NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Dokter Forensik Sebagai Putri Terbuang Di Era Mataram

Reinkarnasi Dokter Forensik Sebagai Putri Terbuang Di Era Mataram

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir
Popularitas:40k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Di Era Mataram kuno, kematian bisa dibeli.

Seorang gadis lima belas tahun ditemukan terbakar.

Semua menyebutnya kecelakaan.

Hanya satu orang yang berani berkata,

“Ini pembunuhan.”

Raden Ajeng Sawitri Setyaningrum.

Putri yang dibuang.

Gadis ringkih yang dianggap tak berguna.

Tak ada yang tahu…

Jiwanya adalah dokter forensik dari masa depan.

Dengan pisau bedah dan akal dingin, ia menyeret pembunuh ke cahaya.

Satu demi satu rahasia Kadipaten terkuak, kehamilan tersembunyi, racun warangan, wasiat palsu, jarum maut di tulang leher.

Semakin tinggi ia naik, semakin besar musuhnya.

Ketika pembunuhan demi pembunuhan mengguncang Kadipaten, ketika para bangsawan saling menjatuhkan.

Ketika seorang Pangeran tampan mulai terobsesi pada kecerdasannya.

Dan ketika ayahnya sendiri menjadikannya alat aliansi militer,

Sawitri hanya tersenyum.

Karena ia tak pernah berniat selamat.

Ia berniat menang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34. Senyum Tulus Pertama

Wirapati menghela napas. “Ini semakin rumit, Ndara. Sekarang kita punya tiga kasus: Ningsih, Wartinah, dan Ki Demang. Semuanya berbeda tapi mungkin terkait.”

“Terkait pada satu hal.” Sawitri menatapnya. “Semua korban punya hubungan dengan Sukmawati.”

Wirapati terkesiap. “Nyai Selir?”

“Ningsih adalah batur yang dibunuh ayahnya sendiri, tapi motifnya karena hamil. Wartinah dibunuh karena mengetahui sesuatu. Sekarang Ki Demang...” Sawitri menjeda.

“Ki Demang adalah saksi kunci dalam kasus pembunuhan Danuarga. Dia tahu siapa yang membunuh putranya.”

Cakrawirya mengangguk pelan. “Dan dia mati sebelum bisa bicara.”

“Tepat.” Sawitri melangkah keluar dapur. “Sukmawati membersihkan jejak. Satu per satu.”

Jatmiko yang sejak tadi diam, bersiul. “Wanita itu benar-benar ular.”

“Ular bisa dijinakkan.” Sawitri menaiki kudanya. “Tapi racunnya tetap mematikan.”

Malam telah turun sepenuhnya ketika mereka meninggalkan kediaman Ki Demang.

Empat kuda melaju pelan di jalan setapak berbatu. Di depan, Wirapati memimpin dengan obor. Di belakang, Sawitri, Cakrawirya, dan Jatmiko beriringan.

Suara jangkrik memenuhi kegelapan. Angin malam membawa aroma tanah basah.

Jatmiko menguap keras. "Hari yang panjang. Aku butuh tidur seminggu."

Cakrawirya tidak menanggapi. Matanya lurus ke depan, tapi pikirannya jauh.

Sawitri mengamatinya dari samping.

Otot rahang Cakrawirya menegang. Tangannya mencengkeram tali kekang lebih kuat dari biasanya. Pola napasnya tidak teratur.

"Kau tegang," ucap Sawitri datar.

Cakrawirya menoleh. "Aku baik-baik saja."

"Denyut nadi meningkat. Pupil melebar meski cahaya minim. Respons fisiologis terhadap stres emosional."

Jatmiko terkekeh. "Dia membacamu seperti buku, Kakang."

Cakrawirya menghela napas. Tidak menjawab.

Mereka terus melaju dalam keheningan.

Setelah setengah jam, Wirapati memisahkan diri di persimpangan menuju Kadipaten. Jatmiko melambat, menatap Sawitri.

"Aku ke pesanggrahan dulu atau langsung ke istana?"

"Terserah," jawab Sawitri. "Kau bukan tanggung jawabku."

Jatmiko tersenyum. "Sakit hati aku, Sawitri." Ia menatap Cakrawirya. "Jaga dia, Kakang. Jangan sampai kesambet setan malam."

Cakrawirya hanya mendengus.

Jatmiko memacu kudanya, menghilang di kegelapan.

Sekarang hanya mereka berdua.

Jalan setapak menuju pesanggrahan semakin sepi. Pepohonan jati menjulang di kedua sisi, membentuk terowongan gelap.

Sawitri melambatkan kudanya. Cakrawirya mengikuti.

"Kau tidak perlu menjawab," ucap Sawitri tiba-tiba. "Tapi kalau kau terus tegang seperti itu, otot lehermu akan kram dalam dua jam."

Cakrawirya menatapnya. "Kau selalu menganalisis semuanya?"

"Data tidak pernah mengganggu."

Cakrawirya tersenyum tipis. Senyum yang berbeda. Tidak main-main. Tidak menggoda.

Hanya... letih.

"Ibuku," katanya pelan.

Sawitri menatapnya. Tidak menjawab. Tapi tidak juga berpaling.

Itu cukup.

Cakrawirya menarik napas dalam.

"Dia bukan permaisuri. Hanya selir rendahan. Ayahku... Sultan... menikahinya karena kecantikannya, lalu melupakannya setelah aku lahir."

Sawitri diam. Mendengar.

"Aku dibesarkan di medan perang, bukan di istana." Cakrawirya menatap ke depan. "Sejak usia tujuh tahun, aku sudah diajari memegang pedang. Bukan oleh guru keraton, tapi oleh prajurit garis depan."

"Dan ibumu?"

Cakrawirya diam sejenak. Suaranya lebih berat saat menjawab.

"Dia mati saat aku sepuluh tahun. Kata tabib, sakit biasa. Tapi aku melihatnya... sehari sebelum mati, dia sehat. Tertawa bahkan."

Ia mengepalkan tali kekang.

"Lalu tiba-tiba demam. Kejang. Lidahnya biru."

Sawitri mengerutkan kening. "Lidah biru?"

"Iya. Biru gelap. Sama seperti..." Cakrawirya menatapnya. "Sama seperti Ki Demang."

Keheningan menyergap mereka.

Sawitri mengerutkan kening. “Ikan buntal?”

“Kulo tidak tahu waktu itu. Kulo masih kecil.” Cakrawirya kembali menatap hamparan sawah. “Tapi setelah dewasa, kulo mencari tahu. Koki istana yang bertugas waktu itu... dia menghilang seminggu setelah ibu meninggal.”

Hening.

“Sukmawati?” tanya Sawitri pelan.

Cakrawirya menggeleng. “Waktu itu Sukmawati belum menjadi selir. Dia masih dayang. Tapi...”

Ia berhenti. Menelan ludah.

“Tapi ibunya Jatmiko, Nyai Selir Wetan, adalah saingan berat ibuku, dan Sukmawati adalah dayangnya.”

“Kau curiga pada Jatmiko?”

“Bukan Jatmiko. Dia masih kecil waktu itu.” Cakrawirya berbalik. Matanya menatap Sawitri tajam.

“Tapi ibunya... Nyai Selir Wetan... dia punya akses ke dapur istana. Dia punya koki pribadi. Dan dia tidak pernah menyukai ibuku.”

Sawitri memproses informasi itu.

“Dan sekarang Sukmawati, mantan dayangnya, menggunakan racun yang sama?”

“Kebetulan? Atau pola?” Cakrawirya tersenyum pahit.

“Kulo tidak percaya kebetulan.”

Sawitri diam sejenak. Matanya menyipit, menganalisis.

“Kau menyelidiki kematian ibumu selama ini?”

“Sejak usia lima belas tahun.” Cakrawirya melipat tangan.

“Tapi setiap kali kulo hampir menemukan bukti, saksi mati. Dokumen hilang. Jejak menguap.”

“Seperti yang terjadi padaku sekarang.”

“Persis.” Cakrawirya menatapnya. “Itu sebabnya kulo mendekatimu. Bukan hanya karena kau menarik.”

Sawitri mengangkat alis.

Cakrawirya tersenyum kecil. “Kau jenius dalam membedah mayat. Tapi lebih dari itu... kau jenius dalam membedah kebohongan. Kulo butuh itu.”

“Untuk membuka kasus ibumu?”

“Untuk membuka semuanya.” Cakrawirya melangkah mendekat. Jarak mereka tinggal satu langkah.

“Kematian ibumu. Ibuku. Ningsih. Wartinah. Ki Demang. Semua terhubung. Kulo yakin.”

Sawitri diam.

"Ini sebabnya kau membantu penyelidikanku?" tanyanya akhirnya. "Karena kau mencari keadilan untuk ibumu?"

Cakrawirya menatapnya. Matanya dalam.

"Awalnya, iya." Ia menjeda. "Tapi sekarang... aku tidak tahu lagi."

Mereka berpandangan.

Sawitri melihat sesuatu di mata itu. Bukan hanya kesedihan. Tapi juga... kehangatan. Harapan? Atau hanya bayangan obor yang menari?

"Aku mengerti."

Dua kata. Sederhana. Tapi Cakrawirya tahu itu bukan basa-basi.

"Kau?" tanyanya. "Kau pernah kehilangan seseorang?"

Sawitri tidak menjawab segera.

Untuk beberapa detik, yang terdengar hanya derap kaki kuda dan suara jangkrik.

"Tari," ucapnya akhirnya. Suaranya datar, tapi ada getaran halus. "Sahabatku. Di... tempat lain."

Cakrawirya menunggu.

"Dia masih hidup. Tapi aku tidak tahu kapan bisa bertemu lagi." Sawitri menatap ke depan. "Mungkin tidak pernah."

Cakrawirya tidak bertanya lebih lanjut. Ia hanya mengangguk.

Mereka terus melaju dalam keheningan. Tapi keheningan kali berbeda.

Bukan canggung. Tapi... hangat.

Pesanggrahan akhirnya terlihat di kejauhan. Cahaya pelita dari jendela kecil.

Sawitri menghentikan kudanya di depan gerbang bambu.

Cakrawirya turun lebih dulu. Membantu Sawitri turun.

Tangan mereka bersentuhan sesaat. Hanya sesaat.

Tapi cukup.

Sawitri merasakan sesuatu. Sensasi hangat di ujung jari. Respons fisiologis yang tidak biasa.

Ia mengabaikannya.

"Cakrawirya."

Pemuda itu menoleh.

"Kau akan menemukan jawabannya. Untuk ibumu."

Cakrawirya tersenyum. Senyum tulus pertama yang pernah Sawitri lihat.

"Kau yakin?"

"Data tidak pernah berbohong." Sawitri melangkah masuk. "Dan kau punya aku."

Cakrawirya mematung.

Sawitri sudah menghilang di balik pintu.

Tapi kata-katanya masih mengambang di udara malam.

Kau punya aku.

Cakrawirya tersenyum lagi. Lalu menaiki kudanya.

Ia tidak pergi. Hanya bergeser ke bayang-bayang pohon beringin.

Menjaga.

Seperti biasa.

Di dalam kamarnya, Sawitri duduk di tepi dipan.

Tangannya masih terasa hangat.

Ia mengangkat telapak tangannya, menatapnya sebentar.

Lalu menggeleng.

"Data anomali," gumamnya. "Perlu diteliti lebih lanjut."

Sementara itu, di balik jendela paviliun timur kediaman Danurejo, sesosok bayangan tersenyum ke arah gelapnya malam.

Sukmawati tersenyum tipis.

“Mereka semakin dekat,” bisiknya. “Itu bagus. Semakin dekat, semakin mudah dihancurkan bersama.”

Dari balik tirai, suara berat bergumam. “Nyai punya rencana?”

Sukmawati berbalik. Matanya berkilat di kegelapan.

“Siapkan Mbok Ranti. Dan siapkan juga... hadiah untuk Nyai Selir Wetan.”

Bayangan itu mengangguk, lalu menghilang.

1
Astuti Puspitasari
Apakah salah nulis..yg di maksud istri sultan yg mau ngasih racun di wedang jahe itu Nyai Selir Wetan, ibuknya Jatmiko?
Astuti Puspitasari
Sukmawati itu istrinya Tumenggung Danurejo ibuknya Ratih kan? atau istri Sultan ya? kok aku jadi bingung kak 😄
INeeTha
iya Ka, itu Miss, harusnya jalur distribusi ke kraton dari Danurejan yang diserahkan, makasih. sudah diperbaiki, masih di review. 🙏🙏🙏
Astuti Puspitasari
Sukmawati yang memegang paviluan medis keraton selama ini? kok dia yang menyerahkan? bukankah selama ini dia hanya istri tumenggung?
Darti abdullah
luar biasa
Astuti Puspitasari
selalu sambil tahan nafas ketika baca setiap babnya 😄 seruuu sekali
sahabat pena
yah sesuai dengan analisis mu pangeran.. pangeran angka Wijaya lah.. yg sdh bikin hati tabib ini merasakan nano2 🤣🤣🤣🤣
sahabat pena
pertahanan nya sdh dibobol.. salah sendiri sultan dikit-dikit masukin ke sel ga langsung dihukum ditempat. sdh tau byk penghianat.. hayukk semangat berangkat penghianat.
gina altira
👍👍👍
gina altira
Sawitri ini tenang banget, yg lain lg ketar ketir
fredai
miris banget nasip kau🤣🤣🤣
sahabat pena
yaelah di kasih senyum joker pangeran perang aja sawitri jantung nya dag dug ser🤣🤣🤣🤣apalagi klo pangeran menyatakan cinta. wkwkwk 🤣🤣🤣 sawitri kesemsem sama pangeran 🤣🤣😱
sahabat pena: iya ya betul kak🤣🤣🤣
total 2 replies
gina altira
Sukmawati blicin bener otaknya itu licik luar biasa.
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Cry/ "sedih banget pastinya"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Shame/ "nyalinya tinggi juga ya"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Sweat/ "haha, galak bener sih"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/NosePick/ "lebih bagus yang sekarang atau sebelumnya?"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Toasted/ "belum lega nih pastinya"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Speechless/ "sakit banget tuh pasti, apalagi dipukul bagian belakang kepala"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Sly/ "hayooo, coba pikir pakai logika"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!