NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Rival

Menikah Dengan Rival

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rii_Risa

"Lo pasti juga nggak mau terima perjodohan ini, kan?!"

"Mau."

Jawaban singkat pria itu sukses membuat mata Kara membelalak sempurna.

Hanya karena ingin menjadi pengangguran yang kaya raya, Lengkara Anasera nekat menerima perjodohan yang di buat oleh orang tuanya, tanpa mencari tahu terlebih dahulu siapa calon suaminya itu.

Sialnya, pria itu adalah Erlangga Bumi Maheswara, musuh bebuyutannya sejak kecil.

Bagaimana kisah mereka selanjutnya?
Akankah Kara nekat membatalkan perjodohan ini? Atau ia justru bertahan demi mewujudkan cita-citanya menjadi pengangguran yang kaya raya? Mengingat Erlangga adalah sosok pria tajir melintir yang selama ini ia cari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rii_Risa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

High heels itu mengetuk pelan seirama dengan langkah kaki jenjang seorang perempuan yang berjalan memasuki area restoran.

Dress merah maroon selutut, dan rambut panjang yang di biarkan tergerai, menambah kesan cantik pada wanita itu.

Dialah Lengkara Anasera, gadis berusia 28 tahun yang berencana tak ingin menikah. Namun rencana itu ia urungkan, karena tiba-tiba orang tuanya menjodohkannya dengan seseorang yang katanya miliarder. Tentu saja Kara tidak menolak, karena cita-citanya menjadi pengangguran yang kaya raya.

Kara mengamati sekeliling restoran, dan baru menyadari tidak ada satupun pengunjung yang datang.

"Ma... Ini beneran tempatnya? kenapa sepi banget sih? Udah kayak kuburan aja deh," tanyanya heran.

"Ya bener dong sayang, emang mama pernah bohong sama kamu?" jawab Sonya, mamanya Kara.

"Restoran ini sudah di booking sama calon suami kamu, Kara," timpal Lesmana, papanya.

Kara melipat kedua tangannya di depan dada, lalu tersenyum miring. "Syukur deh, jadi yang mama dan papa jodohin sama Kara itu beneran orang kaya."

"Nah... Itu mereka," ucap Sonya sambil menunjuk ke arah meja di sudut ruangan.

Kara memicingkan matanya sesaat, lalu menoleh cepat ke arah orang tuanya. "Om Ridwan dan Tante Lisa?"

Kedua orang tuanya mengangguk kompak. "Ayo kita ke sana," ajak sang mama sambil menggandeng tangan Kara.

"Tunggu!"

Kara langsung menahan tangan kedua orang tuanya. Matanya membelalak menatap dua orang paruh baya itu. Kara sangat tahu betul siapa mereka, mereka adalah sahabat sekaligus mantan tetangga orang tuanya dulu.

"Jangan bilang kalian mau ngejodohin Kara dengan om Ridwan?" tanyanya dengan tampang menyelidik.

Sonya langsung mencubit pelan pinggang putrinya, lalu di susul oleh Lesmana yang ikut menjitak kepalanya. "Ngawur kamu!" ucap keduanya.

Kara langsung memanyunkan bibirnya sambil mengusap-usap kepalanya. Sementara Sonya dan Lesmana langsung menggeret tangan Kara untuk melangkah ke tempat Ridwan dan Lisa berada.

"Maaf... Apa kalian sudah menunggu lama?" ucap Sonya begitu sampai.

Ridwan dan Lisa langsung berdiri dari kursinya, senyum lebar pun langsung mengarah kepada mereka bertiga.

"Ah, nggak, kami baru aja sampai," jawab Ridwan.

Sementara Lisa langsung merangkul pundak Sonya. "Ya ampun Son, udah lama banget kita nggak ketemu. Anakmu makin cantik aja." Pandangan Lisa beralih ke arah Kara, senyumannya semakin melebar. "Ini pasti Kara ya? Duh... udah gede, makin cantik aja sih?"

Kara cuma tersenyum kaku mendengar pujian itu.

"Silahkan duduk," ucap Ridwan.

Begitu mereka duduk, dua pelayan segera meletakan beberapa minuman dan hidangan di atas meja, yang sebelumnya telah di pesan oleh Ridwan dan Lisa.

Obrolan langsung mengalir di antara ke empat orang paruh baya itu. Sonya dan Lisa sibuk bernostalgia zaman mereka dulu.

Sementara Lesmana dan Ridwan membahas tentang proyek mereka.

Lalu Kara? Dimana dia? Tentu saja masih duduk manis di antara empat orang paruh baya itu, sambil sesekali menyeruput minumannya.

"Ck.... Katanya mau ngejodohin gue sama orang kaya! Taunya malah reuni tetangga!" batin Kara kesal.

Sudah dua puluh menit Kara menunggu, namun orang tuanya sama sekali tidak membahas tentang perjodohan itu.

Hampir saja Kara mau beranjak pergi, tapi ia urungkan ketika suara Lisa terdengar.

"Nah... Itu Erlangga sudah datang," ucapnya sambil melihat kearah pintu.

Kara seketika ikut menoleh.

Seorang pria berjas hitam berjalan dengan langkah tenang ke arah mereka. Rambutnya disisir agak berantakan, rahangnya tegas, dan tatapannya yang dingin serta tajam membuat jantung Kara berdebar kencang. Bukan karena ia jatuh cinta pada Erlangga, melainkan karena ini pertama kalinya ia melihat musuh bebuyutannya itu lagi, setelah hampir sepuluh tahun mereka tak bertemu.

"Maaf... Saya terlambat," ucap Erlangga begitu sampai.

Mendengar tiga kata yang di ucapkan Erlangga, Kara langsung memutar bola matanya malas.

"Ternyata hobi lamamu nggak pernah berubah ya? Masih suka telat!" sindir Kara tajam.

Erlangga langsung tersenyum miring, lalu duduk di kursi sebelah Lisa, tepat di hadapan Kara.

"Terima kasih atas perhatianmu, Nyonya Lengkara," balas Erlangga tenang sambil menatap tajam kearah Kara.

Kara menyeruput minumannya sebentar, matanya juga membalas tatapan tajam Erlangga. "Sepertinya... anda tidak bisa membedakan antara sindiran dan perhatian," ucapnya dengan nada sinis.

Mendengar ucapan putrinya, Sonya langsung mencubit pelan paha Kara yang duduk di sebelahnya.

Kara merintih kecil, lalu menoleh ke arah mamanya. "Apaan sih, Ma?"

Sonya menatap tajam putrinya, lalu berbisik pelan. "Jaga sikapmu, Kara."

Kara hanya mendengus pelan, lalu kembali menegakkan tubuhnya.

Sementara di kursi sebrang, Erlangga masih duduk santai. Jas hitamnya sedikit terbuka, memperlihatkan kemeja putih di dalamnya. Sementara matanya tak pernah lepas dari Kara.

"Papa kira, setelah sekian lama kalian tidak bertemu, kalian bakal akur. Ternyata sama saja," ucap Ridwan yang memecah keheningan.

"Ayolah... kalian ini sudah dewasa, bukan remaja berusia 18 tahun lagi. Mau sampai kapan berantem seperti ini setiap ketemu?" timpal Lesmana.

"Lebih baik, kita segera membahas perjodohan ini, bukankah lebih cepat lebih baik?" ucap Lisa sambil menatap ke arah Ridwan.

Ridwan berdehem sebentar, lalu suara baritonnya yang khas mulai terdengar.

"Jadi gini, kita sudah sepakat untuk menjodohkan kalian."

Para orang tua langsung mengangguk pelan, sementara Kara langsung tersedak oleh minuman yang sedang di seruputnya.

"Uhukk... Uhukk..."

Mata Kara langsung membelalak lebar. Ia tak menyangka kalau Erlangga, musuh bebuyutannya itu adalah calon suami miliarder yang dimaksud oleh keluarganya.

"Kalian mau jodohin Kara sama Erlangga? Kalian nggak salah?"

"Tidak Kara. Daripada Kalian berantem Mulu, mending kita jodohin aja sekalian," ulang Ridwan yang memperjelas suaranya.

Kara menelan ludahnya dengan susah payah sambil menggelengkan kepalanya pelan.

"Kok jadi Erlangga sih? Bukannya gue mau di jodohin sama pria tua kaya raya yang hampir meninggoy ya?" batin Kara penuh tanya.

Setelah beberapa detik tersadar, Kara langsung menoleh cepat kearah orang tuanya. "Jadi, maksud Papa... calon suami yang Papa dan Mama maksud itu... dia?"

Lesmana dan Sonya hanya mengangguk kompak.

Sementara Erlangga tidak terlihat kaget sama sekali. Pria itu justru mengangkat sebelah alisnya, lalu menyesap minumannya dengan tenang. Setelah itu, ia memasang senyum tipis penuh kemenangan yang membuat darah Kara langsung mendidih.

"Kara nggak mau!" tolak Kara cepat.

Suasana mendadak hening beberapa detik, sampai akhirnya suara Lisa terdengar.

"Kenapa Kara tidak mau?" tanyanya lembut.

"Tante..." Kara menatap melas kearah Lisa. "Kara tidak suka Erlangga. Dulu Erlangga sering menghukum Kara seenaknya. Kalau Kara menikah dengannya, dia bisa menghukum Kara setiap hari."

"Ya itu karena kamu sering bolos saat jam pelajaran, dan sering melanggar peraturan sekolah, Kara," timpal Sonya.

Kara langsung menatap kearah Sonya, seolah tak percaya jika mamanya sekarang sedang membela Erlangga.

"Erlangga itu baik, kamu saja yang sedikit bandel," lanjut Lesmana.

"Lah... Kok jadi salah gue sih?" batin Kara kesal.

Kara beralih menatap Erlangga, mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, lalu menatapnya tajam. "Lo pasti juga nggak mau terima perjodohan ini, kan?!"

Erlangga tidak langsung menjawab, ia menyandarkan punggungnya di kursi terlebih dahulu, lalu menjawabnya pelan. "Mau."

Jawaban singkat pria itu sukses membuat mata Kara membelalak sempurna.

"Nah kan, Erlangga aja sudah setuju, berarti kamu juga harus setuju, Kara," ucap Sonya sambil tersenyum lega.

"Tapi ma..." Kara mendesah berat sambil menatap mamanya dengan tatapan memohon.

"Tidak ada tapi-tapian, Perjodohan ini akan terus berlanjut, dan minggu depan kalian akan tunangan," ucap Lesmana.

"Minggu depan? Apa ini tidak terlalu cepat, Pa?" protes Kara.

"Tidak! Kamu dan Erlangga sudah saling mengenal sejak kecil, dan papa yakin kalian sudah saling kenal satu sama lain."

"Tapi pa, kita baru bertemu lagi hari ini setelah sepuluh tahun Erlangga menghilang!"

"Erlangga tidak menghilang, dia hanya melanjutkan kuliah di Australia dan menetap disana" jelas Lesmana santai.

Kara langsung terdiam. Ia harus mengakui, dirinya kalah telak kali ini. Menikah dengan Erlangga, musuh bebuyutannya sekaligus mantan ketua OSIS yang dulu hobi menghukumnya benar-benar di luar dugaannya.

Namun, tatapan penuh harap dari orang tuanya dan orang tua Erlangga membuat pertahanannya runtuh.

Kara akhirnya menghela nafas panjang. "Baiklah, Kara menerima perjodohan ini," ucapnya pasrah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!