NovelToon NovelToon
Merawat Anak Dari Calon Suamiku

Merawat Anak Dari Calon Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Single Mom / Anak Genius / Duda / Cintapertama
Popularitas:706
Nilai: 5
Nama Author: Ega Sanjana

Bagaimana jika kita tiba-tiba menjadi ibu dari anak calon suami kita sendiri ,apa yang akan kita lakukan ?Memutuskan hubungan begitu saja ?atau tetap lanjut . Aku akan berusaha menjadi ibu yang baik untuk nya ,Rara Aletta Bimantara . Akan ku usahakan semua nya untuk mu ,Terimakasih Sudah mau menjadi istri dan ibu dari anak Ku _Rama Alexandra Gottardo.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ega Sanjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 Langkah Demi Langkah

Siang, Lila. Mau makan es cendol gak? Aku beli dari warung yang enak di depan sekolahmu," ujar Rara satu hari, memegang mangkuk es cendol yang masih dingin.

Lila hanya mengangguk perlahan, lalu berjalan pelan ke meja dan mengambil sendok. Dia makan dengan diam, matanya tetap menatap lantai. Rara duduk di sampingnya, mencoba memulai percakapan tapi selalu gagal. Hingga satu hari, Lila tiba-tiba berbicara.

"Ibu Siti juga suka beli es cendol dari warung itu," katanya, suaranya kecil seperti bisikan.

Rara merasa hatinya terasa sesak. Dia melihat Lila yang kecil itu, dan rasa kasihan menyelimuti dirinya. "Benarkah? Mungkin nanti kita beli bareng ya? Kamu bisa pilih tambah tape atau kacang merah."

Lila mengangguk, dan itu adalah awal dari hubungan mereka. Perlahan-lahan, tembok di hatinya mulai retak. Rara mulai mempelajari kebiasaan Lila: dia suka main layang-layang di taman Alun-Alun Jakarta ,suka menonton kartun Doraemon dan Upin & Ipin, takut hantu dan badai, selalu minta cerita sebelum tidur, dan tidak suka makan sayuran hijau.

Suatu hari, Rara membawa buku cerita baru yang berjudul Kucing Kiki yang Mencari Teman. Dia membacanya untuk Lila di ruang tamu, dengan suara yang lembut dan penuh ekspresi. Lila mendengarkan dengan penuh perhatian, matanya terbelalak melihat gambar di buku.

"Setelah itu, Kiki menemukan teman baru yang baik, dan mereka selalu bermain bersama," ujar Rara, menutup buku.

"Lila juga mau teman baru?" tanya Lila, memandangnya dengan mata yang cerah.

"Ya, sayang. Kamu bisa jadikan aku temanmu loh," ujar Rara dengan senyum.

Lila mengangguk, dan dia memegang jari Rara dengan jari-jarinya yang kecil. Rara merasa senyum membasahi wajahnya—ini adalah langkah kecil, tapi berarti banyak baginya.

Suatu malam, Rama pulang kerja terlambat karena ada proyek penting di kantor. Lila menangis karena ingin ayahnya, dan dia tidak mau tidur tanpa cerita dari Rama. Rara membawanya ke kamar tidur, membuka buku Kucing Kiki yang Mencari Teman, dan mulai menyanyikannya dengan suara lembut.

"Kucing Kiki berjalan ke taman, mencari teman yang mau bermain dengannya...," ujar Rara, sambil membelai rambut Lila yang lembut.

Perlahan-lahan, tangisan Lila berkurang. Dia melepas kepalanya di pundak Rara, dan dalam beberapa menit, dia sudah tertidur. Saat Rara membisikkan "selamat tidur, sayang" di telinga Lila, Rama memasuki kamar dan melihat mereka. Air mata terisi di mata dia.

"Terima kasih, Rara," ujarnya dengan suara lembut. "Lila jarang bisa tidur cepat seperti ini kecuali dengan aku atau neneknya. Kamu benar-benar spesial."

Rara berbalik, mata dia juga penuh air mata. "Aku mencintainya, Rama. Sebenarnya, aku sudah mencintainya dari lama—hanya saja aku takut mengakuinya. Aku takut dia tidak mau menerimaku."

Rama mendekat dan memeluknya, hati dia penuh kebahagiaan. "Aku tahu kamu bisa, Rara. Aku selalu percaya padamu. Zara—ya, Lila—butuh seseorang seperti kamu dikehidupannya."

Tidak semua hari berjalan mulus. Ada kalanya Lila menangis merindukan ibu kandungnya, dan Rara tidak tahu apa yang harus dilakukan. Satu hari, Lila menemukan foto ibu kandungnya di lemari laci Rama, dan dia menangis teresak-isak.

"Aku mau ibu Siti balik! Aku tidak mau ibu baru! Kamu jangan datang lagi ke rumahku!" teriak Lila, melempar foto ke lantai.

Rara merasa menangis, tapi dia mencoba tetap tenang. Dia mendekat Lila, memegang tangannya dengan lembut. "Aku tahu kamu rindu ibu Siti, sayang. Aku tidak akan menggantikannya—tidak pernah. Ibu Siti adalah orang yang hebat yang melahirkanmu dan mencintaimu. Aku hanya mau menjadi orang yang mencintaimu juga, merawatmu, dan selalu ada ketika kamu butuh. Boleh kan aku jadi temanmu yang baik, yang selalu ada untukmu?"

Lila menangis lebih kencang, lalu memeluk Rara erat. Dia menangis di pundak Rara, suaranya terisak-isak. "Maaf, Bu Rara. Aku cuma sedih. Aku kangen ibu."

"Aku tahu, sayang. Semua baik-baik saja. Kamu bisa rindu ibu Siti kapan saja—itu tidak salah. Kita bahkan bisa mengunjungi makamnya bersama nanti, ya? Kamu bisa menceritakan semua hal yang kamu lalui ke ibu Siti."

Lila mengangguk, dan dia tetap memeluk Rara selama beberapa menit. Rara membelai rambutnya, hati dia penuh belas kasih. Dia tahu bahwa ini adalah bagian dari proses—Lila perlu waktu untuk menerima keberadaan dia.

Masalah lain datang dari keluarga Siti—ibu dan ayah Lila yang mertua. Mereka sering datang ke rumah Rama dan menyindir Rara di depan Lila. Satu hari, mereka datang saat Rara sedang memasak makan malam untuk keluarga.

"Kamu cuma calon istri doang, bisa kah kamu merawat Lila sebaik Siti? Siti tahu semua kebutuhan Lila—dia tahu Lila tidak suka makan sayuran, tahu Lila takut gelap, tahu semua hal tentang Lila. Kamu tidak tahu apa-apa!" ujar ibu Siti dengan nada yang menyakitkan.

Lila mendengar kata-kata itu dan menangis. Dia berlari ke kamar tidur dan mengunci pintu. Rara merasa sedih, tapi dia tidak mau menyerah. Dia mendekat ibu Siti dan berkata dengan tenang.

"Bu, aku tahu aku bukan Siti. Aku tidak akan pernah menjadi Siti. Tapi aku mencintai Lila seperti anakku sendiri. Aku sedang berusaha mempelajari semua kebutuhannya, dan aku akan selalu berusaha menjadi yang terbaik buat dia. Lila butuh cinta dan dukungan, bukan kesalahpahaman dan sindiran. Mohon maaf jika aku belum cukup bagus, tapi aku akan terus berusaha."

Rama yang sedang duduk di sofa berdiri dan membela Rara. "Bu, Rara adalah bagian dari keluarga kita sekarang. Lila menyukainya, dan itu yang paling penting. Jangan pernah katakan begitu lagi di depan Lila—itu membuat dia sedih."

Ibu Siti melihat mata Rama dan Rara, dan dia merasa malu. Dia mengangguk perlahan. "Maaf, nak. Aku cuma rindu Siti dan takut Lila tidak akan mendapatkan perawatan yang baik. Tapi aku melihat bahwa kamu mencintai Lila, jadi aku akan mencoba menerima kamu."

Setelah itu, hubungan Rara dengan keluarga Siti mulai membaik. Mereka sering datang ke rumah dan membantu Rara merawat Lila, dan mereka bahkan mengajarkan Rara memasak makanan kesukaan Lila yang dia pelajari dari Siti.

Selain itu, Rara juga menghadapi tantangan di kerja. Dia harus menyelesaikan tulisan untuk majalah nasional, tapi juga harus mengatur waktu untuk Lila. Satu hari, Lila sakit demam tinggi—suhu badannya mencapai 39 derajat. Rara memutuskan untuk mengambil cuti dari kerja agar bisa merawatnya—meskipun dia punya tenggat waktu tulisan yang dekat.

"Kamu tidak usah khawatir, Bu Rara. Aku bisa mandi sendiri," ujar Lila yang lemah.

"Tidak usah, sayang. Aku akan mandikanmu, lalu kita minum obat bersama ya? Setelah itu, kita baca cerita di kamar tidur dan tidur bareng," ujar Rara dengan senyum.

Selama tiga hari, Rara tidak keluar dari rumah. Dia merawat Lila, memasak makanan yang mudah dicerna seperti bubur ayam dan sup jagung, mengoleskan salep penurun panas di alis dan leher Lila, dan selalu ada di sampingnya saat Lila bangun tengah malam karena demam. Saat Lila sembuh, dia memeluk Rara dan berkata: "Terima kasih Bu Rara. Kamu baik banget. Aku suka kamu. Kamu bisa jadi ibu aku, kan?"

Kata-kata itu membuat Rara menangis senyum. Semua kesulitan yang dia lewati sepenuhnya berharga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!