H-3 pernikahan yang disusun dari keringatnya, Kalea Mahika mendapati kenyataan pahit. Reno, kekasih 8 tahunnya, menghamili Gisel, kakak kandungnya sendiri. Bukannya membela, orang tuanya justru memaksanya menyerahkan gaun, dekorasi, hingga calon suaminya demi menutup aib.
Dianggap anak durhaka karena menolak, Mahika memutus hubungan total, menjual rumah impiannya, lalu pergi merantau.
Di tanah rantau, Mahika bangkit menjadi pengusaha sukses dan bertemu Reagan Baskara, pria tegas yang menghargainya. Ketika mantan dan keluarganya kembali memohon maaf dalam kehancuran, Mahika hanya tersenyum dingin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGANTIN YANG DITUKAR
Udara sejuk Kota Bandung di pagi hari menyapa jendela kaca besar lantai dua Mahika Atelier di kawasan Dago Atas. Ruangan luas berdesain minimalis modern itu tampak sibuk namun teratur. Rak-rak pajangan yang semula kosong kini dipenuhi oleh deretan gaun pengantin modern, setelan jas eksklusif, serta sketsa rancangan busana haute couture yang memancarkan aura kemewahan kelas atas.
Berkat gelombang viralitas dari video kehancuran rumah mantan keluarganya beberapa waktu lalu yang secara tidak sengaja mendongkrak popularitas namanya nama Kalea Mahika melesat naik menjadi perbincangan hangat di media sosial. Publik maya tidak hanya bersimpati pada kisah hidupnya, tetapi juga jatuh cinta pada portofolio desainnya yang elegan dan berkarakter.
Hebatnya lagi, belum sempat Mahika Atelier resmi melakukan grand opening atau peluncuran produk perdana secara besar-besaran, seluruh katalog busana yang diunggah secara digital ke akun resmi butik sudah ludes dipesan oleh para calon pengantin dan sosialita ibu kota.
Mahika sendiri berdiri di dekat meja kerjanya, mengenakan setelan blazer abu-abu muda sambil memeriksa catatan inventaris pesanan. Wajahnya tampak segar, jauh berbeda dari bayangan wanita tertekan yang dulu terkekang di bawah tekanan keluarganya.
Namun, di balik kesuksesan kilat itu, Mahika menyadari satu masalah logistik kecil. Karena ia baru beberapa bulan pindah menetap di Bandung, ia belum terlalu paham mengenai seluk-beluk pasar tekstil lokal, jaringan distribusi bahan baku premium, serta supplier aksesori garmen terbaik di kota kembang ini.
Tepat saat ia sedang memilah daftar kontak pengusaha kain, pintu ruang kerjanya diketuk pelan, lalu muncullah sesosok pria berjas rapi dengan postur tinggi tegap dan tatapan mata setajam elang.
Reagan Baskara.
Pria dingin dan efisien itu melangkah masuk tanpa diundang, membawa secangkir americano dingin di tangan kanannya. Ia melirik sekilas ke arah tumpukan buku pesanan yang memenuhi meja Mahika, lalu mendengus pelan.
"Habis manis sepah dibuang, habis viral stok langsung ludes," komentar Reagan dengan nada datar khasnya, melabuhkan pantatnya di salah satu sofa beludru putih tanpaamba-amba. Ia meneguk minumannya sejenak sebelum menatap Mahika. "Kamu ini desainer apa cenayang, Mahika? Koleksi belum resmi dipajang di manekin, tapi pre-order udah ludes sampai tiga bulan ke depan."
Mahika mendengus kecil, memutar bola matanya malas menghadapi gaya bicara atasannya yang sarkas tapi logis itu. "Bukan cenayang, Pak Reagan. Namanya juga strategi pemasaran digital yang dibantu skandal gratisan dari keluarga sendiri," balas Mahika santai, ikut duduk di sofa seberang Reagan.
Reagan menyunggingkan senyum miring tipis senyum langka yang jarang ia tunjukkan pada orang lain. Pria itu menyandarkan punggungnya, lalu menatap Mahika dari atas sampai bawah dengan tatapan penuh evaluasi.
"Ngomong-ngomong soal keluargamu..." panggil Reagan tiba-tiba, suaranya berubah sedikit lebih serius namun tetap bernada santai mengejek. "Aku sempat lihat berita lokal dan gosip media sosial soal mantan tunangan mokondo-mu itu sama keluarga parasitnya."
Mahika menghentikan gerakannya, menatap Reagan dengan sebelah alis terangkat. "Kenapa emangnya?"
"Ya ampun, Mahika..." ucap Reagan menggelengkan kepala, memasang ekspresi prihatin yang dibuat-buat. "Kalau diingat-ingat lagi, perjuanganmu selama bertahun-tahun kemarin itu benar-benar level kebodohan hakiki. Bisa-bisanya kamu tahan hidup bersama sekumpulan parasit yang kerjanya cuma memeras tenaga dan uangmu, demi menghidupi cowok mokondo yang nggak punya masa depan."
Reagan menyesap kafenya lagi, lalu melirik tajam. "Untung saja sekarang kesurupan bodohmu itu sudah sembuh total. Kalau kamu masih bertahan setahun lagi di sana, mungkin kamu bukan cuma jadi desainer, tapi udah alih profesi jadi badut sosial."
"Astaghfirullah. Walaupun kalimat itu diucapkan dengan nada santai dan muka cool tanpa dosa, kata-kata Reagan sukses menohok ulu hati Mahika sekaligus membuatnya ingin melempar bantalan sofa ke wajah pria itu.
"Enak saja ngomong!" protes Mahika setengah bergidik jengkel, meski bibirnya sendiri ikut tersenyum tipis. "Namanya juga proses pendewasaan, Pak Reagan yang terhormat. Manusia kan tempatnya khilaf, khilaf melihara buaya darat maksudnya."
"Khilafnya kelewatan batas," cibir Reagan dingin namun jenaka. "Tapi, yah... syukurlah. Setidaknya sekarang kamu kelihatan jauh lebih hidup. Nggak pucat kayak mayat hidup yang kerja rodi tiap hari buat biayain nikahan orang lain."
Mahika menarik napas dalam-dalam, menahan tawa campur sebal. Ia tahu, di balik lidah tajam dan celetukan asalnya itu, Reagan adalah orang pertama yang paling andal melindunginya dan menyediakan seluruh infrastruktur Mahika Atelier hingga sebesar ini.
"Iya, iya, bawel banget bos muda satu ini," sungut Mahika pura-pura kesal, lalu mengubah topik pembicaraan sambil mencondongkan tubuhnya ke depan meja. "Daripada kamu sibuk menghakimi masa laluku yang kelam, lebih baik bantu aku sekarang."
Reagan menaikkan sebelah alisnya. "Bantu apa lagi? Modis, tempat, modal, logistik, semuanya dari Baskara Group udah tak sediakan. Jangan bilang kamu mau minta dibelikan pabrik tekstilnya juga?"
"Bukan pabrik, ih!" protes Mahika gemas. "Aku kan belum tahu seluk-beluk Kota Bandung secara mendalam. Minggu depan kita butuh tambahan supplier kain sutra motif khusus dan pengrajin bordir lokal berkualitas tinggi buat lini busana pengantin tradisional. Kamu punya rekomendasi relasi nggak? Biar aku nggak salah jalan dan kena tipis makelar nakal."
Reagan terdiam sejenak, menatap Mahika lekat-lekat. Sisa senyum tipis di bibirnya perlahan memudar, digantikan oleh raut wajah profesional yang kembali dingin dan efisien. Ia meletakkan cangkirnya di atas meja.
"Soal itu gampang," jawab Reagan tenang. "Nanti sore asistenku bakal kirim daftar tiga besar pabrik tekstil dan pusat perajin tenun terbaik di Bandung yang udah terverifikasi standar ekspor. Pilih aja mana yang cocok sama seleramu. Kalau ada yang berani main-main harga atau kasih barang jelek ke butikmu, bilang ke aku... biar langsung kubelikan pabriknya sekalian buat ditutup."
Meskipun diucapkan dengan gaya bicara asal dan cool khas Reagan, Mahika tahu pria itu tidak sedang bercanda soal totalitas dukungannya.
Mahika tersenyum tulus, menggelengkan kepala pelan. "Siap, Bos Besar. Makasih banyak bantuannya."
"Sama-sama," balas Reagan berdiri dari sofa, merapikan jasnya dengan gerakan elegan. "Ingat, fokus kerja yang bener. Jangan bikin malu nama Mahika Atelier yang udah bersusah payah kubangun di atas reruntuhan drama sinetron keluargamu itu."
Tanpa menunggu balasan dari Mahika, Reagan berbalik badan dan melangkah keluar ruangan dengan langkah mantap, meninggalkan aroma parfum maskulin yang samar di udara serta secangkir americano yang sudah hampir habis menandakan dimulainya hari baru yang penuh kemenangan bagi Kalea Mahika di Kota Bandung.
untuk makan aja mereka susah ini malah mau neror Mahika 😝😝😝😝
kok "tatanan rambut di gulung longgar"🤔🤔🤔
posisi Ratu apa yang kamu janjikan Reno 😡😡😡😡toh semuanya Mahika yang biayanya
kesuksesan mu sedang menunggu di depan 💪