Saat si badboy jatuh cinta pada kebaikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aarav Rafandra01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
harapan yang tertunda
Sepulang sekolah, Faisal seperti biasa meluangkan waktu untuk merokok di warung belakang sekolah sebelum pulang. Lalu salah satu sahabat Faisal, Yadi memberikannya nomer telepon/ WhatsApp milik Aruna. Awalnya Faisal tak percaya, tapi Yadi meyakinkannya dan menyuruh Faisal untuk segera menghubunginya.
" Ini beneran bro, kok Lu bisa dapet nomernya? Jangan jangan lu ngarang lagi! "
" Sengaja gua cari sana sini buat Lu, kalo ga percaya coba chat aja." seru Yadi.
Tanpa membuang waktu lagi, Faisal pun langsung menyimpan nomernya dan menghubunginya.
Faisal. " Hy Aruna, gua Faisal. Salam kenal ya."
Aruna, " Oh iya kak, salam kenal juga, Aruna."
Mulai saat itu, Faisal pun tak ragu untuk menyapanya disekolah.
Seperti biasa. Faisal dan Yadi sedang mengobrol di depan gerbang sekolah, sudah jelas tujuan Faisal kali ini tak lain menunggu gadis pujaannya datang. Saat sedang asik mengobrol, Aruna pun datang. Faisal memberanikan diri untuk menyapa dari jarak agak jauh.
" ARUNA! " teriak Faisal sambil melambaikan tangannya.
Aruna menengok ke arah Faisal, hanya tersenyum kecil, lalu kembali berjalan dan menghiraukan sapaan Faisal.
Faisal merenung. "Apa cara gua nyapa salah ya, bro?"
Yadi tak kuat menahan tawa.
" Muka lu jelek, dia alergi sama muka jelek! "
Faisal melangkah ke kelas meninggalkan sahabatnya yang tak henti menertawakan nya.
Pertanyaan tentang mengapa, mengapa seperti ini? mengapa ia tak membalas?, Menghantui pikirannya.
Mungkin dia memang pemalu.
Aruna Nurazizah.
Namanya seindah parasnya, dan tingkahnya setenang namanya. Dia adalah satu satunya orang yang berani mengabaikan Faisal disekolah, dia memiliki aura dewasa yang sangat kontras dengan sifat kekanak kanakan teman sebayanya.
Menurut info yang Faisal dapat, Aruna adalah pribadi yang baik, penurut, dan cenderung kutu buku. Berbeda jauh dengannya.
Faisal si pembuat onar, Mungkin Faisal adalah kutub yang berlawanan dengan Aruna, si baik hati dan pintar. Sebenarnya Faisal sadar, Mengejar Aruna sama saja menangkap asap, tetapi Hatinya memiliki logika nya sendiri.
" Hey, Faisal! kerjain nih soal, malah ngelamun lagi Lu, lu mau nilai lu jelek lagi? Lu mau aib lu kedenger sama putri impian lu? " Bisik Yadi.
Faisal menyeringai. " Lu tau, Nilai tuh cuman angka, Tapi Aruna? Dia kaya misteri yang harus gua pecahkan seumur hidup! "
Yadi memutar kata. " wah sakit nih orang, Lu harus bener bener berhenti nonton sinetron ga jelas,sesekali lu harus realistis bro, mana mungkin cewe sebaik Aruna milih lu yang bego ini jadi pendamping hidupnya."
Faisal memukul kepala Yadi menggunakan buku sambil berkata. " Liat aja nanti, lu orang pertama yang bakal gua undang! "
Faisal menatap serius ke arah luar jendela kelas sambil mengucap dengan suara penuh tekad. " Mulai hari ini Yad, gua bakal berubah, bakal gua tunjukin ke dia, kalo gua ga serendah yang orang orang omongin."
Yadi hanya menggelengkan kepalanya.
_______
Angin malam hari diakhir bulan februari seolah memberi semangat bagi mereka yang sedang berjuang. Sudah lebih dari satu bulan saat Faisal melihatnya. Faisal bukanlah siapa siapa Dimata Aruna, mungkin hanya Kaka kelas biasa yang sering membuat masalah.
pada malam itu, tangan Faisal gemetar, ia meremas celana dengan kedua tangannya. Ia memegang ponselnya melihat WhatsApp Aruna, mengetik lalu menghapus lagi pesan yang telah ia rangkai kata katanya berkali kali. Bukan ungkapan cinta biasa, melainkan puisi empat bait yang Faisal harap bisa memberikan kesan lebih tulus dan tidak menuntut. Ia mengetik perlahan, kedua tangannya gemetar, jantungnya berdetak semakin cepat, iramanya tak teratur dan mengancam untuk pecah.
Diambang keraguan akhirnya Faisal memutuskan untuk mengungkapkan perasaan lewat WhatsApp. Ia menghela napas panjang, menelan seluruh keraguannya. Berharap pesan yang ia kirim dibalas sesuai harapan. Satu jam berlalu, Faisal memberanikan diri untuk mengecek pesan, dan hasilnya pesannya hanya dibaca dan tak pernah dibalas, Faisal kecewa, Faisal merasa sangat malu dan tak percaya.
Keesokan harinya, Faisal berpapasan dengan Aruna, kali ini tak seperti biasa. Faisal terlihat dingin seolah tak melihat Aruna didepannya. Setelah beberapa langkah, Faisal melihat kebelakang, menatap Aruna yang meneruskan langkahnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Faisal merenung seharian.
Yadi yang melihat sahabatnya berbeda pun bertanya dengan nada mengejek.
" Tumben ga disapa, kenapa Lu? Sadar diri kan lu sekarang! " tuturnya sambil tertawa.
Faisal tak menjawab, ia hanya tertawa kecil sambil menyodorkan ponselnya.
" mending lu baca biar paham. "
Yadi mengambil ponsel Faisal.
" lah emang bener bego lu ya, wajar lah lu ga dibales , dia gatau lu siapa, pake nembak di WhatsApp lagi. "
Faisal hanya diam dan kembali hanyut dalam kesedihannya.
KRIINNGGGGG!
Suara bel pulang berbunyi.
Faisal dan Yadi langsung bergegas pulang, tak ada obrolan apa apa. Yadi tahu jelas perasaan sahabatnya sedang hancur.
" Udah lah bro, gausah terlalu dipikirin, mending lu introspeksi diri, terus perjuangin sekali lagi, Gua bakal selalu ada dan selalu
siap buat dengerin semua cerita lu."
" Lu selalu ada buat gua, Yad. Thanks Ya"
Yadi menepuk nepuk pundak sahabatnya untuk menguatkan.
" Yaudah bro, gua lurus, lu jangan sedih sedih lagi, kalo ada apa apa chat gua aja. "
Faisal hanya mengangguk.
Malam itu hujan turun sangat deras, Faisal hanya bisa berdiam diri di kamarnya, menikmati rokok, dan menatap ke arah luar jendela, memperhatikan hujan yang tak kunjung reda.
" Kalo dipikir pikir lagi, apa kata Yadi ada benernya juga." Ucap Faisal menembus keheningan malam.