NovelToon NovelToon
TELEKINESIS ASCENDANT: THE EDITOR'S GATE ODYSSEY

TELEKINESIS ASCENDANT: THE EDITOR'S GATE ODYSSEY

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Fantasi Timur / Fantasi Isekai
Popularitas:99
Nilai: 5
Nama Author: Karma Danum

Kang Ji-hoon, seorang editor webnovel yang hidupnya biasa-biasa saja, tewas dalam sebuah kecelakaan. Namun, alih-alih mati, ia terbangun di tubuh Kang Min-jae, seorang pemuda di dunia paralel di mana "Gerbang" ke dimensi lain telah muncul, dan "Hunter" dengan kekuatan khusus bertugas menghadapi monster di dalamnya.

Terjebak dalam identitas baru dengan misteri ayah yang hilang dan tekanan untuk menjadi Hunter, Ji-hoon harus beradaptasi dengan dunia yang berbahaya. Dibantu oleh "sistem" misterius di dalam benaknya dan kekuatan telekinesis yang mulai terbangun, ia memasuki Hunter Academy sebagai underdog. Dengan pengetahuan editornya yang memahami alur cerita dan karakter, Ji-hoon harus menguasai kekuatannya, mengungkap konspirasi di balik transmigrasinya, dan bertahan di dunia di mana setiap Gerbang menyimpan ancaman—dan rahasia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karma Danum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: CAHAYA PUTIH DAN SUARA-SUARA

Ji-hoon menatap gelas itu dengan mata terbelalak. Napasnya tersendat. Selama beberapa detik, ia hanya bisa diam, membiarkan kenyataan aneh itu meresap ke dalam pikirannya yang masih kacau.

Gelas plastik bening itu diam kembali di atas meja kayu. Tidak bergerak. Seolah kejadian tadi hanya ilusi.

*Ini pasti karena stres*, pikirnya, mencoba menenangkan diri. *Trauma dari kecelakaan dan transmigrasi. Halusinasi.*

Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia meraih gelas itu. Sentuhan dingin plastik membantunya sedikit membumi. Ia minum air di dalamnya, mencoba menenangkan tenggorokan yang kering. Tapi mata dan pikirannya tetap tertuju pada benda itu, seolah-olah menunggu sesuatu.

Tidak terjadi apa-apa.

Ji-hoon menghela napas, meletakkan gelas kembali. Mungkin benar. Mungkin ia hanya lelah dan kewalahan. Siapa yang tidak akan terguncang setelah mati dan terbangun di tubuh orang lain di dunia yang aneh?

Ia memutuskan untuk mencoba tidur lagi. Mungkin saat bangun nanti, semuanya akan terasa lebih jelas, atau bahkan ini semua akan terbukti sebagai mimpi yang panjang. Ia berbaring, menutup mata, dan memaksa pikirannya yang liar untuk tenang.

Tapi saat ia mulai memasuki ambang kesadaran, suara itu kembali.

Bukan suara dari luar. Suara itu terdengar dari dalam tengkoraknya sendiri, jernih dan datar, persis seperti yang ia dengar sebelum ‘terbangun’ di sini.

**[Penyatuan jiwa: 87% selesai. Anomali terdeteksi pada modul ingatan.]**

Ji-hoon membuka mata dengan tajam. Dadanya naik turun dengan cepat.

“Siapa di sana?” bisiknya ke ruangan yang kosong. Suaranya bergetar.

Tidak ada jawaban. Hanya sunyi.

**[Analisis anomali… Sumber: konflik identitas dualistik. Rekomendasi: penekanan sementara pada memori ‘Kang Ji-hoon’.]**

“Jangan! Tunggu!” Ji-hoon memprotes dalam hati, rasa panik yang murni meledak di dadanya. Menekan ingatannya? Itu artinya menghapus dirinya sendiri! Siapa pun atau apa pun yang melakukan ini, ia tidak akan membiarkannya.

Seolah menanggapi protesnya, sebuah sensasi tekanan aneh muncul di kepalanya. Bukan rasa sakit, tetapi perasaan seperti sesuatu yang besar dan asing sedang mendorong kesadarannya, mencoba memaksanya tunduk. Ingatan-ingatannya sebagai Ji-hoon—tentang kehidupan lamanya, tentang pekerjaannya, tentang Seoul yang ia kenal—tiba-tiba terasa kabur, seperti foto yang luntur.

*Tidak!* Ia menggigit bibirnya, memusatkan seluruh kemauannya. Ia memikirkan kantornya yang berantakan, aroma kopi pagi, wajah rekan-rekannya. Ia memegang erat detail-detail itu, menjadikannya jangkar di tengah desakan yang tak terlihat itu.

Pertarungan berlangsung dalam keheningan total. Ji-hoon hanya bisa berbaring, berkeringat dingin, dengan otot-ototnya menegang seolah ia sedang mengangkat beban yang sangat berat. Perlahan-lahan, tekanan itu surut.

**[Rekomendasi ditolak. Konflik identitas dipelihara. Memperbarui protokol integrasi…]**

Suara itu terdengar, lalu menghilang. Sensasi asing di kepalanya pun lenyap, meninggalkan Ji-hoon terengah-engah di atas tempat tidur, tubuhnya lemas seperti baru lari maraton.

Ia menatap langit-langit, jantungnya masih berdebar kencang. Jadi, ada ‘sesuatu’ di dalam dirinya. Sesuatu yang bertanggung jawab membawanya ke sini, dan sesuatu yang masih aktif, masih mengawasi, masih mencoba ‘menyesuaikan’ dirinya. Kata-kata seperti ‘penyatuan jiwa’, ‘modul ingatan’, dan ‘protokol integrasi’ itu terdengar seperti istilah teknis, seperti dari sistem komputer atau… sebuah eksperimen ilmiah.

Ingatan Min-jae tentang ayahnya, Dr. Kang Min-soo, yang meneliti ‘resonansi dimensi’, tiba-tiba terasa sangat relevan. Apakah ada hubungannya?

Sebelum ia bisa memikirkan lebih jauh, pintu kamar diketuk pelan, lalu terbuka. Seorang perawat paruh baya dengan seragam putih bersih masuk dengan senyum ramah.

“Ah, Min-jae-ssi, kamu sudah bangun. Bagaimana perasaanmu?” tanyanya sambil memeriksa monitor di samping tempat tidur.

Ji-hoon—yang harus mulai membiasakan diri dengan nama itu—mengangguk pelan. “Baik… sedikit pusing.”

“Itu wajar setelah koma selama beberapa hari,” kata perawat itu sambil mencatat sesuatu di papan klipnya. “Dokter akan datang memeriksamu sebentar lagi. Ada yang kamu butuhkan?”

Ji-hoon menggeleng. Pikirannya masih berputar-putar pada suara misterius tadi. “Tidak, terima kasih.”

Setelah perawat pergi, Ji-hoon mencoba duduk. Kali ini berhasil dengan lebih stabil. Ia melihat sekeliling kamar dengan lebih teliti. Di samping tempat tidur, selain gelas air, ada sebuah ponsel. Ia meraihnya. Perangkat itu terlihat canggih, dengan layar besar yang menyala saat ia menyentuhnya. Pola pembuka kunci muncul. Tanpa berpikir panjang, jarinya secara naluriah menggambar sebuah pola—ingatan otot Min-jae yang mengambil alih.

Ponsel terbuka.

Ji-hoon menatapnya, perasaan aneh menggelitik di hatinya. Ia sekarang memiliki akses ke kehidupan orang ini. Ia membuka galeri foto. Ada beberapa gambar: sebuah rumah besar dan modern, foto seorang pria berambut sedikit putih dengan kacamata dan senyum hangat (ayahnya, Min-soo), foto dirinya sendiri—Min-jae—bersama sekelompok teman yang sedang tertawa, dan sebuah foto yang tampaknya adalah gedung megah dengan tulisan “Chrono Vanguard Headquarters”.

Ia juga membuka pesan. Ada banyak pesan yang belum dibaca. Dari ‘Paman Dae-hyun’, dari ‘Na-rae’, dari ‘Hyung Min-hyuk’, dari beberapa nama lain yang tidak ia kenal. Isinya beragam, dari ucapan semoga cepat sembuh, pertanyaan tentang keadaannya, hingga satu pesan dari seseorang bernama ‘Joon-ho’ yang bertanya tentang ‘tugas teori monster’.

Dunia Kang Min-jae mulai terlihat nyata di depan matanya. Sebuah kehidupan yang utuh dengan hubungan, tanggung jawab, dan masalahnya sendiri. Dan sekarang, Ji-hoon harus menjalaninya.

Seorang dokter dengan jas putih masuk tak lama kemudian, ditemani perawat tadi. Pemeriksaan berlangsung rutin. Tekanan darah, refleks, pertanyaan tentang rasa sakit, tes neurologis sederhana. Dokter menyimpulkan bahwa pemulihannya baik, tapi merekomendasikan istirahat penuh selama beberapa hari lagi dan terapi fisik ringan untuk mengembalikan kekuatan ototnya.

“Yang penting, hindari stres berlebihan, Min-jae-ssi,” kata dokter itu dengan nada bijak. “Tubuhmu sudah melalui trauma besar. Beri waktu untuk pulih sepenuhnya.”

*Stres berlebihan*, pikir Ji-hoon dengan getir. *Dokter, kamu tidak tahu setengahnya.*

Setelah dokter pergi, Ji-hoon merasa terjebak. Ia tidak bisa terus berbaring di sini memikirkan suara misterius dan kekuatan aneh itu. Ia butuh informasi. Ia butuh memahami dunia ini.

Ingatannya tentang ‘Gerbang’ dan ‘Hunter’ masih samar-samar, berasal dari ingatan Min-jae yang seperti buku teks yang belum dibaca dengan teliti. Ia mengambil ponselnya lagi dan membuka aplikasi browser.

Ia mengetikkan kata kunci sederhana: “Gates first appearance.”

Layar penuh dengan hasil. Artikel berita arsip, video dokumenter, entri ensiklopedia. Ji-hoon mengklik salah satu artikel lama.

**“20 Tahun yang Lalu: Peristiwa Pembukaan Pertama yang Mengubah Dunia”**

Artikel itu bercerita tentang dua puluh tahun lalu, ketika portal energi besar—yang kemudian disebut “Gerbang” atau “Gates”—tiba-tiba muncul di berbagai lokasi di seluruh dunia. Awalnya menyebabkan kepanikan global. Makhluk-makhluk asing, yang dijuluki “monster”, keluar dari dalamnya. Militer dunia kewalahan. Namun, tak lama kemudian, ditemukan bahwa sebagian manusia mengembangkan kemampuan khusus setelah terpapar energi dari Gerbang itu. Mereka disebut “Hunter”. Mereka bisa melawan monster, memasuki Gerbang, dan mengumpulkan sumber daya ajaib dari dimensi lain yang disebut “Mana Crystals” dan berbagai bahan eksotis.

Dunia berubah drastis. Ekonomi baru berbasis ‘loot’ dari Gerbang bermunculan. Guild-Guild Hunter dibentuk seperti perusahaan besar. Negara-negara mendirikan akademi khusus untuk melatih Hunter muda. Status sosial kini tak hanya diukur dari kekayaan, tetapi juga dari ‘Rank’ seorang Hunter.

Ji-hoon menggulir layar, membaca tentang sistem peringkat: F (paling rendah), E, D, C, B, A, dan S (paling tinggi). Ada juga peringkat untuk Gerbang, sesuai dengan tingkat bahayanya. Hunter berperingkat rendah hanya diizinkan memasuki Gerbang berperingkat rendah.

Ia juga membaca tentang bahaya. Tingkat kematian Hunter, terutama yang berperingkat rendah, cukup tinggi. Konflik antar guild terkadang berdarah. Dan meski monster dari Gerbang adalah ancaman utama, keserakahan manusia ternyata tidak kalah berbahaya.

Ponselnya bergetar. Sebuah panggilan masuk. Nama yang terpampang: “Na-rae”.

Ji-hoon menatapnya. Dari ingatan Min-jae, Yoo Na-rae adalah teman sejak kecil. Keluarganya juga terlibat di dunia Hunter, meski tidak sebesar keluarga Min-jae. Hubungan mereka dekat, meski agak renggang belakangan ini karena kesibukan dan tekanan masuk akademi.

Ia menghela napas, lalu menjawab.

“Halo?”

“Min-jae! Akhirnya kamu angkat telepon!” Suara perempuan di seberang sana terdengar lega, tapi juga tegang. “Aku sudah coba hubungi berkali-kali. Kabarmu bagaimana? Paman Dae-hyun bilang kamu sudah sadar.”

“Aku… baik. Masih sedikit pusing,” jawab Ji-hoon, berhati-hati dengan nada bicaranya.

“Aku dengar tentang akademi. Kamu masih akan mendaftar ulang, kan?” tanya Na-rae. Suaranya terdengar mendesak.

“Aku belum pasti, Na-rae. Semuanya masih… berantakan.”

Ada hening sejenak di telepon. “Aku mengerti. Tapi, Min-jae… kamu ingat janji kita, kan? Kita akan masuk akademi bersama, jadi tim. Aku sudah diterima di departemen Support, pelatihan sudah dimulai. Aku tunggu kamu.”

Janji. Ji-hoon merasakan gelombang emosi asing—harapan, tekad, dan sedikit kekecewaan—yang datang dari ingatan Min-jae. Tampaknya, ini adalah hal penting.

“Aku ingat,” ucapnya, mencoba meyakinkan. “Aku butuh waktu untuk memutuskan.”

“Oke. Jangan paksakan dirimu. Yang penting sehat dulu,” kata Na-rae, suaranya lebih lembut. “Nanti aku ke rumah sakit, ya? Aku bawakan makanan yang kamu suka.”

Mereka mengakhiri percakapan. Ji-hoon meletakkan ponsel, perasaan bertambah ruwet. Setiap interaksi mengikatnya lebih dalam ke kehidupan Min-jae. Setiap orang mengharapkan sesuatu darinya.

Kepalanya kembali berdenyut pelan. Ia memejamkan mata, mencoba mengatur pikirannya.

*Oke, Kang Ji-hoon. Atau Kang Min-jae. Siapa pun kamu sekarang.* Ia berbicara pada dirinya sendiri. *Kamu punya beberapa fakta. Pertama, kamu ada di dunia fantasi yang berbahaya. Kedua, ada sistem atau entitas di dalam dirimu yang membawamu ke sini. Ketiga, orang-orang di sekitarmu mengharapkan kamu menjadi seorang Hunter. Keempat, kamu mungkin punya kekuatan aneh yang belum terkontrol.*

Lalu, sebuah pertanyaan praktis muncul: *Apa yang harus dilakukan sekarang?*

Jawabannya datang dari dua sudut pandang yang berbeda dalam dirinya.

Ji-hoon, sang editor yang pragmatis, berkata: *Pelajari aturan dunia ini. Kumpulkan informasi. Jangan membuat keputusan gegabah. Bertahan hidup adalah prioritas.*

Min-jae, sang remaja yang penuh tekanan, berbisik: *Penuhi harapan keluarga. Temukan kebenaran tentang ayah. Jadilah kuat.*

Kedua suara itu berseteru, menambah kebingungannya.

Sore itu, Paman Dae-hyun kembali. Kali ini, ia membawa sebuah dokumen dalam map berwarna biru.

“Min-jae, ini formulir pendaftaran ulang untuk Hunter Academy,” kata Dae-hyun tanpa basa-basi, meletakkan map di atas meja. “Aku sudah bicara dengan pihak akademi. Mereka memberi kelonggaran karena keadaanmu. Kamu punya waktu sampai akhir minggu ini untuk memutuskan.”

Ji-hoon menatap map itu seperti melihat ular berbisa. “Paman… apa aku benar-benar cocok menjadi Hunter? Tes bakat dulu menunjukkan potensiku biasa saja, kan?” Ia mengambil fakta itu dari ingatan Min-jae.

Dae-hyun duduk, wajahnya serius. “Potensi bisa berubah, Min-jae. Terutama setelah mengalami peristiwa traumatis seperti kecelakaan—atau paparan energi tertentu.” Matanya menatap Ji-hoon dengan tajam, seolah mencari sesuatu. “Selain itu, menjadi Hunter bukan hanya soal kekuatan. Itu tentang posisi, pengaruh, dan keamanan. Dengan gelar Hunter dari akademi bergengsi, kamu akan memiliki perlindungan. Sangat penting, mengingat… penelitian ayahmu.”

“Ayah…” Ji-hoon menyebut nama itu. “Paman, menurutmu apa yang sebenarnya terjadi pada Ayah?”

Dae-hyun menghela napas panjang, ekspresinya berubah murung. “Aku tidak tahu pasti, Min-jae. Yang aku tahu, penelitiannya di Ouroboros Research sangat sensitif. Terkait dengan stabilitas Gerbang. Setelah kecelakaan di lab, semua datanya hilang, timnya bubar, dan Ouroboros menutup rapat-rapat. Itu bukan sekadar kecelakaan biasa.” Ia menatap keponakannya. “Itulah sebabnya kamu harus kuat. Dunia Hunter dan penelitian tentang Gerbang itu saling terkait. Dari dalam, kamu mungkin bisa menemukan jawaban.”

Tekanan itu terasa semakin nyata. Bukan hanya sekadar tuntutan keluarga, tetapi juga petunjuk bahwa menjadi Hunter mungkin adalah satu-satunya cara untuk mengungkap misteri ayah Min-jae—dan mungkin, terkait juga dengan bagaimana Ji-hoon bisa berada di sini.

“Aku akan mempertimbangkannya dengan serius, Paman,” janji Ji-hoon, kali ini dengan ketulusan yang baru. Ia memang butuh masuk ke dalam dunia itu, setidaknya untuk memahami apa yang terjadi padanya.

Dae-hyun menganggup, puas dengan jawabannya. “Istirahatlah. Besok, jika kuat, kita bisa pulang ke rumah.”

Malam tiba. Perawat telah mematikan lampu utama, meninggalkan lampu kecil di samping tempat tidur. Ji-hoon terbaring sendirian dalam kegelapan yang diselingi cahaya redup dari kota di balik tirai.

Pikirannya tidak bisa tenang. Ia memejamkan mata, mencoba merasakan tubuh barunya. Apakah ada yang berbeda? Apakah kekuatan menggerakkan gelas tadi benar-benar nyata?

Ia mencoba lagi. Ia fokus pada gelas air di meja. Berkonsentrasi dengan sekuat tenaga, membayangkan gelas itu bergerak mendekat.

Tidak terjadi apa-apa.

Ia mencoba sampai kepala mulai pusing. Tetap saja tidak ada. Mungkin memang halusinasi.

Frustrasi, ia mengalihkan pandangan ke tirai jendela. Angin malam membuatnya bergerak sedikit. Tanpa sengaja, keinginan muncul dalam benaknya: *Andai saja tirai itu tertutup rapat.*

Lalu, sesuatu yang samar-samar terjadi. Bukan tirai yang bergerak, tetapi perasaan aneh di sekelilingnya. Seperti ada getaran halus di udara, sebuah perpanjangan dari persepsinya. Ia bisa ‘merasakan’ lipatan tirai itu, beratnya, bagaimana ia tergantung di gantungan. Bukan melihat, bukan menyentuh, tetapi *mengetahui*.

Dan dengan pengetahuan itu, datanglah kendali yang sangat kecil.

Dengan fokus yang lebih halus, tidak memaksa, ia ‘mendorong’ perasaannya itu ke arah tirai.

Kain tirai yang terjumbai perlahan, sangat perlahan, bergerak menutup. Seperti ditiup angin sepoi-sepoi yang tidak ada.

Ji-hoon menahan napas. Ini berbeda dari menggerakkan gelas. Ini lebih seperti… merasakan ruang dan benda di dalamnya, lalu memberikan sedikit dorongan. Telekinesis? Tapi bukan sekadar mengangkat benda. Lebih seperti memanipulasi sesuatu di sekitarnya.

**[Aktivasi kemampuan terdeteksi. Klasifikasi: Telekinesis Psikis (Varian). Level estimasi: 1. Analisis lebih lanjut diperlukan.]**

Suara sistem itu kembali, membuat Ji-hoon terkejut. Namun kali ini, ada sedikit perbedaan. Suara itu tidak lagi terasa sepenuhnya asing. Ada jejak… kesadaran lain? Atau mungkin, itu adalah bagian dari proses ‘penyatuan jiwa’ yang disebut-sebut tadi?

“Siapa kamu?” tanyanya lagi, kali ini dengan lebih berani di dalam pikirannya.

Tidak ada jawaban langsung. Namun, sebuah ‘kesan’ mengalir ke benaknya. Bukan kata-kata, tetapi sebuah gambaran: dua buah cahaya, satu lebih terang dan stabil, satu lagi redup dan berkedip-kedip, perlahan menyatu menjadi satu bola cahaya yang utuh.

Dan sebuah informasi tunggal: **[Tujuan: Kelangsungan hidup. Metode: Adaptasi.]**

Lalu, sunyi.

Ji-hoon duduk terpaku. Adaptasi. Kelangsungan hidup. Itu masuk akal. Entitas atau sistem apa pun di dalam dirinya, sepertinya bertujuan untuk memastikan ia bertahan di dunia baru ini. Dan caranya adalah dengan menyatukan dua jiwanya—Ji-hoon dan Min-jae—dan membantunya mengembangkan kemampuan yang sesuai.

Telekinesis. Level 1.

Ini bukan kekuatan heroik yang langsung mengubah segalanya. Tapi ini adalah awal. Sesuatu yang nyata. Sesuatu yang bisa ia gunakan, mungkin, untuk bertahan.

Dengan perasaan yang campur aduk antara takut dan harapan, Ji-hoon memutuskan. Ia akan mendaftar ulang ke Hunter Academy. Bukan hanya untuk memenuhi harapan keluarga atau mencari ayah Min-jae, tetapi untuk dirinya sendiri—Kang Ji-hoon yang terdampar di dunia asing. Di sana, ia bisa belajar tentang kekuatannya, tentang dunia ini, dan mungkin menemukan petunjuk tentang suara misterius dalam kepalanya.

Ia melihat ke arah map biru berisi formulir di atas meja. Sekarang, benda itu tidak lagi terlihat seperti ancaman, tetapi seperti sebuah tiket. Tiket menuju jawaban.

Saat ia akhirnya terlelap, mimpi-mimpinya dipenuhi oleh cahaya putih, suara-suara yang bergema, dan bayangan seorang pria berkacamata—Dr. Kang Min-soo—yang menatapnya dari balik sebuah portal yang berdenyup dengan energi tak dikenal.

Dan di suatu tempat jauh di dalam lab Ouroboros Research Division, sebuah monitor yang terhubung ke alat pendeteksi energi tiba-tiba mencatat sebuah pancaran samar. Frekuensinya cocok dengan tanda tangan dimensi yang sudah lama mereka cari. Seorang ilmuwan di ruang kontrol membelalak, lalu segera mengambil telepon.

“Director? Kami mendeteksi sesuatu. Di rumah sakit keluarga Chrono Vanguard. Itu… mirip dengan sinyal Dr.

Ji-hoon terbangun keesokan paginya dengan sinar matahari menerobos celah tirai. Perasaannya sedikit lebih jelas. Keputusan telah dibuat.

Saat ia bersiap untuk pulang, Paman Dae-hyun sudah menunggu dengan mobil. Perjalanan menuju rumah keluarga Kang dilakukan dalam keheningan yang nyaman.

Rumah itu besar dan modern, terletak di kawasan elit. Ji-hoon merasa seperti orang asing yang menyusup saat melangkah masuk. Segala sesuatu terasa mewah tetapi dingin. Tidak ada kenangan hangat Ji-hoon yang melekat di sini, hanya ingatan Min-jae yang terasa seperti film yang ditonton dari kejauhan.

Kamarnya di lantai dua luas dan rapi. Ada rak buku berisi textbook tentang teori Gerbang dan monster, beberapa tropi olahraga, dan sebuah foto lama dirinya dengan ayahnya di meja belajar.

Ji-hoon mendekati foto itu. Dr. Kang Min-soo tersenyum, tangannya berada di bahu Min-jae yang masih kecil. Ada kebanggaan di mata sang ayah. Melihatnya, Ji-hoon merasakan kerinduan yang dalam, sebuah emosi yang jelas berasal dari sisa-sisa Min-jae di dalam dirinya.

“Aku akan mencari tahu apa yang terjadi padamu,” bisiknya pada foto itu. Itu adalah janji untuk Min-jae, dan juga untuk dirinya sendiri.

Ia menoleh ke arah jendela kamarnya yang menghadap ke taman belakang. Di kejauhan, melampaui pagar rumah, ia bisa melihat puncak gedung-gedung pencakar langit Seoul. Tapi Seoul yang mana? Kota ini mirip, tapi berbeda. Ada struktur menara yang aneh, memancarkan cahaya kebiruan—sebuah menara komunikasi untuk jaringan Hunter, menurut ingatan Min-jae.

Hidup barunya benar-benar dimulai.

Tiba-tiba, ponsel di saku celananya bergetar. Bukan panggilan, tetapi sebuah notifikasi dari aplikasi pesan khusus yang digunakan oleh kalangan Hunter dan akademi.

**Pesan dari: Hunter Academy - Admisi.**

**Subjek: Konfirmasi Pendaftaran Ulang dan Tes Kesehatan.**

**Isi: Kang Min-jae-ssi, pendaftaran ulang Anda telah diterima. Harap hadir untuk tes kesehatan dan evaluasi bakat ulang di Akademi pada: Jumat, 09.00. Lokasi: Gedung Administrasi, Lantai 3. Harap membawa dokumen identitas dan formulir yang telah diisi.**

Jantung Ji-hoon berdebar sedikit cepat. Jumat. Itu hanya dua hari lagi.

Dia berdiri di depan cermin besar di kamarnya, menatap wajah asing yang kini menjadi miliknya.

“Baik, Min-jae. Atau Ji-hoon. Atau… kita,” gumamnya. “Kita akan menghadapi ini bersama.”

Dan di dalam bayangan cermin, untuk sesaat yang sangat singkat, matanya seolah memancarkan kilatan cahaya biru yang samar. Lalu, hilang.

Persiapan telah dimulai. Gerbang menuju petualangan—dan bahaya—telah terbuka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!