NovelToon NovelToon
Jodohku Ternyata Lurah

Jodohku Ternyata Lurah

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Perjodohan / Wanita Karir / Keluarga / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: zenun smith

Menurut Azalea Laire, dirinya mempunyai bapak kolotnya minta ampun. Jaman sekarang masih saja dijodoh-jodohkan, mana pakai ada ancaman segala, dimana kalau tidak mau dijodohkan, dirinya akan ditendang bukan lagi dari keluarga, tapi di depak dari muka bumi.

Azalea geram di tagih perjodohan terus oleh bapaknya, sehingga dia punya niat buat ngelabrak pria yang mau dijodohkan olehnya agar laki-laki itu ilfeel dan mundur dari perjodohan. Tapi eh tapi, ketika Azalea merealisasikan niat itu yang mana dia pergi ke desa untuk menemui sang jodoh, ternyata dia melakukan kesalahan.

Ternyata jodoh dia adalah Lurah.

Terus kira-kira masalah apa yang udah dibikin oleh Azalea? Kira-kira masalah Azalea ini bikin geram atau malah bikin cengar-cengir?

Nyok kita pantengin aja ceritanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berubah Haluan

Setelah meninggalkan Adi yang masih mematung dengan khayalan tingkat tingginya, Azalea kembali melajukan mobil. Rencananya untuk langsung angkat kaki dari desa itu tiba-tiba menguap begitu saja saat ia melihat pemandangan di sisi jalan.

Desa Watuasih ternyata memiliki bentang alam yang jauh lebih indah dari yang ia bayangkan. Sawah-sawah menghijau dengan sistem terasering atau pematang yang berundak-undak tertata rapi, seperti tangga raksasa menuju langit. Udara yang masuk melalui jendela mobilnya terasa sejuk, bersih, dan tanpa polusi. Berbeda jauh dengan udara Jakarta yang setiap hari ia hirup bersama kepulan asap knalpot.

"Oke, satu jam lagi baru balik ke kota nggak masalah kali ya? Itung-itung healing gratis," gumam Azalea pada dirinya sendiri.

Ia memarkirkan mobilnya di bawah pohon rindang dan memutuskan untuk berjalan kaki menyusuri jalan setapak di pinggir sawah. Suara gemericik air irigasi dan kicauan burung benar-benar membuatnya rileks. Azalea menghirup napas dalam-dalam, mencoba memenuhi paru-parunya dengan oksigen murni. Ia bahkan sempat berputar-putar kecil, merasa senang bukan main melihat keindahan alam yang selama ini hanya ia lihat di kalender atau postingan media sosial orang lain.

Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama.

KRETEK.

"Yah!" Azalea memekik kecil. Ia mengangkat kaki kanannya. Sial. Tali sandal branded kesayangannya copot. Sandal tipis yang memang tidak didesain untuk medan tanah sawah itu akhirnya menyerah pada keadaan.

Azalea mendengus, langsung merutuk dalam hati. Ia memungut sandal itu dan menentengnya dengan perasaan dongkol. "Emang bener-bener deh. Emang gue nggak pantes hidup di desa kayaknya. Belum apa-apa sudah kena sial begini."

Ia berjalan dengan tertatih-tatih. Satu kaki beralaskan sandal, satu lagi nyeker menyentuh tanah yang agak lembap. Rasanya sungguh tidak nyaman. Gerutuannya makin menjadi-jadi sampai sebuah suara lembut menghentikan langkahnya.

"Mbak, tunggu."

Azalea menoleh dengan cepat, siap menyemprot siapa pun yang berani mengganggunya lagi. Namun, kalimat pedas yang sudah di ujung lidah tiba-tiba tertelan kembali. Di depannya berdiri seorang pemuda.

Berbeda drastis dengan Adi yang petantang-petenteng tadi, pemuda ini tampak sangat bersahaja. Wajahnya tampan dan sopan. Senyumnya manis yang tidak dibuat-buat.

Karena wajah ganteng dan pembawaannya yang sopan, mode galak Azalea otomatis nonaktif. Ia langsung bersikap manis, tipikal orang kota yang menjaga imej di depan pria menarik.

"Iya, Kak, ada apa?" sahut Azalea lembut. Ia sengaja memanggil Kakak, sebuah panggilan netral yang biasa ia gunakan di Jakarta untuk siapa saja yang baru dikenal, tak peduli usia mereka lebih tua atau muda.

Pemuda itu tersenyum lagi, membuat jantung Azalea berdesir tipis. Pemuda itu menganggukkan kepalanya dengan sopan, lalu tangannya menyodorkan sepasang sandal karet miliknya yang tampak masih bersih.

"Ini pakai sandal saya saja. Kasihan kaki Mbaknya, nanti luka atau sakit kalau jalan nyeker begitu," ucapnya lembut.

Azalea menunduk, melihat kakinya yang kotor terkena tanah, lalu beralih melihat wajah pemuda itu. Ia baru tersadar sepenuhnya kalau dia sedang menenteng sandal rusak sambil nyeker sebelah.

"Eh..." Azalea nyengir kuda, merasa sangat malu. "Aduh, nggak usah Kak. Makasih banyak, beneran nggak usah."

Gengsi Azalea sebagai cewek kota yang mandiri tentu saja bergejolak. Ia menolak bukan karena tidak mau, tapi karena merasa harus berbasa-basi dulu. Di dalam hatinya, Aduh, please, jangan ditarik lagi tawaran sandalnya. Semoga dia peka.

"Pakai saja, Mbak. Rumah saya dekat dari sini, saya bisa ambil yang lain nanti. Lebih baik Mbak yang pakai daripada kakinya kenapa-kenapa di jalan," paksa Hagia dengan suara tenang namun meyakinkan. Azalea merasa lega.

Azalea akhirnya menerima sandal itu dengan gerakan pelan, berpura-pura seolah dia terpaksa menerimanya padahal dalam hati dia sangat lega. "Ya udah... makasih banyak ya, Kak. Maaf jadi ngerepotin."

"Sama-sama. Mbaknya seperti baru lihat di sini. Dari luar desa ini ya? Mau ke mana kalau boleh tahu?"

"Iya, saya dari kota. Baru pertama kali ke sini," jawab Azalea jujur. Kemudian karena ingat misinya yang tertunda gara-gara sandal putus, ia asal menjawab, "Ini... saya rencananya mau ke rumah Pak Lurah. Ada perlu sedikit."

"Rumah Pak Lurah? Wah, lumayan jauh kalau jalan kaki dari sini. Mau saya antar?"

Azalea mendadak gugup. Diajak berboncengan atau jalan bareng cowok seganteng ini di desa asing? Wah, bisa-bisa dia makin betah. Tapi gengsinya lagi-lagi mengambil kendali.

"Oh! Nggak usah, Kak. Beneran nggak usah. Saya sendiri aja, sekalian mau lihat-lihat pemandangan."

Hagia tidak memaksa. "Baiklah kalau begitu. Hati-hati di jalan ya, Mbak."

Mereka akhirnya berpisah. Azalea berjalan ngalor (Ke arah utara) , sementara Hagia ngidul (ke arah selatan).

Setelah melangkah sekitar sepuluh meter, rasa penasaran Azalea memuncak. Ia tidak tahan untuk tidak melihat ke belakang, ingin memastikan apakah cowok ganteng itu masih ada di sana. Dan di detik yang sama, ternyata Hagia juga melakukan hal yang sama.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Mereka berdua berbarengan menengok ke belakang. Mata mereka bertemu. Hagia tampak terkejut, namun segera memberikan senyum manisnya kembali sambil sedikit menundukkan kepala sebagai tanda hormat. Azalea yang tertangkap basah hanya bisa membalas senyum dengan kikuk dan buru-buru membalikkan badan.

Azalea berjalan lagi dengan senyum-senyum sendiri. "Het dah, ada-ada aja. Malu banget gue," gumamnya sambil menutupi wajahnya yang memerah. "Tapi beneran deh, itu cowok... meskipun nyeker gitu tetep ganteng ya? Auranya beda banget sama si Adi yang nggak jelas tadi."

Tiba-tiba sebuah keinginan muncul di kepala Azalea. Ia merasa desa ini mulai menarik perhatiannya. Azalea berpikir keras. Ia memutuskan untuk mencari rumah Ketua RT setempat untuk menanyakan apakah ada tempat penginapan atau warga yang bersedia menyewakan kamar.

Ya, dia pengen tinggal di sana barang beberapa hari. Gerutuannya soal tak cocok disini karena belum apa-apa sudah sial, menguap begitu saja.

Akan tetapi saat ia sudah berjalan cukup jauh, ia tiba-tiba berhenti mendadak. Matanya melotot menatap sandal karet yang ia pakai.

"Waduh! Baru kepikiran! Gimana cara gue balikin sandal cowok tadi ya?"

Ia menoleh ke arah jalan setapak tempat mereka berpisah, tapi Hagia sudah tidak terlihat. Azalea mengacak rambutnya frustrasi namun ada sedikit rasa geli di hatinya. Ia tidak tahu nama cowok itu, tidak tahu rumahnya di mana, dan sekarang dia membawa harta milik cowok itu. Azalea overthinking, bagaimana kalau sendal ini satu-satunya milik cowok tadi? Kan jadi nyusahin.

Azalea menatap langit, "Ya Allah... mudah-mudahan ini emang tanda-tanda berjodoh. Mudah-mudahan ketemu lagi deh biar bisa balikin sandal ini."

Masa iya harus ngadain sayembara sendal, terus kaki siapa yang muat, gue jadikan pangeran?! Jiaaelaah lebay banget gue. Batin Azalea.

Azalea melanjutkan perjalanan menuju rumah RT terdekat. Sampai disana, Azalea disambut baik seperti awal bertemu, namun anaknya Pak RT memandang skeptis ke arah sandalnya.

.

.

Bersambung.

1
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
kamu salah paham. tapi aku suka. biarkan kesalah paham ini, semakin panjang /Facepalm/
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
iya, punya ayahmu. tapi kamu pewarisnya
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
heleehhhh, modus mu /Facepalm//Facepalm//Curse/
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
dan ternyata itu ialah nomor sang penipu /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
sebegitu khawatirnya hagia sama lea. apalagi itu, jika bukan cinta
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
ooo, lebih privasi gitu maksudnya
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
dia memang menyukai mu hagia. seharusnya bukan akting yg ditunjukkan tapi kebenaran
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
fokus leaaa, fokus /Chuckle//Chuckle//Facepalm/
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
aku suka sama pikiranmu
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
nah kan, akhirnya kamu sadar lea
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
dia bukan khawatir kamu patah hati Lea. yang dia khawatirkan kamu berhasil berada di hati Hagia. walaupun itu, memang benar adanya
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
Sebutkan nama lengkapnya Yahh /Facepalm//Grin/
〈⎳ FT. Zira
eaaa katahuannn
〈⎳ FT. Zira
aduh alasannya/Facepalm/
〈⎳ FT. Zira
lahhh... kelihatan banget jadinya
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
zenuuuuuunnnnnnn nackal sekali kamuuuhhhhhhh. ihhh geeemmmeeessshhhh
Zenun: iiih ada akak😄🥳👍
total 1 replies
Felycia R. Fernandez
tapi anak nya lagi ngambek lho Pak,Bu
karena Hagia salah ngomong
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Felycia R. Fernandez: Gak sabar liat reaksi Azalea nantinya 😆😆😆
total 2 replies
Felycia R. Fernandez
weeeeh lurah 😍😍😍😍😍😍😍😍
Felycia R. Fernandez: kk Thor jago visual nih 👍👍👍
total 4 replies
Felycia R. Fernandez
jiaaaah 😆😆😆😆
Felycia R. Fernandez: aku itu 😆😆😆😆😆🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
tinie
aaah gak ada yg jujur😔😔🤔
Zenun: eps selanjutnya dikit-dikit kebuka kak😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!