Dunia Andini Kharisma Sulistia (21 tahun) runtuh seketika saat kecelakaan maut merenggut nyawa suaminya, Keenan Adiwijaya. Di tengah duka yang masih basah, Andini harus menghadapi kenyataan pahit tanpa sosok pendamping. Namun, hadirnya Farhady Sastranegara (41 tahun) membawa kebimbangan baru.
Farhady bukanlah orang asing; ia adalah mantan ayah mertua yang ternyata hanyalah ayah sambung Keenan. Meski tak ada ikatan darah, lamaran Farhady memicu badai emosi dan stigma sosial yang tajam. Terjebak antara kesetiaan pada mendiang suami dan kasih sayang tulus Farhady, Andini harus menentukan arah hatinya dalam balutan dilema cinta yang rumit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelangi di Langit Lembang
Pagi itu, mentari di ufuk utara Kabupaten Bandung Barat menyapa dengan malu-malu, menembus celah gorden kamar yang masih menyisakan aroma parfum maskulin bercampur harum melati kering. Andini Kharisma Sulistia mengerjapkan matanya yang bening, merasakan sepasang lengan kokoh melingkar protektif di pinggangnya. Di usianya yang baru menginjak 21 tahun, ia merasa telah memenangkan seluruh lotre kebahagiaan dunia.
"Sudah bangun, Sayang?" bisik sebuah suara bariton yang serak khas orang baru terjaga.
Andini membalikkan badan, menatap wajah tampan Keenan Adiwijaya yang terpahat sempurna oleh cahaya pagi. "Mas Keenan kebiasaan, deh. Bangun duluan tapi malah memandangi aku terus."
Keenan terkekeh pelan, jemarinya merapikan anak rambut yang menutupi dahi istrinya. "Bagaimana tidak? Aku takut ini cuma mimpi. Memiliki bidadari sepertimu di sisiku setiap pagi adalah anugerah yang masih sulit kupercayai."
Pernikahan mereka baru berjalan seumur jagung, namun kehangatannya melebihi tungku perapian di malam yang paling dingin sekalipun. Keenan, pria yang lima tahun lebih tua darinya, selalu tahu cara membuat Andini merasa menjadi wanita paling istimewa. Tidak ada bentakan, tidak ada tuntutan; yang ada hanyalah saling memahami dalam diam yang tenang.
"Hari ini Mas mau ke kantor lebih awal?" tanya Andini sambil bangkit untuk menyiapkan pakaian suaminya.
Keenan menarik tangan Andini, membuat wanita muda itu kembali terduduk di tepi ranjang. Ia menatap mata istrinya dalam-dalam, sebuah tatapan yang intens dan penuh makna. "Dini, berjanjilah padaku satu hal."
"Apa itu, Mas? Tumben sekali bicaranya serius," Andini mencoba mencairkan suasana dengan senyum tipis, meski hatinya berdesir aneh.
"Apa pun yang terjadi nanti, ingatlah bahwa setiap detik yang kuhabiskan bersamamu adalah bagian terbaik dari hidupku. Jika suatu saat pelangi di langit kita memudar, jangan pernah berhenti mencari cahayamu sendiri."
Andini terdiam. Kalimat itu terasa seperti semilir angin yang membawa pesan rahasia dari masa depan. Ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Keenan, mendengarkan detak jantung suaminya yang teratur—detak yang menjadi musik favoritnya selama ini. "Jangan bicara yang aneh-aneh, Mas. Kita baru saja mulai. Masih banyak mimpi yang ingin kita bangun di sekolah tempat aku mengajar, dan banyak cerita yang ingin kutulis tentang kita."
Keenan mengecup puncak kepala Andini dengan lembut. "Iya, Sayang. Maafkan Mas. Mungkin aku hanya terlalu bahagia."
Pagi itu berlanjut dengan tawa kecil di meja makan sederhana mereka. Keenan membantu Andini merapikan meja, sebuah pemandangan yang selalu membuat hati Andini meleleh. Pria itu bukan tipe suami yang menunggu dilayani; ia adalah rekan, sahabat, sekaligus pelindung.
Saat Keenan bersiap berangkat, ia mengenakan kemeja biru muda yang disetrika rapi oleh Andini. Ia tampak begitu gagah, bayangan pria ideal yang selama ini hanya ada dalam imajinasi kreatif Andini. Di depan pintu rumah mereka, Keenan berhenti sejenak, menoleh kembali ke arah istrinya yang melambai di ambang pintu.
"Aku mencintaimu, Andini. Sangat mencintaimu," ucap Keenan tanpa suara, hanya melalui gerak bibir dan binar mata yang redup namun tulus.
Andini tersenyum lebar, menunjukkan deretan giginya yang rapi. "Hati-hati di jalan, Mas! Pulang cepat ya, aku masak masakan kesukaanmu!"
Keenan mengangguk, lalu menghidupkan mesin kendaraannya. Andini berdiri di sana sampai bayangan punggung suaminya menghilang di tikungan jalan. Ia tidak tahu bahwa itu adalah lambaian terakhir, kecupan terakhir, dan kata-kata terakhir yang akan ia terima dari lelaki yang menjadi seluruh dunianya.
Di langit Lembang, awan mulai berkumpul, menutupi mentari yang tadi bersinar cerah. Seolah alam pun tahu, bahwa sebuah elegi akan segera menggantikan simfoni kebahagiaan yang baru saja dimainkan. Kebahagiaan mereka yang begitu murni, sebentar lagi akan diuji oleh takdir yang tak pernah bisa ditawar.