa api suci dari bahunya. Jubahnya mungkin telah menjadi abu, namun kulit tubuhnya yang memancarkan kilau Tulang Besi Naga Bintang sama sekali tidak tergores. Urat-urat di tubuhnya berdenyut, menyerap energi kinetik dari serangan para dewa dan menjadikannya bahan bakar.
"Tubuhku ditempa di dalam Sumsum Naga Bintang dan Ketiadaan. Angin kalian terasa seperti hembusan napas bayi, dan api kalian bahkan tidak cukup panas untuk menghangatkan arakku," cemooh Shen Yu.
Mata kiri Shen Yu yang bercincin perak dan emas menyala terang.
"Sekarang, giliranku."
Shen Yu menghentakkan kakinya ke udara kosong. Loncatan fisiknya merobek batasan suara jutaan kali lipat. Ia menghilang dan muncul tepat di hadapan Dewa Angin Kosmik.
"T-Tidak mungkin!" Dewa Angin membelalak, segera memadatkan perisai badai setebal sepuluh gunung.
Shen Yu mengangkat Pemutus Samsara Primordial. Urat perak di bilah sabitnya berdenyut.
"Seni Waktu: Kematian yang Dipercepat."
Shen Yu tidak menebas perisai badai itu. Ia menebas 'waktu' dari perisai tersebut. Sabit hitam itu memutar usia angin kosmik tersebut hingga jutaan tahun ke depan dalam sekejap, membuat perisai dewa itu menua, melemah, dan hancur menjadi hembusan angin sepoi-sepoi.
Tanpa perisai, tubuh Dewa Angin terbuka lebar.
SRAAAAASH!
Sabit hitam legam itu membelah tubuh Dewa Angin dari bahu kiri hingga pinggang kanan. Tidak ada darah yang menyembur, karena Ketiadaan langsung melahap esensi Dantian dan hukum alam sang dewa, menyedotnya habis ke dalam bilah sabit.
Satu Dewa Sejati tewas dalam satu tarikan napas!
"ANGAAAN!" raung Dewa Petir, melihat saudaranya musnah tanpa sisa. Dipenuhi amarah buta, ia memanggil jutaan sambaran petir emas dari celah surga, mengarahkannya ke punggung Shen Yu.
Shen Yu bahkan tidak menoleh. Ia hanya melepaskan genggaman tangan kirinya dari sabit, lalu menjulurkannya ke belakang.
KRAAAK!
Tangan kosong Shen Yu menangkap pilar petir emas yang paling besar. Hukum petir itu mencoba menyengat dan menghancurkan lengannya, namun kilat emas di mata Shen Yu berputar. Ia menggunakan Hukum Cahaya yang ia telan dari Eksekutor Bintang sebelumnya untuk menetralisir petir tersebut, mengubahnya menjadi tombak energi murni di tangannya.
"Kau suka bermain petir?" bisik Shen Yu dingin. Ia membalikkan badan dan melemparkan kembali petir itu, diperkuat dengan Api Ketiadaan, tepat ke arah Dewa Petir.
Dewa Petir mencoba menghindar, namun tombak petir hitam itu melesat mengabaikan jarak dan waktu.
JLEEEB!
Tombak itu menembus tepat di tengah dahi Dewa Petir, memaku tubuh dewa itu di udara. Api Ketiadaan meledak dari dalam tengkoraknya, membakar kesadaran ilahinya hingga menjadi abu dalam jeritan yang tak bersuara.
Dua Dewa Sejati binasa.
Dewa Api Suci, yang tersisa sendirian, gemetar hebat. Arogansi surgawinya hancur lebur. Ia menatap pemuda berambut putih yang melayang di antara abu dewa-dewa itu seperti menatap iblis yang merangkak dari dasar neraka purba.
Tanpa memedulikan harga dirinya, Dewa Api Suci membalikkan badan, membakar esensi darahnya sendiri untuk melesat kabur menuju celah Surga Kesembilan.
"Mau ke mana?" suara Shen Yu terdengar berbisik tepat di telinga Dewa Api, meski tubuh fisiknya masih berada jauh di belakang.
Dewa Api membelalak ngeri. Ia menunduk dan melihat sebilah sabit hitam dengan urat emas dan perak telah menembus menembus dadanya dari belakang.
Shen Yu telah menggunakan Ketiadaan untuk 'menghapus' ruang di antara mereka, muncul tepat di punggung sang dewa layaknya bayangan maut itu sendiri.
"Kaisar Langit... tidak akan... mengampunimu..." rintih Dewa Api Suci, darah putih keemasan menetes dari sudut bibirnya.
"Beri tahu dia, aku akan segera menemuinya untuk mengambil singgasananya," bisik Shen Yu di telinga sang dewa.
Dengan satu sentakan kejam, Shen Yu menarik sabitnya ke samping, membelah tubuh Dewa Api Suci menjadi dua bagian yang langsung menguap ditelan Ketiadaan.
Tiga Dewa Sejati. Tiga pilar Pengadilan Langit Kesembilan. Dibantai seolah mereka tidak lebih dari sekadar rumput liar.
Shen Yu mengibaskan Pemutus Samsara Primordial-nya dengan gerakan anggun, membiarkan sabit itu menyerap sisa-sisa hukum alam ketiga dewa yang baru saja tewas. Bilah hitam legam itu berdengung penuh kepuasan.
Shen Yu melayang di depan tiga puluh dua kapal perang emas yang tersisa. Ratusan ribu prajurit elit Surga Kesembilan di atas kapal-kapal itu menjatuhkan senjata mereka. Beberapa dari mereka berlutut di atas geladak, air mata keputusasaan mengalir di wajah mereka.
Shen Yu mengangkat sabitnya, menunjuk lurus ke arah armada surga yang kehilangan para dewanya.
"Bawa pesan ini ke Surga Kesembilan," suara Shen Yu menggema, absolut dan tak terbantahkan. "Mulai hari ini, wilayah Surga Kedua adalah milik Malam Abadi. Jika ada satu helai cahaya surga lagi yang berani menyinari tanahku, aku akan membelah langit kalian dan menjadikan bintang-bintang kalian sebagai hiasan dinding kotaku."
Di bawah sana, puluhan ribu kultivator bayangan dan pasukan Mo Han bersujud di atas tanah baja yang bersimbah darah. Suara gemuruh mereka menyatukan Surga Kedua di bawah satu nama.
💪💪💪