NovelToon NovelToon
Istriku Diambil Papa

Istriku Diambil Papa

Status: sedang berlangsung
Genre:Pihak Ketiga / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Konflik etika
Popularitas:512
Nilai: 5
Nama Author: Rhiy Navya

Agil membawa Laila tinggal di rumah besar Baskoro. Baskoro mulai menunjukkan ketertarikan yang tidak wajar pada Laila, melalui bantuan finansial yang menjerat.

Disaat Agil perlahan menemukan keganjalan, Baskoro bermain trik dengan...
Simak selengkapnya, hanya dalam novel berikut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sangkar yang Menyempit

Di kegelapan malam, Laila menyadari bahwa ia baru saja melangkah masuk ke dalam jebakan yang dirancang dengan sangat rapi oleh sang iblis berkedok ayah mertua. Dan ini barulah awal dari kehancurannya.

​Keesokan paginya, matahari bersinar cerah menembus gorden kamar. Agil terbangun dengan semangat baru. Ia melihat Laila sudah duduk di tepi ranjang, wajahnya pucat dan matanya sembap.

​"Sayang, kamu kenapa? Kurang tidur ya?" Agil mengusap bahu Laila dengan penuh kasih.

​Laila mencoba tersenyum, meski hatinya hancur berkeping-keping. "Iya, Mas. Mungkin masih adaptasi dengan suasana baru."

​"Tenang saja, semuanya akan baik-baik saja. Papa tadi pagi sudah menyuruhku berangkat ke kantor pusat untuk tanda tangan kontrak baru. Gajinya sangat besar, Laila! Kita bisa segera melunasi semua utang kita!" Agil bercerita dengan mata berbinar-binar.

​Laila hanya bisa mengangguk pelan. Ia menatap punggung suaminya yang sedang bersiap-siap dengan penuh rasa bersalah. Agil sangat bahagia, dan ia tidak punya nyali untuk merusak kebahagiaan itu dengan kenyataan pahit yang ia temui semalam.

​Saat mereka turun untuk sarapan, Baskoro sudah duduk di meja makan panjang, membaca koran bisnis. Di sampingnya, Rina hanya diam memandangi kopinya.

​"Pagi, Agil. Pagi, Laila," sapa Baskoro dengan nada sangat ramah, seolah kejadian semalam tidak pernah terjadi.

​"Pagi, Pa," jawab Agil ceria.

​Laila tidak menjawab. Ia duduk di kursi terjauh dari Baskoro, namun ia bisa merasakan mata pria itu terus mengawasinya dari balik lembaran koran. Sebuah pengawasan yang menandakan bahwa waktu bagi Laila untuk membayar "harga" itu akan segera tiba.

​Di meja makan yang dipenuhi makanan mewah itu, Laila merasa seperti sedang menyantap racun. Hadiah kebebasan finansial dan kemewahan ini adalah racun yang akan membunuh jiwanya perlahan-lahan. Dan ironisnya, orang yang membawa racun itu ke hadapannya adalah pria yang paling ia cintai: suaminya sendiri.

​Matahari baru saja naik setinggi galah ketika Agil mencium kening Laila dengan terburu-buru. Ia tampak gagah mengenakan setelan jas yang dibelikan ayahnya kemarin sore. Jas itu harganya mungkin setara dengan tiga bulan sewa apartemen lama mereka. Agil terlihat begitu bangga, seolah beban dunia yang selama ini menghimpit pundaknya telah terangkat sepenuhnya.

​"Aku pergi dulu ya, Sayang. Hari ini ada rapat direksi pertama. Papa bilang aku akan diperkenalkan sebagai kepala divisi logistik yang baru. Ini peluang besar kita," ucap Agil dengan mata berbinar.

​Laila hanya mampu mengangguk lemah di ambang pintu kamar. "Hati-hati, Mas. Jangan lupa makan siang."

​"Tentu! Kamu jangan bosan ya di rumah sebesar ini. Kalau mau belanja atau butuh apa saja, Papa bilang sudah menyiapkan kartu kredit tambahan untukmu di atas meja rias," Agil melambaikan tangan lalu berlari menuruni tangga dengan langkah ringan.

​Laila menatap punggung suaminya hingga menghilang di tikungan koridor. Begitu pintu depan terdengar tertutup, suasana mansion itu berubah seketika. Kesunyian yang mencekam kembali merayap, seolah dinding-dinding besar itu memiliki telinga yang mendengarkan detak jantungnya yang tidak beraturan.

​Ia melangkah ke meja rias. Benar saja, sebuah kartu berwarna hitam mengkilap tergeletak di sana. Di bawahnya terdapat secarik kertas dengan tulisan tangan yang rapi namun tajam: "Gunakan sepuasmu. Tapi ingat, setiap rupiah adalah nyawa ayahmu. — B"

​Laila meremas kertas itu hingga hancur. Ia merasa seperti pelacur yang baru saja diberi uang muka.

​Siang itu, mansion terasa sepi. Ibu mertuanya, Rina, dikabarkan sedang pergi ke pertemuan sosialita yang biasa ia hadiri untuk membunuh rasa bosannya. Laila mencoba menyibukkan diri di perpustakaan rumah, mencari buku apa saja untuk mengalihkan pikirannya. Namun, konsentrasinya buyar saat pintu perpustakaan yang berat itu terbuka perlahan.

​Baskoro masuk tanpa suara. Ia tidak lagi mengenakan pakaian formal kantor, melainkan kaos polo santai yang tetap memperlihatkan wibawanya.

​"Agil meneleponku tadi. Dia sangat senang dengan kantor barunya. Dia bilang dia akan lembur malam ini untuk mempelajari laporan tahunan," ucap Baskoro sambil berjalan menuju rak buku di belakang Laila.

​Laila berdiri, mencoba menjaga jarak. "Lembur? Mas Agil tidak bilang apa-apa tadi pagi."

​"Aku yang memintanya. Pria muda harus ditempa dengan kerja keras, bukan?" Baskoro tersenyum, lalu mengambil sebuah buku tebal dan membolak-baliknya tanpa minat. "Atau kau keberatan jika suamimu pulang terlambat, Laila? Apakah kau takut sendirian di rumah sebesar ini?"

​"Saya bisa menjaga diri saya sendiri, Pa," jawab Laila tegas, meskipun tangannya gemetar di balik saku roknya.

​Baskoro tertawa kecil. Ia meletakkan buku itu kembali ke rak dengan hentakan pelan, lalu berbalik menatap Laila dengan tatapan yang membuat Laila merasa telanjang. "Kau tahu, Laila... rumah ini memiliki banyak rahasia. Dan rahasia tersulit adalah bagaimana seorang wanita cantik sepertimu bisa bertahan dengan pria naif seperti Agil."

​Baskoro melangkah mendekat. Laila mundur hingga punggungnya membentur rak buku kayu jati yang dingin.

​"Aku sudah melunasi utang pertama ayahmu pagi ini," bisik Baskoro. Jarak mereka kini begitu dekat hingga Laila bisa merasakan napas pria itu di dahinya. "Dua ratus juta. Hanya dengan satu klik di ponselku. Ayahmu sekarang bisa tidur nyenyak di desanya. Bukankah aku mertua yang sangat baik?"

​Laila memejamkan mata, air mata hampir menetes. "Terima kasih, Pa. Tapi tolong... jangan lakukan ini."

​"Jangan lakukan apa?" Baskoro mengangkat dagu Laila dengan jari telunjuknya. "Menyelamatkan keluargamu? Atau menginginkan sesuatu sebagai imbalannya? Kau bukan anak kecil, Laila. Kau tahu bagaimana dunia bekerja. Agil mendapatkan karier, ayahmu mendapatkan kebebasan, dan aku... aku hanya menginginkan sedikit perhatian darimu."

​Tangan Baskoro mulai merayap ke pundak Laila, mengelus helai rambutnya yang jatuh. Laila merasa mual, namun ancaman tentang ayahnya terus terngiang di kepalanya. Pria di depannya bukan sekadar ayah mertua; dia adalah pemilik hidupnya saat ini.

​"Malam ini, aku ingin kau menemaniku makan malam di ruang bawah tanah. Ada koleksi wine baru yang ingin kutunjukkan padamu. Jangan bilang pada Agil. Dia akan terlalu sibuk dengan tumpukan kertasnya," perintah Baskoro. Itu bukan ajakan, itu adalah titah.

​"Tapi, Pa..."

​"Jangan membantah, Laila. Aku tidak suka pengulangan," Baskoro mendekatkan bibirnya ke telinga Laila. "Jika kau tidak datang, aku bisa dengan mudah menelepon pihak kepolisian di desa ayahmu dan mengatakan bahwa bukti baru telah ditemukan. Pikirkan itu."

​Baskoro berbalik dan meninggalkan perpustakaan, meninggalkan Laila yang merosot jatuh ke lantai, terisak dalam diam.

​Di kantor pusat PT Baskoro Group, Agil duduk di kursi kulit yang empuk di ruangan luasnya yang berada di lantai 40. Ia menatap tumpukan dokumen yang harus ia pelajari. Meskipun matanya lelah, hatinya penuh dengan ambisi.

​"Aku akan membuktikan pada Papa kalau aku layak. Aku akan membahagiakan Laila," gumamnya pada diri sendiri.

​Ia mengambil ponselnya, hendak menelepon Laila untuk mengabarkan bahwa ia akan lembur. Namun, saat ia baru saja akan menekan nomor istrinya, sekretaris pribadinya—seorang wanita muda pilihan Baskoro—masuk membawa kopi dan setumpuk berkas lagi.

​"Maaf, Pak Agil. Pak Baskoro berpesan agar ponsel semua direksi ditinggalkan di loker selama jam lembur untuk menjaga kerahasiaan data perusahaan yang sedang kita audit," ucap sekretaris itu dengan sopan namun tegas.

​Agil mengernyit. "Peraturan baru?"

​"Perintah langsung dari Pak Baskoro, Pak."

​Agil mendesah, namun ia patuh. Ia meletakkan ponselnya di atas meja, tidak menyadari bahwa itu adalah bagian dari rencana besar untuk memutuskannya dari dunia luar, terutama dari istrinya yang sedang ketakutan di rumah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!