NovelToon NovelToon
DI BALIK PINTU KAMAR PENGANTIN

DI BALIK PINTU KAMAR PENGANTIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Nikahmuda / Penyelamat
Popularitas:138.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mae_jer

Zavian Hartwell, 38 tahun. Menikah dengan Viona Lestari, janda anak satu. Zavian kaget karena setelah menikah, Viona malah menyodorkan putrinya untuk melakukan malam pertama mereka.

"Viona, kau gila? Dia putrimu. Dia masih anak-anak, " Zavian.

"Kita menikah karena bisnis, aku punya laki-laki lain. Tapi kau akan tetap akan merasakan malam pertama, dengan putriku. Dia akan menggantikan aku." Viona

"Tapi bunda ..." Mirella menatap ibunya memohon.

"Diam, lakukan perintah bunda. Kalau tidak, kamu akan di kirim ke luar negeri. Puaskan daddy Zavian!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1

Zavian Hartwell (38) menikah dengan Viona Lestari (38), seorang janda cantik dan ambisius.

Pernikahan mereka murni karena bisnis, menggabungkan dua perusahaan besar, Hartwell Corp & Lestari Group.

Zavian mengira pernikahan ini hanya akan dingin dan profesional, bukan gila. Siapa sangka dia akan di sodorkan Mirella, putri Viona.

Mirella Lestari (18 tahun), putri Viona, tidak pernah benar-benar di cintai oleh ibunya karena kata Viona, kelahirannya hanyalah sebuah kesalahan dari masa muda Viona dengan seorang laki-laki brengsek. Mirella beruntung Viona tidak membuangnya. Sepanjang hidupnya, Mirella hidup dalam sangkar yang di buat oleh ibu kandungnya sendiri.

___________________

Hari pernikahan

Lampu-lampu kristal di aula pernikahan perlahan dipadamkan ketika para tamu terakhir meninggalkan ruangan, pernikahan konglomerat.

Zavian Hartwell berdiri di tengah ruangan yang kosong itu, menatap pelan kursi-kursi yang tadi dipenuhi senyum palsu. Ia mengembuskan napas panjang, merapikan dasi yang sudah ia longgarkan sejak satu jam lalu.

Pernikahan ini bukan pernikahan impiannya. Tidak ada cinta. Tidak ada degup jantung yang memburu. Tidak ada rasa memiliki. Hanya kontrak bisnis dan kesepakatan antara dua nama besar di dunia perusahaan.

Tapi ia tetap melakukan bagian yang harus ia lakukan. Zavian melirik pintu ketika seorang pelayan memberi hormat canggung.

"Pak Hartwell, bu Viona sudah menuju kamar pengantin."

Zavian mengangguk pelan.

"Aku tahu, terima kasih."

Langkahnya mantap namun hatinya berat. Ia sudah siap dengan kenyataan bahwa malam pertama hanyalah formalitas. Ia bahkan sudah mempersiapkan diri untuk penolakan halus, dingin, atau mungkin percakapan dewasa untuk menentukan batasan pernikahan bisnis ini.

Tapi ia tidak pernah membayangkan apa yang menunggunya. Lelaki itu melangkah dengan pasti namun kaku, seperti biasa.

Pintu kamar pengantin terbuka dengan lembut ketika Zavian masuk. Ruangan itu elegan, dinding putih, lilin aromaterapi, tirai berwarna champagne. Namun suasana yang seharusnya hangat terasa kosong. Viona duduk di tepi ranjang dengan gaun malam satin biru tua, rambutnya masih tertata rapi seperti saat resepsi.

Tidak ada senyum istri baru. Hanya tatapan datar, dingin, dan manipulatif.

"Lama sekali, suamiku." katanya tanpa menoleh.

Zavian melepas jas tuxedo-nya, menggantungnya di kursi.

"Aku baru memastikan semuanya beres di bawah. Viona, kita bisa bicara sebentar soal ..."

"Tidak perlu panjang-panjang."

Viona berdiri, mengambil segelas wine, menyesapnya pelan.

"Aku ingin malam ini cepat selesai."

Zavian mengerutkan kening.

"Kalau kau tidak siap, kita bisa,"

"Aku tidak akan melakukannya," potongnya dingin.

"Kau dan aku menikah karena bisnis. Aku tidak perlu menjalankan kewajiban istri."

Zavian tertegun. Ia sudah menduga sikap dingin itu, tapi tidak seblak-blakan ini. Meski ia juga senang Viona tidak menginginkan berhubungan intim dengannya. Itu sesuatu yang tidak perlu dia takutkan sekarang. Meski begitu, Zavian pura-pura menunjukkan kalau dia cukup terkejut.

"Viona, kita bisa membuat kesepakatan nanti. Tapi malam ini,"

"Tenang saja, aku sudah menyiapkan penggantinya."

Zavian mengangkat wajah, bingung.

"Apa maksudmu?"

Viona berjalan ke pintu samping. Tanpa ragu, ia menarik seseorang masuk.

Seorang gadis.

Seorang gadis muda. Zavian kenal, baru bertemu beberapa kali tapi ia merasa gadis itu cukup menarik, tidak seperti ibunya yang ambisius.

"Mirella," bisik Zavian, kaget bukan main.

Putri Viona. Usia delapan belas tahun. Cantik dengan cara yang lembut dan rapuh, tidak seperti ibunya yang penuh aura dominasi.

Mirella berdiri dengan tubuh gemetar, lengan memeluk dirinya sendiri, kepalanya tertunduk. Rambut cokelatnya tergerai, wajahnya pucat bagai kertas.

"Ini penggantiku," ucap Viona santai, seolah menawarkan kosmetik, bukan manusia.

"Dia akan menjalankan malam pertama untukmu. Kau bisa melakukan apapun yang kau inginkan bersama putriku."

Jantung Zavian berhenti sepersekian detik.

"Apa kau gila? Dia putrimu."

Suara Zavian merendah tapi penuh api.

"Dan dia masih sangat muda! Masih anak-anak Viona!"

"18 tahun, dewasa secara hukum," balas Viona enteng.

"Dan yang terpenting, dia tunduk padaku. Apapun yang ku perintahkan dia akan melakukannya. Iya kan putriku yang manis?"

Mirella menggeleng cepat,

"Bunda… tapi aku ..." suaranya hampir pecah.

Viona memutar mata, lalu mencengkeram dagu Mirella paksa.

"Diam dan lakukan perintah bunda. Kau mau aku kirim ke Austria? Mau aku masukkan ke kamp disiplin itu? Mau aku hancurkan hidupmu?"

Mirella menutup mulut, menahan tangis.

Zavian melangkah maju, berdiri di antara mereka.

"Viona, ini tidak masuk akal. Dia putrimu. Aku tidak akan ..."

"Kau akan."

Viona menatapnya dengan senyum kejam.

"Atau kontrak merger gugur. Kau pikir perusahaanmu bisa bertahan tanpa Lestari Group? Kau pikir direksi tidak akan menghancurkanmu karena membatalkan kesepakatan setelah pernikahan diumumkan?"

Ia tersenyum seperti singa yang mencium bau darah.

"Kau butuh aku, Zavian. Dan jika kau tidak mau menyentuhku … sentuh dia. Setidaknya kau dapat sesuatu."

Zavian merasakan darahnya mendidih.

Viona Lestari tidak hanya manipulatif. Ia berbahaya. Dan sekarang, Zavian tidak bisa berbuat apa pun. Karena wanita itu memegang kendali atas segalanya. Dia tidak percaya akan ada masa di mana dirinya tunduk pada seorang wanita manipulatif seperti Viona. Tapi Mirella, gadis itu masih anak-anak. Tidak mungkin dia dan gadis itu ..."

"Mirella," Zavian menatap gadis itu, suaranya melembut.

"Keluar. Kamu tidak perlu ..."

"TIDAK!" Viona membentak.

"Dia tetap di sini sampai aku bilang boleh pergi. Malam pertama, akan tetap dilakukan. Aku ingin Mirella mengandung anakmu. Dengan begitu, kerjasama kita akan semakin sempurna. Semua orang akan melihat kita adalah pasangan yang sempurna. Kalau Mirella mengandung, anak itu akan menjadi anakku."

Mirella berdiri kaku, menatap lantai. Tubuhnya seperti lilin yang mulai meleleh karena ketakutan.

Zavian menghela napas dalam, menahan diri, matanya tajam menatap Viona.

"Kau sakit. Dan pernikahan ini akan berakhir jauh lebih cepat dari yang kau kira."

Viona justru terkekeh.

"Kau pikir bisa meninggalkanku begitu saja? Kau ingin aku menemui mamamu dan bilang kau ingin menceraikan aku? Kau ingin lihat mamamu mati?"

Zavian mengepal tangan.

Ia bisa menghancurkan wanita ini. Tapi tidak bisa sekarang, kalau dia melakukannya sekarang, mamanya pasti terkena serangan jantung lagi. Viona memiliki kendali itu. Mamanya sangat menyayangi wanita itu. Ia terpaksa menikah juga karena mamanya drop saat ia menolak menikah dengan Viona. Sebenarnya apa mau wanita ini? Mereka sama-sama tidak saling mencintai, tapi dia bersikeras menikahinya, dan sekarang ...

Ingin dia dan Mirella putrinya ... Viona benar-benar sudah gila.

Zavian menoleh lagi pada gadis yang gemetar itu.

"Mirella," katanya lembut,

"Kau boleh pergi."

Mirella tetap diam di tempat. Dia lebih takut pada ancaman ibunya.

Viona tertawa sinis.

"Putriku anak yang manis, dia akan melakukan apapun yang aku inginkan." kata Viona.

Aku akan meninggalkan kalian berdua. Selamat menikmati malam pertama kalian. Ingat, buat putriku hamil."

Setelah mengatakan itu, Viona keluar dari kamar tersebut, meninggalkan Zavian dan Mirella berdua.

1
Naufal Affiq
berhubung itu kamar daddy mu mirella,dia lupa kalau kau ada di kamarnya,jadi jangan pakai hati ya mirella aku takut kau beneran cinta sama daddy mu
🍒WINA🍒
Daddy zavian sangat gercap menyelamatkan mirella, agar tidak terkena pecahan lampu. semoga daddy zavian bisa menjaga dan melindungi mirellax dari bundanya yg berhati iblis itu🤭

daddy zavian sayang sama mirella sangat tulus dan ikhlas, tapi penasaran mirella jadian sama siapa ya daddy zavian/bara ya...
Ayi lubis
terbaik
vnablu
Semangat terus maeee buat menulis karyanya untuk menghibur kamiii semuaaa 🥰🥰
~Hartwyn_Dee~
zavian perhatian banget...lama" Mirella bisa suka beneran ....
~Hartwyn_Dee~
pasti ini ulah Viona
Syakirah Dzaky
Aki koq pingin mirellla sama daddy zavian🤭
Magichand01 86
rajin2 uuppp
Magichand01 86
masih samar2 ini mirella sm siapa wkwkwk
Tuti Tyastuti
𝘤𝘰𝘣𝘢 𝘣𝘪𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘴𝘮 𝘥𝘢𝘥𝘥𝘺 𝘻𝘢𝘷𝘪𝘢𝘯 𝘮𝘪𝘳𝘦 𝘥𝘢𝘯 𝘫𝘶𝘫𝘶𝘳
Tuti Tyastuti
𝘢𝘺𝘰 𝘮𝘪𝘳𝘦𝘭𝘢 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵
Naufal Affiq
aku takut perhatian membuat mirella,terbang ke awan zavian,
faridah ida
Zavian perhatian.banget sama Mirrela , .. semoga Viona gak bikin ulah lagi ...
Ita rahmawati
eh ada apa dg lampunya
Fitria Syafei
KK cantik Mantaf 😍 kereen 🥰 terimakasih 😘
Al Fatih
Daddy zavian sebaik itu......,, istrinya malah kayak ratunya para setan😡
Naufal Affiq
aku yakin ini ulah bunda mu merella
faridah ida
kok bisa pecah ya lampu nya ... 🤔
apa ada yang sabotase ...
stefani n.i.s
nah gitu dong masa seorang laki² bisa dikendalikan oleh perempuan setan. diancam ya diancam balik lagi aja. kasihan Mirella tdk pernah dpt kasih sayang..bapak kandung nya Mirella kemana sih thor
Syakirah Dzaky
Aku takut terjadi cinta terlarang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!