Sejak zaman dulu, sepuluh padepokan saling serang demi pecahan Cincin Braja Moksa. Kabarnya, siapa pun yang menyatukan sepuluh pecahan itu akan menguasai dunia.
Satrio Caksena hanyalah murid Geni Wening, padepokan paling lemah yang tinggal punya tujuh murid dan seorang guru dengan cakra hancur. Saat Kala Ireng datang menuntut pecahan mereka, Satrio cuma bisa bangun lagi setiap kali dihajar.
Malam itu, ia menemukan kristal merah di bawah lantai pendapa. Kristal itu menyala karena darahnya dan membangunkan sisa jiwa seorang Prabu yang sudah mati ribuan tahun lalu.
Dari sang Prabu, Satrio mengetahui rahasia yang dilupakan semua padepokan. Cincin Braja Moksa ternyata segel. Di dalamnya terkurung Sandawa, raja siluman yang dulu hampir menguasai dunia. Setiap pecahan yang terkumpul membuat segel itu makin lemah.
Satrio harus menghentikan Kala Ireng sebelum cincin itu utuh kembali. Masalahnya, tidak ada yang mau percaya pada murid dari padepokan paling lemah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adicipto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tato Sisik Hitam
"Jangan terlalu dekat," kata Ki Arya.
Jati langsung mundur dua langkah sambil menutup hidung. Jasad lelaki bercaping itu terbaring di atas tikar pandan di belakang dapur, tidak jauh dari dua gundukan tanah yang sudah mulai ditumbuhi rumput. Lintang dan Jati yang menyeretnya pulang dengan usungan bambu sebelum fajar, mengikuti petunjuk Gandung. Wajah jasad itu ditutup selembar daun pisang.
Ki Arya berjongkok di samping jasad itu dengan bertumpu pada tongkat. Ia mengupas sisa kain hitam yang hangus di pergelangan tangan kiri lelaki itu dengan ujung pisau, sedikit demi sedikit.
Satrio duduk di undakan dapur dengan kedua lengan terbebat sampai siku. Gandung duduk di sebelahnya, memeluk rusuk dengan satu tangan dan memegang tongkat rotan dengan tangan lainnya. Damar berdiri di belakang mereka, bersandar ke tiang. Sekar berdiri paling dekat dengan Ki Arya, kedua tangannya terlipat di dada.
Kain hangus itu terlepas.
Di kulit pergelangan tangan lelaki itu ada tato hitam sebesar telapak tangan. Bentuknya sisik-sisik kecil yang saling menumpuk, seperti sisik ular atau sisik ikan, melingkari pergelangan itu dari satu sisi ke sisi lainnya. Tintanya hitam pekat, jauh lebih hitam daripada kulit yang hangus di sekitarnya.
Ki Arya menyentuh tato itu dengan ujung jarinya. Jarinya berhenti.
"Timbul," gumamnya.
"Apanya yang timbul, Guru?" tanya Jati dari balik telapak tangannya.
Ki Arya mengusap ujung jarinya ke tikar, lalu memeriksa kaki jasad itu. Sol sandalnya tipis dan sudah bolong di bagian tumit.
"Dia datang dari jauh," katanya.
Ia meraih kantong kain di pinggang jasad itu, membuka talinya, dan menuangkan isinya ke atas tikar.
Yang keluar hanya sebilah pisau kecil, sebatang batu asah, dan lima kepingan logam sebesar uang tembaga. Kepingan-kepingan itu berwarna hitam kusam. Permukaannya tidak bercap seperti uang pasar, tapi berukir sisik-sisik kecil yang saling menumpuk, sama persis dengan tato di pergelangan itu.
"Uangnya mana?" tanya Gandung.
"Ini mungkin uangnya," kata Damar pelan.
Ki Arya memungut sekeping logam itu dan memutarnya di antara jari-jarinya. Kerut di dahinya bertambah.
"Guru pernah melihat tanda ini?" tanya Sekar.
"Belum pernah."
Jawaban itu membuat Sekar menurunkan tangannya dari dada.
"Orang Kala Ireng memakai lambang bayangan di dada, dan mereka bangga memamerkannya," kata Ki Arya, "Orang ini menyembunyikan tandanya di balik kain. Dia bukan orang Kala Ireng." Ia menoleh ke arah Satrio, "Apa yang dia katakan sebelum mati?"
Satrio menatap daun pisang yang menutupi wajah jasad itu.
"Waktu kristal ini menyala karena darahku," katanya, "Dia bilang, 'Jadi benar. Batu itu minum darah.'"
Kepingan logam di tangan Ki Arya berhenti berputar.
"Dia tahu sebelum melihatnya sendiri," kata Ki Arya, lebih kepada dirinya sendiri, "Seseorang sudah memberitahunya."
Gandung mencengkeram tongkat rotannya lebih erat.
Di dalam kepala Satrio, suara Eyang terdengar lagi, lemah dan lambat.
"Tanda itu baunya aneh, bocah."
'Aneh bagaimana, Eyang?'
"Seperti bau binatang."
'Binatang apa?'
Kristal di telapak tangan Satrio tetap gelap dan dingin, dan suara itu hilang lagi.
Ki Arya bangkit dengan bertumpu pada tongkatnya. Matanya turun ke kedua lengan Satrio yang terbebat.
"Geni Sewu," katanya pelan, seperti sedang mencicipi kata itu, "Ajian yang kau teriakkan kemarin pagi."
Satrio menunduk.
"Aku tidak akan bertanya siapa yang mengajarimu," lanjut Ki Arya, "Tapi jangan terlalu sering meneriakkan nama itu di luar padepokan."
***
"Buka mulutmu."
Sekar menyodorkan sendok kayu berisi bubur ke depan bibir Satrio. Satrio terbaring setengah duduk di tikar biliknya, bersandar ke gulungan kain. Kedua lengannya terbebat dari ujung jari sampai siku, jadi ia bahkan tidak bisa menggaruk hidungnya sendiri.
"Aku bisa sendiri," kata Satrio.
"Pegang sendok saja kau tidak bisa. Buka mulutmu."
Satrio membuka mulut. Bubur itu encer dan hambar, tapi hangat.
"Ini beras terakhir," kata Sekar sambil menyendok lagi, "Mulai besok kita makan singkong. Kalau singkongnya habis, entah makan apa. Dan siapa yang membuat dapur kita tinggal separuh? Siapa yang membakar karung beras?"
"Aku," jawab Satrio dengan mulut penuh.
"Lalu siapa yang pergi berburu tanpa izin dan pulang dengan dua lengan hangus?"
"Aku juga."
"Lalu siapa yang membuat Gandung hampir patah rusuknya?"
"Itu pemburu bercaping."
"Kau yang membawanya ke sana!" Sekar menyodorkan sendok berikutnya dengan sedikit terlalu keras, sampai ujung sendok itu membentur gigi Satrio, "Setiap kali kau pulang, ada saja yang terbakar. Tanganmu, alismu, bajumu, dapur kita. Besok apa lagi? Atap pendopo?"
Satrio menelan buburnya dan meringis. Sekar terus mengomel sambil menyendok, dan setiap kalimatnya ditutup dengan satu sendok bubur yang disodorkan ke mulut Satrio. Sendok itu tidak pernah terlambat datang, dan bubur di setiap sendokan selalu sudah ditiup lebih dulu.
Di tengah omelannya, mata Sekar berhenti di pipi Satrio, di bekas serpihan kayu yang kemarin menancap di sana. Ia mencelupkan ujung jarinya ke mangkuk ramuan di samping tikar dan mengoleskannya ke luka itu.
"Sakit?" tanyanya. Suaranya mendadak pelan.
"Sedikit."
"Bagus. Biar kau ingat." Suaranya keras lagi, "Buka mulutmu."
Mangkuk itu tinggal seperempat.
"Sekar," kata Satrio.
"Apa? Mau protes buburnya hambar?"
"Terima kasih."
Tangan Sekar berhenti di udara. Ia menatap Satrio, mulutnya sedikit terbuka. Wajahnya berubah merah, mulai dari pipi, lalu menjalar sampai ke telinga.
"A... apa-apaan kau ini tiba-tiba..."
Mangkuk di tangan kirinya miring. Sisa bubur di dalamnya meluncur keluar dan tumpah ke dada Satrio.
"Panas! Panas, Sekar!"
"Ma... maaf! Ini... bukan, ini salahmu!" Sekar buru-buru menyeka bubur di dada Satrio dengan ujung lengan bajunya, lalu tangannya tersentak menjauh secepat kilat, "Bersihkan sendiri!"
"Tanganku dibebat, Sekar."
Sekar menyambar kain lap dari dekat kendi, melemparkannya ke dada Satrio, lalu keluar dari bilik tanpa menoleh. Langkahnya terdengar cepat sekali di lantai serambi.
Satrio menatap kain lap di dadanya, lalu pintu yang masih bergoyang.
'Aku salah bicara apa?' batinnya.
***
"Lalu kelinci itu, sebesar ini!"
Gandung merentangkan kedua tangannya selebar bahu, lalu meringis dan buru-buru memeluk rusuknya lagi. Ia duduk di tengah serambi dengan tongkat rotan di pangkuan. Jati, Lintang, dan Damar duduk melingkar di depannya. Satrio bersandar di ambang pintu biliknya dengan dada yang masih lengket oleh bubur.
"Sebesar kambing?" tanya Jati dengan mata membulat.
"Sebesar kambing yang sedang hamil. Satrio mengangkat tangannya begini." Gandung menyatukan kedua telapak tangannya dengan gaya yang dibuat-buat, "Lalu wusss! Seratus bara terbang ke segala arah! Kelincinya matang dalam sekejap. Bau dagingnya tercium sampai ke kademangan!"
"Dua puluh bara," kata Satrio dari ambang pintu, "Kelincinya juga cuma sebesar ini."
Ia mengangkat lengannya yang terbebat dan membentuk lingkaran kecil dengan kedua tangannya.
"Jangan dengarkan dia. Dia pingsan setengah perjalanan, jadi ingatannya kacau." Gandung mengibaskan tangan, "Lalu datang pemburu bercaping. Tingginya dua kali pintu pendopo. Matanya merah menyala. Dia menyerang Satrio dengan tongkat ini."
Ia mengangkat tongkat rotan itu tinggi-tinggi. Jati menahan napas.
"Lalu siapa yang menyelamatkan Satrio?" Gandung menunjuk dadanya sendiri dengan ibu jari, "Aku. Kulempar kepalanya dengan batu sebesar kepala kerbau. Tepat di capingnya. Tuk!"
Lintang menyipitkan mata, "Batu sebesar kepala kerbau bunyinya tuk?"
"Bunyinya duar! Tadi aku salah ucap."
Damar tertawa sampai tongkat bambu di samping kakinya tergelincir. Jati bertepuk tangan. Lintang menggeleng, tapi sudut bibirnya naik.
"Terus kelincinya mana, Kang?" tanya Jati.
Tawa Gandung surut. Ia memandangi tongkat rotan di pangkuannya.
"Tertinggal di jalan," katanya, "Paha yang paling besar itu sebenarnya buat Kang Damar."
Damar mengulurkan tangan dan mengacak rambut Gandung.
"Aku lebih suka kalian berdua yang pulang," katanya, "Daripada pahanya."
Satrio membiarkan cerita Gandung yang berlebihan itu. Batu yang dilempar Gandung memang cuma sebesar kepalan, tapi tanpa batu itu, ia tidak akan sempat menarik napas yang ia butuhkan untuk Geni Sewu.
***
Sore itu, Ki Arya mengumpulkan kelima kepingan logam itu di atas selembar kain dan membungkusnya rapat-rapat. Bungkusan itu ia masukkan ke dalam kendi tanah liat kecil, lalu mulut kendi itu ia sumbat dengan gabus.
Lintang dan Jati baru saja selesai meratakan gundukan tanah ketiga di belakang dapur.
"Jangan ada yang menyentuh kendi ini," kata Ki Arya, "Siapa pun. Dan kalau suatu hari kalian melihat tanda sisik hitam itu di pergelangan seseorang, jangan ajak dia bicara. Pulang."
Para murid mengangguk satu per satu.
Ki Arya membawa kendi itu ke biliknya. Ia menyimpannya di bawah dipan, di samping sebuah peti kayu tua yang tidak pernah ia buka di depan murid-muridnya.