Dewi ingat janji-janji manis Arif saat menikah: melindungi dan membuatnya bahagia. Tapi kekeras kepala dan kecanduan judi membuat janji itu hilang – Arif selalu sibuk di meja taruhan, tak mau mendengar nasihat.
Arif punya kakak laki-laki dan adik perempuan, tapi ia dan adik perempuannya paling dicintai ibunya, Bu Siti. Setiap masalah akibat judi, Bu Siti selalu menyalahkan Dewi.
Dewi merasa harapannya hancur oleh kekeras kepala Arif dan sikap mertuanya. Akhirnya, ia harus memutuskan: tetap menunggu atau melarikan diri dari perlakuan tidak adil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ningsih Niluh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
harapan yang menipis
(Adegan sebelumnya: Dewi dan Arif bertengkar, Arif pergi kerja)
Dewi masih duduk di bangku kecil, menatap pintu yang tertutup. Cahaya pagi semakin terang, menyinari lekukan-lekukan di lantai semen. Suara orang-orang yang mulai beraktivitas di luar terdengar lebih jelas melalui dinding papan. Dia menyentuh bagian tubuhnya yang masih terasa nyeri – penyakit yang membuatnya harus berhenti bekerja baru-baru ini. Kesabarannya sudah habis, tapi dia masih tidak bisa pergi. Masih ada secercah harapan di hatinya – harapan bahwa Arif akan menyadari kesalahannya, bahwa janji-janji mereka tidak akan terbuang sia-sia begitu saja.
Tiba-tiba, pintu terbuka lagi. Arif berdiri di ambang pintu dengan wajah datar, mengenakan baju kerja yang masih kusut. Di luar, terparkir dua motor: satu motor lama yang sudah tua, dan satu motor Supra yang masih terlihat baru – yang mereka beli beberapa tahun lalu dengan modal 5 juta dari Arif, dan cicilannya 1.870.000 setiap bulannya yang selalu dibayar Dewi.
"Ini," katanya sambil melemparkan selembar uang sepuluh ribuan ke arah Dewi. "Buat beli lauk hari ini. Berasnya kan udah ada dari sawah Pak Slamet, jadi gak perlu beli lagi."
Dewi terkejut. Dia menatap uang itu, lalu menatap Arif dengan tatapan tidak percaya. "Sepuluh ribu? Hanya buat lauk satu hari? Arif, kamu bercanda? Kamu lupa aku udah berhenti kerja karena sakit, dan sekarang cuma bisa bergantung pada uang yang kamu berikan – bahkan kadang harus minta sayur ke sawah orang tua atau kakak ketigaku yang tinggal beberapa lorong dari sini!"
Arif mengangkat bahu. "Ya sudahlah, kan ada yang minta. Cukup-cukupin aja. Lagi susah. Ingat, aku juga harus lanjutkan cicilan motor Supra lo yang sisa 2 kali lagi – aku harus pinjam uang dari tempat kerja buat itu loh."
Dewi meremas uang itu dengan marah, rasa bersalahnya tiba-tiba muncul lagi. Benar, dia hanya sempat membayar cicilan motor selama 10 bulan sebelum harus berhenti bekerja, dan terpaksa meminta Arif melanjutkannya. "Tapi Arif, sepuluh ribuan cuma buat lauk? Bagaimana mau beli bawang, apalagi sedikit protein? Kamu tahu harga-harga sekarang kan? Sayur dan cabe aja aku sering minta ke sawah kakak ketigaku yang di perbatasan desa, tapi gak mau selalu minta juga kan, malu!"
"Ya yang murah aja. Jangan pilih-pilih," jawab Arif singkat. Lalu dia berbalik dan pergi lagi, meninggalkan Dewi dengan uang sepuluh ribuan di tangannya.
Dengan perasaan kesal dan sedikit bersalah, Dewi bangkit. Dia tahu uang sepuluh ribuan tidak cukup, jadi sebelum ke pasar, dia berjalan ke sawah kakak ketiganya terlebih dahulu. Kakak ketiganya langsung memberinya beberapa ikat kangkung dan cabai merah tanpa ragu. "Aku tahu kamu kesulitan, Dew. Ambil aja, kalau butuh lagi bilang ya," ujar kakaknya.
Setelah itu, Dewi pergi ke pasar. Dia berjalan kaki – meskipun ada dua motor, Arif selalu bawa motor Supra buat kerja, dan motor lama seringkali mogok. Di pasar, dia melihat harga bawang yang semakin mahal. Dia mencoba menawar, akhirnya bisa membeli sedikit bawang merah yang sudah mulai layu dengan uang yang dia punya. Dia tidak bisa membeli ikan atau daging, karena uangnya sudah hampir habis.
Saat pulang, Dewi bertemu dengan Bu Siti – ibunya Arif – yang sedang lewat di depan rumah. Hubungan mereka cuma biasa aja, tidak terlalu dekat. Bu Siti melihat belanjaan Dewi yang sedikit dan melihat daster lama yang dia pakai – yang Arif belikan saat awal pernikahan. "Woi, Dewi, kenapa lauknya cuma segitu ya? Bukannya arif dia udah kasih uang? Kok gak bisa beli yang lebih banyak?"
Dewi tersenyum pahit. "Cuma dikasih sepuluh ribu, Bu. Kadang aku minta sayur ke sawah orang tua atau kakak-kakakku – kakak pertama dan kedua kan sudah menikah jauh di luar desa, jadi cuma bisa minta ke kakak ketiga dan keempat. Aku juga gak berani minta lebih ke Arif, takut dia bilang aku boros."
Bu Siti mengangkat alis, tatapannya langsung membela anaknya. "Ah, Arif pasti lagi susah banget. Dia juga harus bayar cicilan motor dan pinjam uang di tempat kerjanya loh. Kamu harus lebih peka, Dewi. Jangan cuma mikir diri sendiri. Hemat-hemat aja, kan sayur bisa minta ke sana-sini."
Dewi merasa hati terasa menusuk. Dia tahu Bu Siti pasti akan membela Arif, tapi tetap saja menyakitkan. Dia hanya bisa menghela napas dan mengangguk. Dia tahu Arif bahkan punya simpanan uang sendiri, tapi tidak berani katakan pada Bu Siti. Padahal dia bahkan tidak punya uang buat beli daster baru, apalagi sesuatu buat adiknya yang masih SD kelas 5.
Beberapa hari kemudian, bumbu-bumbu di rumah sudah habis semuanya. Dewi memberanikan diri untuk meminta uang tambahan pada Arif. "Arif, bawang dan minyak goreng sudah habis semua. Bisa minta uang lebih buat beli? Sayur dan cabe aku udah minta ke kakak ketigaku, tapi bawang gak bisa minta terus kan."
Arif melihat Dewi dengan tatapan curiga. "Habis buat apa aja? Kok cepat banget? Udah kubilang kan, hemat-hemat."
"Ya buat lauk dan bumbu, Arif. Kamu kasih sepuluh ribu sehari, mana cukup? Aku udah beli yang paling murah dan sering minta ke kakak-kakakku," jawab Dewi dengan nada kesal yang sudah tidak bisa disembunyikan lagi.
Arif terdiam sebentar, lalu mengeluarkan dompetnya. Dia menghitung uang di dalamnya, seolah ragu-ragu. Akhirnya, dia memberikan selembar uang lima puluh ribuan pada Dewi. "Ini, buat lauk dan bumbu seminggu. Cukup-cukupin ya. Jangan lupa, aku masih harus bayar cicilan motor dan pinjaman di tempat kerja."
Dewi menerima uang itu dengan perasaan campur aduk. Lima puluh ribuan buat seminggu – itu tidak akan cukup, apalagi dia sering sakit dan butuh uang buat obat. Tapi dia tidak punya pilihan lain. Dia harus pintar-pintar mengatur uang itu agar bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Mulai hari itu, Dewi semakin berhemat. Dia sering ke sawah orang tua dan kakaknya buat minta sayur dan cabe, jarang membeli di pasar. Dia jarang membeli obat meskipun badan sering sakit, takut uangnya tidak cukup buat beli bawang atau minyak.
Tapi, sekeras apapun dia berusaha, uang itu tetap tidak cukup. Di tengah minggu, minyak goreng sudah habis lagi, dan dia terpaksa berhutang – tidak ke Bu Siti, tapi ke kakak keempatnya yang selalu mau menolong.
Dewi merasa semakin tertekan, sedih, dan sendirian. Dia adalah yang dulu bayar cicilan motor yang Arif sering bawa, tapi sekarang hanya diberi uang sedikit sambil disalahkan boros. Dia sering sakit, Arif seolah tidak peduli, dan Bu Siti selalu membela anaknya. Untungnya orang tua dan kakak-kakaknya masih ada buat dia.
Sampai kapan dia harus bertahan seperti ini?