NovelToon NovelToon
Obsession Sang Mafia

Obsession Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Kriminal dan Bidadari / CEO / Cintapertama
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Queen__halu

Alana terpaksa harus menikah dengan Axel Luciano, seorang CEO yang begitu terobsesi padanya. Ancaman Axel berhasil membuat Alana terjebak dalam dilema, sehingga ia terpaksa harus menerima pernikahan tersebut demi menyelamatkan nyawa orangtuanya.

Axel bukan hanya kejam di mata Alana, melainkan seorang psikopat yang siap melepaskan peluru kepada siapa saja yang berani melawannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen__halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lamaran yang gagal

Alana tersenyum hangat saat pipinya disentuh lembut oleh Oliver, lelaki yang sebentar lagi akan menjadi tunangannya.

"Alana, sebentar lagi kita akan bertunangan, aku mau kamu bersedia berbagi apa pun denganku, Alana!" Oliver menatap lekat kedua bola mata milik Alana, seolah ingin menyusup lebih dalam.

"Olli, aku akan berusaha menjadi seperti yang kamu ingin, kecuali untuk menghabiskan malam sebelum kita menikah." Alana menepiskan telapak tangan Oliver dari pipinya. Ia pun menjauhkan wajahnya dari Oliver.

Sedangkan Oliver, ia berusaha menahan rasa geram dalam dirinya karena jawaban Alana yang sama sekali tidak sesuai dengan harapannya.

Oliver selalu memaksa Alana untuk tidur dengannya, namun gadis itu selalu saja menolak. Kali ini Oliver pikir rencananya akan berjalan mulus, namun sialnya lagi Alana justru tetap menolak.

"Alana, Olli akan menjadi suamimu, tidak ada salahnya jika kalian menghabiskan waktu bersama," ujar Maria, bibinya.

Karena sejak kecil orang tua Alana sudah meninggal, dan terpaksa Alana harus tinggal dengan keluarga Bibinya yang meskipun keluarga itu tidak begitu menyukai Alana. Lebih tepatnya lagi, mereka menyukai harta Alana.

"Bibi, aku masih waras, walaupun aku akan melakukannya nanti dengan Olli, tapi tidak sekarang." Alana membantah terang-terangan, sehingga membuat Maria mengepalkan kedua tangannya karena kesal.

"Alana, kamu jangan keras kepala. Olli bisa membatalkan pertunangan kapan saja, tapi kamu juga harus ingat, kontrak kerja sama akan berakhir dan kita akan jatuh miskin," bisik Jenny, kakak sepupunya.

"Itu kemauan kalian, bukan aku. Kenapa bukan Kak Jenny aja yang nikah sama Olli?"

 Maria menghela napas panjang, berusaha menahan emosinya agar tidak membludak di depan Oliver dan Ayahnya.

"Yang keluarga Oliver inginkan itu kamu, bukan Jenny. Jadi, bersikaplah sebagai anak yang baik, Alana!" Maria tersenyum canggung pada Oliver dan Ayahnya. Namun bagi Oliver, senyuman itu tidak berarti apa-apa baginya.

"Waktu saya tidak banyak, bisa kita mulai pertunangan ini?" tanya Tuan Robert, ia menatap sejenak pada Alana dan Maria bergantian.

"Tentu saja, kita bisa mulai pertunangan ini, asal tuan bersedia menandatangani surat-surat ini dengan cepat." Maria menyodorkan berkas tersebut pada tuan Robert.

Tidak ingin menunggu lebih lama lagi, tuan Robert pun menanda tangani berkas-berkas itu dan memberikan nya lagi kepada Maria.

Maria menerima berkas itu dengan wajah bahagia, begitu juga dengan Jenny. Namun tidak dengan Alana, ia hanya bisa mengulum bibirnya dengan pasrah saat itu.

Oliver mengeluarkan cincin berlian dari box beludru warna merah, sementara satu tangannya lagi memegang tangan kiri Alana, siap untuk memasangkan cincin itu di jemari lentik sang kekasih.

Dor!

Alana menutup kedua telinganya dengan tangan, sementara Oliver mengeluarkan pistol dari balik saku bajunya, siap menembak ke arah musuh.

"Aaaah," pekik Alana, ia menutup kedua matanya dalam-dalam, bayangannya kembali pada kejadian seminggu yang lalu saat di gereja bersama Luciano.

"Hentikan pertunangan ini, serahkan nona Alana pada kami." Lelaki bertopeng hitam itu menodongkan senjatanya pada wajah Oliver, sementara beberapa orang yang lain menyandera Maria, Jenny, dan Robert dengan cara memintal tangan mereka ke belakang dan mengarahkan pistol di kepala mereka.

Oliver tidak bisa berbuat apa-apa saat itu. Ia merasa percuma jika harus melawan, karena jumlah mereka sangat banyak saat itu.

"Siapa kalian? Mau apa kalian?" sentak Oliver sambil berusaha mempertahankan wajah tegasnya saat itu.

"Ciuh, nyalimu banyak juga!" katanya sambil mendecih. Ia berjalan dua langkah lebih dekat pada Oliver. Sontak saja membuat Oliver mundur perlahan. Mau memberontak pun percuma, dia hanya sendiri tanpa membawa anak buahnya.

Oliver pikir, dia tidak butuh pengawalan, karena ia akan melaksanakan acara pertunangan. Namun siapa sangka, jika acara hari ini harus berakhir seperti ini.

"Jatuhkan senjata mu itu," titah lelaki bertopeng itu. Oliver pun mengikuti instruksi dari pria itu. Namun pandangannya tak lepas dari Alana yang saat itu masih menunduk ketakutan.

"Jangan sentuh Alana," teriak Oliver, saat tangan lelaki bertopeng itu menyentuh pundak polos Alana.

"Diam atau kau akan berhenti bernapas hari ini." Lelaki itu mengancam, dan Oliver langsung membisu saat itu juga.

"Jangan berani menyentuh wanita ku," jawab seseorang yang baru saja melangkah masuk ke dalam rumah.

Lelaki bertubuh kekar, memakai jas abu-abu bermotif kotak-kotak. Rahangnya tegas, matanya tajam bak elang. Aura yang begitu mendominasi, Luciano.

"Kau? Kau harusnya mati, Luciano!" Oliver mengeratkan rahangnya saat melihat wajah Luciano yang begitu tenang saat itu.

"Sayangnya alam belum menginginkan kematianku, pecundang!"

Luciano mendekat pada Oliver, lalu duduk dengan angkuh di hadapan Oliver.

"Lepaskan Alana," titah Luciano kepada anak buahnya.

Setelah Alana di lepaskan, Luciano menarik pinggang Alana sehingga membuat tubuh gadis itu terjatuh diatas pangkuannya. Alana berusaha menolak, namun Luciano menahannya.

"Jangan menyentuh Alana, dia tunanganku." Oliver berusaha mendekat, namun anak buah Luciano menahannya.

"Sejak kapan? Apa di jari Alana sudah melingkar cincin?" Luciano menarik tangan kiri Alana untuk memastikan jika di jari gadis itu belum terdapat tanda pengikat.

"Aku tidak perduli dengan cincin itu, tapi dia adalah milikku," bantah Oliver dengan tegas.

"Oh ya? Apa Alana menerima dan mencintaimu?" tanya Luciano lagi, ia sengaja memancing suasana saat itu.

"Tuan, mohon lepaskan Alana, dia akan menikah dengan Oliver!" Maria ikut bicara saat itu. Namun sayangnya bukan di dengarkan oleh Luciano, namun justru mendapat tembakan peringatan dari Luciano. Beruntung tidak mengenai kaki Maria saat itu.

"Sejak kapan aku mengizinkan tua bangka seperti mu bicara?" tanya Luciano dengan sinis.

"Tuan, aku mohon. Lepaskan aku," pinta Alana dengan suara yang terdengar sangat melas.

Bukan mendengar kan permintaan Alana, Luciano justru menyentuh pipi Alana dengan lembut namun penuh obsesi. Luciano bahkan nyaris mencium bibir Alana saat itu juga. beruntung ia dapat mengendalikan dirinya.

"Jangan berani menyentuh Alana," teriak Oliver lagi. Namun saat ia ingin melangkah untuk menarik Alana dari pangkuan Luciano, ia justru mendapat tembakan dari lelaki angkuh itu.

Luciano memberi isyarat kepada anak buahnya hanya dengan satu petikan jari saja. Anak buahnya itu langsung membuka koper yang berisi uang penuh saat itu.

"Satu milyar, untuk Alana." Luciano melirik sekilas pada Maria, tentu saja mata wanita itu berbinar saat melihat tumpukan uang dengan nilai fantastic tersebut.

"Aku bukan barang, Luciano." Alana mendorong dada bidang Luciano lalu bangkit dari pangkuan lelaki tersebut.

"Siapa bilang kau barang, Alana? Kau itu wanita, jelmaan bidadari yang tuhan anugerah kan untuk ku." Luciano tersenyum licik pada Alana, lalu beralih pada Oliver.

"Dua milyar!" Jenny ikut menimpali, jiwa materialis tis nya meronta-ronta saat melihat tumpukan uang itu.

Dor!

Satu tembakan peringatan untuk Jenny dari Luciano.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!