Di mata keluarga suaminya, Arunika hanyalah istri biasa. Perempuan lembut yang dianggap tak punya ambisi, tak punya pencapaian, dan terlalu diam untuk dibanggakan. Setiap hari ia diremehkan, dibanding-bandingkan, bahkan nyaris tak dianggap ada dalam rumah tangganya sendiri.
Suaminya, seorang pengusaha ambisius yang haus pengakuan, tak pernah benar-benar melihat siapa wanita yang berdiri di sampingnya. Ia mengira Arunika hanya bergantung pada namanya. Padahal, tanpa seorang pun tahu, Arunika menyimpan identitas yang tak pernah ia pamerkan.
Di balik jas laboratorium dan sorot mata tenangnya, Arunika adalah dokter jenius, ahli bedah berbakat yang namanya disegani di dunia medis internasional. Tangannya telah menyelamatkan banyak nyawa.
Keputusan-keputusannya menjadi penentu hidup dan mati seseorang. Namun ia memilih tetap rendah hati, menyembunyikan kejeniusannya demi menjaga rumah tangga yang ia perjuangkan sepenuh hati yang sayangnya disia-siakan oleh suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 9.
Rumah utama keluarga besar Wijaya terasa lebih sunyi dari biasanya, Simon berdiri di depan ruang kerja kakeknya. Dia terburu-buru datang saat mendengar sang kakek sudah pulang. Tangannya terangkat beberapa detik sebelum akhirnya mengetuk pintu.
“Masuk.”
Pria tua itu duduk di kursi kayu besar, tongkat hitamnya tersandar di meja.
“Apa yang ingin kau ketahui?” tanyanya tanpa melihat.
Simon menatap lurus tanpa sedikit pun basa-basi. Tatapannya tajam, suaranya datar namun menekan. “Apa kesepakatan yang Kakek buat dengan Arunika?”
Kakeknya akhirnya mengangkat kepala, dia menatap lekat-lekat cucunya. Seolah menimbang apakah cucunya sudah cukup dewasa untuk mendengar kebenaran.
“Kau tahu siapa orang tua Arunika?”
“Hanya seorang Dokter, itu saja.”
Pria tua itu tersenyum tipis. “Itu yang publik tahu.”
Ia berdiri perlahan, membuka laci besi tua di sudut ruangan. Dari dalamnya, ia mengeluarkan map cokelat yang sudah menguning. “Dua puluh lima tahun lalu, keluarga kita hampir bangkrut. Nama Wijaya saat itu hampir hilang dari pasar, saham anjlok. Proyek gagal, dan para kreditur menekan dari segala arah. Yang menyelamatkan kita bukan bank, bukan investor.“
Sang kakek meletakkan map itu di meja. “Tapi... keluarga Arunika.”
Simon menegang.
“Orang tua Arunika, adalah pemilik sekaligus pendiri yayasan ini sebelum keluarga kita mengambil alih pengelolaannya.”
Sang kakek berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih berat. “Ayahnya, Dr. Gio Pratama, dan ibunya, Dr. Lestari Pratama… merekalah yang membangun semuanya dari nol.”
Simon terdiam, sorot matanya berubah.
“Dulu, nama yayasan ini bukan Yayasan Wijaya.” Hening sesaat, seolah masa lalu ikut bangkit bersama kalimat berikutnya. “Namanya... Yayasan Arunika Pratama. Mereka menamainya dari nama anak semata wayang mereka… Arunika.”
Kata-kata itu menggantung di udara, membawa makna yang jauh lebih dalam dari sekadar sejarah sebuah yayasan.
Mata Simon menyipit. “Pemilik…?”
“Ya, kita hanya pengelola,” jawab sang kakek tegas. “Modal utama dan jaringan medis berasal dari mereka. Saat perusahaan kita di ambang kehancuran, ayah Arunika menyuntikkan dana talangan besar melalui yayasan itu. Dengan satu syarat...”
Ruangan terasa makin berat. “Harus ada ikatan keluarga, pernikahan antara generasi penerus.”
Simon terdiam. “Jadi… aku?”
“Ya. Sejak kau remaja, namamu sudah disegel dalam perjanjian itu.”
Simon tertawa pendek, tak percaya. “Aku bahkan tidak pernah diberi pilihan.”
“Kau selalu punya pilihan,” jawab kakeknya dingin. “Kau hanya terlalu sombong untuk mencari tahu.”
Simon membuka isi map itu, ada dokumen lama. Perjanjian tertulis, ditanda tangani oleh dua kepala keluarga.
Dan satu kalimat yang membuatnya membeku.
“Kepemilikan mayoritas Yayasan Wijaya akan kembali kepada garis keturunan Pratama, apabila perjanjian keluarga dilanggar atau dikhianati.”
Jantung Simon berdetak lebih keras.
“Apakah Arunika tahu?” tanyanya pelan.
“Dia tahu sebagian,” jawab kakeknya. “Tapi tidak semua.”
“Kenapa tidak semua?”
“Karena setelah kesepakatan itu resmi…” suaranya terdengar berat, “Kedua orang tuanya meninggal.”
Ruangan terasa semakin sunyi.
“Saat mengetahui isi perjanjian pernikahan ini, Arunika tidak langsung menolaknya. Dia justru mengajukan satu syarat, masa percobaan pernikahan selama tiga tahun.”
Simon mengerutkan kening.
“Jika dalam tiga tahun itu masih tidak ada cinta di antara kalian, maka pernikahan ini selesai.”
Ia berhenti sejenak, memastikan setiap kata meresap. “Dan ketika waktu itu tiba, Yayasan Wijaya akan dikembalikan ke nama aslinya... Yayasan Arunika Pratama. Seluruh kepemilikan akan kembali padanya.”
Ekspresi Simon berubah, mata pria itu membesar. Karena ia tahu persis… sebagian aliran dana yang menopang banyak kepentingannya berasal dari yayasan itu.
Simon lalu membaca laporan ringkas yang terselip di belakang map.
Dua puluh lima tahun lalu, mobil yang orang tua Arunika tumpangi tergelincir di jalan tol malam hari, rem disebut gagal fungsi. Kecelakaan itu terjadi setelah perjanjian pernikahan diresmikan, setelah nama Yayasan milik orang tua Arunika berganti menjadi Yayasan Wijaya.
Kasus ditutup sebagai kecelakaan murni, namun penyelidikan internal yang dilakukan diam-diam oleh beberapa orang menunjukkan kejanggalan. Jejak manipulasi sistem kendaraan, satu saksi mekanik yang kemudian menghilang dari kota.
Dan laporan forensik yang direvisi.
“Ada indikasi sabotase,” gumam Simon.
Sang kakek tidak menyangkal. “Tapi tidak pernah terbukti.”
“Siapa yang diuntungkan dari kematian mereka?” gumam Simon.
Pertanyaan itu menggantung di udara, Simon tahu jawabannya. Keluarga Wijaya mengambil alih penuh pengelolaan yayasan setelah itu, tanpa lagi ada figur kuat dari keluarga Pratama yang mengawasi.
“Apakah salah satu anggota keluarga kita terlibat?” suara Simon lebih rendah dari biasanya.
Kakeknya menatapnya tajam. “Aku tidak pernah memerintahkan pembunuhan siapa pun.”
Itu bukan jawaban yang benar-benar bersih.
“Itu tidak berarti tak ada orang lain yang bergerak demi kepentingan sendiri.” Simon merasakan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya terhadap keluarganya sendiri, sebuah keraguan.
“Arunika mencurigai kita,” lanjut sang kakek pelan. “Sejak awal.”
Simon terdiam.
“Itulah sebabnya ia tetap menikahimu, dengan syarat tiga tahun itu.”
Mata Simon membesar. “Apa maksudnya?”
“Dia bukan gadis lugu yang terjebak perjodohan, ia sengaja menerima pernikahan itu untuk tetap berada di dalam lingkaran. Untuk mengawasi seluruh anggota Wijaya, dan mencari kebenaran tentang kematian orang tuanya.“
Simon terduduk dengan wajah tercengang.
Tiga tahun... tiga tahun ia mengabaikan Arunika. Meremehkan wanita itu dan tak pernah sekalipun menganggap wanita itu penting. Sementara wanita itu mungkin hidup dengannya hanya dengan satu tujuan... mencari pembunuh orang tuanya.
“Kenapa kakek tidak memberitahuku dari awal?” tanya Simon.
“Karena aku ingin melihat siapa dirimu sebenarnya.” Sang kakek berjalan mendekat. “Dan kau... mengecewakanku.”
Simon tidak membantah.
“Arunika memiliki hak hukum atas yayasan itu, jika ia membuktikan pelanggaran atau pengkhianatan... kepemilikan bisa berbalik.”
Simon menutup map itu perlahan, ujung jarinya menekan sampulnya seakan ingin memastikan semuanya nyata. Kini kepingan-kepingan yang selama ini terasa kabur mulai membentuk pola yang utuh. Arunika bukan sekadar wanita yang dijodohkan dengannya, bukan hanya istri yang hadir karena perjanjian.
Wanita itu adalah pewaris sah.
Sebagian kekayaan Wijaya yang selama ini ia anggap berada di bawah kendali keluarganya, sesungguhnya berakar pada nama lain—Arunika Pratama.
*****
Di apartemennya, Arunika berdiri di depan foto lama orang tuanya.
Ia menyentuh bingkai itu pelan.
“Tiga tahun,” gumamnya lirih.
Tiga tahun dia masuk ke dalam keluarga yang mungkin menyimpan pelaku, tiga tahun menahan diri. Tiga tahun mengamati siapa yang gelisah ketika ia menyinggung laporan lama, namun ia masih belum menemukan satu nama pasti.
Setiap jejak berhenti sebelum mencapai inti, seolah ada seseorang yang sangat berpengaruh menutupinya. Dan kini, skandal yang mengguncang keluarga Wijaya membuka celah. Beberapa dokumen lama mulai muncul kembali dalam audit, beberapa tanda tangan lama kembali diperiksa.
Permainan yang ia mulai perlahan kini berubah menjadi badai.
____
Di rumahnya sendiri, Simon berdiri sendirian dengan map di tangan. Bayangan Arunika di masa lalu terlintas, wanita itu selalu pendiam dan sangat sabar. Dan tidak pernah membalas hinaan darinya maupun dari ibunya.
Apakah itu karena Arunika lemah?
Atau karena sedang menunggu?
Dan jika benar salah satu anggota keluarganya terlibat, maka bukan hanya Arunika yang ia sia-siakan. Ia mungkin berdiri di sisi yang salah dari kebenaran.
Simon mengangkat ponselnya, menatap nama kontak Arunika.
Namun, ia ragu saat akan menghubungi wanita itu. Dia tidak tahu apakah ia ingin meminta maaf atau ingin memperingatkan Arunika. Karena jika pembunuhan itu nyata, dan jika pelakunya benar ada di dalam keluarga Wijaya—maka permainan ini bukan lagi soal reputasi yang akan dipertaruhkan. Ini menyangkut... nyawa wanita itu.
terkadang yg terlalu baik yg Manis tu yg lebih berbahaya ,,
km harus lebih hati2 arunika ,,
musuh jaman sekarang byk yg cosplay jd org baik ,,
org yg peduli ,,
tu yg lebih bahaya dr pda org yg terang2an emnk gx suka sama qta ,,
dtggu next ny yx kak ,,
☺️☺️