Setelah menjadi istri Ardiaz Kavian, Tya semakin tahu karakter orang-orang di keluarga besar Kavian. Sebagai seorang insan yang biasa hidup tenang meski ekonomi pas-pasan, kini dirinya harus terbiasa dengan pasang surut permasalahan di keluarga suami yang tidak kekurangan harta tapi miskin ilmu agama.
"Yang penting suami dan mertua baik, yang sirik biarkan saja berisik."
MENANTU IBU 2
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Lidah Mertua
Snack untuk rapat di kantor kelurahan sebanyak 100 kotak selesai dikemas. Mendengar rencana mau dikirim oleh Bisma dengan menggunakan motor, Tya menawarkan diri mengantar menggunakan mobilnya. Namun sang kakak menolak mengingat jalur yang ditempuh sering macet. Bisa telat sampai. Lebih sat set memakai motor.
"Gimana bawanya 4 kantong gini, Kak? Dua balikan?" tanya Tya yang membantu menyusun kotak snack ke dalam kantong kresek besar.
"Aman. Bisa satu kali. Sama Aris perginya. Dia pegang dua di belakang, depan bisa dua."
Tya baru percaya begitu melihat sendiri dari teras. Aris yang merupakan tetangga yang rumahnya dekat Mpok Iyam memang sering disuruh Bisma jika ada pekerjaan apapun dan orangnya selalu antusias.
"Ayah, hati-hati ya, Ayah." Nesha melambaikan tangan. Sudah menjadi kebiasaan setiap kali melihat sang ayah mau berangkat.
"Siap, sayang." Bisma membalas lambaian sang anak sebelum ngegas motornya.
Tya senyum-senyum sendiri. Rindu berada di tengah keluarga dengan kebiasaan sehari-hari yang mengedepankan komunikatif. Sayangnya, malam ini tak bisa menginap lagi karena mengikuti suami yang harus kembali ke Jakarta.
"Ayo siap-siap giliran kita pergi, Nes."
"Yes!" Nesha melompat girang. Mengikuti langkah Tya yang mendahului masuk ke dalam rumah. "Joko diajak nggak, Tante? Kan bestie," ujarnya sambil terkikik.
"Ajak lah. Kan Joko tuh kakakmu juga. Awas aja jangan sampai eek di mobil." Tya menjulurkan lidah. Puas bisa membalas candaan Nesha.
"Oh no! Gawat kalau Joko lari-lari, bisa ilang. Nanti Ayah tantrum."
Tya tergelak. Bisa-bisanya Nesha menjawab seperti itu. Tawanya terhenti begitu mendengar suara yang berucap salam.
"Wa'alaikumsalam. Eh, ada oma nya Nesha. Masuk, Mama." Tya menghampiri ibunya Susan yang hanya berdiri di ambang pintu. Tak lupa tata krama dengan menyalami. Nesha yang tak segera mendekat juga diajak menyalami neneknya itu.
Tya sedikit mengernyit karena sang tamu yang membawa satu kantong besar belum bersuara. Susan tak bercerita kalau mamanya akan datang. Bisa jadi memang sengaja tak memberi tahu.
"Tya, dari kapan ada di sini?"
"Dari kemarin, Ma. Suami lagi dinas..."
"Oh. Mau berapa hari di sini? Maksud saya, kasian Susan jadi beban pekerjaan rumahnya nambah. Kalau ada pembantu sih nggak masalah. Tapi ya Bisma mana mampu bayar. Pegawai yang datang kan cuma khusus bantu-bantu bikin kue."
Huft. Sabar-sabar menghadapi nenek lampir. Dari dulu nggak berubah nyinyir mulu.
"Tenang, Ma. Aku nggak mungkin merepotkan Mbak Susan. Nanti sore juga aku kembali ke Jakarta." Tya tetap merespon dengan santai dan ramah. Kalau niat, bisa aja menepuk dada sambil bilang, "Siapa yang support usaha mbak Susan sampai jadi toko estetik gini? Aku, suami, dan mertuaku. Kak Bisma udah pasti jadi suporter utama."
Tapi tidak. Tya memilih tidak meladeni. "Nesha, kasih tahu bunda ada oma datang."
Nesha berlari ke arah dapur. Tya mempersilakan Yati masuk dengan membuka tangan ke arah sofa di ruang tamu. "Ke sini sendirian, Ma?"
"Iya. Saya baru pulang jalan-jalan dari Yogyakarta. Mau ngasih oleh-oleh baju batik sama makanan khas Jogja buat Susan sama Nesha. Nggak tahu kalau ada Tya di sini. Jadinya ini bawa oleh-olehnya pas."
"Oh, aku mah nggak usah dikasih, Ma. Mertuaku malah nggak perlu nunggu momen liburan buat ngasih oleh-oleh ke aku. Seminggu sekali ngasih oleh-oleh perhiasan emas tiap pulang kantor. Kalau aku pakai semua, udah kayak toko emas berjalan. Untung aku nggak suka glamor. Disimpan aja perhiasannya, pakainya giliran."
Yati mendelik lalu melirik tajam ke arah kedua tangan Tya yang baru disadarinya memakai gelang dan dua cincin. Modelnya bagus dan kilaunya menarik hati.
"Berlebihan kamu. Mana ada tiap minggu dikasih emas. Kalau dikasih sekali sih percaya."
Hihihi. Ada yang kepanasan. Dah tua nyinyir terus sih, Mama Yati.
Untung yang Tya anggap keluarga cuma Susan nya saja. Ibunya Susan memang dari awal tidak merestui nikah dengan Bisma. Hanya ayahnya Susan yang bijak mendukung pilihan anaknya.
"Ma, nggak bilang dulu kalau mau ke sini." Susan datang bersama Nesha masih mengenakan apron. Sekaligus menginterupsi obrolan mamanya dengan Tya.
"Kalau telepon dulu nanti kamu bilangnya jangan datang sekarang alasan lagi sibuk. Padahal sengaja nutupin sesuatu."
Tya merasa ucapan Yati mengandung sindiran halus. Tetapi karena merasa tidak melakukan sesuatu yang merugikan orang lain, ia tetap santai. Memilih meninggalkan obrolan dengan masuk ke kamar. Berdandan karena sudah janji mau mengajak Nesha jalan-jalan.
"Bukan gitu. Emang aku sekarang lagi sibuk garap pesanan. Jadi Mama bakal dicuekin karena aku harus terjun kerja didapur bikin adonan. Pegawai kan bagian nyetaknya aja."
"Nggak apa-apa Mama nggak ditemenin juga biar Mama jaga toko bareng Nesha."
"Aku mau pergi jalan-jalan sama Tante Tya, Oma." Sahut Nesha yang terlihat tidak antusias kedatangan sang nenek.
"Naik apa? Panas gini jangan naik motor, Nesha. Udah di rumah aja sama Oma ya. Kita jaga toko. Nanti jalan-jalan sama Oma. Nunggu jam 12 dijemput Opa ke sini. "
Nesha geleng-geleng kepala. "Nggak mau ah. Aku mau naik mobilnya Tante Tya yang bagus sekali.
Yati tak punya lagi energi untuk merayu Nesha. "Emang Tante Tya punya mobil?"
"Itu mobilnya di luar, Oma. Kan Oma sebelum masuk pasti lihat mobil dulu."
"Yang mobil sedan?"
"Iya, Mama."
Bersamaan dengan itu, Tya keluar dari kamar sudah berpenampilan rapi. Tas selempang setelahnya mengunci pintu. Tya tidak mau sampai ibunya Susan kepo buka-buka pintu kamar. Dulu pernah mengalami seperti. Tidak sopan.
"Yuk, Nesha. Pamit dulu sama Bunda, sama Oma." Jarak ruang tamu yang dekat dengan kamarnya, membuat obrolan mereka tembus ke kamar. Tya hanya senyum samar menunggu mertuanya Bisma itu kena skak.
Setelah menyaksikan sang keponakan berpamitan, Tya membantu Nesha memasang sabuk keselamatan. Setelahnya barulah melangkah ke pintu kanan. Dua kaca jendela depan diturunkan.
Hingga Tya masuk dan duduk manis di jok kemudi, bisa terlihat Yati memperhatikan dari je dela ke arah mobil. Tak lagi ada taring untuk nyinyir.
"Nitip Nesha ya, Tante Tya," ujar Susan yang berdiri di dekat pintu kiri. Ia tenang jika sang anak berada dalam asuhan Tya.
"Aman, Mbak. Pergi dulu yaaa."
"Iya. Hati-hati."
"Bunda, dadah." Nesha melambangkan tangan dengan riang.
Apa kabar orang tua yang berdiri di depan jendela? Langsung sakit gigi apa hareudang ya.
Tya memutar kemudi sambil tersenyum samar. Tidak berniat memanasi. Semoga dengan melihat fakta ini, Yati lebih menghargai Bisma terutama. Jangan lagi meremehkan orang lain.
agar tidak terjadi kesalahpahaman kedepannya apalagi klu tiba2 ketemu atau si Sopiahh cari perkara
mkasih teh Nia update nya 🫰🫰🫰
biar nanti ga ad salah paham..
mantan kan dulu..yg penting skr Tya yg ad di hati
karena kunci dari keharmonisan rumah tangga ialah saling komunikasi dan keterbukaan hati dan tentang apapun berdua.. good job Diaz.
Keputusan yang tepat diaz untuk segera jujur pada tya
Lagian, masa lalu kamu sama si Sophia apa segitu jauh nya kah sampe sampe kamu merasa bersalah.
sorry i have to say your are ... 😏
Tya lebih 😎😎😎
jgn mimpi untuk bs merusak rumah tangga mereka ya.. cinta Diaz dan komitmen nya udh tersertifikasi 🩵