NovelToon NovelToon
One Piece: Sang Kaisar Api Abadi

One Piece: Sang Kaisar Api Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Time Travel / Mengubah Takdir / Kelahiran kembali menjadi kuat / One Piece / Fantasi Isekai
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

Seorang pemuda dari dunia modern yang sangat mengidolakan Portgas D. Ace terbangun di tubuh Ace, tepat beberapa saat sebelum ia bertemu dengan Shirohige.

Mengetahui nasib tragis yang menantinya di Marineford, ia bertekad untuk menjadi lebih kuat, menguasai Mera Mera no Mi melampaui batas alaminya, dan mengumpulkan pengikut (serta orang-orang tercinta)

untuk mengubah sejarah Grand Line.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ARMAMENT HAKI DAN PERTARUNGAN PERTAMA

Tiga bulan berlalu sejak latihan neraka dimulai.

Tubuhku berubah drastis—meskipun masih anak tiga tahun, otot mulai terbentuk. Tidak besar seperti orang dewasa, tapi jelas lebih kencang dan kuat dari anak seusiaku. Stamina juga meningkat pesat—sekarang lima putaran lari pagi terasa seperti pemanasan.

Sabo juga berkembang luar biasa. Dia bahkan kadang mengalahkanku dalam latihan fisik—energinya seolah tidak ada habisnya.

"ACE! SABO! HARI INI KITA MULAI ARMAMENT HAKI!" Yamamoto berteriak dari luar gubuk.

Kami langsung melompat dari kasur—bahkan sebelum matahari terbit sudah jadi kebiasaan.

Di area latihan, Yamamoto berdiri dengan sebatang kayu tebal di tangan.

"Kalian sudah cukup bagus dengan Observation Haki dasar—bisa merasakan presence dalam radius lima meter. Itu bagus untuk pemula. Sekarang saatnya Armament."

Dia melempar dua batang kayu pada kami. Aku dan Sabo menangkapnya dengan reflex yang sudah terlatih.

"Armament Haki adalah pelindung. Juga senjata. Bisa bikin tubuh sekeras baja, bisa bikin serangan menembus pertahanan Devil Fruit." Yamamoto menjelaskan sambil memukul kayu di tangannya ke pohon.

CRACK!

Pohon itu retak dalam.

"Dengan Armament, kayu biasa jadi senjata mematikan. Dengan Armament, tangan kosong bisa hancurkan batu. Mengerti?"

Kami mengangguk serius.

"Tapi menguasainya jauh lebih sulit dari Observation. Butuh kontrol dan fokus tingkat tinggi. Pertama—kalian harus RASAKAN energi di dalam tubuh kalian."

"Energi?" Sabo bertanya bingung.

"Ya. Setiap makhluk hidup punya energi spiritual dalam tubuh. Haki adalah manifestasi energi itu. Sekarang duduk. Tutup mata. Rasakan aliran darah. Rasakan detak jantung. Rasakan napas. Dan cari sesuatu yang lebih dalam dari itu."

Kami duduk bersila. Menutup mata.

Aku fokus seperti instruksi. Rasakan aliran darah—check. Detak jantung—check. Napas—check. Dan kemudian... cari yang lebih dalam.

Awalnya tidak ada. Hanya sensasi fisik biasa.

Tapi perlahan—sangat perlahan—aku merasakan sesuatu. Seperti aliran air hangat di bawah kulit. Tidak terlihat tapi TERASA.

"Aku... rasa ada sesuatu..." aku berbisik.

"Bagus. Itu energi spiritualmu. Sekarang coba tarik energi itu ke tanganmu. Bayangkan mengalir dari dada ke lengan, ke tangan."

Aku mencoba. Bayangkan energi hangat itu mengalir. Dari dada... ke bahu... ke lengan... ke—

PANAS!

Tanganku tiba-tiba terasa sangat panas. Aku membuka mata dan melihat—tangan kananku menyala dengan api kecil.

"Eh?! Bukan Haki! Itu Devil Fruit!" aku panik memadamkan apinya.

Yamamoto tertawa. "Wajar. Devil Fruit dan Haki punya sumber energi sama—kehendak penggunanya. Kau harus belajar memisahkan keduanya. Coba lagi. Kali ini jangan bayangkan api. Bayangkan PELINDUNG. Bayangkan lapisan baja invisible."

Aku mencoba lagi. Kali ini lebih hati-hati. Energi mengalir tapi aku bayangkan bukan api—tapi pelindung. Lapisan keras di permukaan tangan.

Perlahan, tanganku berubah warna—gelap. Seperti dilapisi sesuatu.

"BERHASIL! Lihat Yamamoto-san! Ace berhasil!" Sabo berteriak excited.

Yamamoto menatap tanganku dengan mata melebar. "Cepat sekali... normalnya butuh berbulan-bulan untuk pertama kali manifestasi Armament..."

Tapi warna gelap itu cuma bertahan tiga detik sebelum hilang. Tanganku kembali normal dan aku langsung lemas—energi terkuras habis.

"Tapi... hanya sebentar..." aku terengah-engah.

"Itu sudah luar biasa. Kau baru latihan tiga bulan dan sudah bisa manifestasi—meski cuma sedetik. Kau punya bakat alam, Ace."

Bukan bakat alam. Ini tubuh Portgas D. Ace—anak dari Raja Bajak Laut. Genetiknya memang luar biasa.

"Sekarang giliran Sabo. Coba kau juga."

Sabo mencoba dengan serius. Berkeringat, gemetar, fokus penuh. Tapi tidak ada perubahan di tangannya.

"Jangan dipaksakan. Setiap orang punya kecepatan berbeda. Terus coba setiap hari. Suatu hari pasti bisa."

Sabo mengangguk meski terlihat sedikit kecewa.

Latihan berlanjut sampai siang. Aku mencoba beberapa kali lagi manifestasi Armament—kadang berhasil sedetik-dua detik, kadang gagal total. Setiap kali berhasil, energi terkuras drastis.

"Cukup untuk hari ini. Kalian istirahat. Besok kita lanjut."

Tapi istirahat tidak bertahan lama.

Sore harinya, saat kami sedang main dengan Luffy di depan gubuk, terdengar suara keributan dari arah hutan.

"DADAN-SAN! ADA BANDIT LAIN MASUK WILAYAH KITA!"

Anak buah Dadan berlarian panik. Dadan keluar dengan wajah serius.

"Bandit lain? Siapa?"

"Bluejam Pirates! Mereka datang dengan banyak orang!"

Wajah Dadan berubah pucat. "Bluejam... sial... kenapa bajingan itu datang kesini?!"

Bluejam. Nama yang familiar. Kapten bajak laut tingkat rendah tapi kejam yang beroperasi di Gray Terminal—tempat pembuangan sampah di pinggir kota kerajaan Goa.

Dalam timeline asli, Bluejam yang membakar Gray Terminal atas perintah bangsawan. Dia juga yang hampir membunuh Ace dan Sabo waktu kecil.

"Berapa banyak?" Dadan bertanya dengan nada was-was.

"Sekitar dua puluh orang. Bersenjata lengkap."

Dadan menggigit bibirnya. Anak buahnya cuma sepuluh orang. Kalah jumlah.

"Sembunyikan anak-anak. Terutama Ace, Sabo, dan Luffy. Jangan sampai mereka lihat."

"TIDAK!" aku berteriak tiba-tiba. "Aku mau ikut!"

"HAH?! Kau gila?! Kau masih anak-anak!"

"Aku sudah latihan tiga bulan! Aku bisa bertarung!"

"ACE! Ini bukan latihan! Mereka bajak laut sungguhan yang bisa bunuh kau tanpa ragu!"

"Kalau aku sembunyi sekarang, kapan aku bisa melindungi yang kusayangi?!" aku menatap Dadan dengan mata penuh tekad. "Aku tidak mau jadi beban! Aku mau jadi kekuatan!"

Dadan terdiam. Menatapku lama.

"Aku juga ikut!" Sabo berdiri di sampingku. "Kita saudara! Kita bertarung bersama!"

"Kalian... dasar bocah keras kepala..." Dadan menghela napas panjang. Lalu menatap kami dengan tatapan serius. "Baiklah. Tapi kalian jangan jauh dari aku. Mengerti?!"

"MENGERTI!"

Yamamoto muncul dengan pedang di pinggang. "Aku juga ikut. Dua puluh bajak laut rendahan tidak masalah."

"Terima kasih, Yamamoto."

Kami bergerak menuju sumber keributan. Suara teriakan dan tawa kasar terdengar makin jelas.

Di area terbuka, dua puluh orang dengan senjata lengkap—pedang, kapak, pistol—berdiri dengan arogan. Di tengah mereka, seorang pria tinggi dengan topi biru dan bekas luka di wajah.

Bluejam.

"Dadan! Sudah lama tidak bertemu!" dia menyeringai lebar. "Wilayah ini bagus ya! Banyak hasil buruan! Mulai sekarang, ini wilayah kami!"

"Dalam mimpimu, Bluejam! Ini wilayah kami sejak dulu!" Dadan berteriak balik.

"Oh ya? Mau perang? Lihat jumlah kami. Lihat jumlah kalian. Siapa yang menang sudah jelas."

Anak buah Dadan terlihat takut—wajar. Mereka kalah jumlah dan kalah persenjataan.

"Kecuali..." Bluejam menatap kami dengan tatapan lapar. "Kalian serahkan harta jarahan kalian bulan ini. Dan... dua bocah itu."

Dia menunjuk aku dan Sabo.

"Bocah tampan bisa dijual mahal di pasar budak. Lumayan untuk tambahan uang."

Amarah meledak di dadaku. Pasar budak. Perdagangan manusia. Salah satu hal paling menjijikkan di dunia One Piece.

"Jangan harap!" Dadan melangkah ke depan, melindungi kami.

"Sayang sekali. Kalau begitu..." Bluejam mengangkat tangannya. "SERANG! BUNUH SEMUA KECUALI DUA BOCAH ITU!"

Dua puluh bajak laut menyerbu dengan teriakan perang.

"BERTAHAN!" Dadan berteriak.

Pertarungan pecah.

Yamamoto bergerak pertama—pedangnya berkilat, menebas tiga bajak laut sekaligus dengan satu gerakan. Anak buah Dadan juga bertarung mati-matian.

"Ace! Sabo! Tetap di belakang—"

"AWAS!" aku berteriak melihat seorang bajak laut dengan kapak berlari ke arah Dadan dari samping.

Tanpa berpikir, aku berlari. Energi mengalir ke tanganku. Api menyala—

Tidak! Bukan api! ARMAMENT!

Tanganku berubah gelap sedetik sebelum kutabrakan ke kaki bajak laut itu.

WHAM!

Dia terpental jauh—kakinya patah dari benturan.

"A-ACE?!" Dadan menatapku shock. "Kau baru saja—"

"DADAN-SAN! BELAKANG!" Sabo berteriak sambil memukul bajak laut lain dengan tongkat besi.

Pertarungan jadi kacau. Dimana-mana ada teriakan, darah, dan kekacauan.

Aku bertarung dengan instink—menghindar, memukul, kadang menyalakan api kecil untuk mengejutkan musuh. Armament Haki-ku masih tidak stabil—muncul sedetik lalu hilang—tapi cukup untuk bikin musuh terkejut.

"BOCAH SIALAN!" seorang bajak laut besar mengayunkan pedang ke arahku.

Aku menghindar—reflex dari latihan tiga bulan—dan membalas dengan bola api ke wajahnya.

"GYAAAA! PANAS!"

Dia jatuh dengan wajah terbakar.

"Devil Fruit?! Bocah ini punya Devil Fruit?!" bajak laut lain panik.

"SURROUND DIA! JANGAN BIARKAN KABUR!"

Lima bajak laut mengelilingiku dengan senjata teracung.

Sial. Kepepet.

"ACE!" Sabo mencoba mendekat tapi ditahan dua bajak laut.

"Menyerah, bocah. Kau sudah tidak punya jalan keluar," salah satu dari mereka menyeringai.

Aku menatap sekeliling. Mencari celah. Tapi mereka rapat. Tidak ada ruang kabur.

Baiklah. Kalau tidak bisa kabur...

SERANG BALIK!

Aku menarik napas dalam. Fokus. Energi mengalir ke seluruh tubuh. Api menyala di kedua tangan—lebih besar dari biasanya.

"HIKEN!" aku berteriak—meniru teknik signature Ace—dan melempar dua bola api besar ke arah mereka.

BOOM!

Ledakan kecil. Asap tebal. Teriakan kesakitan.

Saat asap menipis, tiga dari lima bajak laut tergeletak dengan luka bakar. Dua lainnya mundur ketakutan.

"Monster... bocah ini monster..."

Aku terengah-engah. Energi hampir habis. Tapi tidak boleh tunjukkan kelemahan.

"Siapa lagi?!" aku berteriak dengan suara yang lebih keras dari yang kurasakan.

Mereka mundur. Takut.

Di sisi lain, Yamamoto sudah mengalahkan sepuluh orang sendiri. Dadan dan anak buahnya bertarung habis-habisan.

Bluejam menatap situasi dengan wajah gelap.

"Ternyata kalian lebih kuat dari yang kukira... terutama bocah Devil Fruit itu..." dia menatapku dengan mata berbahaya. "Tapi ini belum selesai. Kami akan kembali. Dengan lebih banyak orang. Dan saat itu... kalian semua mati."

Dia bersiul keras. Bajak laut yang masih hidup langsung kabur—membawa rekan yang terluka.

Dalam hitungan menit, mereka menghilang di antara pepohonan.

Hening.

Lalu Dadan kolaps. Bernapas lega.

"Mereka... pergi..."

"Untuk sekarang," Yamamoto berkata serius. "Tapi Bluejam bukan tipe orang yang lupa dendam. Dia akan kembali."

Aku menatap arah mereka kabur. Ini pertarungan pertamaku. Pertarungan sungguhan dengan nyawa dipertaruhkan.

Dan aku menang.

Tapi ini baru permulaan.

Badai yang lebih besar akan datang.

Dan aku harus siap.

Api takdir berkobar lebih terang.

Tidak ada jalan mundur.

BERSAMBUNG

1
I'm Nao
kenapa si ace ama sabo ga belajar rokushiki? kan lumayan teknik nya bisa buat pertarungan di udara
I'm Nao
hmmm bukan nya itu mutlak ya? bagi user devil fruit
Wahyu🐊
Semoga Kalian Suka Sama Karya ku Ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!