NovelToon NovelToon
Bos Tampan Itu Kekasihku

Bos Tampan Itu Kekasihku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Kaya Raya / Fantasi Wanita
Popularitas:184
Nilai: 5
Nama Author: Rachel Imelda

Novel ini berpisah tentang Aulia, seorang desainer muda berbakat yang bercita-cita tinggi. Setelah berjuang keras, ia akhirnya mendapatkan pekerjaan impian di perusahaan arsitektur terkemuka, dipimpin oleh CEO yang karismatik dan terkenal dingin, Ryan Aditama.
Sejak hari pertama, Aulia sudah berhadapan dengan Ryan yang kaku, menuntut kesempurnaan, dan sangat menjaga jarak. Bagi Ryan pekerjaan adalah segalanya, dan tidak ada ruang untuk emosi, terutama untuk romansa di kantor. Ia hanya melihat Aulia sebagai karyawan, meskipun kecantikan dan profesionalitas Aulia seringkali mengusik fokusnya.
Hubungan profesionalitas mereka yang tegang tiba-tiba berubah drastis setelah insiden di luar kantor. Untuk menghindari tuntutan dari keluarga besar dan menjaga citra perusahaannya, Ryan membuat keputusan mengejutkan: menawarkan kontrak pernikahan palsu kepada Aulia. Aulia, yang terdesak kebutuhan finansial untuk keluarganya, terpaksa menerima tawaran tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachel Imelda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Salah Paham

Sekitar pukul sembilan malam, saat Aulia sedang bergumul antara garis tegas dan komposisi ruang terbuka, ia mendengar derap langkah pelan yang mendekat. Suara tap-tap sepatu pantofel kulit mahal.

Jantung Aulia berdegup. Hanya satu orang di lantai ini yang berjalan dengan otoritas seperti itu.

Ryan Aditama.

Ia baru keluar dari ruangannya di ujung lorong, membawa dua cangkir kopi espresso. Ia berhenti tepat di belakang Aulia, menatap ke arah monitor yang menunjukkan sketsa minimalisnya.

Aulia menegakkan tubuhnya tanpa berani berbalik. Aroma kopi pahit dan parfum maskulin yang tajam memenuhi udara di belakangnya.

"Konsep minimalis, ya?" suaranya Ryan terdengar dekat, lebih pelan dari biasanya, tetapi tetap menusuk.

"Iya, Pak Ryan. Sesuai permintaan Mbak Vina, Saya mencoba dua pendekatan berbeda untuk zonasi interior." jawab Aulia, suaranya kembali profesional, mengabaikan getaran gugupnya.

Ryan melangkah ke samping, meletakkan salah satu cangkir kopi di sudut meja Aulia. "Untuk Anda. Jangan memaksakan diri sampai pingsan di hari pertama. Saya tidak suka drama medis."

Aulia terkejut. Itu adalah isyarat perhatian yang sama sekali tidak dia duga dari Ryan Aditama. "Terima Kasih, Pak."

Ryan kembali fokus pada sketsa di monitor. Ia tidak memuji, tidak mencaci, hanya mengamati.

"Jalur sirkulasi ini," katanya, menunjuk ke bagian tengah dengan pulpen perak, "terlalu lurus. Terlalu predictable. Minimalisme yang bagus, bukan tentang mengurangi, Nona Aulia. Tapi tentang menyaring. Membuat setiap garis memikirkan tujuan."

Aulia memberanikan diri berbalik dan menatapnya. Ia baru menyadari bahwa dalam setelan jas yang rapi, Tuan terlihat jauh lebih tinggi dan mendominasi daripada yang ia ingat tadi pagi.

"Maksud Bapak, Saya harus menciptakan sedikit jeda visual? Atau memainkan material di area tersebut?" tanya Aulia, langsung masuk ke mode diskusi teknis.

"Itu tugas Anda untuk mencari tahu," jawab Ryan dingin, membiarkan pertanyaannya menggantung. Ia menyesap kopinya. "Ingat, arsitektur adalah cerita. Dan cerita yang Anda buat saat ini, membosankan. Perbaiki besok pagi. Saya harap, setelah tidur yang cukup, pikiran Anda akan lebih tajam."

Ryan berbalik, meninggalkan Aulia dengan kritikan tajam, cangkir kopi hangat, dan rasa penasaran yang aneh. Ryan adalah CEO yang penuh tuntutan, tetapi ia juga memperhatikan hal-hal kecil, bahkan sampai sirkulasi ide desainer junior di jam sembilan malam.

Aulia menatap cangkir kopi itu sejenak, lalu kembali ke monitornya. "Bosan, Ya?" gumamnya, menarik nafas. Ia menghabiskan kopi Ryan, merasakan kafein tajam itu memicu otaknya. Ia menghapus jalur sirkulasi yang dikritik itu, menggantinya dengan ide baru yang lebih dinamis.

Tepat pukul sebelas malam, Aulia akhirnya mengemasi tasnya. Malam ini, ia berhasil membuat sketsa zonasi yang ia rasakan cukup berani untuk esok hari.

Aulia kemudian beranjak pulang ke rumahnya. Di lobi ada petugas keamanan yang berjaga, "Selamat Malam, Pak," sapa Aulia.

"Selamat Malam. Lembur ya, Neng." tanya Satpam itu.

"Iya Pak," jawab Aulia.

"Wah, baru hari pertama kerja udah lembur aja," kata Satpam itu lagi.

Aulia tersenyum kecil pada Satpam itu lalu berjalan keluar dari gedung Aditama & Partners, menuju ke jalanan Jakarta yang masih ramai. Angin malam terasa dingin di kulitnya.

Dia harus segera sampai di halte Trans Jakarta. Pikirannya sudah melayang ke rumah, memikirkan tagihan yang harus ia bayar. Gaji pertamanya di Aditama & Partners akan menyelesaikan banyak masalah, itulah yang membuat dia mati-matian menerima tantangan Ryan.

Saat Aulia melangkah di trotoar yang agak sepi, ia melihat sebuah mobil sport hitam mewah berhenti mendadak di depannya. Kaca jendela mobil itu turun dan memperlihatkan wajah yang familiar- Ryan Aditama.

Aulia membeku, berpikir ia melanggar aturan tak tertulis tentang bekerja lembur.

"Nona Aulia, apa yang Anda lakukan selaput ini?" tanya Ryan, ekspresinya tidak terbaca.

"Saya baru saja selesai, Pak. Saya akan naik transportasi umum di ujung jalan." jawab Aulia, merasa canggung.

Ryan menatap jam di pergelangan tangannya. "Ini bukan lingkungan yang aman untuk wanita berjalan sendirian. Saya tahu ini melanggar aturan, tapi saya tidak ingin karyawan saya menghadapi bahaya di luar jam kerja. Masuklah. Saya antar Anda sampai ke halte bus terdekat."

Aulia ragu, masuk ke dalam mobil mewah CEO-nya adalah pelanggaran terhadap aturan tak tertulis yang ia tanamkan sendiri yaitu jaga jarak aman.

"Tidak perlu, Pak Ryan, Saya bisa...,"

"Masuk. Nona Aulia," potong Ryan dengan nada yang tak mau menerima bantahan. "Ini perintah. Setidaknya sampai ke tempat yang lebih ramai. Saya tidak suka ada pekerjaan yang tertunda besok karena karyawan saya sakit atau kenapa-kenapa."

Ryan membuka kunci pintu otomatis. Aulia terdesak oleh perintah dan merasa tidak enak untuk berdebat, akhirnya menghela napas. Dia tahu ini bukan tawaran melainkan perintah.

"Baik, Pak. Terima kasih," kata Aulia, membuka pintu dan duduk di kursi kulit yang dingin.

Ryan menjalankan mobilnya dengan kecepatan yang tenang. Di dalam mobil yang sunyi itu, ketegangan terasa begitu nyata, jauh lebih tegang daripada di ruang kerjanya. Hubungan profesionalitas yang kaku itu, kini berada di ruang privat yang sempit, siap untuk berubah drastis oleh insiden yang sudah menunggu mereka.

Keheningan di dalam mobil sport hitam itu begitu tebal, hanya dipecahkan oleh suara mesin yang tenang dan suara berita malam di radio. Aulia duduk tegak di kursi kulit, memandang lurus ke depan. Ryan Aditama fokus mengemudi, sikapnya kaku dan tertutup seperti biasa.

"Maaf Pak Ryan, Saya tidak bermaksud menyusahkan," ujar Aulia, merasa harus memecahkan keheningan yang menyesakkan.

"Tidak menyusahkan, Nona Aulia. Ini efisiensi," jawab Ryan, suaranya tetap formal. "Anda adalah aset perusahaan. Memastikan aset tiba di tempat yang aman, adalah bagian dari manajemen resiko. Bukan kebaikan pribadi."

Aulia merasakan pipinya memanas lagi. Tentu saja. Semua tentang pekerjaan.

"Mengenai desain sirkulasi yang membosankan, " kata Aulia kembali ke topik yang aman. "Saya sedang mencoba untuk menambahkan elemen air disana. Mungkin air mancur minimalis, atau kolam refleksi. Untuk memberi jeda visual dan tekstur."

Ryan meliriknya sekilas, kilatan tajam itu kembali muncul. "Air? Menarik. Tapi air mengundang relaksasi. Lavana harus memancarkan energi, Nona Aulia. Energi yang sibuk, cerdas dan profesional. Jangan sampai klien merasa ingin tidur siang di lobi."

Aulia tersenyum kecil. Ternyata berdiskusi arsitektur dengan Ryan lebih mudah daripada berbicara tentang hal lain. "Lalu bagaimana dengan elemen batu vulkanik? tekstur kaca untuk menyeimbangkan garis-garis kaca yang halus?"

"Batu vulkanik memberi kesan lebih kokoh dan grounded. Lebih baik." Ryan mengangguk kecil, persetujuan yang langka. "Perlihatkan sketsanya besok."

Mereka tiba di persimpangan besar dekat kawasan pusat bisnis yang masih ramai. Lampu lalu lintas menyala merah. Ryan menghentikan mobil.

Tiba-tiba sebuah mobil sedan gelap, berhenti tepat di samping mobil Ryan. Dari jendela belakang sedan itu, seorang pria paruh baya yang berpakaian sangat rapih, dengan kacamata berbingkai emas, mencondongkan kepalanya. Pria itu tampak terkejut melihat Ryan.

Sebelum Ryan sempar bereaksi, pria itu sudah mengeluarkan ponsel dan dengan cepat memotret ke arah mobil Ryan- termasuk Aulia yang duduk di kursi penumpang. Kilatan flash dari kamera itu seketika menerangi wajah Aulia dan Ryan.

Ryan menegang. Ekspesi datarnya seketika berubah menjadi rahang yang mengeras. Ia tidak tampak marah. Melainkan sangat terganggu.

Pria itu menyeringai penuh arti. "Malam, Ryan. Baru saja saya mau menghubungi Paman," katanya dengan nada mencemooh yang kelewat akrab. "Sepertinya, Anda sudah memiliki 'teman' baru di luar jam kerja. Saya rasa bibi akan senang mendengar tentang ini, setelah semua desakan untuk menikahi putri Tuan Surya."

Tanpa menunggu jawaban, sedan itu melaju kencang setelah lampu berubah menjadi hijau.

Aulia menoleh ke Ryan, wajahnya pucat. "Siapa itu, Pak Ryan? dia salah paham."

"Sepupu saya, Adnan," potong Ryan, suaranya rendah dan penuh perhitungan, bukan amarah. "Dan, ya. Dia tidak salah paham. Dia ingin merusak reputasi saya di depan Dewan direksi dan keluarga besar."

Ryan mengemudikan mobilnya ke bahu jalan, jauh dari keramaian. Ia mematikan mesin, keheningan total menyelimuti mereka, kali ini jauh lebih berat dan menakutkan.

Bersambung....

1
mamayot
haiiiii aku mampir thor. semangat
Rachel Imelda: Makasih.....😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!