Lia hanyalah gadis biasa. Hidup sederhana, bekerja keras membantu orang tuanya, tidak punya harta, tidak punya nama besar. Ia hanya ingin menjalani hari dengan tenang dan jujur.
Namun takdir membawa ia melangkah masuk ke dunia yang sama sekali asing — dunia mewah, dingin, dan penuh aturan milik Arga, pewaris tunggal kekayaan keluarga paling berpengaruh di kota itu.
Pertemuan mereka bukan karena kebetulan. Sebuah perjanjian lama mengikat kedua keluarga, memaksa mereka menikah. Bagi Arga, pernikahan ini hanyalah kewajiban yang harus ia penuhi. Bagi Lia, ini adalah awal dari perjalanan yang menguji ketabahan, kesetiaan, dan hatinya.
Di antara dua dunia yang tak pernah bertemu, bisakah cinta tumbuh? Apakah gadis biasa seperti Lia mampu menembus dinding dingin yang dibangun Arga? Atau pada akhirnya, ia hanya akan menjadi kisah singkat yang terlupakan di istana megah itu?
"Aku mungkin tidak lahir dengan harta, tapi aku lahir dengan hati yang mampu mencintaimu seutuhnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andi diana Nana anggrini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Biasa yang Berakhir Berbeda
Matahari baru saja menyelinap di antara celah dedaunan, menyinari halaman kecil depan rumah kami dengan cahaya keemasan yang lembut. Angin pagi berhembus pelan, membawa aroma tanah basah sisa hujan semalam dan wangi bunga kamboja yang tumbuh rapat di sudut pagar. Jam dinding di ruang tamu baru menunjukkan pukul enam lewat sepuluh menit. Suasana masih tenang, damai, persis seperti ratusan pagi yang telah kulewati sebelumnya. Tidak ada tanda-tanda apa pun. Tidak ada petunjuk sedikit pun bahwa hari ini akan menjadi hari di mana segala hal yang kukenal akan berubah selamanya.
Namaku Lia. Usiaku baru menginjak dua puluh tahun. Hidupku sederhana, begitu sederhana sehingga kadang aku merasa dunia hanya berputar di sekeliling halaman rumah kami, toko roti tempatku bekerja, dan jalan setapak yang menghubungkan keduanya. Ayah pergi saat aku masih kecil, meninggalkan Ibu dan aku berdua saja. Sejak itu, kami berjuang bersama-sama — menanam sayur, menjual kue, menabung sedikit demi sedikit agar kebutuhan terpenuhi dan senyum tidak pernah hilang dari wajah Ibu. Aku tidak pernah menginginkan kemewahan. Tidak pernah bermimpi tentang pakaian indah, rumah besar, atau kehidupan yang dipenuhi kemegahan. Bagiku, kebahagiaan itu sederhana: melihat Ibu sehat, bisa menyiapkan makanan hangat di meja, dan tidur di tempat tidurku dengan perasaan tenang, tahu bahwa besok aku masih bisa bangun dan menjalani hari dengan jujur.
Pagi itu dimulai persis sama seperti hari-hari lainnya. Aku bangun sebelum ayam berkokok, merapikan selimut dengan rapi, lalu turun ke dapur. Lantai semen masih terasa dingin di telapak kakiku. Aku menyalakan kompor, merebus air, dan mulai menguleni adonan roti — pekerjaan yang sudah begitu kuterbi, sehingga tanganku bergerak sendiri tanpa perlu kupikirkan. Tepung terbubuk tipis di ujung hidungku, dan aku tersenyum sendiri melihat debu putih itu menari di bawah sinar matahari yang masuk lewat jendela dapur. Bau harum mentega dan gula mulai memenuhi ruangan, menciptakan rasa nyaman yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
“Lia, kamu sudah bangun?” Suara Ibu terdengar dari arah pintu kamarnya, pelan namun jelas.
Aku menoleh, tersenyum. “Sudah, Bu. Sarapan hampir siap.”
Ibu berjalan mendekat, rambutnya masih terurai sedikit, wajahnya tampak segar meski garis-garis halus di sudut matanya semakin terlihat akhir-akhir ini. Ia memelukku dari samping, mencium pelipisku dengan lembut. “Anakku rajin sekali. Kamu jangan terlalu lelah, ya.”
“Aku tidak lelah, Bu. Justru aku senang bisa membantu.” Aku menaruh sepotong roti hangat di piring dan menyodorkannya kepadanya. “Coba rasakan, apakah manisnya sudah pas?”
Ibu menggigit sedikit, lalu mengangguk puas, matanya menyipit senang. “Sangat enak, Lia. Selalu enak. Kamu mewarisi keahlian memasak Ayahmu.”
Nama Ayah selalu membuat hatiku berdenyut pelan, campuran rindu dan kehangatan. “Aku hanya ingin membuat Ibu bangga,” jawabku pelan.
“Kamu sudah membuatku bangga setiap hari,” kata Ibu lembut, menyentuh pipiku. “Jangan pernah merasa kurang, ya. Kita mungkin tidak punya banyak harta, tapi kita punya hati yang jujur. Itu harta yang paling berharga.”
Aku mengangguk, meski kadang aku bertanya-tanya apakah benar demikian. Di luar sana, dunia tampak begitu luas, penuh dengan orang-orang yang hidupnya jauh lebih mudah, yang tidak perlu memikirkan sisa uang di saku setiap kali membeli kebutuhan sehari-hari. Namun saat melihat wajah Ibu yang tenang, keraguan itu lenyap seketika. Cukup kami berdua. Cukup kami saling menjaga. Itu sudah lebih dari cukup.
Setelah sarapan, aku bergegas bersiap pergi ke toko roti. Aku mengenakan seragam sederhana berwarna krem, menyisir rambutku ke belakang dan mengikatnya rapi, lalu memeriksa tas kecilku — kunci, dompet berisi sedikit uang, dan selembar sapu tangan. Itu saja. Tidak ada yang istimewa. Aku melambaikan tangan pada Ibu yang berdiri di ambang pintu, lalu berjalan menyusuri jalan setapak yang berdebu menuju pusat kota.
Langkahku ringan. Udara pagi terasa segar, menyapa wajahku dengan lembut. Beberapa tetangga menyapa saat aku lewat, dan aku membalasnya dengan senyum tulus. Di desa kecil tempat kami tinggal, semua orang saling mengenal. Tidak ada rahasia, tidak ada kedengkian. Semuanya terasa begitu damai, begitu kekal. Aku berharap hidup akan terus begini selamanya — sederhana, hangat, penuh keakraban.
Toko roti tempatku bekerja tidak jauh dari rumah, hanya sekitar sepuluh menit berjalan kaki. Bangunannya kecil, berwarna cokelat pudar, dengan jendela besar yang memamerkan tumpukan roti dan kue-kue segar. Pemiliknya, Bu Ratna, adalah wanita baik hati yang sudah menganggapku seperti anak sendiri. Ia menyambutku dengan senyum lebar begitu aku masuk.
“Selamat pagi, Lia! Hari ini kamu datang tepat waktu seperti biasa.”
“Selamat pagi, Bu Ratna!” Aku tersenyum lebar, meletakkan tasku di rak sudut dan segera mencuci tangan. “Ada pesanan khusus hari ini?”
“Ada beberapa, tapi tidak terlalu banyak. Kamu bisa santai saja.” Bu Ratna mendekat, suaranya merendah sedikit. “Kamu terlihat segar pagi ini. Ada kabar baik?”
“Tidak ada apa-apa, Bu. Semuanya biasa saja.” Aku tertawa pelan. “Hanya hari biasa.”
“Begitukah? Kadang hari yang paling biasa justru menyimpan kejutan terbesar,” ucapnya sambil tersenyum penuh makna.
Aku hanya mengangguk, tidak terlalu memikirkannya. Saat itu aku belum tahu betapa benarnya kata-katanya.
Sepanjang pagi, aku sibuk melayani pembeli, mengemas roti, mengatur pajangan di etalase. Teman kerjaku, Sari, datang tak lama kemudian, dan kami mengobrol sambil bekerja, tertawa membicarakan hal-hal kecil — cuaca, tetangga, rencana liburan sederhana. Semuanya berjalan seperti biasa. Waktu seakan berjalan lambat, tenang, tanpa terburu-buru. Aku bahkan sempat berpikir bahwa hidup akan terus begini, bahwa tidak akan pernah ada perubahan besar yang datang mengganggu ketenangan kami.
Menjelang siang, langit sedikit mendung. Angin bertiup lebih kencang, membawa awan kelabu yang menutupi matahari. Suasana di luar berubah menjadi agak gelap, namun di dalam toko tetap hangat dan nyaman. Aku sedang menyusun kotak-kotak kue saat seseorang masuk.
Bukan pelanggan biasa.
Aku mengangkat wajah. Di ambang pintu berdiri dua orang berpakaian sangat rapi, pakaian yang terlihat mahal, kainnya halus dan berwarna gelap. Pria di depan tampak berusia sekitar lima puluh tahun, wajahnya tegas, tatapannya tajam namun sopan. Di belakangnya berdiri seorang wanita muda, mengenakan pakaian yang begitu rapi sehingga terasa kaku, matanya menatap sekeliling dengan pandangan yang sulit diartikan — seolah ia tidak biasa berada di tempat seperti ini. Mereka berdua berdiri diam sejenak, menatapku langsung, seakan mereka sudah tahu siapa aku, seakan mereka datang hanya untukku.
Jantungku tiba-tiba berdegup kencang tanpa alasan yang jelas. Tangan yang memegang kotak kue terasa sedikit gemetar.
“Selamat siang,” kata pria itu, suaranya berat dan tenang. “Apakah di sini tinggal atau bekerja seorang gadis bernama Lia?”
Suaranya tidak mengancam, tapi ada sesuatu dalam nada bicaranya yang membuatku merinding. Aku menelan ludah, perlahan maju selangkah. “Saya Lia. Ada apa, Pak?”
Mata pria itu melebar sedikit, seakan ia menemukan apa yang dicarinya. Ia mengangguk pelan, lalu melangkah masuk sepenuhnya. “Syukurlah. Kami mencarimu. Kami ingin berbicara denganmu — dan ibumu, segera.”
“Dengan Ibu?” Aku mengerutkan kening, kebingungan. “Siapa Bapak? Bagaimana Bapak mengenal kami?”
Pria itu tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya. “Nama saya Dirgantara. Saya pengurus urusan keluarga yang sangat berpengaruh di kota ini. Hal yang kami bicarakan penting, Lia. Sangat penting. Dan menyangkut masa depanmu.”
Kata-katanya terasa berat, menggantung di udara seperti awan hitam yang siap menurunkan hujan. Bu Ratna keluar dari ruang belakang, melihat kami, lalu berhenti di tempat, menatap dengan cemas. “Ada apa ini?” tanyanya pelan.
Pria bernama Dirgantara itu menoleh padanya sejenak, lalu kembali menatapku. “Maaf mengganggu pekerjaanmu. Tapi hal ini tidak bisa ditunda. Bisakah kami menemuimu dan ibumu sekarang juga?”
Aku berdiri terpaku, pikiranku berputar kacau. Siapa orang-orang ini? Mengapa mereka mencari kami? Apakah ada sesuatu yang terjadi, sesuatu yang tidak kutahu? Hati kecilku berbisik bahwa ini bukan hal baik, bahwa sesuatu yang besar dan menakutkan sedang berdiri di depan pintu kami. Namun di sisi lain, rasa ingin tahu dan sedikit kekhawatiran mendesakku untuk mengetahui kebenaran.
“Ibu sedang di rumah,” jawabku akhirnya, suaraku terdengar lebih tebal dari biasanya. “Kalau begitu, ikut saya.”
Aku pamit pada Bu Ratna dan Sari, menyuruh mereka tenang, meski hatiku sendiri sama sekali tidak tenang. Kami berjalan beriringan — aku di depan, mereka berdua di belakang. Jalan yang biasanya terasa singkat kini terasa begitu panjang. Setiap langkah terasa berat, seakan ada rantai tak kasat mata yang mengikat kakiku. Angin menderu pelan di antara pepohonan, seolah berbisik tentang perubahan yang tak bisa dihindari.
Sesampainya di depan rumah, aku melihat Ibu sedang menyiram tanaman di halaman. Ia menoleh saat mendengar langkah kami, tangannya yang memegang selang air terhenti di udara. Senyum di wajahnya perlahan memudar, digantikan oleh keraguan dan kecemasan saat melihat kedua orang asing itu berdiri di sampingku.
“Lia? Siapa mereka?” tanyanya, suaranya sedikit gemetar.
Aku menggeleng, tidak tahu harus menjawab apa. Pria bernama Dirgantara itu melangkah maju, menatap Ibu dengan tatapan yang penuh hormat namun juga penuh keseriusan.
“Ibu Sari?” tanyanya pelan.
Ibu mengangguk pelan. “Benar. Siapa Bapak?”
“Nama saya Dirgantara. Saya datang atas nama keluarga Arganata.”
Nama itu terdengar asing bagiku, tapi melihat wajah Ibu berubah pucat seketika, seakan seluruh kekasaan tubuhnya baru saja disedot pergi, aku tahu bahwa nama itu bukan sekadar nama. Itu adalah nama yang membawa beban, masa lalu yang selama ini tersembunyi, sesuatu yang Ibu simpan sendirian di dalam hatinya.
“Keluarga Arganata?” gumam Ibu, suaranya hampir tak terdengar. Ia mundur selangkah, bersandar pada dinding rumah agar tidak jatuh. “Mengapa mereka mengirim Bapak ke sini?”
“Karena ada sesuatu yang harus disampaikan, Bu. Sesuatu yang tidak bisa lagi ditunda,” jawab Dirgantara lembut. “Bolehkah kami masuk? Hal ini panjang dan penting.”
Ibu menatapku sekilas, matanya berkaca-kaca, penuh ketakutan dan kesedihan yang mendalam. Ia menarik napas panjang, lalu mengangguk pelan. “Silakan masuk.”
Kami duduk di ruang tamu yang sederhana — kursi kayu yang sudah agak usang, meja kecil dengan taplak buatan tangan, jendela yang menghadap ke halaman. Udara terasa berat, seakan ada sesuatu yang menekan dada kami masing-masing. Dirgantara duduk tegak, sementara wanita di sampingnya membuka tas dan mengeluarkan sebuah amplop tertutup rapat.
Ibu duduk di seberang mereka, tangannya saling meremas di pangkuan. Aku duduk di sampingnya, merangkul bahunya, berusaha memberi kekuatan meski aku sendiri gemetar.
“Katakan saja,” pinta Ibu pelan, suaranya bergetar. “Apa yang sebenarnya terjadi?”
Dirgantara menarik napas panjang, menatap kami berdua dengan tatapan yang sulit dibaca. “Keluarga Arganata adalah salah satu keluarga terkaya dan paling dihormati di negeri ini. Kepala keluarga, Tuan Arganata, baru saja meninggal dunia tiga hari yang lalu.”
Ia berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya meresap. Aku menahan napas.
“Sebelum berpulang, beliau meninggalkan wasiat — satu perjanjian yang dibuat bertahun-tahun yang lalu, jauh sebelum Lia lahir. Perjanjian antara beliau dan suami Ibu, almarhum ayah Lia.”
Jantungku berdebar kencang sekali. “Ayah?” bisikku. “Apa hubungannya Ayah dengan keluarga itu?”
Ibu menunduk, air mata mulai menetes di pipinya. “Ayahmu… dia adalah sahabat dekat Tuan Arganata. Mereka tumbuh bersama, seperti saudara. Lalu sesuatu terjadi, sesuatu yang memisahkan mereka. Dan perjanjian itu… tetap berlaku.”
Dirgantara mengangguk. “Benar. Dalam perjanjian itu tertulis: jika salah satu memiliki anak laki-laki dan yang lain anak perempuan, keduanya akan dijodohkan. Pernikahan itu akan menyatukan kembali persahabatan mereka, sekaligus menjaga keutuhan harta dan nama baik keluarga.”
Dunia seakan berhenti berputar sesaat. Aku menatap mereka satu per satu, pikiranku terasa kosong. “Dijodohkan?” tanyaku pelan, tidak percaya. “Siapa?”
Dirgantara menatapku lurus. “Engkau, Lia. Dan satu-satunya pewaris keluarga Arganata — Arga.”
Kata-kata itu melayang di udara, berat, tak terelakkan. Aku — gadis biasa yang hidup sederhana, yang hanya mengenal roti panggang dan halaman kecil — harus menikah dengan pewaris kekayaan yang tak terbayangkan? Itu terdengar seperti dongeng buruk, mimpi yang tidak masuk akal.
“Ini tidak mungkin,” gumamku, menggeleng. “Saya tidak mengenalnya. Dia tidak mengenal saya. Bagaimana bisa kami menikah?”
“Perjanjian ini sudah ditandatangani puluhan tahun lalu, Lia,” jawab Dirgantara lembut namun tegas. “Tuan Arganata berpesan sebelum meninggal: ini adalah keinginan terakhirnya. Dan Arga telah menyetujuinya.”
Aku menoleh ke Ibu, mencari penjelasan, mencari kebenaran. Ibu menangis diam-diam, tangannya menggenggam tanganku erat. “Maafkan aku, Lia,” ucapnya lirih. “Aku tidak pernah menyangka hal ini akan datang. Ayahmu… dia sangat mempercayai persahabatannya. Aku tidak tahu perjanjian ini sampai sekarang.”
Air mata mulai menggenang di mataku. Aku bukan marah pada Ibu. Aku hanya bingung, takut, merasa seakan tanah di bawah kakiku baru saja digantikan oleh sesuatu yang asing dan rapuh. Semua yang kucintai, semua yang kugenal — terancam berubah dalam sekejap mata.
“Jadi…” suaraku pecah, “saya harus pergi?”
Dirgantara mengangguk pelan. “Pernikahan akan dilangsungkan dalam waktu dua minggu. Engkau akan pindah ke kediaman utama keluarga Arganata. Di sana engkau akan mempersiapkan diri untuk menjadi istri Arga.”
Aku berdiri, tidak sanggup duduk lagi. Aku melangkah ke jendela, memandang ke luar — ke halaman kecil tempat aku bermain sejak kecil, ke pohon kamboja yang kutanam bersama Ayah, ke jalan setapak yang kulewati setiap pagi. Semua ini akan ditinggalkan. Semua ini akan menjadi kenangan saja.
Hari ini dimulai seperti hari lainnya. Sederhana, tenang, penuh kebiasaan yang nyaman. Namun sekarang, saat matahari mulai terbenam dan langit berubah menjadi ungu gelap, aku menyadari bahwa hari ini bukan lagi hari biasa. Ini adalah hari di mana takdir mengetuk pintu kami, membawa kabar yang akan mengubah seluruh hidupku.
Aku bukan lagi sekadar gadis biasa yang bebas memilih jalan hidupnya. Aku adalah bagian dari janji yang diucapkan orang lain, bertahun-tahun sebelum aku lahir. Dan entah aku mau atau tidak, aku harus melangkah ke dunia yang sama sekali asing — dunia kemewahan, aturan ketat, dan seseorang yang belum pernah kulihat wajahnya.
Aku memeluk diriku sendiri, menggigil meski udara tidak dingin. Di belakangku, Ibu menangis pelan. Pria itu menunggu jawaban. Dan di kejauhan, seakan ada bayangan seorang pria — Arga — berdiri di gerbang dunia yang megah namun dingin, menantiku untuk datang.
Hari biasa telah berakhir. Dan hari yang baru, yang penuh teka-teki dan ketidakpastian, baru saja dimulai.