"Kumohon, menikahlah denganku," ucap Kiara Jasmin dengan putus asa.
"Bukannya kamu itu pacar Fero -keponakanku?" jawab Kaisar sambil menatap tajam.
"Tidak, kami sudah putus!" jawab Kiara- cepat.
Ya, kami putus setelah aku tau dia selingkuh dengan adik tiriku, dan kau adalah caraku membalas dendam padanya.
Kaisar Julian, tidak hanya tampan, tapi dia sangat dingin dan sangat kaya. Bahkan dia adalah sumber dana bagi Fero yang pemalas tapi suka berfoya-foya.
Dengan mengumpulkan semua keberaniannya, Kiara mendekati Kaisar yang merupakan CEO di tempatnya bekerja, menawarkan kontrak hubungan palsu.
Namun hubungan yang awalnya hanya sebuah kontrak, entah sejak kapan makin terasa nyata seperti bukan sekedar sandiwara. Dan Kaisar, paman sang mantan -yang dingin itu ternyata menyimpan api yang lebih berbahaya dari yang pernah Kiara bayangkan. Kini jarak antara kebohongan dan kenyataan semakin samar.
Apakah balas dendam terus berlanjut atau...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tami chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fero si buaya buntung
Setelah lulus kuliah, Kiara dan Riana –sahabatnya- mencoba peruntungan dengan melamar bekerja di sebuah perusahaan yang cukup besar, dan ternyata mereka berdua di terima bekerja. Kiara bahagia sekali karena akhirnya bisa mendapatkan pekerjaan setelah menyelesaikan kuliahnya.
Kiara berharap dia bisa mengumpulkan uang untuk membiayai pengobatan ayahnya yang terkena struk.
Tanpa terasa Kiara sudah bekerja selama tiga tahun di perusahaan. Walaupun setiap hari harus tidur di loteng yang pengap dan sempit, Kiara tetap bahagia karena bisa membantu biaya pengobatan ayahnya. Dia tak pernah berharap hidupnya bakal lebih baik dari ini sampai pada suatu hari ada seorang lelaki tampan mendekati Kiara dan terang-terangan menyatakan perasaannya.
Tentu saja Kiara senang luar biasa, seumur hidupnya, dia belum pernah dekat dengan lelaki manapun, dan tanpa pikir panjang, Kiara menerima cinta lelaki yang bernama Fernando itu.
Mereka resmi berpacaran dan setelah sebulan berpacaran, Fernando alias Fero tiba-tiba saja mengajak Kiara dan memperkenalkan Paman yang sangat dia hormati.
Malam itu, Kiara mematung karena terkejut. Karena ternyata Paman Fero adalah Kaisar –bos Kiara yang juga merupakan bos Fero di perusahaan-.
Sepanjang makan malam, Kaisar terus menatap Kiara dengan tatapan yang Kiara sendiri tidak mengerti. Dia seperti sedang memindai setiap inchi dari diri Kiara, menilai apakah Kiara pantas bersanding dengan keponakannya atau tidak. Jujur saja, pundak Kiara langsung terasa berat. Makanan enak yang tersaji, terasa hambar karena Kiara begitu gugup. Dan kalau boleh memilih, Kiara ingin berpacaran dengan lelaki biasa saja, jangan keponakan bosnya yang dingin ini.
Setelah makan malam itu, Fero mengatakan pada Kiara agar merahasiakan siapa dirinya sebenarnya, dan Kiara berjanji akan merahasiakan ini rapat-rapat dengan taruhan nyawa.
Kiara mengira dirinya spesial, tapi ternyata semua itu bohong. Semua orang di perusahaan sudah tau bahwa Fero adalah keponakan Bos, hanya dialah yang tidak tau, entah karena bodoh atau karena tidak terlalu peduli dengan gosip-gosip di kantor.
.
Hingga pada suatu hari, terjadilah sesuatu yang membuat hubungan Fero dan Kiara mulai merenggang. Ya, dengan penuh kepercayaan diri, Fero menarik Kiara lalu mengecup bibir mungil Kiara -di rumah Kiara, tepatnya di teras rumah. Dan tentu saja, Kiara terkejut. Dia tak pernah mengharapkan hubungannya dengan Fero sampai sejauh ini. Mereka baru berpacaran selama sebulan, bagaimana mungkin Fero dengan begitu kurang ajar menciumnya!
Kiara mendorong Fero sekuat tenaga, “Fero! Jangan kurang ajar!” pekik Kiara sambil menyapu bibirnya dengan punggung tangannya, mencoba menghapus jejak bibir Fero di bibirnya.
“Kita sudah pacaran satu bulan lebih, Kia.. masa cium saja nggak boleh!” bukannya minta maaf, Fero malah kesal.
“Baru satu bulan! Apa nggak terlalu cepat! Aku nggak mau!” ucap Kiara tak setuju dengan ucapan Fero.
“Cuma cium saja, aku nggak minta tidur bareng, kok!” ketus Fero.
“Apa!” Kiara membola mendengar ucapan Fero. Gila apa laki-laki ini! Dikiranya kalau pacaran dia bebas melakukan apapun pada tubuh Kia? Enak saja!
“Aku nggak bisa! Aku nggak suka!” tolak Kiara.
Kiara memang belum pernah berpacaran, tapi dia tak mau berbuat hal mesum seperti itu. Dia hanya akan melakukannya dengan suaminya kelak, bukan pada Fero yang hanya berstatus ‘pacar’.
“Ada apa sih, ribut-ribut!” Tiba-tiba Mona muncul karena mendengar keributan di teras, dan saat itulah mereka berdua bertemu. Mona yang berpenampilan sangat seksi malam itu, tentu saja menarik perhatian Fero.
Di belakang Kiara, Fero dan Mona diam-diam berhubungan.
Saat Kia bekerja lembur, Fero akan pergi berkencan dengan Mona. Fero bahkan sudah tak pernah lagi mengajak Kia kencan berdua, dia kini sibuk bermesraan dengan Mona -adik tiri Kia yang lebih seksi dan lebih manja.
Fero suka sekali dengan sifat Mona yang manja padanya apalagi Mona mau di belai-belai, beda sekali dengan Kia yang kaku kayak kanebo kering.
Kia yang bodoh, tak juga sadar jika pacarnya ada main dengan Mona di belakangnya. Sehingga dia selalu memaklumi jika sekarang Fero begitu sibuk dan tak pernah mengajaknya jalan.
Hingga pada suatu hari, saat Kia pulang setelah bekerja lembur sampai jam delapan malam, dia mendengar suara rintihan aneh dari kamar Mona, lebih tepatnya –kamarnya yang direbut Mona-.
Dengan perlahan Kia mendekat, menempelkan telinganya di daun pintu hingga bisa mendengar lebih jelas lagi suara apa itu yang ada di dalam kamar. Kali ini bukan cuma suara rintihan perempuan, tapi juga ada suara desahan lelaki. Dan suara itu terdengar tak asing di telinga Kia.
“Ohhh Mona… enak sekali Mona, terus sayang, goyang terus pinggulmu…” desah suara lelaki.
“Eemmpphh… mas… enak banget, aku mau lagi…” balas Mona dengan suara yang terdengar manja dan menjijikan. “Punya mu besar banget mas, bikin aku ketagihan… aaahh….”
‘Brak!!!!’ tak tahan mendengar suara mesum bersaut-sahutan di dalam kamarnya, Kia menggebrak pintu hingga terbuka lebar. Dan benar saja, di atas ranjang miliknya, Fero berbaring terlentang tanpa mengenakan sehelai kain pun, dan di atasnya ada Mona yang sama polosnya -sedang duduk sambil menggoyangkan bokongnya di atas selang*angan Fero.
“Beraninya kalian bersengg*ma di kamarku! Di atas ranjangku! Dasar manusia-manusia hina!” pekik Kia sambil melempar tas kerjanya ke arah Mona dan Fero.
Mona terjatuh karena tas Kia tepat mengenai kepalanya, hingga membuat bokongnya bergeser dan senjata Fero terlepas dari sarangnya dengan masih mengacung dengan tegak.
Kiara menjerit melihat pemandangan yang merusak mata sucinya, lalu dia meraih apapun yang ada di dekatnya dan melempar mereka berdua dengan membabi buta.
“Kiara! Kamu lagi apa!” tiba-tiba, Karina –ibu Mona- muncul dan menarik rambut panjang Kiara.
“Maaf ya, kalian boleh melanjutkan hal tertunda tadi,” ucap Karina dengan lembut lalu menarik Kiara keluar dari kamar kemudian menutup pintu kamar rapat-rapat.
“Tante gila ya! anak tante berbuat seperti itu dengan lelaki yang bukan suaminya, tapi tante ijinkan!” pekik Kiara tak habis pikir.
“Kamu yang gila! Jangan ganggu Mona! Biarkan dia mendapatkan hati Fero! Fero itu orang kaya! Kamu jangan merusak masa depan Mona! Paham nggak!” ucap Karina sambil melotot tajam ke arah Kiara.
“Tapi Fero bahkan bukan pacar Mona! Fero itu pacarku!” balas Kia.
“Nggak! Mulai hari ini kita putus, dan aku resmi berpacaran dengan Mona!" ucap Fero yang tiba-tiba muncul dari balik pintu kamar.
Dengan tidak tahu malu, Fero keluar dari kamar sambil mengancing celana panjangnya.
Mona berlari kecil sambil tersenyum riang dan membawakan kemeja Fero. “Sayang, ini bajumu, cepat pakailah dulu,” ucap Mona dengan nada manja dan sok imut. Menjijikkan.
Mona sendiri, keluar dari kamar hanya menggunakan lingerie tembus pandang dan tak memakai apapun lagi di dalamnya, membuat dua gunung kembarnya bergelantungan dan memantul-mantul saat dia berlarian tadi.
“Mona! Gila kamu ya! pakai baju yang benar!” sentak Kiara.
Selama ini Kiara memang membenci saudara tirinya itu, tapi melihat Mona mengenakan pakaian minim dan berlarian ke sana kemari seolah tak punya urat malu, jiwa wanita Kiara merasa tersakiti. Kenapa sebagai seorang perempuan, Mona seperti tak punya harga diri!
“Urus saja urusanmu sendiri!” ketus Mona sambil membantu Fero mengenakan kemeja kerjanya.
“Aku pulang dulu ya, besok aku jemput dan membantumu agar bisa bekerja di perusahaanku,” ucap Fero dengan lembut sambil mengecup pipi Mona.
“Aku pulang dulu, Tante,” sapa Fero pada Karina, lalu dia berlalu begitu saja tanpa memandang Kia yang masih mematung di tempatnya.
Tak ada niat sedikitpun di hati Kiara untuk meminta kejelasan hubungannya dengan Fero. Mulai detik ini pun, Kia tak sudi menjadi kekasih lelaki mesum dan menjijikan seperti itu.
"Mah! besok aku bakal mulai kerja di perusahaannya Mas Fero! aku seneng banget, Mah!" pekik Mona dengan riang.
“Bagus sayang! Kamu harus baik-baik sama Fero! Turuti semua yang dia mau. Dan semoga secepatnya dia melamar kamu!” jawab Karina tak kalah bersemangat seperti anak perempuannya.
"Itu bukan perusahaan Fero! itu milik Pamannya!" ketus Kia sambil melirik mereka berdua dengan kesal, lalu memilih pergi menuju kamarnya yang ada di loteng rumah sederhana itu.
Kiara merebahkan tubuhnya di atas kasur busa tipis sambil memandang langit-langit atap yang jaraknya cukup dekat dengan dirinya. Tak ada rasa sedih di hatinya karena Fero berselingkuh dengan adik tirinya –Mona-. Entah kenapa, Kiara sendiri pun tak tahu.
Saat ini, Kiara hanya merasakan perasaan marah karena dua orang itu begitu kurang ajar menjadikan rumahnya sebagai tempat berbuat mesum.
“katanya keponakan Bos! Ngakunya orang kaya! sewa kamar Hotel aja nggak sanggup! Maunya gratisan! Dasar laki-laki sampah!” geram Kiara.
…
“Ayah kenapa nggak makan?” Kiara khawatir karena melihat ayahnya beberapa hari ini selalu menyisakan makanan bahkan kadang makanannya utuh tak di sentuh.
“Ayah nggak lapar,. Ayah mikirin kamu. Ayah pikir kamu sudah dapat lelaki yang bisa jaga kamu, tapi malah dia selingkuh sama Mona. Ayah menyesal membawa dua orang itu masuk ke rumah kita. Mereka benar-benar sudah merusak hidup mu, sayang. Maafkan ayah…” desis Ayah dengan wajah sedihnya.
Kiara tersenyum, “Ayah… seharusnya Ayah bersyukur, aku di jauhkan dari lelaki kardus itu. Tenang saja Ayah, Aku sekarang sedang dekat dengan seseorang, dan dia sudah pasti lebih baik dari pada si Fero. Ayah tenang saja ya,” ucap Kiara berusaha menenangkan sang Ayah sambil menggenggam tangan Ayahnya.
“Benarkah? Bawa dia kemari, kenalkan dengan Ayah,” pintanya.
Kiara menggeleng, “Jangan dulu ya Ayah, aku takut nanti di rebut Mona lagi,” bisik Kiara sambil terkekeh.
Ayah tampak mengulas senyum, mengerti.
.
Awalnya, Kiara masih bisa mengelak saat Ayahnya bertanya tentang pacar. Namun lama kelamaan, Ayah curiga jika Kiara sedang membohonginya. Dia menginginkan bukti.
Sehingga saat pikiran Kiara sedang kalut dan kacau balau, dan melihat Kaisar berjalan tepat di depannya, entah dapat keberanian dari mana, Kiara mencegat sang bos dan meminta berbicara empat mata dengan bosnya itu lalu mengajaknya untuk menikah.
🤭
Km kira ini gaun buat pengantin baru yg mau unboxing 🤣