Mita Septia, seorang gadis manis yang berprofesi sebagai Guru PJOK di sekolah terpencil Kecamatan Entikong, kabupateng Sanggau perbatasan Kalimantan Barat dengan negeri jiran Malaysia. Ia telah menjalin hubungan asmara dengan Denis yang menjabat sebagai CSR Supervisor di salah satu perusahaan pertambangan ternama di Kalimantan Barat. Hubungan yang telah berjalan hampir 3 tahun, membuat keduanya berencana meresmikan di akhir tahun. Tetapi kenyataan tak sesuai harapan Mita. Denis telah berpaling hati, hingga membuat rekan kerjanya hamil. Tak bisa menghindari tanggung jawab, Denis melupakan janji yang telah ia susun bersama Mita. Keputusan Denis tentu saja menghancurkan hati Mita, dalam kelukaan atas kabar yang dikirim Denis mempertemukan ia dengan seorang Abdi Negara berpangkat Kapten yang bernama Reihan. Akan kah Kapten Reihan mampu menyembuhkan segala luka yang dialami Mita....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leny Fairuz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Semangkuk Cemburu di Meja Makan
Walaupun jawaban Reihan tak memberikan kepuasan baginya, tapi Ratih tak berkecil hati. Ia cukup senang karena kapten muda itu masih bersedia membuka komunikasi dua arah.
Ratih tersenyum, sedikit mengubah arah pembicaraan, ‘Kalau keluarga jauh, siapa yang mengingatkan?"
Reihan hanya tersenyum tipis, “Ya, diri sendiri, Bu."
Jawaban itu membuat Arman yang duduk di seberangnya menunduk, menyembunyikan senyum. Ia sudah cukup lama mengenal Reihan untuk memahami cara rekannya menghindari pertanyaan pribadi tanpa menyinggung perasaan orang lain.
Namun, perhatian Ratih tidak membuat Reihan benar-benar melupakan tujuan utamanya siang itu.
Mita.
Perempuan itu sedang sibuk menyantap nasi dengan lahap. Sesekali ia mengambil tumis kangkung, mencicipi sambal, lalu mengangguk puas ketika Darma menawarkan potongan ikan goreng.
"Bu Mita, sambalnya pedas sekali, lho," kata Darma.
Mita mengangguk sambil mengunyah, “Justru itu yang membuat makanannya enak, Pak."
"Kalau begitu, saya kalah. Saya tidak kuat pedas."
"Sayang sekali. Padahal sambalnya cocok sekali dengan ikan goreng."
Joko tertawa mendengar percakapan mereka, "Kalau begitu, lain kali saya harus mengajak Bu Mita makan di tempat yang menyediakan sambal lebih pedas lagi."
Mita menoleh sambil tersenyum, "Boleh saja, Pak Joko. Asalkan jangan lupa mengundang yang lain."
"Siap. Nanti saya atur."
Percakapan sederhana itu terdengar biasa bagi semua orang. Namun, bagi Reihan, ada sesuatu yang mengusik ketenangannya ketika mendengar Joko menawarkan makan bersama Mita di lain waktu. Ia meletakkan sendoknya perlahan.
Lain kali?
Ia tidak suka mengakui bahwa dua kata itu menimbulkan rasa tidak nyaman.
Padahal, Joko hanya bersikap ramah. Sebagai sekretaris desa yang aktif dalam kegiatan desa, wajar jika ia ingin menjalin hubungan baik dengan orang-orang yang bekerja sama dengannya.
Mita pun tidak menunjukkan sikap istimewa. Ia tetap menyantap makanannya dan sesekali berdiskusi dengan Joko mengenai kemungkinan penggunaan lahan di sekitar sekolah untuk parkir peserta pertandingan.
Mereka bahkan sempat berbicara serius tentang jumlah kendaraan yang mungkin datang pada hari perlombaan.
Reihan memperhatikan percakapan itu dari kejauhan. Ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa perhatian tersebut semata-mata karena ia ingin memastikan koordinasi panitia berjalan lancar.
Namun, semakin ia mencoba mencari alasan yang masuk akal, semakin sulit pula ia menyangkal bahwa perasaannya mulai berkembang ke arah yang berbeda. Ia menyudahi makan dan meletakkan sendok dengan rapi.
"Mas, kok makannya sedikit sekali?" suara Ratih tiba-tiba memecah lamunannya.
Reihan menoleh, “Sudah cukup, Bu. Terima kasih."
"Baru beberapa suap, lho. Ayamnya juga belum habis."
"Saya memang tidak terlalu banyak makan siang."
"Kalau begitu, tambah sedikit sayur. Biar seimbang." Ratih kembali mengambilkan sayur ke piringnya.
Reihan tidak punya pilihan selain mengucapkan terima kasih, meskipun pikirannya tetap tertuju pada perempuan di seberang meja.
Arman yang duduk di sampingnya akhirnya tidak tahan untuk berkomentar, “Kapten, jangan terlalu memikirkan pekerjaan. Kita sedang makan siang."
"Memangnya aku memikirkan pekerjaan apa?" balas Reihan datar.
Arman mengangkat bahu, “Saya tidak tahu. Saya hanya mengingatkan."
Darma yang mendengar percakapan itu ikut menyela, “Betul, Kapten. Kalau sedang makan, ya makan saja. Jangan sampai nanti nasi di piring dingin karena terlalu banyak berpikir."
Beberapa orang tertawa.
Mita yang sejak tadi sibuk makan ikut mengangkat wajah, "Betul itu, Om. Sayang sekali kalau makanannya tidak dihabiskan. Di sini masakannya enak."
Tatapan Reihan langsung bertemu dengan mata Mita. Untuk sesaat, seluruh suara di sekelilingnya seolah meredup. Mita berbicara kepadanya. Perhatian sederhana itu cukup membuat suasana hatinya membaik.
Reihan tersenyum, "Baik, Bu Guru. Saya akan menghabiskannya."
Mita mengangguk puas, lalu kembali melanjutkan makan.
Sementara itu, Ratih yang duduk di samping Reihan terdiam sejenak. Ia memperhatikan perubahan kecil pada ekspresi kapten muda tersebut. Senyum yang sejak tadi sulit ia dapatkan justru muncul dengan mudah ketika Mita memberikan komentar sederhana.
Ratih mencoba mengabaikan perasaan tidak nyaman yang mulai menyusup ke dalam hatinya. Mungkin ia hanya terlalu lelah setelah seharian berkeliling. Atau mungkin ia perlu mengenal Reihan lebih dekat agar pria itu terbiasa dengan kehadirannya.
Bagaimanapun, ia tidak berniat mundur hanya karena satu senyuman.
Makan siang berlangsung hampir satu jam. Setelah semua hidangan selesai disantap, mereka mulai membahas kembali rencana kegiatan. Arman menyampaikan kesiapan pihak BGA untuk membantu tenaga dan perlengkapan tertentu, sementara Joko menawarkan dukungan masyarakat dusun untuk menata area parkir dan membersihkan lingkungan sekolah.
Mita mencatat beberapa hal penting, sedangkan Ratih memastikan setiap usulan masuk ke dalam daftar tindak lanjut panitia.
Reihan ikut memberikan sejumlah masukan, tetapi sesekali matanya masih tertuju kepada Mita. Ia mulai memahami bahwa perasaannya bukan sekadar rasa penasaran yang muncul setelah pertemuan singkat. Ada keinginan untuk mengenal perempuan itu lebih dekat, mengetahui apa yang membuatnya tersenyum, apa yang membuatnya bersedih, dan alasan di balik sorot mata yang kadang terlihat menyimpan beban.
Namun, ia juga tahu bahwa semua itu membutuhkan waktu.
Ketika rombongan akhirnya bersiap meninggalkan rumah makan, Ratih kembali mengambil kesempatan untuk berdiri di samping Reihan, "Mas, kapan-kapan kita makan siang bersama lagi, ya. Ada beberapa hal yang ingin saya bicarakan mengenai kegiatan desa."
"Tentu, Bu. Kalau berkaitan dengan pekerjaan, silakan hubungi saya."
Jawaban itu terdengar sopan, tetapi cukup jelas membatasi pembicaraan pada urusan kedinasan.
Ratih tersenyum meski ada sedikit kekecewaan yang disembunyikannya.
Di dekat pintu, Mita sedang berbincang dengan Joko dan Darma. Mereka tertawa membicarakan kejadian lucu ketika salah satu peserta rapat hampir tersandung saat memeriksa lapangan tadi pagi.
Reihan menatap mereka sejenak sebelum akhirnya melangkah menuju kendaraan. Ia tidak tahu mengapa pemandangan itu membuatnya ingin segera menemukan alasan untuk berbicara dengan Mita lagi.
Barangkali ia hanya ingin memastikan bahwa perempuan itu tidak terlalu lelah. Atau barangkali ia ingin mendengar tawanya sekali lagi.
Rasanya tidak ada yang ganjil dari percakapan ketiganya, tetapi ia merasakan sesuatu yang panas begitu saja menerpa di dada. Perasaan yang tidak bisa ia simpulkan.
Bagi Reihan, semangkuk cemburu telah tersaji tanpa diminta. Dan ia mulai menyadari bahwa menghadapi perasaannya sendiri mungkin jauh lebih sulit daripada menghadapi tugas apa pun yang pernah dipercayakan kepadanya.
Sebab di medan tugas, ia tahu apa yang harus dilakukan.
(Dukung karya akak otor ya, kritik, saran dan semuanya akak tunggu... Sayang semua....)