Merelakan masa mudanya merantau demi modal bisnis, Nesa berhasil membangun brand kosmetiknya seorang diri. Sebagai wujud bakti, ia memberikan posisi nyaman di perusahaan untuk kakak kandungnya, Sasya, dan mempercayakan hatinya pada Dika, suami yang dipacarinya sejak SMA.
Namun, dunia Nesa runtuh seketika saat ia mendapati kenyataan paling menjijikkan: Dika berselingkuh dengan Sasya. Di saat yang sama, Sasya memanfaatkan fasilitas perusahaan untuk merintis skincare tandingan di bawah dukungan penuh Dika. Syok luar biasa akibat pengkhianatan berlapis itu merenggut nyawa bayi yang tengah dikandung Nesa.
Berada di titik terendah setelah keluar dari rumah sakit, air mata Nesa berubah menjadi bara. Mengabaikan rasa sakitnya, Nesa bersiap membalas setiap tetes air matanya, membongkar kebusukan suami dan kakak kandungnya, serta merebut kembali apa yang sepenuhnya menjadi hak miliknya.
Satu Atap, Seribu Dusta ketika bakti dibalas duri dan pengkhianatan harus dibayar mahal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SATU ATAP SERIBU DUSTA
Langkah kaki Nesa menapaki lantai marmer putih di koridor lantai eksekutif NesAura Skincare dengan ritme yang cepat, tegas, dan sarat akan ketegangan. Pagi ini, udara di dalam gedung perusahaan yang biasanya terasa nyaman dan berwajah profesional mendadak berubah menjadi begitu berat, seolah dipenuhi oleh muatan listrik statis yang siap meledak kapan saja. Setiap karyawan yang berpapasan dan menunduk hormat menyapanya tidak diindahkan; pikiran Nesa sepenuhnya terkunci pada satu hal: laporan darurat dari Bila mengenai produk tiruan yang mendadak beredar di pasaran.
Begitu tiba di depan pintu kaca ganda ruang kerja utamanya, Nesa langsung mendorong gagang pintu tersebut dan melangkah masuk. Di dalam ruangan, Bila sudah berdiri menunggunya dengan postur tubuh kaku, memegang sebuah kotak kemasan kardus kecil berbalut warna pastel yang tampak mencolok di atas meja kerja CEO yang bersih dan minimalis.
"Bu Nesa, Anda sudah datang," ucap Bila cepat, menyambut atasannya dengan raut wajah yang menyiratkan kecemasan luar biasa.
Nesa melepas tas kerjanya, meletakkannya di atas sofa panjang tanpa basa-basi, lalu langsung berjalan mendekati meja kerja. Matanya langsung tertuju pada kotak kecil di hadapan Bila.
"Mana sampel produknya, Bil?" tanya Nesa langsung pada intinya, suaranya terdengar tajam, dingin, dan terkontrol.
Bila membuka kotak kardus tersebut dengan hati-hati, lalu mengeluarkan sebuah botol kaca pump berukuran seratus mililiter dengan label hologram eksklusif yang berkilau di bawah sorotan lampu ruangan. Bila menyerahkan botol itu kepada Nesa.
Nesa menerima botol tersebut dengan jemarinya yang terasa sedikit dingin. Ia membolak-balikkan botol itu di telapak tangannya. Matanya membelalak tak percaya. Ukuran, bentuk lekukan botol, warna dasar putih mutiara, hingga desain font label edelweis yang tercetak di permukaan kaca tersebut... semuanya menyerupai seratus persen rancangan rahasia dari lini Glow Series milik NesAura yang bahkan belum pernah diumumkan ke publik sedikit pun.
Nesa membuka tutup botol itu perlahan, lalu mendekatkannya ke hidungnya untuk mencium aromanya sekilas.
Deg!
Aroma ekstrak bunga edelweis organik yang berpadu dengan wangi lembut mawar putih itu langsung menguar memenuhi indra penciumannya. Itu bukan sekadar aroma tiruan yang mirip; itu adalah formula rahasia persis yang diracik oleh tim laboratorium internal perusahaannya sendiri minggu lalu.
"Ini... ini benar-benar mustahil," gumam Nesa dengan suara bergetar pelan, setengah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia buktikan sendiri dengan panca inderanya. "Formula ini baru disetujui lewat rapat tertutup minggu lalu oleh tim R&D. Dokumen spesifikasinya tersimpan di server berenkripsi tinggi yang sandi aksesnya hanya dipegang oleh segelintir orang di jajaran manajemen puncak. Bagaimana bisa produk fisik dengan botol dan formula yang sama persis sudah beredar di luar?."
Bila menarik napas dalam-dalam, postur tubuhnya tampak semakin siaga. Asisten pribadi sekaligus sahabat setia Nesa itu melipat kedua tangannya di depan dada, lalu menatap sang atasan dengan sorot mata penuh analisis tajam.
"Itulah inti masalahnya, Bu Nesa," ucap Bila dengan nada suara berbisik, seolah takut suara mereka tembus ke luar dinding kaca kedap suara tersebut. "Produk ini tidak dijual bebas di toko resmi atau di e-commerce besar dengan etalase terbuka yang mudah diakses publik. Mereka memasarkannya secara diam-diam melalui sesi siaran langsung (live streaming) di salah satu platform media sosial malam tadi, dengan kuota yang sangat dibatasi agar tidak menarik perhatian tim pemantau korporat kita."
Nesa mendongak dari botol di tangannya, menatap tajam ke arah asistennya. "Siapa yang siaran? Dan bagaimana kamu bisa mendapatkan sampel produk tiruan ini secepat ini, Bil? Bukankah peluncuran Glow Series kita dijadwalkan baru akhir bulan ini?."
Bila merogoh saku jas blazernya, lalu mengeluarkan sebuah nota pengiriman digital dari ponsel pintarnya dan meletakkannya di hadapan Nesa.
"Saya sengaja tidak langsung memesannya menggunakan akun pribadi atau identitas kantor, Bu," jelas Bila dengan senyuman cerdik di balik keseriusannya. "Saya tahu persis, kalau akun saya yang melakukan transaksi atau mendaftar sebagai pembeli di siaran langsung itu, pihak penjual pasti akan langsung curiga atau memblokirnya karena mereka tahu saya adalah asisten pribadi CEO NesAura. Jadi, saya meminta tolong kepada salah satu teman terpercaya saya di luar perusahaan seseorang yang identitasnya bersih dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan industri kosmetik untuk ikut bergabung dalam siaran langsung tersebut."
Nesa menyimak setiap kata yang diucapkan Bila dengan saksama, mulai memahami kelicikan di balik cara pembelian produk tiruan itu. Otak bisnisnya yang tajam langsung berputar cepat merangkai pola pemasaran gelap yang sedang terjadi.
"Kenapa harus memakai identitas orang lain, Bil?" tanya Nesa menyelidik lebih dalam.
"Karena siaran langsung itu menerapkan syarat yang cukup ketat untuk pembeli, Bu," jawab Bila serius. "Setiap akun yang ingin memesan atau mendapatkan diskon khusus pre-launch produk tersebut diwajibkan untuk memverifikasi identitas lengkap mulai dari nomor KTP, nomor telepon aktif, hingga alamat pengiriman asli. Penjualnya menggunakan dalih pencegahan penimbunan barang oleh reseller. Tapi bagi saya, itu adalah strategi licik untuk menyaring dan mengamankan siapa saja yang mencoba menyelidiki mereka."
Bila mendaratkan kedua telapak tangannya di atas meja, mencondongkan tubuhnya sedikit mendekati Nesa, memperkuat penekanannya.
"Kalau saya yang membeli langsung menggunakan data diri resmi dari lingkaran perusahaan kita, identitas saya pasti akan langsung terdeteksi oleh sistem mereka. Dan dari cara mereka menduplikasi produk rahasia ini dengan presisi yang sempurna, saya seratus persen yakin, Bu... di dalam perusahaan kita sendiri, di lingkaran manajemen puncak NesAura, ada pengkhianat besar yang membocorkan seluruh data produksi ini ke tangan pihak luar."
Bumm!
Pernyataan itu menghantam telinga Nesa bagaikan petir di siang bolong. Jantungnya seakan berhenti berdetak sepersekian detik. Kata "pengkhianat di lingkaran manajemen puncak" menusuk langsung ke relung hatinya yang paling dalam, menciptakan rasa nyeri yang luar biasa di dadanya.
Meskipun Nesa sejak awal menyadari bahwa kebocoran data ini sangat masif dan sistematis, mendengar Bila mengucapkannya secara langsung membuat udara di dalam ruangan terasa semakin menipis. Lingkaran manajemen puncak NesAura bukanlah tempat yang diisi oleh orang sembarangan. Di sana hanya ada segelintir orang yang memegang akses penuh terhadap cetak biru perusahaan: Nesa sendiri sebagai pendiri dan CEO, Dika sebagai suaminya sekaligus Direktur Operasional yang mengawasi seluruh alur pabrik dan logistik, serta Sasya kakak kandungnya sendiri yang memegang kendali penuh atas divisi humas dan strategi promosi publik.
"Mungkinkah salah satu dari mereka...?."
"Tidak. Tidak mungkin," batin Nesa langsung menolak keras pikiran liar yang mulai merayap di kepalanya, mencoba melawan logika yang mulai terbentuk.
Sontak, bayangan wajah suaminya, Dika, yang kemarin malam menggenggam tangannya erat-erat, mengecup keningnya, dan menenangkannya dengan penuh kasih sayang, berkelebat di benaknya. Dika adalah pria yang selama bertahun-tahun menemaninya merintis karier dari nol, pria yang membantunya menegur Sasya dan memintanya untuk tenang. Begitu pula dengan Sasya, kakak kandungnya yang meski terkadang angkuh, adalah darah dagingnya sendiri yang masa lalunya pernah berjuang bersama dalam keterbatasan.
Nesa menggelengkan kepalanya pelan, berusaha mengusir bayangan-bayangan curiga yang mulai mencabik kewarasannya. Rasa percaya yang ia bangun selama bertahun-tahun kepada orang terdekatnya menolak untuk dipatahkan begitu saja.
"Bil, jangan berspekulasi terlalu jauh tanpa bukti hukum yang valid," ucap Nesa dengan nada suara yang sengaja dilembutkan lebih kepada meyakinkan dirinya sendiri ketimbang membantah argumen Bila. "Manajemen puncak kita adalah orang-orang pilihan yang sudah teruji loyalitasnya. Dika suamiku, dan Sasya kakakku... mereka adalah orang-orang terdekat yang tidak mungkin menusukku dari belakang."
Bila menatap Nesa dengan pandangan nanar, menyembunyikan rasa frustrasi yang mendalam di balik mata jernihnya. Sebagai asisten yang paling setia dan paling tahu betapa besar pengorbanan Nesa merintis perusahaan ini dari titik nol, Bila merasa sangat sedih melihat betapa bosnya itu masih terlalu naif dan dikuasai oleh rasa percaya yang begitu besar kepada keluarga. Namun, Bila tahu persis, ia tidak boleh gegabah melontarkan tuduhan langsung tanpa bukti fisik yang telak di atas meja.
"Saya paham keraguan Ibu, dan saya sangat berharap kecurigaan saya ini salah besar," ujar Bila dengan suara melunak namun tetap tegas. "Tapi fakta di lapangan tidak bisa dibohongi, Bu Nesa. Botol ini, formula ini, hingga brosur digital yang disebar dalam siaran langsung tadi malam adalah replika identik dari Glow Series kita. Jika produk tiruan ini beredar lebih luas sebelum peluncuran resmi kita akhir bulan ini, citra merek NesAura akan hancur lebur, dan kita akan mengalami kerugian finansial serta reputasi yang tidak sedikit."
Nesa terdiam seribu bahasa. Ia kembali menunduk, menatap botol sampel tiruan di hadapannya dengan tatapan nanar. Jemarinya mencengkeram tepi meja marmer hitam itu dengan erat hingga buku-buku jarinya memutih menahan amarah dan kekecewaan yang bergemuruh di dadanya. Apa yang dikatakan Bila benar adanya. Ini bukan sekadar masalah persaingan bisnis biasa; ini adalah tikaman mematikan yang diarahkan tepat ke jantung perusahaan yang ia bangun dengan cucuran air mata dan keringat selama bertahun-tahun.
"Lalu, apa langkah selanjutnya yang harus kita ambil, Bil?" tanya Nesa setelah beberapa saat terdiam dalam keheningan yang mencekam di dalam ruangan tertutup itu.
Bila menegakkan kembali tubuhnya, mengeluarkan sebuah flashdisk kecil berwarna hitam dari saku blazernya dan meletakkannya dengan hati-hati di dekat botol sampel tersebut.
"Teman saya yang berhasil memesan produk ini menggunakan identitas samaran tadi pagi sudah menerima paket pengirimannya di alamat kurir privat. Di dalam flashdisk ini, saya sudah menyalin seluruh rekam jejak digital transaksi, nomor rekening penerima pembayaran yang disembunyikan di balik akun lapak fiktif, serta metadata dari akun siaran langsung yang menjual produk tersebut," papar Bila dengan sangat profesional dan terstruktur. "Kita akan melacak aliran dana dan alamat fisik gudang pengiriman itu secara diam-diam, tanpa melibatkan divisi lain di kantor... terutama sebelum kita benar-benar menemukan siapa orang dalam yang bermain di belakang layar."
Nesa menatap flashdisk hitam kecil itu dengan tatapan penuh tekad yang menyala-nyala. Garis ketegasan kembali terukir indah namun tajam di wajah cantiknya sebagai seorang CEO muda yang tidak akan tinggal diam melihat kerajaannya diinjak-injak oleh pengkhianat.
"Baiklah, kita lakukan investigasi tertutup, Bil," ucap Nesa dengan suara tegas, dingin, dan penuh wibawa. "Jangan biarkan siapa pun di luar ruangan ini tahu apa yang sedang kita selidiki termasuk divisi humas maupun jajaran direksi operasional. Kita bergerak di bawah bayang-bayang sampai kita menemukan bukti nyata siapa pengkhianat di perusahaan ini."
Bila mengangguk hormat, merasa sedikit lega karena Nesa akhirnya sepakat untuk mengambil tindakan taktis nyata, meski ia tahu bosnya itu masih diselimuti oleh rasa percaya yang buta kepada orang terdekatnya.
Di luar ruangan kerja CEO yang terkunci rapat itu, jarum jam dinding terus berdetak tanpa henti, mengantar Nesa semakin dekat pada jurang kehancuran yang telah digali secara perlahan oleh orang-orang yang paling ia cintai dan percayai di dunia ini.