"Perhatian ini yang aku inginkan. Tapi ... kenapa rasanya asing?" ~Danira
...
Seperti biasa, Ezran pergi ke luar kota untuk mengurus bisnisnya. Danira dan kedua anak mereka sudah terbiasa dengan rutinitas itu.
Namun ketika Ezran kembali, ada sesuatu yang terasa berbeda.
Pria yang biasanya sibuk, cuek, dan selalu punya alasan untuk menolak menghabiskan waktu bersama anak-anak, kini justru menjadi jauh lebih perhatian.
“Ma, Papa ... aneh,” ujar Arelio, anak pertama mereka.
Senara pun, ikut memperhatikan. “Iya, tumben nda malah-malah macam Papa tili Cindelela?”
Danira hanya terdiam. Ia juga merasakan perubahan itu.
Ezran mulai mengantar anak-anak, membantu pekerjaan rumah, bahkan memperhatikan hal-hal kecil tentang Danira yang selama ini tak pernah ia pedulikan.
Awalnya Danira bahagia. Namun semakin lama, perubahan itu justru membuatnya curiga.
Apa yang sebenarnya terjadi selama Ezran pergi Dan mengapa pria yang kembali ke rumah itu terasa begitu berbeda dari suami yang ia kenal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berdandan
"Aku minta maaf atas sikapku selama ini padamu. Mengabaikanmu dan anak-anak ... aku benar-benar minta maaf. Aku tak bermaksud membuatmu merasa terabaikan, tetapi mungkin aku yang harus banyak belajar," ucap Evran pelan. Kata-kata itu meluncur sarat akan rasa bersalah yang mendalam, membuat Danira bungkam dan terpaku kaget.
Namun, beberapa saat kemudian, sebaris senyum manis terukir di wajah Danira. Wanita itu mengangguk pelan, merasa leleh oleh pengakuan yang tak pernah ia duga sebelumnya. "Beberapa waktu belakangan ini Mas memang sudah banyak berubah. Aku percaya, ke depannya Mas akan berubah menjadi jauh lebih baik lagi."
Evran mengangguk singkat. Ia kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menelusuri jalanan kota menuju rumah. Sementara itu, Danira tersenyum lega. Namun, tatkala matanya menyapu sekeliling interior kabin, sebuah detail kecil mendadak menyita perhatiannya. Furnitur di dalam mobil suaminya terasa agak berubah. Jenis mobilnya memang sama persis, tetapi keadaan di dalamnya menyimpan kejanggalan tipis.
Danira mengulurkan tangannya, mengusap permukaan dashboard dengan lembut. Seingatnya, Ezran sangat membenci perubahan dan tak pernah sekalipun memodifikasi warna dashboard mobil kesayangannya.
"Kamu suka modif mobil sekarang, ya?" tanya Danira memecah keheningan.
"Dari dulu juga suka," balas Evran santai, tetap fokus menatap jalanan tanpa menyadari bahwa perkataan refleksnya baru saja melempar benih tanda tanya besar di kepala Danira.
"Dari ... dulu?" gumam Danira lirih, menatap suaminya dengan kerutan dahi yang makin dalam.
Seiring berjalannya waktu, kehidupan rumah tangga Danira terasa berangsur-angsur membaik secara drastis. Ia merasa suaminya kini benar-benar hadir dan berperan penuh sebagai sosok ayah yang hangat bagi kedua anak mereka. Pria itu selalu menyempatkan diri untuk hadir tanpa penolakan setiap kali putra sulung mereka mengikuti perlombaan atau kegiatan apa pun di sekolah. Senara pun tumbuh semakin menempel dan dekat dengannya.
Namun, di balik semua kehangatan itu, tak ada satu pun dari mereka yang mengetahui fakta krusial bahwa pria yang bersama mereka saat ini bukanlah Ezran, melainkan Evran, saudara kembar identik yang terpaksa bertukar peran.
.
.
.
.
Seperti pagi hari yang cerah ini, Danira tersenyum hangat menyaksikan Senara yang sedang asyik bercanda dengan ayahnya di ruang keluarga. Gadis kecil itu tertawa lepas dan bahagia, sementara Evran tekun menyambut setiap celotehannya dengan lelucon tambahan yang kocak.
"Mas, titip Senara ya. Aku mau mandi dulu," ucap Danira lembut seraya beranjak berdiri.
"Iya, tenang saja," sahut Evran seraya kembali mengalihkan perhatiannya pada Senara.
Danira masuk ke dalam kamar dan segera membersihkan dirinya. Usai membasuh tubuh, ia memoleskan wewangian beraroma segar ke kulitnya. Ia mengambil sebuah dress cantik bernuansa elegan yang sudah lama tersimpan di lemari, lalu mengenakannya. Jemarinya cekatan menyisir rambut, merapikan kuncirnya, lalu memoleskan riasan tipis yang natural di wajahnya.
Bukannya tidak bisa berdandan, tetapi sejak menikah dan dikurung rutinitas rumah tangga, Danira merasa berhias adalah hal yang sia-sia karena ia jarang bepergian. Namun, penuturan adiknya di rumah orang tuanya tempo hari kembali terngiang. Ia sadar, ia perlu tampil cantik dan segar demi menyegarkan pandangan suaminya saat melepas lelah.
"Mas Ezran suka aroma wangi ini," gumam Danira dengan senyum mengembang indah.
Ia menyemprotkan parfum favorit suaminya ke area leher dan pergelangan tangan, lalu menatap kembali pantulan dirinya di cermin. Bibirnya tersenyum mendapati pesona wajahnya yang tetap memikat meski sudah dikaruniai dua orang anak. Merasa puas, Danira melangkah keluar kamar menghampiri keluarga kecilnya.
Di ruang keluarga, perdebatan kecil nan menggemaskan masih berlangsung.
"Bukan kakek-kakek loh, Papa! Ini loh macih muda, cuami olang gambalnyaaaa!" seru Senara menggebu-gebu seraya menunjuk salah satu karakter di buku bacaannya.
"Tapi ini tulisannya kakek, Sena," sahut Evran tak mau kalah, sengaja memancing emosi putri kecilnya.
"Belalti yang buat buku calah! Ini cuami olaaaang!"
"Kakek!"
"Cuami olang!"
"Kakek-kakek, Senaaaa!" gemas Evran setengah frustrasi hingga rasanya ingin sekali mengunyel-unyel pipi gembul anak itu.
Di tengah kehebohan itu, Arelio yang baru keluar dari kamar mendadak menghentikan langkahnya. Matanya membelalak menatap sang ibu. "Mama cantik banget ... Mau ke mana?" tanya Arelio polos.
Danira menghentikan langkahnya, tersenyum lembut. "Enggak, Mama gak mau ke mana-mana. Lio sudah siap berangkat sekolah? Biar Papa yang antar, ya," ucap Danira mendekati putra sulungnya dan merapikan posisi dasi yang dikenakan anak itu.
Arelio justru memasang raut bingung. Senara pun tak kalah kaget melihat mamanya tampil begitu cantik dan anggun pagi ini. Pandangan Senara kemudian beralih menatap sang papa yang kini mendadak mematung dengan mulut sedikit terbuka.
"Pa ... Papa!" pekik Senara kencang, menepuk paha ayahnya.
Evran tersentak kaget dari lamunannya. "Eh—maaf, maaf! Arel mau berangkat sekarang? Sebentar, Papa siap-siap dan ambil kunci mobil dulu," ucap Evran gugup dan salah tingkah. Pria itu buru-buru beranjak berdiri dan melangkah cepat ke kamar, meninggalkan ruang keluarga yang mendadak diselimuti keheningan aneh.
Danira menunduk malu, meremas ujung bajunya saat mendapati reaksi salah tingkah dari suaminya. Namun, tatapan Arelio di depannya justru terlihat makin redup dan serius.
"Ma ... Mama merasa ada yang aneh gak, sih?" tanya Arelio tiba-tiba, membuat kerutan mendalam muncul di kening Danira.
Danira menatap putranya lekat. "Aneh? Aneh bagaimana, Lio?"
Arelio menghela napas pelan, menatap pintu kamar yang baru saja dimasuki oleh Evran dengan tatapan penuh selidik. "Aneh ... Papa kelihatan aneh banget beberapa hari belakangan ini. Maksudku ... Papa seperti orang lain, Ma. Papa gak pernah memanggilku dengan sebutan 'Arel' sebelumnya, dia selalu memanggilku Lio atau Arelio. Dia ... beneran seperti orang lain kan, Ma?"
Ujaran polos namun menohok dari putra sulungnya itu seketika membuat senyuman di bibir Danira luntur total. Dadanya mendadak berdesir hebat diguyur rasa cemas yang amat dingin.
"Dia ... seperti orang lain?" bisik Danira lirih pada dirinya sendiri, membeku di tempatnya saat kecurigaan-kecurigaan kecil yang selama ini ia abaikan mendadak menyatu menjadi sebuah teka-teki raksasa yang menakutkan.
____________
justru ada nya Evran keluarga kamu jadi harmonis ..