NovelToon NovelToon
MENANTU IBU 2

MENANTU IBU 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Aliansi Pernikahan / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:416k
Nilai: 5
Nama Author: Me Nia

Setelah menjadi istri Ardiaz Kavian, Tya semakin tahu karakter orang-orang di keluarga besar Kavian. Sebagai seorang insan yang biasa hidup tenang meski ekonomi pas-pasan, kini dirinya harus terbiasa dengan pasang surut permasalahan di keluarga suami yang tidak kekurangan harta tapi miskin ilmu agama.

"Yang penting suami dan mertua baik, yang sirik biarkan saja berisik."

MENANTU IBU 2

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28. Warung Mie Ayam

Tidak ada chat dari Diaz. Meski yakin ini ulah suaminya, tetapi Tya ingin memastikan lagi dengan bertanya. Sambil menunggu Yuni yang katanya baru keluar dari ruang QC, Tya mengetik pesan berisi konfirmasi sudah ada di warung mie ayam. Berikut bertanya soal booking.

[Bukan aku. Si Jo, sayang 😁]

Tya menipiskan bibir. Emoji yang dikirim Diaz sudah cukup mencerminkan siapa dalangnya. Lagi-lagi Diaz memberi kejutan yang tak terduga.

[Iya Mas Jo. Tapi disuruh Abey pastinya kan]

[Biar reuniannya tenang, gak ramai. Gak ada asap rokok yang bikin kau suka batuk]

Mata Tya berkilat, senyumnya mekar dengan dada yang terasa mengembang. Tak menyangka Diaz perhatian sampai sejauh itu. Ah... jadi pengen peluk.

"Ehm. Chat sama siapa sih? Senyum-senyum kayak lagi kasmaran gitu," celetuk Rahma sambil memanjangkan leher seolah ingin mengintip.

"Sama suami dong. Dia lagi meeting nggak jauh dari sini."

"Mau nyusul ke sini, Tya?" tanya Nisa.

"Ini baru mau ditanyain. Kalian interupsi terus, gak jadi-jadi ngetik nih."

"Haha. Sok lanjut," sahut Nisa yang tertawa kompak dengan Lusi dan Rahma.

[Abey serius mau ke sini?]

[Iya maybe jam 1 an. Pengen ketemu istri bentar. Biar otakku rada dingin. Dari tadi ngasih briefing ngebul terus]

[Semangat, suami. Aku tunggu di sini 😘]

Selesai membalas untuk yang terakhir kali, ponselnya berdering. Yuni menelepon. Tya menerima dengan mengaktifkan speaker.

"Di mana, Yun?"

"Di luar. Tapi mie ayamnya tutup. Kamu nge prank aku ya? Nggak jadi nge-mie ayam ya?"

Tya tertawa. "Jadi dong. Kau masuk aja. Bilang aja temannya Tya. Aku sama Rahma, Lusi, Nisa, ada di dalam. Sengaja tempatnya dibooking dulu buat kita."

"Wah?! Oke-oke."

Giliran tiga temannya Tya yang kaget sampai saling pandang. Mereka tidak tau obrolan Tya dengan pemilik warung mie ayam karena lebih dulu masuk dan memilih tempat duduk.

"Serius, Tya? Pantesan sepi. Kan jam istirahat biasanya diserbu karyawan." Nisa mewakili isi kepala dua temannya.

Tya meringis sambil menggaruk pelipis. "Iya. Suami aku booking sampai jam setengah dua. Tahunya tadi pas lagi ngobrol sama Pak Didi. Terus barusan aku pastiin chat dia. Katanya biar reunian nya tenang. Nggak umpelan banyak orang. Plus bebas asap rokok. Ayangku tahu kalau aku suka batuk kalau cium asap rokok," jelasnya dengan rona merah di pipi.

"Wadidaw. Anugerah banget diratukan suami. Udah ganteng, tajir, bucin lagi. Ada adeknya nggak, Tya? Boleh lah buat aku" Lusi memainkan kedua alisnya.

"Aku sepupunya juga boleh." Rahma terkikik centil.

Tya hanya tertawa. Mana mungkin mempromosikan adiknya Diaz yang minus. Sepupunya sih boleh tapi ada di Bandung. Tidak tahu juga apakah sekarang sudah punya pacar atau belum.

"Kalau jadi, nanti suami bakal ke sini sama asistennya. Nah dia masih jomblo. Sok aja rebutan."

"Gais, siap-siap ikutan flash sale." Celetukan Lusi menciptakan tawa berderai.

Yuni datang bersamaan dengan lima mangkuk mie ayam dihidangkan di meja disusul dengan lima gelas es jeruk dan lima gelas teh tawar panas. Waktunya makan-makan.

"Tya, nggak nyangka sampai dibooking segala. Banyak yang mau masuk pada kaget warungnya tutup. Ada anaknya Pak Didi baru pasang kertas pengumuman, katanya buka lagi jam 13.30." Yuni menerangkan situasi di luar usai cipika-cipiki dengan semuanya.

"Suaminya Tya ngasih privasi buat kita semua. Kita bisa makan dengan nyaman tanpa perlu mencium bau ketek orang lain. Mana pas tengah hari gini. Ya, kan?" Rahma mendahului menjelaskan yang berujung terciptanya tawa.

"Keren-keren." Yuni menoyor bahu Tya yang nyengir. "Si Tya ini nggak pernah mau spil kerjaan suaminya apa. Cuma bilang wiraswasta."

"Kamu lihat BMW hitam di luar, Yun?"

"Iya. Yang numpang parkir, bukan?" Yuni menjawab pertanyaan Lusi sambil mengaduk mie ayamnya.

"Bukan. Mobilnya Tya itu. Kita tadi naik itu. Tya yang nyetir. Fix, kawan kita ini istri sultan."

Yuni melebarkan mata. "Ku pikir kalian sengaja umpetin motor di belakang warung buat nge-prank aku. Beneran penuh kejutan kawan melayu kita ini. Dari mendadak nikah sampai sekarang full kejutan. Postingan terakhir di IG nya cuma foto liburan sama suami dan mertua doang. Nggak ada tuh flexing mobil atau tas herpes."

"Bukan herpes. Bancisiaga kali." Sahutan Nisa membuat tawa kembali berderai.

"Udah-udah! Jangan ribut mulu nanti keselek." Interupsi Tya berhasil membuat suasana menjadi tenang. Yang terdengar hanya denting sendok dan garpu.

Tapi hening hanya berlaku lima menit. Yuni memecah sunyi dengan menyampaikan gosip terkini.

"Tya, di pabrik lagi heboh lho. Wajah-wajah staf kantor pada tegang. Pengawas di QC juga dipanggil."

"Ada kasus apa?" tanya Tya memasang ekspresi kepo. Padahal sudah tahu sumber kehebohannya apa.

"Denger-denger sih ada big boss datang sidak. Semua orang kantor dari manajer sampai pengawas tiap ruang dikumpulin di gudang. Rapat besar sambil berdiri. Tadi pas aku lewat belum bubar padahal udah jam istirahat."

"Oh. Kau udah lihat wajah big boss nya, Yun?"

"Belum. Tapi tadi sempet denger orang cutting ngegosip katanya lihat penampakan big boss jalan sama Pak Surya. Masih muda big boss nya. Mereka kira orangnya udah tua, perut buncit, rambutnya disemir. Aku jadi penasaran. Moga aja pas balik dari sini ada big boss sidak ke ruang QC."

Jarum jam terus merambat. Yang baru menghabiskan semangkuk mie ayam hanya Tya dan Yuni, yang lain masih santai. Tya dan keempat kawannya menikmati kebersamaan dalam suasana hangat. Benar-benar tenang dan bercanda tawa lepas karena tidak ada pengunjung lain di ruangan berukuran sedang itu. Hanya semilir kipas angin yang menjadi saksi peluh mengembun di wajah oleh karena sensasi pedas mie ayam. Lembaran tisu menjadi penyapu wajah kembali kering.

"Aku masih betah. Tapi jam istirahat mau abis." Keluh Yuni merasa berat untuk beranjak. "Tya, berapa hari sih di Bekasi? Sabtu bisa kali kita hangout?"

"Rencananya sih besok sore balik ke Jakarta. Suami dinas di Bekasi cuma dua hari."

"Yaah. Masih kangen padahal."

"Giliran kita atur waktu kapan bisa ketemu di Jakarta. Aku traktir. Kalian cuma keluar duit buat paspor sama tiket pesawat dari Planet Bekasi ke Jakarta aja." Tya menyeringai.

Yuni dan yang lainnya tertawa. Kemudian ia pamit di jam satu kurang sepuluh menit setelah menyeruput es jeruk sampai tandas.

"Makasih ya, Bestie. Udah traktir sampai kenyang banget. Moga rejekinya makin nambah, makin disayang suami," ujar Yuni saat cipika-cipiki dengan Tya.

Tya mengamini lalu melambaikan tangan melepas kepergian Yuni yang harus kembali ke pabrik tepat waktu. Meski berlima berkawan dekat, tetapi ia menjaga rapat aib Yuni dari ketiga temannya yang lain—seperti yang Yuni pinta.

Tya mengaduk es jeruk sambil melirik arloji. Lima menit lagi menuju pukul satu. Belum ada chat terbaru dari Diaz.

"Tya... Tya, ayang datang tuh," ujar Lusi. Posisi duduknya memungkinkan melihat orang yang keluar masuk. Ia hanya tahu wajah suami Tya dari profil WhatsApp Tya dan postingan Instagram, belum pernah bertemu dan berkenalan. Karena saat pernikahan tidak ada teman yang diundang. Dengan alasan intimate wedding khusus dihadiri dua keluarga.

Sempat menjadi bahan perbincangan di belakang. Jangan-jangan Tya hamil duluan. Tetapi prasangka buruk itu terpatahkan oleh komunikasi yang semakin intens di grup.

Tya memutar badan. Ucapan Lusi benar. Senyumnya merekah sambil beranjak menyambut kedatangan Diaz. Sementara Jordan terlihat berbincang dengan Pak Didi.

Padahal baru berpisah sekitar tiga jam, tetapi kejutan-kejutan yang diberikan Diaz mampu menstimulasi hormon dopamin serta oksitosin sehingga mencuatkan rindu dan cinta yang baru—jatuh cinta lagi pada orang yang sama.

"Ish...ish. Bisa-bisanya main rahasia-rahasia." Tya menusuk-nusuk lengan Diaz. Menyalurkan gemas yang sejak tadi ditahan.

Diaz terkekeh. Membawa Tya ke pelukannya sambil berbisik, "Ngasih tanda terima kasihnya nanti aja di rumah, waktunya sempit."

Oh, Yang Mulia! Bisa-bisanya kepikiran ke sana.

Tya mengurai pelukan. Terlihat teman-temannya saling sikut sambil senyum-senyum. "Bey, boleh aku kenalin dulu sama mereka?"

Tanpa kata, Diaz merengkuh pinggang Tya. Mendekati meja panjang yang ada di ujung.

"Gais, kenalin ya Mas Diaz suamiku."

"Halo, semuanya. Salam kenal." Diaz menangkupkan kedua tangan di dada. Perkenalan singkat. Mengingat waktu santai tidak bisa lama-lama.

"Tya nya dipinjam dulu ya," ujar Diaz yang ingin makan ditemani sang istri.

"Iya silakan, Mas." Rahma mewakili menjawab.

Meja yang dituju Diaz sudah tersaji kotak makan dan botol air mineral yang masih tersegel. Jordan yang menatanya. Tya membuka tutup kotak. Keningnya mengerut.

"Kirain mau jajan mie ayam."

"Si Jo aja. Aku butuh protein banyak mau lembur."

Tya mengangguk. Ia membantu membuka sendok dan garpu yang tersegel dalam plastik yang dibalut selembar tisu. Menemani makan dengan duduk bersisian. Belum waktunya bertanya tentang situasi di pabrik. Yang dibutuhkan suaminya saat ini adalah kenyamanan duduk berdua.

"Permisi. Ikut makan di sini boleh? ujar Jordan yang membawa sebotol air mineral dingin. Hati yang menggerakkan kaki menuju meja yang berisikan teman-temannya Tya.

"Boleh, Mas. Kursi kosong ada tiga. Meja juga masih lega," sahut Rahma. Segera menyibukkan diri menumpuk mangkuk kosong dan menyimpan ke meja sebelah kiri. Lusi mengelap meja yang terkena tetesan saus. Sementara Nisa memandang Jordan dengan senyum malu-malu.

1
꧁☬𝕸𝖔𝖔𝖓𝖑𝖎𝖌𝖍𝖙☬꧂
bisaan
Dede Meugumi Novilan
αуσ ʝσσ,, ∂ιριℓιн ∂ιριℓιн.. мαѕιн яєα∂у тυн тмη2 туαα.. 🤭
@alfaton🤴
hayo siapa yang hatinya bergetar kayak ada sunami.......bang Jo......jangan lupa dilirik juga tiga bidadari yang nemenin maksi ya......siapa tau ada yang nyangkut di hatimu bisa dibawa pulang langsung nuju ke KUA ......gimana nanti kalo Yuni tau CEO nya suami bestinya yaa
@alfaton🤴
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣selalu aja ada tanda terimakasih nya ya Tya dan itu wajib harus......ga papa Tya.....gampang kok bonusnya malah bikin enak kali tidur nyenyak 🤭🤭🤭
pokoknya tiada hadiah tanpa bonus+++😅😅😅
Arum Nisa
masih kurang...kurang panjang,kurang kangennya
@alfaton🤴
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
kayak saweran aja Tya......buat direbutkan......kira kira yang beruntung dapat bang Jo siapa yaa 🤔🤔🤔.....ga papa biar dapet asisten nya dia juga ganteng......setia ..... yang pastinya masih jomblo
@alfaton🤴
bener bener ulah anak mertua ya Tya......dia ga mau kamu tercemar Tya 😅😅😅😅 ...... jadi kepo juga nih readers Tya......berempat nanti tambah dua personil lagi......siap siap dari tiga cewek siapa yang berjodoh dengan bang Jo yaaa
Ida Listya
thanks you kak
isti kristiowati
quote yg absurd tp masuk dan lucu-lucu
Okha
bagus
Sri Wahyuni
Nuhun teh ...happy weekend
Hariana Jusman
waahhhh siapa nih yang bakalan berjodoh😅😅😅
Hariana Jusman
iya deh pasti minta icibos🤭🤭🤭
Hariana Jusman
kira² habis berapa tuh😅😅😅
Hariana Jusman
jangan menjauh dari tya,kau akan tau wajah big boss🤗🤗
Hariana Jusman
tenang aja ibu suri akan mendandani menantunya dengan berkelas🤗🤗🤗
Hariana Jusman
SULTAN bangeettt🤗🤗
Hariana Jusman
mie ayam yang dimakan eh bau ketek yang dirasa😅😅😅
Hariana Jusman
ada...adik tirinya bernama boby,yakin kamu nggak mau😅😅😅
Hariana Jusman
iya deh ayangku🤭🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!