Diwarnai dengan keegoisan karena didik keras sedari kecil, bukan hanya diterima tempat pendidikan ketika mereka bersekolah di akademi militer. Apakah cinta Agatha dan Jefry bisa mengalahkan sifat ego mereka???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jefry Xaverius Wibowo
Jefry Xaverius Wibowo Perwira angkatan laut dengan pangkat kapten. Sekarang berdinas di markas angkatan laut di Jakarta. Pada Korps Marinir TNI AL, Denjaka (Detasemen Jala Mangkar) untuk operasi anti-teror aspek laut. Yang merupakan seorang atlet renang. Dia juga mewakili Indonesia pada turnamen pekan olahraga Sea games di Malaysia, sebagai peraih medali emas. Pemuda asal Surabaya ini. Adalah anak seorang tentara angkatan laut. Anak blasteran jawa timur manado. Bapaknya hanya seorang bintara sekarang berpangkat Pembantu letnan satu dan masih berdinas di Surabaya.
Diam - diam menyukai sosok Agatha Anastasya, semua informasi tentang Agatha dicari tahu olehnya. Waktu di Malaysia, Jefry selalu menyempatkan diri melihat dia bertanding bersama timnya. Jafri tahu bahwa ada seorang polisi yang sama - sama atlet Voli yang suka sama Agatha, namun itu tidak menjadi penghalang buat dia, ketika mengetahui dari temannya, kalau Agatha belum mau berpacaran. Padahal diusianya yang sudah dua puluh tiga tahun, berpacaran itu hal yang wajar. Rasa penasaran Jefry semakin tinggi.
Jefry sekarang berada di Serpong untuk memberikan pelatihan bagi calon perwira dengan jalur karier. Jefry tahu bahwa dia akan bertemu dengan Agatha.
"Kamu siswi yang sana, berdiri perkenalkan nama kamu??" Agatha yang merasa kaget ditunjuk langsung berdiri.
"Siap."
"Kurang keras suaranya."
"Siap. Nama Agatha Anastasya."
"Sarjana apa??"
"Siap kedokteran."
"Sudah resmi menjadi dokter atau baru sarjana."
"Siap sudah resmi menjadi dokter."
"Kenapa memilih menjadi perwira lagi? Bukan kah menjadi dokter masa depan kamu sudah bagus. Dasar Serakah."
Mata Agatha membesar, dia melotot tidak menyangka bahwa pelatih militernya akan menyebut dirinya serakah. Mukanya sudah merah bukan hanya karena marah, malu namun karena gerah cuacanya panas. Seharian ini mereka dilatih fisik sama Kapten Jefry. Ditengah istirahat makan kembali lagi Agatha di plonco memimpin doa makan.
Hati kecilnya berkata kenapa hanya dia, kan ada hanyak calon siswa perwira. Namun sebagai anak tentara Agatha sabar.
"Dok, kamu ngak kenal sama mentor kita itu??"
"Baru tahu tadi siapa namanya Kapten Jefry Xaverius Wibowo." Mulut Agatha di moncongi menyebut nama itu.
"Setahu saya dia juga atlet renang perebut medali emas di gaya bebas, dada seratus meter juga estafet kemarin di Malaysia. Agatha kaget.
"Kan dokter Agatha juga ke sana kan???"
"Banyak atlet mana kita bisa tahu satu sama satu."
Di pendidikan militer perwira karier kali ini ada tiga orang dokter semua dokter umum. Dokter Ahmad, dokter Rita dan dokter Agatha. Mereka dari Almamater berbeda dengan Agatha. Pendidikan selama tujuh bulan ini sungguh menyiksa dan sekarang mereka berada di surabaya untuk penjurusan dan Agatha resmi menjadi Letnan dua (Letda) kes dokter Agatha Anastasya. Acara pelantikan Agatha dihadiri kedua orangtuanya. Papanya yang hanya seorang bintara memberi hormat kepada anak gadisnya. dan penempatan Agatha di rumah sakit dokter Mintoharjo di Jakarta.
"Selamat ya Letda Agatha Anastasya."
"Siap, terima kasih Kapten." Jefry merasa lega, karena mendengar surat penembatan dokter Agatha masih di Jakarta, setidaknya masih ada peluang buat dia mendekati dokter Agatha.
"Kapan datang mas?" Sekarang Jefry berada di rumah kediaman orangtuanya di Surabaya. Dia menghadiri pelantikan siswa didikannya.
"Tadi pagi ma."
"Kamu hadiri pelantikan tadi ya?"
"Iya."
Malam harinya di meja makan semua keluarga Jefry berkumpul, Jefry yang adalah anak laki - laki satu - satunya dari kedua kakak perempuannya sedang duduk diadili keluarga, karena masih betah membujang.
"Kapan sih mama dikenalkan sama pujaan hatinya?"
"Mama apa mba yang pengen?"
"Semua."
"Sabar aja, kalau jodoh pasti mas bawa kerumah."
"Mas, Christin tanya terus mas." Muka Jefry cemberut.
"Ngak usah aneh - aneh ya mba?"
" Sudah - sudah makan, jangan dipaksa kan kalau adenya belum mau."
"Bela terus mama." Jefry tertawa. Dia langsung mencium mamanya. Papanya hanya tertawa melihat tingkah anak bujangnya.
"Pangkat sudah kapten masih belum punya pasangan, ingat umur mas."
"Mba, aku itu baru dua puluh tujuh tahun. Aku masih senang sendiri. Sambil mencari yang terbaik."
"Sudah mi, adeknya kok di teror terus."
"Terima kasih masku yang pengertian." David suami mba Jane yang adalah seorang perwira polisi menghentikan percakapan istri dan adek iparnya. Jefry tersenyum.
"Mba Elis, sudah ya jangan kompakan sama mba Jane. Aku ini adek kalian loh. Please hargai pendapatku."
"Tetapi mas ingat umur kamu."
"Ade tahu. Ade tetap minta doanya mama, papa dan mba - mbaku yang cantik ini. Dan satu lagi, jangan coba - coba mau jodohin aku dengan Christin, karena aku ngak ada perasaan sedikit pun. Mohon mba - mba ku." Jefry memohon kepada kedua kakak perempuannya.
Jefry sudah kembali ke kesatuannya di Jakarta di Cilandak. Sedangkan Agatha sementara pulang kampung ke atambua bersama mama dan papanya. Waktu Agatha tiba di Ibu kota propinsi disambut oleh petinggi disana. Agatha tidak mengharapkan, namun dia menerima sebagai penghargaan tempat kelahirannya. Dan dia bersyukur, setidaknya oma dan opa dari mamanya bisa menerima mereka.
Hanya empat hari Agatha disana dia berenang dan menikmati waktu kebersamaannya bersama mama dan papa.
"Mama, bangga sama kamu sayang."
"Terima kasih sudah ada terus buat Agatha ma."
"Mama yang berterima kasih karena Agatha mengangkat derajat mama dan papa, sehingga oma dan opa Agatha bisa melihat keluarga kita."
"Mama masih marah sama opa dan oma."
"Mama ngak marah sayang, mama tetap mendoakan mereka. Mungkin saat itu pilihan mereka baik. Namun mama cintanya sama papa kamu."
"Papa kan ganteng. Hanya kurangnya papa, hanya seorang tamtama waktu itu.Namun papa bangga dengan gaji seorang tamtama papa dan mama bisa membesarkan anak papa, bahkan adek - adek papa yang sekarang tidak tahu diri itu." agatha dan mamanya tertawa mendengar keluhan papa Agatha.
"Kalau Agatha sudah dapat rumah, mama dan papa harus tinggal bersama Agatha."
"Mana bisa sayang, papa kan masih berdinas."
"Sekali - kali papa cuti biar bisa sama mama menemani Agatha."
Agatha sudah kembali ke Jakarta, dia bertugas sebagai dokter umum yang ditempatkan di IGD rumah sakit. Menjalankan tugasnya sebagai dokter dan terus berlatih voli bersama clubnya dan juga timnas membuat Agatha harus pintar membagi waktu apalagi akhir - akhir ini dia sedang berlatih untuk pertandingan anatara negara Asia dan Jakarta sebagai tuan rumah.
"dokter Agatha, dua hari lagi ada urikkes buat anggota denjaka."
"Siap dokter."
"Masih latihan buat pertandingan?"
"Masih dokter, mungkin bulan depan minggu terakhir akan sudah masuk asrama."
"Buat surat saja ke rumah sakit."
"Siap dokter, terima kasih atas bantuannya."
Agatha sedang berbicara dengan dokter senior di rumah sakit ini. Dia adalah dokter spesialis bedah umum. Agatha sangat mengidola dokter Ricardo ini. Yang berpangkat Mayor.