"Rin mau kemana? kenapa diam-diam membawa koper begitu?" Tanya Aga merasa curiga pada istrinya, mendadak istrinya pamit pergi, padahal dia baru saja pulang dari pasar. Arin diam saja dan tetap memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobil. "Rin aku nanya sama kamu? Kalau mau pergi, aku antar" "Tidak perlu mas, di dalam masih ada tamu" "Tamu Istimewa" Imbuh Arin dalam hati. Arin menyerah. Sejak kecil dia sudah mengabdi di keluarga suaminya karena mereka telah di jodohkan sejak kecil. Arin kira pengorbanan dan kesabarannya akan membuat suaminya luluh, namun dia salah. Suaminya bahkan membawa wanita idamannya ke dalam rumah. Arin sudah tidak tahu apa yang ingin dia pertahankan di rumah ini, bahkan setelah satu tahun menikah, tak sekalipun dia di sentuh. "Tunggu aku sebentar, keluarkan kopermu. Masukkan ke mobil ku, aku akan mengantarmu" Pinta Aga, namun Arin sudah mati rasa, dia langsung meminta supir melajukan mobilnya.Arin tak memperdulikan Aga yang berteriak sambil berlari mengejarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibah Ibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
Nana menatap Dewa yang sedang menunggu Arin di ambang pintu ruang IGD. Nana begitu hawatir dengan mbak Arin, Mas Dewa bilang mbak Arin masuk rumah sakit, dia langsung menutup toko setelah pesanan hari ini dia selesaikan.
Sampai di rumah sakit, Mas Dewa hanya diam di ambang pintu IGD, mbak Arin tertidur sambil membelakangi mas Dewa. Nana tidak tahu mereka kenapa, tapi suasana di ruangan itu sungguh sangat sunyi. Kecuali para dokter yang tengah menangani pasien di sebelah brangkar Mbak Arin, pasien di IGD menang hanya berbatas kain gorden besar yang di buat untuk penyekat. Nana menatap infus di tangan Arin, ada apa lagi dengan nya? ada masalah kah? Atau ada insiden yang membuat dia terluka?
"Mbak?" Nana memanggil Arin.
Arin berbalik, wajahnya pucat, matanya sembab seperti baru saja menangis.
"Mbak Arin kenapa?" Tanya Nana begitu lembut.
Arin tidak menjawab, dia justru kembali menunduk diam tanpa suara, membuat Nana makin hawatir. Dia sudah sering melihat wajah murung itu, pasti ada yang tidak baik-baik saja.
"Mbak Arin jangan di pendam sendiri, mbak Arin bisa berbagi masalah mbak Arin sama Nana"
Arin justru semakin menangis, Nana reflek memeluk Arin, berharap gejolak di hatinya mereda.
"Dia hamil Na"
Dewa masuk berdiri di samping mereka.
"Apa! Hamil? Kog bisa?"
Nana benar-benar terkejut mendengar kabar itu, kenapa Mbak Arin bisa hamil? dengan siapa?
Arin makin menangis di pundak Nana, dia juga benci dengan keadaannya saat ini, dia juga tidak tahu harus bagaimana,semua terjadi begitu saja.
"Mas Dewa ya yang menghamili mbak Arin? Kan sudah Nana bilang, tunggu sampai mbak Arin cerai!" Nana justru menuduh Dewa, karena Dewa satu-satunya lelaki yang mendekati Mbak Arin sekarang.
Dewa tersenyum getir, andai saja dia yang jadi ayah dari anak di kandungan Arin, dia pasti sangat senang sekali. Dia juga sama terkejutnya mendengar berita ini, jangankan menghamili, mencium bibir Arin saja dia tidak pernah.
"Bukan Dewa na.."
"Bukan mas Dewa? Lalu siapa mbak? bukannya mbak selalu di rumah dan di toko saja? Mbak Arin tidak pernah keluar sama sekali, bahkan Nana ajak saja mbak Arin nolak"
"Maafin mbak na waktu itu....?"
Satu bulan sebelumnya
Tiga hari sudah Arin pergi dari rumah Pak Letnan, tubuhnya sudah mulai membaik, Arin juga sudah mulai membantu Nana di rumahnya, Nana mulai merintis membuat kue yang dia jual lewat online. Arin ikut membantunya.
Melihat Nana yang begitu gigih, Arin jadi bersemangat untuk hidup mandiri, dia meminta izin ke Nana untuk pergi ke suatu tempat.
Hari itu Arin ke pengadilan agama, dia mengajukan surat cerai dengan Aga, namun dia sama sekali tidak menceritakan keburukan Aga pada hakim. Dia tidak mau perceraian mereka mempengaruhi jabatan Aga. Dia juga tidak mau Bu Tina hawatir pada putranya, jadi Arin mencari alasan lain.
Arin mengatakan jika dia sudah tidak mencintai Aga, dia tidak mau lagi hidup bersama dengan lelaki itu. Arin mengaku jika dia tidak mau di sentuh oleh Aga. Surat cerai langsung di urus oleh pihak pengadilan, Arin di minta memberikan surat gugatan cerai pada Aga. Meminta agar menandatangani surat itu, dan perceraian akan segera di tindak lanjuti.
Tidak menunggu lama, Arin langsung pergi ke toko kue, hari sudah sore, toko sudah tutup. Arin sengaja ingin menemui Aga di sana agar Bu Tina tidak melihatnya. Arin masih memegang kunci duplikat toko itu. Jadi dia bisa menunggu Aga di dalam tanpa Bu Tina tau.
Baru saja Arin masuk ke toko itu, dia juga berencana memberi tahu Aga kalau dia ada di toko ibunya. Namun mendadak tubuhnya di peluk seseorang dari belakang. Arin begitu terkejut, dia berusaha melepas pelukan itu, namun apa yang di lakukan orang itu sungguh membuat Arin jijik.
Leher Arin di cium dengan beringas, tangan lelaki itu meraba perut Arin hingga masuk ke dalam bajunya.
"Lepas!" Teriak Arin.
Arin menggigit lengan orang itu, hingga dia bisa lepas dari pelukan itu.
"Mas Aga?" Lirih Arin sambil menatap Aga yang sudah berantakan. Bajunya tidak beraturan, rambutnya compang-camping, bau alkohol begitu menyengat dari tubuhnya.
"Arin? Akhirnya kamu pulang, mas sangat rindu sama kamu"
Aga mulai mendekat lagi, Arin mundur berusaha menghindar.
"Mas mau apa!" Teriak Arin ketakutan, mata Aga begitu sayu, dia seperti menginginkan sesuatu darinya.
"Mas mau kamu Rin, kamu selalu ingin di sentuh kan? kemari lah, Mas akan memuaskan kamu"
Arin melempar tasnya saat Aga mulai mengejarnya, dia sangat ketakutan melihat Aga yang setengah sadar.
"Pergi! Aku tidak mau kamu sentuh mas!" Teriak Arin. Arin berlari ke pintu ingin pergi dari sana, namun pintu sudah di kunci oleh Aga. Arin berbalik, saat itulah Aga memperlihatkan kunci toko itu di tangannya.
"Kuncinya ada di sini, kemari lah. Ambil kuncinya"
Arin menelan Salivanya, tangannya gemetar, keringat dingin membasahi dahinya, dia menatap kunci itu, dia harus bisa mengambil kunci itu agar bisa keluar dari toko ini.
Arin terpaksa mendekat, dia berusaha mengambil kunci itu, namun tubuhnya di tarik oleh Aga, Aga menggendong Arin di bahunya. Arin terus memberontak minta di turunkan.
"Lepas! lepasin aku Aga! Aku tidak mau kamu sentuh! Aku ingin kita pisah!"
Kata-kata pisah dari mulut Arin makin membuat amarah Aga berkobar. Aga membawa Arin ke kamar nya dulu, di sana masih banyak barang-barang Arin yang belum dia bawa.
Aga menjatuhkan Arin di ranjang, dia mulai membuka bajunya.
"Jangan Aga! Aku mohon jangan lakukan ini" Arin terus memohon.
namun Aga seakan tidak mau mendengar rintihan itu, Aga tidak akan membiarkan Arin jauh darinya , dia tidak akan membiarkan Arin bercerai darinya, dia harus memiliki Arin, agar Arin tidak bisa ke mana-mana, dia ingin Arin jadi miliknya, hanya miliknya. Dengan amarah yang meluap, Aga mulai menindih tubuh Arin, Arin mencoba menyelamatkan diri, namun Kungkungan Aga sangat kuat, Arin terus menangis dan memohon pada Aga agar dia tidak melakukannya, namun Aga justru makin beringas, dia terus menciumi tubuh Arin, telinganya seperti tuli, dia seperti orang kesetanan yang terus memaksa Arin menuruti nafsunya.
"Akkkhhhh"
Jeritan itu keluar dari mulut Arin saat Aga berhasil membobol kesuciannya, Arin menangis tertahan, dari semua luka yang di toreh Aga, hari ini adalah hal yang terburuk, Arin merasa sangat hina, dia merasa jatuh sejatuh-jatuhnya. Arin mati rasa saat kesuciannya di renggut paksa oleh Aga. Cinta yang pernah hadir serasa lenyap begitu saja berganti benci yang begitu mendalam.
"Lelaki be*at! Aku tidak akan pernah memaafkan kamu!"
Arin terus menangis kala Aga tak henti-hentinya melampiaskan nafsunya. Dia menyesal, sangat-sangat menyesal sudah datang ke sini.
"Kamu Jahat Aga!"
Satu jam berlalu, Aga tertidur pulas setelah beberapa kali memaksa Arin. Arin segera memungut pakaiannya, dengan air mata yang terus jatuh. Dia tidak akan pernah ke sini lagi, dia tidak akan kembali lagi ke keluarga ini, keluarga yang hanya memberinya luka
Arin mengambil seprai di ranjang itu, dia tidak mau Aga melihat darah merah keperawanan nya yang menempel di seprai itu, dia akan membakar seprai itu bersama dengan hatinya yang juga hangus tidak tersisa.
kl kabur beneran pasti kluar kota Naik bus ganti kapal pesiar pasti gk Ada yg nemuin. ntah Arin itu goblok apa tolol jd wanita. pdhl dah dewasa dah pernh kawin tp ttp oon.
niat kabur Dr awal pergi jauh ganti nmr jng hub orang rumah lagi. kemarin mncing hub mertua oalah alah. cewek plin plan.
terus aja Rin keraskan hatimu buat dirimu sama ky si Aga yg suka menyimpan dendam jd kamu ga ada bedanya sama si Aga kan
heran koq bisa si Dewa tau2 nongol bawa bunga bawa cincin, ntar pas mereka lg pandang2 an ato pegangan tangan si Aga nongol tuh, lanjut lg salah pahamnya gitu aja terus ga kelar2
kl wanita mandiri pasti saat pertama kabur dah ganti nmer kabur baik bus yg jauh ntah kluar pulau bgitu.
tp ini mlh milih nyari laki lain pdhl status masih istri orang. gk jelas bnget. wanita murah.
kl merasa suami mu gk baik ya cerai sblm pergi ni mlh jd wanita murah meriah.
sepertinya takdir tdk akan membawamu ke Dewa deh 🤭😆