Kehidupan Nadia Clarissa berubah drastis setelah sebuah tragedi merenggut keluarganya. Ia terpaksa berlindung di bawah atap kediaman megah milik pamannya, Bramantya Mahendra, seorang pria kaya raya yang dikenal dingin dan tak tersentuh. Namun, kemewahan itu terasa seperti penjara bawah tanah yang dilapisi emas.
Setiap malam, Nadia merasakan kehadiran Bramantya di ambang pintunya, mengawasi setiap tarikan napasnya saat ia terlelap. Ada rahasia kelam yang disembunyikan Bramantya di balik sikap protektifnya yang berlebihan. Nadia segera menyadari bahwa "tidur" di rumah ini bukanlah sebuah istirahat, melainkan awal dari permainan manipulasi psikologis di mana Bramantya memegang kendali penuh atas kesadarannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 SWMU
Suara gemericik air dari pancuran kamar mandi utama berhenti mendadak, menyisakan keheningan yang menyesakkan di dalam kamar beraroma kayu cendana dan parfum maskulin yang berat. Nadia segera menarik selimut sutranya, menutupi tubuhnya hingga ke dagu, sambil mengatur napas agar terdengar seperti seseorang yang baru saja kehilangan tenaga akibat percumbuan panas.
Ia menatap pintu kaca buram itu. Bayangan Bramantya terlihat samar di sana—tinggi, tegap, dan penuh kuasa.
"Nadia?" suara bariton itu memanggil dari balik pintu.
"Ya, Bram?" sahut Nadia, berusaha menjaga suaranya tetap stabil dan sedikit serak.
Pintu terbuka. Bramantya keluar dengan hanya melilitkan handuk putih di pinggangnya. Rambutnya yang basah disisir ke belakang dengan jari, tetesan air mengalir di atas otot dadanya yang masih kemerahan. Ia berjalan menuju meja rias, mengambil jam tangan Patek Philippe-nya seolah-olah apa yang baru saja terjadi hanyalah agenda rutin di sela-sela jadwal bisnisnya.
"Kau akan tetap di tempat tidur, atau ikut aku sarapan?" tanya Bramantya tanpa menoleh. Matanya menatap Nadia melalui pantulan cermin.
Nadia tersenyum tipis, jenis senyum yang dipelajarinya untuk menipu. "Tubuhku rasanya remuk, Bram. Kau terlalu... menuntut hari ini."
Bramantya berbalik, sudut bibirnya terangkat membentuk seringai dingin. Ia mendekat ke tepi ranjang, membungkuk hingga wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Nadia. Jarinya yang kasar mengusap pipi Nadia, lalu turun ke leher, berhenti tepat di denyut nadi wanita itu.
"Jangan mencoba memanipulasiku dengan rasa lelahmu, Sayang," bisik Bramantya. "Aku tahu kau sedang memikirkan sesuatu sejak Maya menginjakkan kaki di sini. Apa yang kau rencanakan?"
Jantung Nadia berdegup kencang, menghantam telapak tangan Bramantya yang masih menempel di lehernya. Pria ini memiliki intuisi seorang predator.
"Aku hanya berpikir betapa menyedihkannya Maya," jawab Nadia cepat, matanya menatap langsung ke manik mata hitam Bramantya. "Dan betapa hebatnya suamiku yang bisa meruntuhkan mereka hanya dalam semalam. Apakah itu salah?"
Bramantya terdiam sejenak, mencari celah kebohongan di mata Nadia. "Pujian itu terdengar manis. Tapi pastikan itu datang dari rasa kagum, bukan rasa takut yang kau bungkus dengan rayuan."
Ia bangkit, mengenakan kemeja hitam yang sudah disiapkan di kursi kayu jati. Saat ia mengancingkan lengan bajunya, ia melirik ke arah bantal di sisi Nadia—tepat di mana Nadia menyembunyikan micro-chip semalam.
"Bi Inah akan membawakan sarapanmu ke atas. Jangan keluar kamar sebelum aku kembali sore nanti. Aku ada pertemuan dengan dewan komisaris mengenai akuisisi lahan di Jakarta Utara. Kau mengerti?"
"Aku bukan tahanan, Bram," protes Nadia, meski ia tahu itu sia-sia.
"Bukan tahanan," koreksi Bramantya sambil mengenakan jasnya. "Tapi aset berharga. Dan aset berharga tidak dibiarkan berkeliaran tanpa pengawasan saat ada sampah seperti Maya yang masih berkeliaran di luar gerbang."
Setelah pintu kamar tertutup dan suara langkah kaki Bramantya menjauh, Nadia segera menyibakkan selimut. Ia merogoh ke bawah bantal, mengambil micro-chip kecil yang terbungkus plastik kedap udara. Tangannya gemetar.
Satu jam kemudian, Bi Inah masuk membawakan nampan berisi roti gandum, buah beri, dan jus jeruk. Wanita tua itu telah bekerja untuk keluarga Mahendra selama puluhan tahun, namun Nadia tahu bahwa loyalitas Bi Inah bisa goyah jika menyangkut rasa kemanusiaan—atau setidaknya, rasa kasihan.
"Nyonya... ini sarapannya," ucap Bi Inah lirih, matanya melirik ke arah memar keunguan di bahu Nadia yang tidak tertutup jubah.
"Terima kasih, Bi," Nadia duduk di tepi ranjang. Ia sengaja membiarkan jubahnya sedikit terbuka, memperlihatkan tanda kepemilikan Bramantya yang kasar. "Bi... apa Bibi sempat melihat ke mana penjaga membawa Maya tadi?"
Bi Inah tampak ragu, ia menoleh ke pintu yang tertutup rapat. "Anu... Nyonya... Tuan berpesan agar Nyonya tidak menanyakan hal itu."
Nadia meraih tangan Bi Inah, menggenggamnya erat. "Bi, aku hanya ingin memastikan dia tidak mati di depan gerbang kita. Itu akan membawa sial bagi rumah ini, bukan? Tolong, hanya informasi kecil."
Bi Inah menghela napas panjang, wajahnya penuh kerutan kecemasan. "Mereka membuangnya di persimpangan jalan besar, Nyonya. Tapi saya dengar dari penjaga depan... ada mobil tua yang mengikuti mereka. Sepertinya itu Yudhistira."
Mata Nadia berkilat. "Mobil tua? Dia masih punya kendaraan?"
"Hanya mobil bak terbuka bekas kiriman logistik, Nyonya. Menyedihkan sekali melihatnya."
Nadia melepaskan genggaman tangannya. "Terima kasih, Bi. Oh, dan tolong ambilkan ponsel cadanganku di laci meja rias. Aku ingin mendengarkan musik."
Setelah Bi Inah keluar, Nadia tidak menyalakan musik. Ia memasukkan micro-chip itu ke dalam sebuah alat pembaca data kecil yang ia selundupkan minggu lalu melalui pesanan kosmetik impor. Di layar kecil itu, deretan data angka dan kode rahasia perusahaan Bramantya mulai mengalir.
"Ini dia..." gumam Nadia. "Rekening bayangan untuk proyek Jakarta Utara."
Tiba-tiba, sebuah notifikasi muncul di layar. Bukan dari data tersebut, melainkan pesan singkat yang masuk ke frekuensi terenkripsi yang ia buka di perangkat itu.
“Burung dalam sangkar harus segera terbang sebelum sayapnya dipatahkan secara permanen. Aku menunggumu di koordinat biasanya. – Y.”
Nadia mendengus sinis. Yudhistira. Pria itu masih cukup berani untuk mencoba menghubunginya. Ia tahu Yudhistira tidak melakukannya karena cinta, melainkan karena dendam dan keputusasaan untuk mendapatkan kembali kekayaannya.
"Kau pikir kau bisa memanfaatkanku lagi, Yudhis?" bisik Nadia pada bayangannya di cermin. "Kali ini, kaulah yang akan menjadi umpanku."
Sore harinya, langit Jakarta berubah menjadi abu-abu logam yang suram. Nadia berdiri di ruang tengah, menatap layar televisi besar yang menampilkan berita ekonomi. Wajah Bramantya muncul di sana, terlihat tenang dan berwibawa saat ia mengumumkan keberhasilan akuisisi lahan yang akan mengubah wajah ibu kota.
"Dia tampak seperti dewa di depan kamera," suara itu datang dari arah pintu masuk.
Nadia menoleh. Itu adalah Adrian, sepupu Bramantya sekaligus tangan kanannya yang paling tepercaya—atau begitulah yang dipikirkan Bramantya. Adrian adalah pria yang lebih muda, lebih santai, namun memiliki sinar mata yang penuh rahasia.
"Adrian. Aku tidak tahu kau akan datang tanpa Bram," sapa Nadia dingin.
Adrian melangkah masuk, melepaskan dasinya dan melemparkannya ke sofa. "Bram ada urusan mendadak dengan pihak kepolisian. Ada masalah kecil dengan mantan rekan bisnisnya yang mencoba menyusup ke area proyek tadi siang."
"Yudhistira?" tanya Nadia cepat.
Adrian mengangkat bahu sambil menuangkan wiski ke dalam gelas kristal. "Siapa lagi? Dia mencoba menabrakkan mobil bak tuanya ke pagar proyek. Benar-benar tindakan bunuh diri yang bodoh."
Nadia merasakan dadanya berdenyut. Bukan karena kasihan, tapi karena rencana besarnya mulai bergerak secara organik. "Lalu, di mana dia sekarang?"
"Di sel tahanan sementara, menunggu pengacara Bram mengirimnya ke penjara yang sebenarnya," Adrian mendekati Nadia, berdiri cukup dekat hingga Nadia bisa mencium aroma wiski dan tembakau. "Tapi kau tahu, Nadia... Bram terlalu fokus pada Yudhistira sampai dia lupa bahwa ancaman terbesar terkadang ada di dalam kamarnya sendiri."
Nadia menatap Adrian tajam. "Apa maksudmu?"
Adrian tersenyum misterius, ia menyesap wiskinya perlahan. "Aku melihatmu di paviliun tadi pagi. Aku juga melihat bagaimana kau menatap gelang emas di tanganmu itu. Itu bukan tatapan seorang istri yang mencinta, melainkan tatapan seorang tahanan yang sedang menghitung hari menuju pelarian."
"Kau berani bicara seperti itu di rumah Bramantya?" tantang Nadia.
"Aku bicara seperti itu karena aku punya sesuatu yang kau butuhkan," Adrian merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah kunci kecil berwarna perak. "Bram memiliki brankas pribadi di ruang kerjanya yang tidak bisa dibuka hanya dengan kode atau sidik jari. Ia butuh kunci fisik ini."
Nadia mengerutkan kening. "Kenapa kau memberitahuku?"
"Karena aku bosan menjadi bayang-bayang sepupuku yang sombong itu," jawab Adrian, suaranya kini merendah. "Bram menghancurkan segalanya yang ia sentuh. Dan jika kau berhasil menghancurkannya, aku ingin memastikan aku berada di pihak pemenang."
Ia meletakkan kunci itu di atas meja kopi, tepat di depan Nadia.
"Gunakan itu malam ini. Bram akan pulang dalam keadaan mabuk kemenangan. Itu waktu terbaikmu," Adrian berbalik menuju pintu. "Dan satu hal lagi, Nadia... jangan percaya pada Yudhistira. Dia hanya ingin uangnya kembali. Aku? Aku hanya ingin melihat imperium ini terbakar."
Nadia menatap kunci perak itu dengan perasaan campur aduk. Apakah ini jebakan dari Bramantya untuk menguji kesetiaannya? Atau apakah ini memang celah yang ia tunggu-tunggu?
Tepat saat itu, deru mobil Rolls-Royce milik Bramantya terdengar di halaman depan. Lampu sorot mobil itu menyapu ruang tamu, membuat kunci perak di atas meja berkilau seperti mata belati.
Nadia dengan cepat menyambar kunci itu, menyembunyikannya di dalam lipatan jubahnya, tepat saat pintu besar mansion terbuka lebar.
Bramantya melangkah masuk, wajahnya tampak lelah namun matanya memancarkan kepuasan yang berbahaya. Ia melepaskan jasnya, membiarkannya jatuh ke lantai begitu saja.
"Nadia," panggilnya, suaranya berat dan penuh tuntutan. "Kemari."
Nadia berjalan mendekat, memasang topeng kepatuhannya yang paling sempurna. "Kau pulang lebih awal, Bram."
Bramantya menarik pinggang Nadia dengan kasar, menyatukan tubuh mereka. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Nadia, menghirup aromanya dengan rakus.
"Yudhistira sudah berakhir. Maya sudah menghilang," bisik Bramantya. "Sekarang, tidak ada lagi gangguan antara aku dan kau."
Nadia mengelus rambut belakang Bramantya, sementara jemarinya yang lain meraba kunci perak di dalam sakunya. "Ya, Bram. Tidak ada lagi gangguan."
Namun di dalam kepalanya, Nadia sudah menyusun langkah selanjutnya. Malam ini, di balik tirai kemewahan yang menyesakkan ini, ia akan membuka pintu rahasia yang akan meruntuhkan seluruh dunia Bramantya Mahendra.
"Kau terlihat tegang, Sayang," gumam Bramantya, matanya menyipit curiga. "Kenapa jantungmu berdetak begitu cepat?"
Nadia tersenyum, kali ini senyumannya terasa lebih nyata. "Mungkin karena aku sudah tidak sabar menunggu kejutan yang akan terjadi malam ini."
Bramantya tertawa, suara tawa yang memenuhi ruangan luas itu, tidak menyadari bahwa wanita yang ia dekap adalah badai yang sedang menunggu waktu untuk meledak.