NovelToon NovelToon
BODYGUARD DENGAN MATA LANGIT

BODYGUARD DENGAN MATA LANGIT

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kultivasi Modern / Mata Batin
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Blue79

Calvin Arson hanyalah pemuda miskin yang hidup dari berjualan di pinggir jalan. Suatu hari, ia menemukan sebongkah batu giok aneh yang mengubah seluruh takdirnya. Dari situlah ia memperoleh kemampuan untuk melihat menembus segala hal, serta "bonus" tak terduga: seorang iblis wanita legendaris yang bersemayam di dalam tubuhnya.

Sejak saat itu, dunia tidak lagi memiliki rahasia di mata Calvin Arson.

Menilai batu giok? Cukup satu lirikan.

Membaca lawan dan kecantikan wanita? Tidak ada yang bisa disembunyikan.

Dari penjaja kaki lima, ia naik kelas menjadi pengawal para wanita bangsawan dan sosialita. Namun, di tengah kemewahan dan godaan, Calvin Arson tetap bersikap santai dan blak-blakan:

"Aku dibayar untuk melindungi, bukan untuk menjadi pelayan pribadi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blue79, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1

Calvin tampak sangat tegang, sampai-sampai bicaranya menjadi terbata-bata.

Seandainya yang ia sentuh tadi adalah putri penjual bakso ikan, mungkin masalahnya tidak akan sebesar ini. Namun, wanita di hadapannya adalah gadis cantik dengan mobil mewah, seorang kecantikan luar biasa. Biasanya, hanya menatapnya sekilas saja sudah membuat orang merasa rendah diri, apalagi tanpa sengaja menyentuh bagian sensitifnya, bahkan sampai dua kali. Bagaimana mungkin ia tidak merasa gelisah?

Terlebih lagi, sebelumnya seorang preman telah merusak barang dagangan wanita itu dan berakhir dipukuli hingga wajahnya babak belur, bahkan kini masih tergeletak sambil menutup wajahnya. Dengan kelancangannya sendiri, bukankah besar kemungkinan ia akan dipukuli hingga cacat?

Merasa harus menebus kesalahannya, Calvin segera melangkah ke depan dan berkata kepada Henri, “Kak Henri, kakak cantik ini baru pertama kali berjualan dan tidak mengerti aturan. Uang keamanannya biar aku yang bayarkan.”

Kelopak mata Henri bergetar hebat; amarahnya langsung memuncak. Melihat Calvin berani memeluk dan menyentuh wanita itu, bahkan di bagian yang tidak pantas, ia merasa seolah menelan lalat hidup-hidup.

“Sialan! Siapa butuh uangmu?” bentaknya. “Bocah miskin sepertimu, mengurus adik perempuan yang hampir mati saja sudah kerepotan. Bahkan celana dalammu sendiri hampir tak mampu kau beli, masih berani bermain pahlawan penyelamat wanita? Kurang ajar! Berani melecehkan wanita di depan umum! Pukul dia! Hancurkan lapaknya!”

Mendengar kata-kata itu, gadis yang tadinya menatap Calvin dengan marah tampak terdiam sesaat. Sorot matanya berubah rumit.

Dua anak buah Henri langsung bergerak. Satu memukul Calvin, sementara yang lain merusak lapaknya. Dengan suara keras, gerobak roda tiga miliknya bahkan sampai terbalik.

Mata Calvin langsung memerah.

Lapak itu adalah satu-satunya sandaran hidupnya. Adiknya sakit dan setiap bulan membutuhkan biaya obat yang besar. Semua itu bergantung pada penghasilannya dari lapak kecil tersebut.

“Kalian berani menghancurkan lapakku? Akan kubunuh kalian!” teriak Calvin.

Sudut mulutnya robek akibat pukulan. Amarah orang miskin yang terpojok meledak. Ia meraih pisau dapur yang jatuh ke tanah dan langsung menerjang.

“Ah! Bocah ini gila, dia pakai pisau! Kak Henri, cepat kabur!”

Satu tebasan melukai lengan seorang preman hingga darah mengalir deras. Mereka langsung ketakutan dan berteriak sambil melarikan diri.

“Calvin, tunggu saja! Aku tidak akan melepaskanmu!” teriak Henri sebelum kabur menjauh.

“Calvin, kau tidak apa-apa?” tanya Agung, pemilik lapak sandal, dengan wajah khawatir.

“Tidak apa-apa,” jawab Calvin singkat.

Ia lalu kembali menghadap wanita itu dengan wajah canggung sembari menggaruk kepalanya. “Kakak cantik, aku sudah mengusir para preman itu dan karena itu juga menyinggung mereka. Kau... tidak akan mempermasalahkan kejadian tadi lagi, kan? Barusan kau terjatuh ke arahku, aku benar-benar tidak sengaja.”

Ia sengaja bersikap ramah. Ia berani mengayunkan pisau ke arah preman, tetapi sama sekali tidak berani bersikap kasar kepada wanita itu.

Wanita tersebut menatapnya beberapa kali seolah sedang menimbang sesuatu, lalu menunjuk ke perhiasan di tanah. “Tolong bantu aku mengumpulkan semuanya dulu.”

Setelah selesai, Calvin teringat pada liontin batu yang tadi menggelinding ke dekat kakinya dan sempat ia masukkan ke saku. Ia segera mengeluarkannya. “Kak, ini juga milikmu. Aku tidak berniat mengambilnya, tadi hanya...”

Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, wanita itu memberi isyarat dengan jarinya. “Mendekat sedikit.”

“Hah?” Calvin mengira ia akan diserang. Tubuhnya kaku, kakinya terasa berat untuk melangkah.

Orang-orang di sekitar menunjukkan berbagai ekspresi: penasaran, iba, dan juga menanti. Banyak yang merasa Calvin pasti akan celaka. Setelah membantu mengumpulkan barang, kini saatnya pembalasan.

Agung memberanikan diri berbicara. “Nona, Calvin benar-benar tidak sengaja. Liontin itu pun ia simpan hanya untuk dikembalikan. Aku bisa bersaksi. Dia anak yang baik, masih harus menanggung adik perempuan yang sakit. Tolong, maafkan dia.”

Gadis berbaju putih itu mengedipkan mata, lalu tersenyum tipis. Ia justru melangkah maju dan mengulurkan tangan, mencubit pipi Calvin.

Calvin baru berusia sembilan belas tahun, berwajah bersih dan rapi. Dicubit seperti itu, ekspresinya langsung menjadi kaku dan aneh. Banyak pria di sekitar justru memperlihatkan raut antusias, seolah menanti hukuman berat.

“Ini pasti mau memukul!”

“Benar! Sudah menyentuh dada orang, mana bisa dimaafkan begitu saja!”

Kerumunan ramai bergosip dengan nada senang melihat orang lain celaka. Gadis itu melirik sekeliling dengan wajah dingin, lalu menatap Calvin kembali sambil tersenyum penuh arti.

“Waktu menyentuh tadi, enak atau tidak?” tanyanya.

Orang-orang terkejut. Calvin refleks mengangguk, lalu buru-buru menggeleng.

“Tidak enak?” Sorot mata gadis itu langsung mengeras.

Calvin hampir menangis. Ia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. Akhirnya, di bawah tatapan tajam itu, ia kembali mengangguk kuat-kuat.

Barulah gadis itu tersenyum; kecantikannya memukau. Ia menepuk pipi Calvin. “Jadilah anak kecil yang jujur. Katanya kau punya adik perempuan? Siapa namanya?”

“Yu... Yuki Arson. Aku Calvin Arson, Kak,” jawabnya gugup.

“Mm, Calvin, nama yang bagus. Jangan tegang. Aku tahu kau tidak sengaja. Tadi hanya kau yang berani berdiri membantuku mengusir preman. Liontin batu keberuntungan ini aku berikan padamu. Katanya bisa membawa keberuntungan. Ingat baik-baik, namaku Vivian Clay.”

Ia memasukkan kembali liontin itu ke saku baju Calvin dan menepuknya pelan, lalu berkata lirih, “Sekarang ini, kakak laki-laki yang baik sudah jarang. Jaga adikmu dengan baik.”

Setelah itu, ia melirik kerumunan yang masih tertegun, mendengus pelan, melepas sepatu hak tinggi yang masih utuh, mematahkan haknya dengan satu gerakan bersih, lalu mengenakannya kembali sebelum berbalik dengan anggun, naik ke mobil, dan pergi.

“Apa-apaan ini? Sudah menyentuh dua kali, tidak dipukul, malah dapat hadiah!”

“Seandainya aku tahu, tadi aku juga maju saja!”

Banyak orang merasa tidak puas dengan akhir kejadian itu. Bahkan, Agung pun mengeluh setengah bercanda, “Calvin, jujur saja, tadi kau sengaja atau tidak? Rasanya benar-benar enak?”

Calvin mengusap hidungnya, tertawa pahit. “Kak Agung, bukankah Kakak punya istri? Pulang saja dan sentuh sepuasnya.”

“Mana bisa dibandingkan,” jawab Agung sambil memutar mata, meski tetap berterima kasih karena Calvin tadi membelanya.

Lapaknya sudah hancur. Calvin mendorong gerobak roda tiganya yang bannya sudah miring, pulang lebih awal. Sepanjang jalan terdengar bunyi berderak yang menarik perhatian orang-orang.

Rumah mereka hanyalah bangunan sederhana dari kontainer, tampak tua dan kumuh. Namun, saat tiba di depan, Calvin melihat dua pria bertubuh kekar berdiri sambil merokok.

Jantungnya serasa ditusuk. Ia mengenali mereka sebagai pengawal seorang pemuda kaya yang terkenal bejat. Jika mereka ada di sini, maka adiknya...

Teriakan minta tolong langsung terdengar dari dalam. “Lepaskan aku! Lepaskan! Jangan sentuh aku! Joni, kau bajingan! Kakakku tidak akan memaafkanmu! Kakak, tolong aku!”

“Kakakmu yang miskin itu masih berjualan,” terdengar suara mengejek. “Yuki, turuti saja aku. Penyakitmu tidak akan bertahan lama. Tidur denganku, aku beri kamu satu juta setiap hari.”

“Toloooong!”

Darah Calvin langsung mendidih. Amarahnya meledak. Ia melempar gerobaknya dan berlari sambil berteriak, “Joni! Lepaskan adikku!!”

Namun, sebelum sempat masuk, dua pengawal itu menghadangnya. Masing-masing menendang dadanya. Tubuh Calvin terlempar sejauh beberapa meter dan jatuh ke tanah, tak mampu bangkit.

“Hehe, bocah. Tuan muda kami menyukai adikmu, itu keberuntungan besar baginya.”

“Benar. Bukankah kau bekerja mati-matian demi membeli obat? Ikut tuan kami, kau tak perlu lagi susah.”

Kedua pengawal itu tertawa. Dari dalam rumah, suara tangisan Yuki masih terdengar.

Calvin diliputi amarah dan keputusasaan. Ia mencoba bangkit, tetapi dadanya terasa perih. Saat diraba, tangannya berlumuran darah.

Ia tidak menyadari bahwa liontin batu keberuntungan di sakunya telah menghilang, dan pada saat yang sama, seberkas cahaya putih melintas cepat dan masuk ke dalam tubuhnya.

1
Jujun Adnin
yang banyak
Lasimin Lasimin
bagus
Jujun Adnin
lagi
MU Uwais
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!