Dita, seorang Caregiver yang merawat dengan sepenuh hati majikannya yang lumpuh, Bu Diana. sampai, suatu hari, Bu Diana meminta sesuatu yang membuat Dita menahan napasnya...
"Menikahlah dengan Tama, Dit. Aku tak mau Tama menikah dengan wanita binal itu... kamu harus selamatkan anakku, seperti kamu menyelamatkan aku..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 15
Lampu ruang tamu menyala redup. Tirai jendela masih setengah terbuka, memperlihatkan gemerlap lampu kota yang seolah mengejek kekacauan di dalam hati Selina.
Ia duduk di lantai ruang tamu.
Masih mengenakan baju yang sama sejak kejadian tadi.
Ponselnya ada di tangan. Layarnya berkali-kali menyala.
Nama Tama masih berada di daftar panggilan terakhir.
Sudah dua puluh kali.
Tidak ada jawaban.
“Angkatlah… Tama… tolong angkat…” bisiknya serak.
Ia menekan panggilan lagi.
Nada sambung terdengar.
Satu…
Dua…
Tiga…
Tidak ada jawaban.
Panggilan terputus.
Selina menatap layar ponsel kosong itu beberapa detik.
Lalu bahunya mulai bergetar.
Tangisnya pecah.
“Tama… aku minta maaf… aku benar-benar minta maaf…”
Ia menutup wajah dengan kedua tangan.
Air mata jatuh deras di sela jemarinya.
Bayangan kejadian tadi malam terus muncul.
Tatapan Tama.
Dingin.
Kosong.
Lebih menyakitkan dari kemarahan apa pun.
Selina meremas rambutnya frustasi.
“Aku bodoh… aku benar-benar bodoh…”
Suara langkah terdengar dari belakang.
Brian keluar dari kamar, sudah mengenakan celana.
Ia mendekati Selina dengan hati-hati.
“Selina…”
Wanita itu langsung menoleh tajam.
“Apa lagi?!”
Brian terdiam sesaat.
“Aku cuma… mau bicara.”
“Bicara?”
Selina tertawa pahit.
“Kamu masih punya keberanian untuk bicara setelah semua ini?”
Brian menghela napas.
“Kita berdua sama-sama tahu tadi bukan sepenuhnya salahku.”
Selina langsung berdiri.
Matanya memerah.
“Berani sekali kamu bilang begitu!”
Brian mengangkat tangan sedikit.
“Aku cuma bilang kenyataan. Awalnya kamu menolak, iya. Tapi setelah itu—”
“DIAM!”
Selina mendorong dada Brian.
“Kamu yang memaksa! Kamu yang terus mendekat! Kamu yang—”
“Dan kamu menikmatinya juga,” potong Brian dingin.
Selina membeku.
Kalimat itu seperti tamparan keras.
Ia terdiam.
Beberapa detik.
Lalu air matanya jatuh lagi.
“Iya… aku tahu…”
Suaranya pecah.
“Aku tahu aku salah…”
Brian sedikit melunak.
Ia mencoba mendekat.
“Selina, kita bisa bicara baik-baik—”
“JANGAN MENDEKAT!”
Selina mundur satu langkah.
Matanya penuh kemarahan.
“Keluar.”
Brian mengernyit.
“Apa?”
“Keluar dari apartemenku.”
“Selina—”
“SEKARANG!”
Selina mendorongnya menuju pintu.
Brian mencoba menahan.
“Selina, dengar dulu—”
“Keluar!”
Ia membuka pintu dengan kasar.
Brian menatapnya beberapa detik.
Lalu menggeleng pelan.
“Kamu akan menyesal menolakku seperti ini.”
“Pergi dari hidupku!” teriak Selina.
Brian akhirnya melangkah keluar.
Begitu pintu tertutup—
BRAK!
Selina membantingnya keras.
Tubuhnya langsung merosot ke lantai.
Tangisnya pecah lebih keras dari sebelumnya.
“Tama… maaf…”
Ia memeluk lututnya.
“Kenapa aku sebodoh ini…”
Tangis pilu memenuhi apartemen yang kini terasa sangat sepi.
Pagi hari.
Rumah besar keluarga Tama.
Suara sepatu hak berlari terdengar di halaman.
Selina bahkan tidak menunggu izin.
Ia langsung menerobos masuk setelah security membuka gerbang.
“Tama!”
Suara itu menggema di ruang tamu.
Dita yang baru turun tangga langsung berhenti.
Ia tertegun melihat wanita di depannya.
Selina.
Wajahnya pucat.
Matanya sembab.
“Aku mencari Tama. Di mana dia?” tanya Selina tergesa.
Dita masih sedikit bingung.
“Tuan Tama—”
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya—
Suara roda kursi terdengar dari koridor.
Tama muncul.
Ia mendorong kursi roda Bu Diana.
Langkahnya tenang.
Namun wajahnya kembali datar.
Selina langsung mendekat.
“Tama!”
Pria itu berhenti.
Tatapannya dingin.
Seolah melihat orang asing.
Selina menelan ludah.
Namun tetap mencoba tersenyum pada Bu Diana.
“Selamat pagi, Tante…”
Bu Diana menatapnya datar.
Tidak ada senyum.
Tidak ada sambutan.
Selina mencoba lagi.
“Bagaimana keadaan Tante sekarang?”
Namun Bu Diana hanya berkata pelan.
“Dita, kita ke taman saja.”
Dita sedikit terkejut.
“Ibu tidak ingin sarapan dulu?”
“Nanti saja.”
Dita mengangguk.
Ia mulai mendorong kursi roda itu.
Selina hanya bisa berdiri di sana.
Penolakan itu terasa jelas.
Sangat jelas.
Ia menggigit bibir.
Tatapannya kembali pada Tama.
“Tama… aku harus bicara denganmu.”
Tama tidak bergerak.
“Tidak ada yang perlu dibicarakan.”
Selina mendekat satu langkah.
“Aku tahu kamu marah—”
“Aku tidak marah.”
Nada suaranya datar.
Selina terdiam.
“Kalau kamu marah, aku masih bisa mengerti… tapi kamu seperti ini…”
Tama menatapnya lurus.
“Aku hanya tidak peduli lagi.”
Kalimat itu menghantam lebih keras dari tamparan.
Selina langsung pucat.
“Tama… aku minta maaf.”
“Tidak perlu.”
“Tolong dengarkan aku—”
“Tidak.”
Tama memotong.
“Semuanya sudah jelas.”
Selina menggeleng cepat.
“Tidak! Itu tidak seperti yang kamu pikirkan—”
Tama tertawa kecil.
“Benarkah?”
Selina menggigit bibir.
“Tama… aku khilaf…”
“Kamu berselingkuh.”
Selina terdiam.
“Tama…”
“Aku memergokimu di ranjang dengan pria lain.”
Suaranya tetap tenang.
Namun setiap kata terasa tajam.
“Lalu kamu bilang itu tidak seperti yang kulihat?”
Selina mulai menangis lagi.
“Tama… aku mohon…”
Tama menoleh ke arah pintu.
“Miko!”
Seorang pria bertubuh besar segera muncul dari luar.
“Ya, Tuan.”
“Tolong antar Nona Selina keluar.”
Selina langsung panik.
“Tama! Jangan seperti ini!”
Ia mencoba mendekat.
Namun Miko sudah berdiri di antara mereka.
“Silakan, Nona.”
Selina menggeleng keras.
“Tama! Tolong dengarkan aku dulu!”
Namun Tama sudah berbalik.
Ia berjalan pergi tanpa menoleh lagi.
Selina berdiri terpaku.
Air matanya jatuh tanpa henti.
Hatinya terasa hancur.
Di meja sarapan.
Suasana sunyi.
Bu Diana menyesap teh pelan.
“Kenapa Selina datang?”
Tama memotong roti tanpa semangat.
“Tidak penting.”
Bu Diana mengangkat alis.
“Oh ya?”
“Kami sudah putus, ma.” Tama menatap ibunya.
“Sekarang Mama puas?”
Bu Diana tidak menjawab.
Tama langsung berdiri.
Ia bahkan belum menghabiskan makanannya.
“Aku berangkat kerja.”
“Tama—”
Namun pria itu sudah pergi.
Dita menatap piring yang masih hampir penuh.
Perasaannya tidak enak.
Dalam hati ia berpikir.
“Mungkin semua ini karena Bu Diana memaksanya menikah denganku…”
Siang hari.
Di ruang terapi.
Bu Diana berpegangan pada alat bantu.
Dita berdiri di sampingnya.
“Pelan-pelan, Bu.”
Bu Diana mencoba menapak.
Langkah kecil.
Namun stabil.
Dita tersenyum.
“Bagus sekali. Ototnya sudah mulai kuat.”
Bu Diana duduk kembali.
“Kamu memang perawat yang baik, Dit.”
Dita ragu.
“Saya hanya melakukan pekerjaan saya.”
Ia lalu berkata pelan.
“Tuan Tama pulang sangat larut tadi malam… wajahnya juga berantakan… mungkin dia sangat terpukul karena putus dengan Nona Selina.”
Bu Diana hanya mengangkat bahu.
“Biarkan saja.”
Dita terkejut.
“Ibu tidak khawatir?”
Bu Diana malah tertawa kecil.
“Malah bagus.”
Dita terdiam.
“Saya… sebenarnya tidak ingin dilibatkan dalam hal ini, Bu. Saya tidak ingin menikah dengan Tuan Tama.”
Wajah Bu Diana langsung berubah.
“Kalau tidak mau ya sudah.”
Nada suaranya kesal.
“Yang penting dia sudah tidak bersama Selina.”
Dita hanya bisa menunduk.
Beberapa hari kemudian.
Di ruang kerja Tama.
Pria itu memijat pelipisnya.
Tubuhnya terasa lemas.
Ia menekan interkom.
“Dita, bisa ke ruanganku sebentar?”
Beberapa menit kemudian Dita masuk.
“Tuan memanggil saya?”
Tama mengangguk.
“Kepalaku sedikit pusing.”
Dita langsung memeriksa tekanan darahnya.
Beberapa saat kemudian ia mengernyit.
“Tekanan darah Anda rendah.”
“Serius?”
“Ya.”
Dita mengambil obat dari tas medisnya.
“Tapi sebenarnya lebih baik Tuan memperbaiki pola makan. Konsumsi buah, air putih, dan makanan sehat.”
Tama mengangguk.
“Baik.”
Ia lalu bertanya pelan.
“Ibu bagaimana?”
“Keadaannya sangat baik sekarang. Bahkan sikap beliau juga jauh lebih tenang.”
Tama terlihat sedikit lega.
“Terapi berjalan lancar?”
“Jika seperti ini terus, beberapa bulan lagi Bu Diana mungkin sudah bisa berjalan.”
Tama tersenyum kecil.
“Itu kabar baik.”
Dita mengangguk.
“Kalau begitu saya pamit.”
Ia keluar dari ruangan.
Di kamarnya sendiri.
Dita duduk di tepi ranjang.
Pikirannya melayang.
“Kalau Bu Diana sudah bisa berjalan lagi…”
Ia menatap tangannya sendiri.
“Mungkin aku tidak diperlukan lagi di rumah ini…”
Ada rasa berat di dadanya.
Namun ia tahu.
Saat itu tiba.
Ia harus pergi.