sejak lahir, dia tak sempurna.
ibunya ditinggalkan pergi oleh sang ayah, saat ia masih dalam kandungan.
sang ibu mengandung seorang diri, karena bapaknya pergi mencari nafkah dan biaya persalinan sang ibu.
sampai ia lahir ayahnya tak menghendakinya dan datang membawa madu untuk ibunya.
sejak lahir penduduk desa mengatakannya pembawa petaka, karena ia lahir tak sempurna. kini ia hidup berdua bersama sang ibu.
sementara sang ayah pergi dengan wanita lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon atikah@72, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Donor Terakhir Seorang Ibu
Tiga hari kemudian, RS Sanglah Denpasar, Bali.
Bukan Waingapu lagi yang berdebu dan panas, tapi Denpasar yang ramai dan penuh harapan. Tapi bagi Sari, semua sama saja: bau obat, suara monitor, dan rasa takut kehilangan.
Yayasan Senyum Anak Sumba akhirnya menggalang dana 600 juta untuk dua bayi thalassemia itu. Berita tentang Sari yang donor 750 cc darah untuk suami pengkhianatnya, tentang Bintang yang lahir dengan kaki bengkok dan thalassemia, tentang Kevin yang keponakan yang butuh donor, viral di Facebook Sumba. Orang Sumba di Kupang, di Jakarta, bahkan TKI di Malaysia, patungan.
600 juta terkumpul dalam 2 hari.
Tapi uang bukan masalah utama hari ini.
Hari ini adalah hari operasi transplantasi sumsum tulang.
Di Ruang Operasi 1, Johan terbaring. Kepala masih diperban tipis, tapi sudah bisa duduk. Hari ini dia akan donor sumsum tulang belakang untuk Kevin, keponakannya, anak kakaknya yang sudah mati di Malaysia.
Dokter bedah sudah bilang risikonya: "Pak Johan, Anda baru operasi otak 3 hari lalu. Donor sumsum sekarang risiko lumpuh kaki 70%, risiko mati 30%. Anda yakin?"
Johan hanya menatap Sari dan Bintang yang ada di brankar sebelah, dan menjawab tegas.
"Saya yakin, Dok. Saya sudah hampir jual tanah istri saya untuk keponakan saya karena saya pikir dia anak saya. Sekarang saya tahu dia keponakan saya, anak kakak saya yang mati. Saya harus tebus dosa saya. Kalau saya lumpuh, biarlah. Asal Kevin bisa hidup dan jantungnya bisa operasi nanti."
Johan masuk ke ruang operasi, didorong perawat. Sebelum pintu tertutup, ia menatap Sari untuk terakhir kalinya.
"Sari, jaga Bintang ya... kalau saya lumpuh nanti, jangan tinggalkan saya..."
Sari mengangguk sambil menangis, menggendong Bintang yang kaki gips putihnya sudah diganti gips kedua, lebih lurus.
Di Ruang Operasi 2, yang bersebelahan, Sari terbaring.
Bukan sebagai penunggu pasien. Tapi sebagai donor.
Sari akan donor sumsum tulang untuk Bintang, anak kandungnya sendiri.
Dokter anestesi menatap Sari dengan iba.
"Bu Sari, Ibu baru melahirkan 4 hari lalu. Ibu baru kehilangan 750 cc darah 3 hari lalu di Waingapu. Hemoglobin Ibu 7, harusnya 12. Ibu sangat anemis. Kalau Ibu donor sumsum tulang hari ini, risiko Ibu pendarahan hebat di meja operasi 80%, risiko tidak sadar selamanya 50%. Ibu bisa mati. Apakah Ibu yakin? Bintang masih bisa tunggu 6 bulan sampai Ibu pulih."
Sari menatap Bintang yang ada di box bayi kecil di sebelahnya. Bintang yang sudah 4 hari pakai gips, kaki bengkoknya sudah hampir lurus sempurna, tapi wajahnya pucat karena thalassemia, butuh transfusi setiap bulan kalau tidak transplantasi sekarang.
Bintang menatap ibunya dengan mata bulat yang sama seperti mata Sari. Tidak menangis. Seolah mengerti ibunya sedang mempertaruhkan nyawa.
Sari mengelus pipi Bintang dengan tangan yang masih ada bekas jarum infus Waingapu.
"Bintang, Nak..." bisik Sari dengan suara lirih dan sedih, "Ibu lahirkan kamu sendirian di gubuk bocor saat badai. Ibu gendong kamu 5 km di padang sabana. Ibu kasih darah 750 cc untuk bapakmu. Ibu kejar pencuri tanah kita. Semua Ibu lakukan supaya kamu bisa jalan, supaya kamu punya rumah."
Air mata Sari jatuh ke pipi Bintang.
"Tapi hari ini, Ibu harus kasih sumsum tulang Ibu untuk kamu. Kalau Ibu mati di meja operasi ini, kamu jangan sedih ya, Nak. Jangan cari Ibu. Ibu ada di dalam darahmu, di dalam tulangmu, di dalam kaki kecilmu yang sudah di-gips itu. Setiap langkahmu nanti, itu langkah Ibu."
Mama Leni yang ada di luar ruang operasi, yang ikut terbang ke Bali dengan uang yayasan, menangis meraung-raung mendengar ucapan Sari.
"Sari! Jangan! Jangan donor! Kamu akan mati! Bintang butuh kamu hidup!"
Dokter Anya yang juga ikut ke Bali, memeluk Mama Leni, ikut menangis.
Tapi Sari sudah memejamkan mata, tanda ia siap.
"Saya ikhlas, Dok. Ambil sumsum saya. Selamatkan anak saya. Itu saja."
Pintu Ruang Operasi 2 tertutup. Lampu merah menyala: OPERASI TRANSPLANTASI BERLANGSUNG.
Di luar, di koridor RS Sanglah Bali, dua operasi berlangsung bersamaan di dua ruangan bersebelahan, sama seperti 3 hari lalu di Waingapu.
Di Ruang 1, Johan donor untuk Kevin, risiko lumpuh dan mati.
Di Ruang 2, Sari donor untuk Bintang, risiko mati.
Di tengah koridor, Mama Leni duduk memeluk dua box bayi: Bintang dan Kevin. Dua bayi sepupu, satu kaki di-gips, satu biru karena jantung, dua-duanya butuh keajaiban dari orang tua mereka.
Jam demi jam berlalu.
Jam 10 pagi operasi dimulai.
Jam 11...
Jam 12...
Jam 1 siang...
Pintu Ruang Operasi 1 terbuka duluan.
Dokter bedah keluar, melepas masker, wajahnya lelah.
"Operasi donor Johan untuk Kevin berhasil! Sumsum masuk! Kevin stabil! Tapi..."
Mama Leni langsung berdiri, "Tapi apa, Dok? Johan gimana?"
Dokter itu menghela napas.
"Pak Johan... pendarahan di tulang belakang... kakinya... kakinya tidak bisa digerakkan. Lumpuh sementara. Kami belum tahu permanen atau tidak. Dia masih di ruang pemulihan. Belum sadar."
Mama Leni menangis, tapi lega setengah, karena Kevin selamat.
Tapi semua mata langsung tertuju ke pintu Ruang Operasi 2. Tempat Sari.
Lampu merah masih menyala. Sudah 4 jam operasi. Seharusnya 2 jam selesai.
Jam 2 siang...
Jam 3 sore... lampu masih merah.
Dokter Anya mulai panik, mengetuk pintu ruang operasi.
Jam 3:30 sore, pintu Ruang Operasi 2 akhirnya terbuka.
Dokter bedah dan dokter anestesi keluar, wajah mereka pucat, berlumuran darah, tidak seperti dokter yang selesai operasi berhasil.
Mereka menatap Mama Leni yang menggendong Bintang dan Kevin.
Mama Leni langsung jatuh terduduk.
"Dokter... Sari... Sari gimana?"
Dokter anestesi itu membuka maskernya, matanya berkaca-kaca, dan berkata dengan suara paling sedih yang pernah didengar Mama Leni seumur hidupnya.
"Bu... kami sudah berusaha... tapi..."
Dokter itu menatap Bintang yang ada di gendongan Mama Leni, Bintang yang kaki gips putihnya sudah lurus, yang baru saja dapat sumsum tulang ibunya.
"Transplantasi sumsum Bu Sari ke Bintang berhasil 100%, Bu. Bintang akan sembuh total. Tidak butuh transfusi lagi seumur hidup. Kaki dan darahnya akan sembuh."
Mama Leni menangis lega, memeluk Bintang.
"Tapi... Bu Sari..."
Dokter itu berhenti, tidak sanggup melanjutkan, hanya menatap pintu ruang operasi yang masih terbuka sedikit, di mana terlihat Sari terbaring dengan selang di mana-mana, tidak bergerak.
"Bu Sari pendarahan hebat... 1000 cc... jantungnya berhenti 2 kali di meja operasi... kami pacu lagi... sekarang... sekarang Bu Sari koma... koma dalam... kami tidak tahu kapan bangun... bisa besok... bisa seminggu... bisa..."
Dokter itu tidak melanjutkan kata terakhirnya: bisa selamanya.
Di dalam ruang operasi, Sari terbaring koma, pucat, dengan selang oksigen, setelah memberikan sumsum tulang terakhirnya untuk anaknya.
Di luar ruang operasi, Bintang yang baru saja sembuh dari thalassemia karena sumsum ibunya, tiba-tiba menangis kencang, seolah tahu ibunya tidak akan bangun lagi.
Dan di ruang pemulihan sebelah, Johan lumpuh, belum sadar, belum tahu bahwa istrinya koma karena menyelamatkan anak mereka.
Apakah Sari akan bangun dari komanya?
Atau Sari akan mati setelah memberikan segalanya: darah, tanah, sumsum, dan nyawanya, untuk cinta tanpa syarat?