Novel ini berdasarkan kisah nyata.
Nama tokoh, nama tempat, atau nama daerah sudah diganti demi menjaga kerahasiaan identitas asli.
Apabila terdapat kesamaan nama tokoh, tempat, laku tirakat tertentu, profesi tertentu, atau latar daerah tertentu dengan para pembaca semua, mohon dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEMERBAK BUNGA KANTIL
Aku mengayuh sepeda dengan perlahan. Menikmati suasana desaku saat sore hari yang cerah ini. Sesekali aku menyapa orang-orang yang kutemui di jalan. Mereka sebagian besar berprofesi sebagai petani di lahan milik sendiri dan pengurus lahan milik orang lain. Ada juga beberapa yang menjadi pedagang sayuran dan lainnya di pasar desa sebelah. Sungguh suasana desa yang begitu menenangkan bagi siapapun yang tinggal di sini.
Tak lama aku menyusuri jalan desa, aku melewati area pemakaman umum. Pemakaman itu digunakan oleh beberapa desa, karena areanya cukup luas dan itu diberikan oleh seorang dermawan pada waktu dahulu sebagai tanah wakaf.
Saat aku tepat berada di depan gerbang pemakaman yang hanya terbuat dari bambu, aku berhenti sejenak. Aku seperti melihat seseorang di balik gerbang itu. Aku memperhatikan, namun tak ada siapapun di sana.
"Perasaan aku aja kali ya?" Batinku. Aku segara melanjutkan perjalanan menuju tempat mengaji anak-anak desa yang tak jauh dari area pemakaman ini. Sesaat kemudian aku mengayuh lagi sepeda, aku sudah memasuki wilayah desa sebelah. Nama desaku tinggal adalah Desa Mawih dan desa sebelah ini adalah Desa Sempu.
Di Desa Sempu inilah aku mengajar mengaji anak-anak di sore hari, setiap hari senin sampai kamis. Sedangkan hari jum'at sampai minggu dijadwalkan libur. Tempatku mengajar juga bukan mushollah, masjid, atau saung. Melainkan pendopo di depan rumah seorang ustadz yang bernama Furqon. Ustadz Furqon sudah memiliki seorang istri bernama Bu Fatimah.
Ketika aku sampai, sudah berkumpul anak-anak. Memang tidak banyak, hanya sekitar sepuluh orang saja. Mereka ketika melihatku tiba, langsung menghampiri dan menyapa, sambil mencium tanganku.
"Bu Nisa, ini ada titipan dari Mamah aku di rumah." Ucap salah seorang murid bernama Haris, sambil memberikan sekotak makanan buatan Mamahnya.
"Masyaa Alloh, Alhamdulillah, terima kasih ya Haris. Bilang juga sama Mamah nanti, terima kasih dari Bu Nisa ya." Jawabku sambil mengusap kepala Haris.
"Ya sudah, ayok kamu duduk, diajak juga temen-temen kamu buat siap-siap mulai ngaji ya Haris." Tambahku.
Aku segera menuju tempat biasa di mana aku duduk. Segera ku mulai kegiatan mengaji sore ini dengan mengucap salam, disusul jawaban salam dari anak-anak. Lalu aku memimpin do'a sebelum mulai, kemudian setelah itu aku memeriksa kehadiran murid-muridku, dan Alhamdulillah seluruhnya hadir sore ini.
"Ayok, kita lanjutkan belajar kita ya, kemarin sudah sampai pelajaran membaca surat apa?" Tanyaku. Dengan serentak mereka semua menjawab, "Surat An-Naas Bu...!"
"Alhamdulillah, hari ini, Ibu mau kalian maju satu-satu, dan praktekkan lagi bacaannya ya..." Ucapku.
"Yaaah... Diulang lagi ya Bu?" Salah seorang murid perempuan bernama Hanum sedikit mengeluh, memang anak satu ini paling sering mengeluh jika diminta untuk mengulang pelajaran.
"Iya dong Hanum, kalo bacaannya gak diulang-ulang, nanti bisa gak bener lagi bacaannya. Malah nanti bisa sampe lupa bacaannya. Ayok, kamu gak boleh ngeluh ya Num..." Jelasku dengan suara yang lembut kepada Hanum.
"Bu Nisa, aku duluan deh maju baca lagi!" Teriak Haris. Aku mempersilahkan Haris untuk maju ke depan, mengulangi praktik membaca surat An-Naas yang kemarin sudah ku ajarkan. Sambil aku meminta anak-anak yang lain untuk baca masing-masing sebelum maju ke depan bergantian.
Ditengah fokusku memperhatikan bacaan Haris, tiba-tiba terasa tiupan angin semilir lembut dari arah pundak belakangku. Dan, tercium aroma wangi. Aroma yang sudah berulang kali aku cium beberapa waktu ke belakang ini.
Semerbak aroma bunga kantil...