Di sekolah Imperion Academy, dua fraksi berdiri saling berhadapan. Fraksi wanita yang dipimpin oleh Selvina Kirana , dan fraksi pria dipimpin oleh Varrendra Alvaro Dirgantara. selvina percaya bahwa laki-laki dan perempuan memiliki derajat yang sama, sedangkan Varrendra berpendapat bahwa perempuan seharusnya menunduk di bawah kaki laki-laki.
Pertarungan kata dan logika pun dimulai, panas dan penuh gengsi. Namun, di balik adu argumen yang tajam terselip sesuatu yang tak bisa mereka bantah - rasa yang perlahan tumbuh di antara dia pemimpin yang saling menentang.
Ketika cinta mulai menyelinap di antara ambisi dan prinsip, siapakah yang akan menang?
apakah cinta bisa menyatukan dua pemimpin yang terlahir untuk saling melawan atau justru menghancurkan keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee_jmjnfxjk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2. Sentuhan Pertama Kekuasaan
Imperion Academy tidak menyerang dengan kekerasan.
Ia membunuh perlahan—melalui aturan, rumor, dan keputusan yang terlihat sah.
Selvina merasakannya sejak pagi.
Langkah-langkah di koridor terasa berbeda. Bisik-bisik terlalu sering berhenti saat ia lewat. Tatapan yang biasanya netral kini berubah menjadi waspada—seolah keberadaannya membawa risiko.
“Sel,” bisik salah satu anggota fraksinya. “Jadwal rapat kita dipindah. Mendadak.”
Selvina berhenti berjalan. “Dipindah ke mana?”
“Ke gedung lama. Sayap barat.”
Jari Selvina mengencang di sisi rok seragamnya.
Gedung lama tidak digunakan tanpa alasan. Terisolasi. Jauh dari pengawasan guru. Dan—yang paling penting—wilayah tak tertulis milik fraksi pria.
Wilayah Varrendra.
Ia tersenyum tipis.
Jadi ini caranya.
“Dia mulai,” gumamnya.
Ruang rapat sayap barat dingin dan berdebu. Cahaya lampu menggantung redup, menciptakan bayangan panjang di dinding. Fraksi wanita duduk berkelompok, gelisah namun berusaha terlihat tenang.
Pintu terbuka.
Varrendra masuk tanpa tergesa. Seragamnya rapi, ekspresinya kosong—seperti seseorang yang sudah tahu hasil permainan sebelum dimulai.
“Tenang,” katanya santai. “Aku tidak datang untuk membubarkan kalian.”
Selvina berdiri. “Lalu untuk apa?”
Varrendra meliriknya. Tatapannya singkat, namun cukup untuk membuat udara di ruangan menegang.
“Untuk mengingatkan,” jawabnya. “Siapa yang memegang kendali.”
Ia memberi isyarat kecil. Dua siswa laki-laki menyerahkan map cokelat ke meja depan. Map-map itu dibuka satu per satu.
Isinya bukan dokumen sekolah.
Foto-foto.
Catatan pribadi.
Rekaman percakapan.
Selvina menegang saat melihat salah satunya.
Itu dia.
Bersama ibunya.
Di klinik kecil pinggiran kota.
“Dari mana kau dapat ini?” suaranya tetap datar, tapi dadanya terasa sesak.
Varrendra menyandarkan tubuh ke meja. “Imperion mengajarkan banyak hal. Salah satunya… akses.”
“Ini sudah melewati batas.”ucap Selvina
“Batas?” Ia terkekeh pelan. “Kau yang memulainya saat menantang hierarki.”
Ruangan sunyi. Fraksi wanita menatap Selvina—takut, bingung, bergantung.
Varrendra mencondongkan tubuh, suaranya direndahkan. “Aku bisa membuat fraksimu kehilangan beasiswa. Menghilangkan kesempatan lomba. Membuat nama kalian tercemar sebelum lulus.”
Selvina menelan ludah. “Dan apa yang kau mau sebagai gantinya?”
Sudut bibir Varrendra terangkat sedikit. Senyum itu tidak hangat—lebih menyerupai peringatan.
“Kau,” katanya. “Menarik diri.”
“Tidak,” jawab Selvina cepat.
“Bukan kau saja,” lanjutnya. “Fraksimu juga.”
Ia meluruskan tubuh, menatap seluruh ruangan. “Diam. Patuh. Atau jatuh satu per satu.”
Amarah membara di dada Selvina. Tangannya gemetar, tapi bukan karena takut—melainkan karena dorongan untuk menyerang balik.
“Kau pengecut,” katanya pelan. “Beraninya bersembunyi di balik ancaman.”
Varrendra mendekat. Terlalu dekat. Bayangannya menelan tubuh Selvina.
“Dan kau terlalu naif,” balasnya. “Kau pikir keberanian cukup untuk bertahan di dunia seperti ini?”
Mata mereka bertemu.
Untuk sepersekian detik, ada sesuatu yang bergetar di antara mereka—bukan empati, bukan kasih. Melainkan pengakuan gelap bahwa mereka sama-sama menikmati permainan ini.
“Kau tidak akan menghancurkanku,” kata Selvina akhirnya. “Aku akan melawanmu.”
Varrendra menatapnya lama. Lalu tersenyum, sungguh-sungguh tersenyum kali ini.
“Itu yang membuatmu berbahaya,” katanya. “Dan menarik.”
Ia berbalik menuju pintu. “Nikmati waktumu. Aku memberi tenggat.”
Pintu tertutup.
Ruangan kembali sunyi—namun bukan keheningan damai. Ini keheningan sebelum badai.
Selvina mengepalkan tangan.
Ia sadar satu hal:
Ini bukan lagi soal kesetaraan.
Ini perang pribadi.
Dan di dalam dadanya, di balik kebencian dan tekad, tumbuh sesuatu yang sama berbahayanya—
keinginan untuk menang, bahkan jika harus hancur bersama.
-bersambung-
penasaran??baca ajaa seru..
bukan yapping yapping ini gess/Hey/
semangattt My authorr 🫶🏻🤍
aku kagett ternyata di sebutt..aku si dukung klo buat one shoot 🤍🤍