NovelToon NovelToon
The Instant Obsession

The Instant Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: treezz

Damian Nicholas memiliki segalanya-kekuasaan, harta yang tak habis tujuh turunan, dan masa depan yang sudah diatur rapi oleh orang tuanya.

Termasuk sebuah perjodohan dengan putri dari relasi bisnis keluarganya demi memperluas kekaisaran mereka. Namun bagi Damian, cinta bukan tentang angka di saldo rekening, melainkan tentang getaran yang ia rasakan pada pandangan pertama.

Getaran itu ia temukan pada Liora Selene, seorang gadis sederhana yang ia temui secara tidak sengaja. Di mata Damian, Selene adalah sosok tulus yang tidak silau akan hartanya. Ia jatuh cinta pada kesederhanaan Selene, tanpa tahu bahwa di balik pakaian lusuh itu, Selene menyimpan rahasia besar.

Selene sebenarnya adalah putri dari keluarga terpandang yang sedang mencoba melarikan diri dari jeratan ekspektasi dunia kelas atas dengan berpura-pura menjadi rakyat jelata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Tamu di Bawah Atap yang Sama

Setelah semua kantong belanjaan tertata rapi di dapur, Damian tidak menunjukkan tanda-tanda ingin kembali ke mobil mewah atau apartemennya yang dingin. Ia justru berdiri di tengah ruang utama panti, memperhatikan bagaimana sinar matahari sore menembus celah-celah jendela kayu yang mulai lapuk. Tempat ini jauh dari kata mewah, tapi entah kenapa, Damian merasa lebih "hidup" di sini daripada di kantor pusat Nicholas Group.

Damian menghampiri Ibu Panti yang tengah sibuk merapikan meja makan. Dengan sikap yang luar biasa sopan—sangat jauh dari citra bos arogan yang biasanya ia tampilkan—ia membuka suara.

"Ibu, kalau tidak merepotkan... bolehkah saya menginap di sini selama satu atau dua hari?" tanya Damian. "Saya ingin benar-benar membantu perbaikan panti ini secara langsung, tanpa harus pulang-pergi."

Mata Ibu Panti membelalak karena terkejut, namun sedetik kemudian wajahnya berbinar bahagia. "Tentu saja boleh, Nak Damian! Kami malah sangat senang. Kamar di sini memang sederhana, hanya ada tempat tidur tua, tapi kalau Nak Damian tidak keberatan, pintu kami selalu terbuka."

"Horeee! Kakak Tampan tidur di sini!" teriak Rio dan anak-anak lainnya yang langsung bersorak kegirangan. Mereka mengerumuni Damian, menarik-narik ujung kemejanya dengan antusias.

Selene, yang baru saja selesai mencuci tangan di dapur, tertegun mendengar percakapan itu. Ia melongok ke ruang tengah, menatap pria jangkung yang tampak begitu kontras dengan latar belakang panti asuhan yang sederhana itu.

Sebuah senyum singkat—tipis namun tulus—terukir di bibir Selene. Ada rasa lucu melihat seorang "asisten" yang tampak begitu eksklusif rela tidur di tempat seperti ini. Namun, di balik senyum itu, ada debar yang mulai tak beraturan di dadanya. Kehadiran Damian yang kini akan berada di bawah atap yang sama dengannya selama 24 jam penuh terasa seperti tantangan sekaligus anugerah.

Damian menangkap senyum singkat itu. Ia menatap Selene dengan sorot mata yang penuh arti, seolah ingin menegaskan bahwa tujuannya di sini bukan hanya untuk anak-anak, melainkan untuknya.

"Kau yakin?" tanya Selene, berjalan mendekat sambil menyilangkan tangan di dada. "Di sini tidak ada AC, tidak ada kasur empuk, dan kau akan terbangun jam lima pagi karena suara gaduh anak-anak."

Damian tersenyum tenang, menatap Selene dengan intensitas yang membuat gadis itu salah tingkah. "Aku pernah melewati hal yang lebih sulit daripada sekadar kasur yang keras, Selene. Dan kurasa, terbangun dengan aroma cokelat di sekitarku akan jauh lebih baik daripada alarm mana pun di dunia ini."

Wajah Selene merona. Ia segera berbalik kembali ke dapur untuk menyembunyikan pipinya yang memerah. Sementara itu, Damian diam-diam merogoh ponselnya di saku, mengirim pesan singkat terakhir kepada Revan sebelum ia benar-benar mematikan perangkatnya.

"Jangan cari aku. Aku akan menginap di panti. Pastikan semua jadwal pribadiku dibatalkan. Sekarang."

Damian segera berbalik, meninggalkan kerumunan anak-anak yang masih tampak antusias, dan melangkah mantap menuju dapur. Ia melepaskan jam tangan mewahnya—sebuah arloji yang harganya cukup untuk merenovasi seluruh panti ini—dan menyimpannya di saku kemeja sebelum menggulung lengan bajunya hingga ke siku.

"Butuh asisten tambahan untuk makan malam?" tanya Damian sambil berdiri di ambang pintu dapur, menghalangi cahaya matahari sore yang masuk ke ruangan tersebut.

Selene, yang sedang sibuk memotong sayuran sisa belanjaan tadi, mendongak. "Kau serius? Kau baru saja sampai dan langsung ingin berkutat dengan asap dapur lagi?"

"Aku tidak datang ke sini untuk menjadi pajangan, Selene," sahut Damian lembut namun tegas. Ia berjalan mendekat, mengambil alih sebuah pisau dari tangan Selene dengan gerakan alami yang kini terasa jauh lebih santai. "Katakan padaku, apa yang harus kulakukan? Aku sudah ahli memotong bawang pagi tadi, ingat?"

Selene hanya bisa menggelengkan kepala, namun ia tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum. "Baiklah, asisten gigih. Tolong bersihkan ikan-ikan itu, lalu bantu aku menyiapkan bumbunya. Anak-anak biasanya sangat lapar kalau sudah jam makan malam."

Mereka pun bekerja berdampingan dalam harmoni yang tidak terduga. Ruang dapur yang sempit itu justru menciptakan keintiman yang menyesakkan bagi Selene. Setiap kali Damian bergerak untuk mengambil bumbu atau peralatan, bahu mereka bersentuhan, mengirimkan sengatan kecil yang membuat Selene terus-menerus salah tingkah.

1
Leny Enick
ditunggu selajutnya 💪semngat thor
YuWie
ada2 aja tingkah org kaya tuh ya..nyamar segala..adakah di dunia nyata..hmmm
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!