NovelToon NovelToon
Gadis Desa Diremehkan Ternyata Tabib Legendaris

Gadis Desa Diremehkan Ternyata Tabib Legendaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Mengubah Takdir
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Astiana Larasati turun ke ibu kota dengan ilmu bela diri kuno, pengobatan ajaib, dan kemampuan mendengar niat jahat untuk mencari orang tua kandungnya. Berpandukan liontin yang bisa menyala hijau, Astiana menavigasi intrik para elit kota sambil mati-matian menekan kekuatannya demi mematuhi amanat kakek angkatnya untuk hidup rendah hati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Tok tok tok.

Suara ketukan pintu yang ritmis membangunkan Astiana dari tidur nyenyaknya.

Matahari pagi sudah menyusup masuk melalui celah gorden jendela kamar paviliun.

"Nona Astiana, apa Anda sudah bangun."

Suara cempreng Nadin terdengar samar dari balik pintu kayu jati tersebut.

Astiana meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa sangat segar setelah tidur di kasur mewah.

"Aku sudah bangun, Nadin, masuk saja pintunya tidak dikunci."

Ceklek.

Nadin membuka pintu sambil membawa sebuah nampan berisi segelas teh hangat dan beberapa potong kue.

"Selamat pagi, Nona, Tuan Besar mengundang Nona untuk sarapan bersama di ruang makan utama."

Nadin meletakkan nampan itu di atas meja kecil di dekat sofa kamar.

"Wah, repot-repot sekali pakai diantar segala, aku kan bisa langsung ke sana."

"Ah, tidak apa-apa, Nona, ini sudah tugas saya sebagai pelayan di rumah ini."

Nadin tersenyum lebar sambil merapikan pakaian ganti yang sudah dia siapkan semalam.

"Itu ada baju bersih untuk Nona pakai sarapan hari ini."

"Baju Nona yang kemarin sudah saya masukkan ke mesin cuci dan sedang dikeringkan."

"Terima kasih banyak, Nadin, kamu rajin sekali."

Astiana beranjak dari kasur dan mengambil pakaian yang disiapkan oleh Nadin.

Itu adalah sebuah kemeja lengan panjang berwarna biru muda dan celana kulot hitam yang terlihat sangat rapi.

Meskipun sederhana, bahannya terasa sangat mahal dan dingin di kulit Astiana.

"Aku akan mandi sebentar lalu segera menyusul ke ruang makan utama."

"Baik, Nona, saya tunggu di luar untuk mengantar Nona ke sana ya."

Lima belas menit kemudian, Astiana sudah terlihat rapi dan segar.

Dia berjalan mengikuti Nadin melewati lorong paviliun menuju bangunan utama rumah keluarga Darma.

Rumah ini terlihat jauh lebih besar dan megah jika dilihat pada siang hari.

Ada banyak lukisan mahal dan guci keramik antik yang dipajang di setiap sudut ruangan.

"Pasti harganya bisa untuk makan satu desa selama setahun."

Astiana membatin saat melihat sebuah guci besar bermotif naga emas.

Mereka akhirnya tiba di sebuah ruang makan besar yang dihiasi lampu gantung kristal raksasa.

Sebuah meja makan panjang dari kayu mahoni berada di tengah ruangan tersebut.

Pak Darma sudah duduk di kursi ujung utama dengan pakaian santai namun tetap terlihat berwibawa.

Di sebelah kanannya, duduklah Raka yang sedang serius menatap layar tablet tipis di tangannya.

Pemuda itu mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung sampai siku.

"Selamat pagi, Nak Astiana, ayo silakan duduk di sini."

Pak Darma menunjuk sebuah kursi kosong yang berseberangan langsung dengan posisi duduk Raka.

"Selamat pagi juga, Kakek Darma, terima kasih atas tumpangannya semalam."

Astiana menunduk sopan lalu menarik kursi tersebut perlahan.

Srek.

Bunyi gesekan kaki kursi dengan lantai marmer membuat Raka mengalihkan pandangannya dari layar tablet.

Mata tajam pemuda itu langsung mengunci tatapan Astiana dengan sorot permusuhan yang sangat kental.

"Kakek, kenapa kakek mengundangnya sarapan di meja yang sama dengan kita."

Raka meletakkan tabletnya di atas meja dengan sedikit kasar.

"Raka, jaga sopan santunmu pada tamu dan penyelamat kakek."

Pak Darma menegur cucunya dengan nada datar yang penuh peringatan.

"Tamu apa, dia ini tidak lebih dari gadis mencurigakan yang asal-usulnya tidak jelas."

Raka menudingkan jari telunjuknya ke arah wajah Astiana.

Astiana sama sekali tidak marah apalagi terpancing emosi melihat tingkah kasar pemuda ini.

Dia justru mengambil sepotong roti bakar dari keranjang di depannya dengan sangat santai.

Kriuk.

Astiana menggigit roti bakar itu dan mengunyahnya dengan tenang seolah Raka tidak ada di sana.

"Astaga, gadis ini benar-benar punya urat malu yang sudah putus."

Suara hati Raka berteriak kesal melihat reaksi Astiana yang sangat cuek.

"Aku sudah menyuruh anak buahku untuk menyelidiki latar belakangnya semalaman suntuk."

Raka mulai berbicara dengan nada penuh kemenangan sambil menyeringai sinis.

"Oh ya, lalu apa yang kau temukan, Tuan Muda Raka."

Astiana akhirnya menelan roti bakarnya dan menatap lurus ke arah mata Raka.

"Aku menemukan fakta bahwa kau ini adalah manusia fiktif."

Raka mencondongkan tubuhnya ke depan dan menekan layar tabletnya dengan keras.

"Anak buahku mengecek semua rekaman CCTV di Stasiun Gambir sejak kemarin pagi."

"Memang ada rekamanmu turun dari kereta ekonomi yang berasal dari Jawa Tengah."

Raka mulai menjabarkan hasil penyelidikan anak buahnya yang sangat cepat dan efisien.

"Tapi saat kami mengecek manifes penumpang kereta itu, tidak ada nama Astiana Larasati di sana."

Pak Darma sedikit mengernyitkan dahinya mendengar informasi dari cucunya tersebut.

"Raka, mungkin dia memakai nama panggilan atau nama keluarganya."

"Tidak, Kakek, anak buahku sudah mengecek database kependudukan nasional juga."

Raka menggelengkan kepalanya dengan sangat yakin.

"Sidik jari dan wajahnya tidak terdaftar di sistem kartu tanda penduduk mana pun di negara ini."

"Dia tidak punya rekam jejak sekolah, tidak punya rekening bank, dan tidak punya alamat rumah yang sah."

Raka melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap Astiana dengan tatapan menuduh.

"Katakan padaku, gadis hantu, siapa yang mengirimmu ke keluarga kami."

Suasana di ruang makan utama itu mendadak menjadi sangat tegang dan sunyi.

1
Was pray
ngapainn membocorkan identitasmu pada tuan Kusuma sih astiana? kan itu beresiko buat keluarga darma... jamu gak berbakat jadi agen rahasia/ intelijen. kemampuanotakmu gak memenuhi syarat
Was pray
yeee ... jangan samakan kita metropolitan dengan kampung di puncak gunung yg primitif astiana... makanya punya HP gunakan untuk update pengetahuan bukan cuma buat ngisi kantong bututmu.... biar kuoeng... 🤣
Was pray: kampung it's oke.... tapi jangan sampai rampungan... malu maluin orang asal pedesaan .
total 4 replies
kiyoe
okeii Kaka terima kasih yaaa 🥰
Diana Lely
lanjut thor...makin rame aja...
Was pray
ternyata astiana benar-benar bodoh... seharusnya jam tangan bima jangan dia yang ambil .. bisa minta agar Raka yg mengambil jam itu dari semak2, kalau jam itu ditangan astiana ya otomatis menjadi bukti bahwa astiana benar2 mencuri .. dan bima juga tolol, udah jelas barang bukti ada ditangan astiana seharusnya itu jadi bukti kalau tuduhan mencuri itu benar..ha... ga... ga.... alur ceritanya jadi aneh.
Was pray
buat masalah tapi gak becus menyelesaikan masalah yg ditimbulkannya, idan menyeret orang lain dalam lingkaran permasalahan itu ciri-ciri pengecat
Was pray
hatimu penuh empati tapi otakmu tebal astiana
Was pray
astiana terlalu berani apa bodoh sih sebenarnyar? keberanian tanpa berpikir panjang bukan menyelesaikan masalah , tapi memicu permasalahan yg lebih besar resikonya, tujuan utama dikesampingkan cuma gara sok bijak dengan ikut campur urusan yg bukan urusannya
Was pray
emang burung elangnya terbuat dari karet?, kok bisa melilit ? kecuali kalau burung elang ya lagi lapar ... terus perut elang melilit .. karena perut si elang lapar. .🤭🤭🤣
🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥ 💎
rasakan, akhirnya tempat kasino itu hancur 🤣

selamat untuk memperbaiki semua kerusakannya pak manajer 🤣🤣
Anisa
gila² thor😄
kiyoe: Hehehe 🤭
total 1 replies
Was pray
jakarta jadi surga buat orang kaya, tapi neraka bagi orang miskin
kiyoe: heheheh iyaa bener Kak
total 3 replies
Was pray
hati manusia bisa sekeras baja jika privasinya terusik, tapi bisa jadi selembut salju jika hatinya tersentuh oleh hutang Budi / nyawa
kiyoe: iyaa bener kak 🤭
total 1 replies
🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥ 💎
Astiana yang menyamar, tapi, aku malah ikut deg degan /Scream/
kiyoe: wkwkw tembak tembak dor dor dor
total 5 replies
Was pray
gak sekolah dari SD - SMA langsung kuliah..... wao... amazing... gak sekalian ambil gelar doktor tuh astiana....? 🤣🤣🤣
Was pray
Adrian cuma lulus TK doang Raka... 🤣🤣
Was pray
baru tau dan nyadar ya astiana?
Was pray
mencari seseorang /keluarga di jakarta tanpa alamat yg pasti kayak mencari jarum di lapangan sepakbola... hadeh... capek deh Nemu orang kayak model astiana ini
kiyoe: heheheh iyaa kak untung gak jadi gembel
total 5 replies
Anisa
wihh deg-degan thor😄
kiyoe: hehehe tunggu bab selanjutnya kak pasti deg-degan juga 🤭
total 1 replies
Siskasuryaningsih
knpa bibi nya gk di hajar tadi sebentar, kan enak tu
kiyoe: kan Astiana di suruh baik hati sama alm kakek yang merawat Astiana dari kecil kak hehe
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!