Gawat, ini benar-benar gawat. Oke perkenalkan, aku Ravindra Arvana, dari keluarga terpandang Arvana. Aku KUALAT!
Karena aku ketahuan menyelingkuhi istri kontrakku dengan cinta pertamaku masa SMP. Tapi kan... dia cuma istri kontrak.
Anyway, setelah kepergok, semesta seperti tidak membiarkan aku dan Yunika, selingkuhanku, bersama.
Ada aja halangan. Apalagi sejak itu, hasratku ke dia kok hilang?!?
Aku memohon maaf pada Tafana, istriku, agar kutukan ini berakhir.
Dia setuju memaafkan dengan syarat:
1. Aku menceraikannya
2. Aku mencarikan PENGGANTIKU yang lebih baik dariku
Masalahnya pria muda, lajang, baik hati dan tidak sombong dengan status kekayaan menyaingiku SANGAT JARANG...
Begitu ketemu kandidatnya... kok kejadiannya begini?
Pokoknya kalian baca aja lah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Khodijah Lubis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eksekusi Tanpa Ekspektasi
Tafana baru benar-benar menyadari bahwa ia sedang menuju pelaminan ketika lampu-lampu kristal dinyalakan penuh dan musik mulai mengalun. Terlalu megah untuk sesuatu yang, sejauh ini, lebih mirip kesepakatan administratif daripada perayaan cinta. Gedung itu ditata dengan presisi. Bunga-bunga disusun berlimpah, warna-warna lembut dipilih dengan perhitungan estetika yang aman. Segalanya tampak seperti hasil kurasi papan inspirasi daring: cantik, rapi, dan sedikit tidak personal.
Ia berdiri kaku, jari-jarinya mencengkeram buket bunga seolah itu satu-satunya benda nyata di ruangan ini.
Gaun pengantinnya jatuh sempurna. Tidak berlebihan, tidak mencolok, tapi cukup untuk membuat Tafana merasa sedang memerankan seseorang yang asing. Saat melangkah ke depan, ujung gaun itu menangkap cahaya dan berkilau dengan cara yang terlalu simbolis.
Oh, jadi begini rasanya jadi properti visual utama, pikirnya.
Ravindra berdiri di sana, sudah menunggunya.
Wajahnya tetap datar, tegak, rapi. Seperti papan presentasi yang tak pernah salah font. Namun detik ketika Tafana muncul, langkahnya terhenti sesaat.
Ada sesuatu yang mengganjal di dada Ravindra, sesuatu yang tidak pernah muncul di ruang rapat mana pun. Tafana terlalu… terang. Terlalu memukau untuk sekadar dilihat sepintas. Untuk sepersekian detik yang memalukan, Ravindra hampir berpikir ia sedang menunggu peri, bukan pengantin. Ia menelan ludah, merapikan napas, dan—untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun—merasa tidak terlalu percaya diri dengan penampilannya sendiri.
Tafana berdiri di sampingnya. Dekat. Terlalu dekat untuk ukuran kerja sama biasa. Mereka berjalan bersama menuju bangku pelaminan, dan duduk bersebelahan.
Ravindra mencondongkan badan, suaranya rendah, praktis.
“Sepatunya nyaman?”
Tafana berkedip, lalu mengangguk.
“Kalau capek, nanti lepas aja.”
Ia mengangguk lagi.
“Minum dulu.” Sebotol air sudah ada di tangan Ravindra, disodorkan tanpa seremoni.
Tidak ada pujian maupun kalimat manis. Tapi caranya memperhatikan—jarak duduk, posisi rok Tafana, menaruhkan buket—membuat Tafana merasa nyaman dengan cara yang aneh. Seperti dijaga sistem yang bekerja diam-diam.
Ia mencuri pandang ke arah Ravindra. Wajah pria itu tetap tenang, tapi bahunya sedikit tegang. Tafana tidak tahu—dan Ravindra tidak akan pernah mengaku—bahwa berada di samping Tafana jauh lebih membuatnya gugup daripada memimpin akuisisi bernilai triliunan.
Jika ini mimpi, Tafana berpikir, semoga alarmnya lupa berbunyi.
-oOo-
Jamuan makan malam berlangsung di ruangan yang terlalu luas untuk percakapan jujur. Meja panjang dipenuhi hidangan yang namanya lebih rumit daripada rasanya. Sendok dan garpu berdenting rapi, senyum-senyum dipasang seperti aksesori wajib.
Tafana baru menyentuh suapan ketiganya ketika pertanyaan itu datang, ringan tapi tajam.
“Jadi… udah berencana punya momongan?”
Disusul tawa kecil, seolah itu candaan.
“Kalian kenapa nggak honeymoon? Tapi nggak masalah, yang penting malam pertamanya harus sukses ya.”
Tafana tersenyum. Senyum sosial yang tidak melibatkan emosi apa pun. Ia menatap piringnya, berpura-pura sibuk memilah nasi dan lauk, berharap topik itu punya sopan santun untuk mati sendiri.
Ravindra meletakkan sendoknya. Gerakannya tidak tergesa, tidak dramatis. Hanya cukup untuk menarik perhatian orang-orang di meja.
“Kami masih fokus adaptasi,” katanya, nadanya datar, nyaris administratif. “Pernikahan itu proses.”
Tidak ada penjelasan lanjutan. Tidak ada tawa. Tidak ada ruang negosiasi.
Udara berubah. Beberapa orang mengangguk, entah setuju atau hanya tidak tahu harus bereaksi apa. Yang lain kembali menatap piringnya, seperti baru sadar hidangan ini lebih menarik daripada kehidupan rumah tangga orang lain.
Percakapan pindah jalur. Tentang saham. Tentang renovasi rumah. Tentang cuaca yang entah kenapa selalu relevan.
Tafana melirik Ravindra. Pria itu kembali makan dengan tenang, seolah barusan tidak memotong satu tradisi keluarga dengan satu kalimat pendek. Di bawah meja, lutut mereka hampir bersentuhan. Tidak sengaja. Tapi cukup dekat untuk membuat Tafana merasa—anehnya—dilindungi.
Ia menarik napas pelan. Untuk pertama kalinya malam itu, ia bisa mengunyah tanpa merasa sedang diuji.
Mungkin, Tafana berpikir, beginilah rasanya punya suami yang tidak ikut-ikutan sibuk mengatur hidup orang lain.
-oOo-
Malam merambat pelan saat mobil Ravindra berhenti di halaman rumah itu. Bangunannya terlalu tenang untuk ukuran rumah pengantin baru.
Lampu temaram, halaman rapi, dan keheningan yang terasa disengaja. Tafana turun dengan langkah ragu, masih setengah percaya bahwa ia benar-benar pulang sebagai istri seseorang.
Di dalam, Ravindra membuka pintu, menyalakan lampu satu per satu seperti sedang memperkenalkan ruang rapat.
“Kamar kamu di lantai dua,” katanya.
Bukan kita. Kamu.
Langkah Tafana melambat. Ada rasa gugup menjalar di tengkuknya. Ia mengikuti Ravindra menaiki tangga, berhenti di depan sebuah pintu kayu berwarna terang. Saat pintu dibuka, Tafana mendapati kamar luas dengan ranjang rapi, jendela besar, dan kamar mandi dalam yang wangi sabun.
“Ini kamar kamu,” ujar Ravindra, singkat. “Privasi dijaga.”
Tafana menoleh. “Terus kamar kamu?”
“Sebelah sana.” Ia menunjuk lorong lain, seolah itu informasi teknis yang tak perlu dibahas.
Sesaat hening. Tafana meletakkan tasnya, menepuk-nepuk kasur, memastikan ini nyata. Tenang. Tidak ada kelopak bunga yang ditaburkan tanpa guna. Tidak ada suasana canggung yang menuntut penjelasan.
Beberapa menit kemudian, Tafana turun lagi, melihat ruang tamu yang membuatnya terlalu gatal untuk didiamkan. Ia menggulung lengan baju, mengambil sapu.
"Kamu mau apa?" heran Ravindra.
“Mau beresin dikit—”
“Nggak perlu.” Ravindra menghentikannya sebelum tangannya sempat menyapu. “Kamu ke sini sebagai pendamping saya. Nyonya rumah bukan pembantu.”
Tafana mengangkat alis.
“Ada staf yang datang setiap sore,” lanjut Ravindra. “Khusus membersihkan dan merapikan rumah. Kamu bebas di sini.”
Bebas. Kata itu jatuh pelan tapi terasa berharga. Tafana kembali ke kamarnya, merebahkan diri, menatap langit-langit yang bersih tanpa retak.
Ia terkekeh kecil. Mungkin orang-orang keliru soal uang tidak bisa membeli kebahagiaan. Uang memang tidak membeli kebahagiaan. Tapi jelas, uang tahu cara menyewakan ketenangan.
Jurnal Ravindra Arvana
Pernikahan ini berjalan sesuai rencana. Tepat waktu, minim gangguan, tanpa drama yang tidak perlu. Satu-satunya variabel di luar perkiraan saya adalah fakta bahwa penampilan perempuan bisa berubah sedrastis itu hanya dengan kombinasi riasan wajah dan setelan pakaian yang tepat.
Tafana Alegrisa Myltom, dalam gaun pengantin putih, tampak seperti entitas berbeda dari Tafana yang saya kenal selama proses penjodohan. Bukan sekadar “lebih cantik”, melainkan berubah wujud—seperti presentasi yang isinya sama, tetapi desain visualnya tiba-tiba premium. Efeknya mengganggu konsentrasi saya selama kurang lebih beberapa menit. Catatan penting: hal ini tidak boleh diulang sebagai distraksi.
Di luar itu, Tafana adalah pilihan yang sangat tepat. Ia elegan tanpa dibuat-buat, mampu berbincang dengan keluarga besar tanpa berlebihan, dan—yang paling krusial—tahu kapan harus diam. Ia menyeimbangkan dinamika keluarga saya dengan baik. Orang tua saya terlihat puas. Kerabat merasa nyaman. Tidak ada satu pun momen di mana saya perlu melakukan kontrol kerusakan.
Sejauh ini, tidak ada cela.
Keputusan untuk tidak mengajaknya berbulan madu adalah langkah strategis. Perjalanan romantis dengan pemandangan indah akan menciptakan ekspektasi yang tidak relevan dengan bentuk hubungan ini. Menghabiskan waktu berdua secara intens, di ruang asing, berpotensi membuat Tafana gugup atau merasa terintimidasi. Itu kontraproduktif.
Ini pernikahan kontrak. Bukan eksperimen emosional.
Saya ingin Tafana merasa aman, nyaman. Hidup senormalnya di rumah sebagai tempat tinggal bersama, bukan arena pembuktian perasaan. Model housemates dengan status legal adalah pendekatan paling efisien. Tanpa tuntutan. Tanpa kewajiban di luar kesepakatan awal.
Menariknya, Tafana terlihat menerima ini dengan sangat baik. Terlalu baik, bahkan.
Kesimpulan sementara: keputusan ini rasional, stabil, dan menguntungkan semua pihak.
Jika ada variabel yang perlu diawasi ke depan, itu bukan Tafana.
Itu saya.
ini baru permulaan, pembalasan untuk pelakor harus lebih sadis😀😀
daripada menambah sakit hati dalam diri tafana meskipun tertutupi
hukum tabur tuai menunggumu, yang lebih bersenang-senang dengan kendaraan plat kuning
kalo serakah malah nggak dapat dua-duanya 😅😅