Kanazya Laurels, wanita yang hidup sendiri dari kecil. Ayahnya meninggal setelah ditinggal ibunya pergi.
Dia bertemu dengan seorang pria penjual bunga yang sangat tampan hingga membuatnya terpesona. Tetapi lelaki itu ternyata tunanetra.
Tak disangka, Kana setuju menikah dengan Krishan lantaran ia terhimpit dan butuh tempat tinggal. Tetapi pesona Krishan yang luar biasa itu, membuatnya jatuh cinta.
Masalah terus berdatangan saat Kana menyadari bahwa lelaki buta yang ia nikahi bukanlah orang sembarangan.
Siapa sebenarnya Krishan? Bagaimana cara dirinya melindungi istrinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alfajry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Get Closer
Kana ikut berjalan di sebelah pria itu.
"Sebaiknya jangan jalan sendirian di malam hari, tempat ini sepi jika sudah jam segini. Kau tidak takut gelap-gelapan begini?" Celetuk kana yang mensejajarkan jalannya dengan pria itu.
"Apa bedanya siang dan malam. Aku kan, buta". Tukas lelaki itu membuat Kana bungkam.
"Kau sendiri, apa tidak takut?"
"Aku kekasih tuan Yohan. Mana mungkin aku takut."
"Siapa itu?"
"Ah, kau tidak tahu, ya? Dia itu lelaki yang ditakuti di tempat ini. Kau juga harus membayar pajak untuk bisa berjualan disini."
"Kau memacari lelaki seperti itu?"
"Ya"
"Apakah dia yang kau sebut bodoh dan tukang selingkuh?"
"Apa? Bukan!" Sentaknya lalu berhenti dan berbisik "Dia itu bos mafia yang haus darah".
Pria itu tertawa. "Kau menakutiku seperti aku ini anak kecil".
"Hei, aku tidak bercanda tahu!" Ucapnya dengan cemberut.
"Baiklah, Nona. Aku mengerti". Tukas pria itu dengan senyuman di bibirnya. "Siapa namamu?"
Kana sedikit berpikir.
"Kau panggil saja Jia". Dia lalu mengulurkan tangan. "Dan kau?"
"Aku Krishan". Pria itu mengulurkan tangan ke arah yang salah.
Kana tersenyum lalu mengarahkan tangan Krishan ke tangannya.
"Oh, disitu rupanya". Krishan tertawa.
"Jadi, kau sedang galau?" Tanya Krishan sambil mulai berjalan lagi.
"Hm. Begitulah."
"Itu sebabnya kau minum dan merokok?"
Kana berhenti lagi dan menatap ke arah Krishan.
"Kau tahu?"
"Aku bisa mencium baunya".
"Ah, begitu rupanya. Ya, aku hanya merokok jika sangat stres". Akunya sambil tertunduk melihat kakinya yang tengah melangkah.
"Lain kali, kau tanam saja pohon. Itu akan membuatmu lebih baik". Krishan memberi saran sambil tersenyum.
Kana ikut tersenyum mendengar saran Krishan. "Ya, baiklah. Aku sudah sampai di persimpangan rumahku dan belok ke sana". Ucapnya dengan menunjuk jalan. "Maksudku, sebelah kiri."
"Baiklah. Hati-hati di jalan". Ujar Krishan dan melanjutkan jalannya.
"Ya, kau juga. Terima kasih bunganya". Teriaknya pada Krishan yang berjalan tanpa respon.
Kana masih berdiri di tempatnya, memperhatikan Krishan yang berjalan dengan tongkat.
Dia sedikit kasihan, padahal pria itu tampan dan mempesona. Sayang sekali dia buta. Apa dia sudah menikah? Kana menepis rasa ingin tahunya dan melanjutkan perjalanannya.
...🐾...
Kana membuang 2 kantung sampah di depan rumahnya. Pagi-pagi di hari minggu tidak membuatnya bermalas-malasan, dia justru bersih-bersih rumah supaya bisa menghilangkan rasa letih otaknya yang terus memikirkan laki-laki bajingan itu, walau bengkak di matanya belum hilang karena dia begadang sambil membakar semua kenangan mereka.
Noah, laki-laki yang berpacaran dengannya hampir tiga tahun sebenarnya adalah laki-laki yang tampan, seksi dan juga romantis. Tipe yang benar-benar disukai Kana.
Nyatanya, lelaki sepertinya malah sering menggoda perempuan lain dengan alasan mengisi kejenuhan. Lalu entah bagaimana, Kana selalu saja memaafkan lelaki seksinya itu.
"Kana"
Perempuan itu menoleh, terpaku saat Noah menghampirinya.
Lelaki itu tetap tampan dan memikat, pesonanya membuat Kana hampir saja lupa dengan kesalahannya.
"Kana, maafkan aku.." Noah menunduk. Dia mengakui kesalahannya.
"Kau jahat sekali, Noah". Kana meneteskan air matanya lagi.
"Maafkan aku, aku janji tidak akan melakukannya lagi. Aku janji akan menjadi pria yang setia". Lirihnya pada Kana.
"Baiklah".
"Kau memaafkan aku? Kau kembali padaku?" Noah mengkat kepala, dia mulai tersenyum.
"Tidak."
Noah menunduk lagi. "Maafkan aku. Aku janji akan setia."
"Ya, janjilah untuk setia. Tapi tidak denganku, janji pada dirimu sendiri untuk pacarmu yang lain."
Kana berjalan masuk ke dalam rumah.
"Tunggu, Kana. Aku mohon jangan begini". Noah menahan lengan Kana.
"Kau gila, ya? Menyuruhku kembali padamu setelah apa yang kau lakukan?" Pekik Kana sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Noah.
"Aku khilaf, Kana. Aku janji tidak akan melakukannya lagi."
"Aku bilang lepas!"
PLANG!
Noah merintih memegang kepalanya yang dipukul oleh Alana dengan wajan penggoreng.
Kana melotot melihat adegan di depannya, karena itu ternyata berhasil membuat Noah melepaskan tangannya.
"Cepat masuk!" Alana menarik tangan Kana yang masih bengong di tempatnya.
Noah terjongkok memegang kepalanya yang benjol akibat pukulan Alana tadi.
Alana dengan cepat menutup dan mengunci pintu.
"Alan, Kenapa kau.."
"Ssstt! Aku menyelamatkan kebodohanmu yang akan memaafkannya." Alana mengintip dari jendela sambil memegang wajan.
"Apa!"
"Sudahlah. Kali ini kau harus menurut. Jangan pernah temui dia lagi!" Bentak Alana yang masih mengintip Noah. Laki-laki itu mulai beranjak dari tempatnya sambil meringis kesakitan.
"Rasain!" Lirihnya sambil terkekeh melihat Noah.
"Kana, kau.., Eh?"
Kana sudah tidak ada disana, dia sudah di kamarnya, membaringkan tubuh di atas ranjang.
Yang diucapkan Alana benar, dia memang sudah saatnya berlepas diri dari hubungan yang tidak menguntungkannya. Tetapi melihat wajah Noah yang ia cintai itu membuatnya sedikit luluh.
Lagipula, selama ini Noah memang tidak melirik gadis-gadis. Justru para gadis itulah yang menggodanya dan brengseknya, Noah selalu saja tergoda.
"Kana, ini apa?"
Alana berteriak dari dapur.
"Apa?" Teriak Kana yang malas bergerak.
"Cepatlah kemari!"
Kana dengan berat menyeret langkahnya menuju dapur.
"Oh? Itu tanaman baruku" Kana mengambil air lalu menyiramkannya ke dalam pot.
"Hah? Sejak kapan kau menanam pohon?"
Kana menggantungkannya di sebelah jendela dapur. "Sejak kemarin. Katanya tanaman ini akan membuat mood-ku membaik dan dia akan tumbuh cantik". Ungkapnya lalu tersenyum melihat daun kecil yang mulai melebar.
"Baguslah. Setidaknya kau masih waras." Alana membuka celemeknya. "Cepat makan. Aku sudah terlambat".
"Kau mau kemana?" Kana menarik kursinya dan duduk.
"Aku ada proyek baru. Dan hari ini aku harus segera mengurusnya sampai tuntas".
Kana mengangguk sambil mengunyah, masakan Alana selalu pas di lidahnya.
"Kau jangan sampai bertemu lagi dengan si Brengsek Noah!"
"Ya ya.. baiklah". Jawab Kana pasrah. Karena dia tahu, Alana menyayanginya melebihi apapun.
...🐾...
Kana berjalan-jalan. Cuaca pagi yang hangat membuatnya suntuk berada seharian di kamar.
Dia melewati toko bunga yang tadi malam ia datangi, toko itu masih tutup.
Kana mendatanginya, mengintip dari pintu kaca yang melihatkan isi di dalamnya.
"Oh? Bukankah itu dia?"
Kana mendekati pintu, krincingnya berbunyi saat Kana membukanya.
"Maaf, kami belum buka". Ucap Krishan yang wajahnya menghadap pintu.
Kana tersenyum karena ingin menjahili Krishan. Dia mendekat dan..
"Jia?"
"Eh?"
Kana terperangah. Pria itu mengetahuinya. Apakah dia benar-benar buta?
"Kenapa belum buka?" Kana melirik jam tangannya.
"Aku mendapat pesanan seribu tangkai bunga mawar. Jadi, aku sedang menghitungnya sekarang".
Kana melihat banyak sekali tangkai mawar tergeletak di atas lantai.
"Mau kubantu?" Kana mulai duduk di atas lantai. Dia mengumpulkan satu demi satu mawar di tangannya.
"Jika tidak merepotkanmu". Ucapnya lalu tersenyum. Kana menatap wajah pria yang tersenyum itu. Sangat menawan. Sayang sekali dia sendiri tidak menyadari kalau dirinya begitu tampan.
"Bagaimana kau tahu aku? Kau pura-pura buta, ya!" Seru Kana pada Krishan yang dengan tenang menyusun bertangkai-tangkai bunga mawar di dalam keranjang.
"Harummu masih terasa."
Kana mengendus bahunya kiri dan kanan. Dia mencium sedikit sisa harum di sana.
"Apa tercium? Padahal tidak begitu terasa" tukas Kana.
"Bagiku sangat terasa".
"Benarkah? berarti, itu artinya aku tidak bisa menipumu?"
Krishan tertawa kecil. "Kau diam dulu, aku sedang menghitung". Ucapnya lalu memasukkan lagi satu persatu bunga ke dalam keranjang.
nah loohh .. bini' mu sdh angkat bicara