NovelToon NovelToon
OM GANTENG ITU SUAMIKU

OM GANTENG ITU SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Leny Fairuz

Mita Septia, seorang gadis manis yang berprofesi sebagai Guru PJOK di sekolah terpencil Kecamatan Entikong, kabupateng Sanggau perbatasan Kalimantan Barat dengan negeri jiran Malaysia. Ia telah menjalin hubungan asmara dengan Denis yang menjabat sebagai CSR Supervisor di salah satu perusahaan pertambangan ternama di Kalimantan Barat. Hubungan yang telah berjalan hampir 3 tahun, membuat keduanya berencana meresmikan di akhir tahun. Tetapi kenyataan tak sesuai harapan Mita. Denis telah berpaling hati, hingga membuat rekan kerjanya hamil. Tak bisa menghindari tanggung jawab, Denis melupakan janji yang telah ia susun bersama Mita. Keputusan Denis tentu saja menghancurkan hati Mita, dalam kelukaan atas kabar yang dikirim Denis mempertemukan ia dengan seorang Abdi Negara berpangkat Kapten yang bernama Reihan. Akan kah Kapten Reihan mampu menyembuhkan segala luka yang dialami Mita....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leny Fairuz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35. Ketika Waktu Tak Lagi Berpihak

"Kapten?" Suara seseorang tiba-tiba terdengar dari belakang.

Reihan tersentak kecil, lalu segera mengalihkan pandangannya dari sudut lapangan. Seorang anggota tim berdiri beberapa langkah darinya sambil membawa map berisi catatan pertandingan.

"Ada apa?" tanyanya, berusaha mengembalikan nada suaranya seperti biasa.

"Rapat evaluasi untuk pertandingan berikutnya sudah dimulai. Yang lain sudah menunggu di ruang persiapan."

Reihan melirik jam tangannya. Ia memang hampir terlambat, "Baik. Saya segera ke sana."

Anggota tim itu mengangguk, lalu bergegas kembali ke ruang persiapan.

Reihan masih berdiri selama beberapa detik. Ia memaksa dirinya mengatur napas dan menyingkirkan berbagai pikiran yang tidak seharusnya mengganggu pekerjaannya.

Ada pertandingan yang harus dipersiapkan. Ada strategi yang perlu dievaluasi. Ada anggota tim yang menunggu arahannya. Ia tidak boleh membiarkan persoalan pribadi memengaruhi tanggung jawabnya.

Itulah prinsip yang selama ini selalu ia pegang.

Dengan langkah mantap, Reihan mulai berjalan menuju ruang persiapan. Ia berusaha memusatkan perhatian pada hal-hal yang bisa ia kendalikan, meskipun sebagian pikirannya masih tertinggal di sudut lapangan.

Ketika hampir mencapai pintu, ia berhenti sebentar dan menoleh sekali lagi.

Mita masih duduk di sana bersama Budi.

Kali ini, Reihan tidak mencoba menebak apa yang sedang mereka bicarakan. Ia hanya memandang keduanya dalam diam, lalu merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan mengendap di dalam dadanya.

Untuk pertama kalinya, ia benar-benar menyadari bahwa kesempatan tidak selalu menunggu seseorang sampai ia siap.

Selama ini, ia mengira perasaan bisa disimpan sampai keadaan menjadi sempurna. Ia menganggap kesabaran adalah pilihan paling bijaksana, seolah segala sesuatu akan tetap berada di tempatnya selama ia belum mengambil keputusan.

Namun, hidup tidak pernah menjanjikan hal semacam itu.

Mita bukan seseorang yang akan terus berdiri di tempat yang sama hanya karena Reihan belum siap mendekat. Perempuan itu memiliki kehidupannya sendiri, pilihan-pilihannya sendiri, dan hati yang tidak bisa ia minta untuk menunggu tanpa memberikan kepastian.

Sementara Budi, dengan segala keberaniannya, mungkin sedang mengambil langkah yang selama ini terus Reihan tunda.

Reihan menelan ludah, lalu memalingkan wajah. Ada perasaan kehilangan yang aneh, meskipun ia tahu belum pernah memiliki apa pun untuk benar-benar hilang.

Barangkali, itulah yang paling menyakitkan dari perasaan yang tidak pernah diungkapkan. Seseorang bisa merasa kehilangan hanya karena menyadari bahwa kesempatan yang diharapkannya mungkin akan menjadi milik orang lain.

Ia menarik napas panjang sebelum memasuki ruang pertemuan.

Begitu melangkah masuk, Reihan mendapati beberapa anggota tim sudah duduk mengelilingi meja. Papan strategi terpasang di dinding, sementara catatan pertandingan sebelumnya tersusun rapi di hadapan mereka.

"Maaf, saya sedikit terlambat," ujarnya singkat.

"Tidak masalah, Kapten. Kami baru saja akan mulai," jawab salah seorang anggota.

Reihan mengambil tempat di ujung meja, membuka catatan evaluasi, lalu mulai membicarakan strategi pertandingan berikutnya.

Ia segera berbicara dengan nada penuh wibawa, semua mendengarkan sehingga ruangan menjadi hening atas intruksi yang ia sampaikan. Nada suaranya tegas dan terukur. Ia memberikan arahan, menjelaskan kemungkinan perubahan strategi, serta meminta setiap anggota memahami tugas masing-masing.

Tidak ada seorang pun yang mengetahui bahwa beberapa menit sebelumnya, ia sedang berjuang menghadapi sesuatu yang jauh lebih sulit daripada menyusun strategi menjaga keamanan tetap kondusif ditengah euphoria merayakan peringatan HUT Kemerdekaan RI yang begitu ramai di daerah perbatasan.

Sebab, dalam pertempuran, Reihan selalu tahu kapan harus bertahan dan kapan harus menyerang.

Namun, dalam urusan hati, ia justru terlalu lama memilih diam.

Ketika rapat berlangsung, beberapa kali pikirannya tanpa sengaja kembali kepada Mita. Ia teringat ekspresi terkejut perempuan itu ketika Budi berbicara kepadanya. Ia juga teringat bagaimana Budi mencondongkan tubuh, seolah ingin memastikan bahwa setiap kata yang diucapkannya dapat didengar dengan jelas.

Reihan mencoba mengabaikan bayangan itu.

Ia tidak ingin membuat kesimpulan berdasarkan sesuatu yang bahkan belum dipahaminya. Bisa saja dugaannya keliru. Bisa saja percakapan tersebut tidak ada hubungannya dengan perasaan.

Namun, ada satu hal yang tidak bisa ia sangkal.

Ia cemburu.

Pengakuan itu terasa pahit, tetapi jauh lebih jujur daripada semua alasan yang sejak tadi berusaha ia ciptakan. Ia cemburu melihat Budi memiliki kesempatan untuk berbicara dengan Mita secara pribadi. Ia cemburu melihat bawahannya itu mampu melakukan sesuatu yang masih ia tunda. Dan yang paling membuatnya gelisah, ia cemburu karena tidak tahu apakah Mita akan menyambut pengakuan tersebut dengan perasaan yang sama.

Reihan menunduk, menatap catatan di hadapannya.

Selama ini, ia selalu merasa harus mempertimbangkan banyak hal sebelum mengambil keputusan. Sebagai seorang perwira yang terbiasa memikul tanggung jawab, ia memahami bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi.

Ia tidak suka bertindak gegabah. Ia tidak ingin memberikan harapan jika belum yakin mampu menepatinya. Ia juga tidak ingin membuat seseorang terjebak dalam ketidakpastian.

Namun, bukankah dengan terus diam, ia justru sedang membiarkan Mita berada dalam ketidakpastian yang lain?

Perempuan itu tidak pernah tahu apa yang sesungguhnya ia rasakan. Mita mungkin bahkan tidak pernah membayangkan bahwa di balik sikap tenang dan profesionalnya, ada seorang laki-laki yang diam-diam memperhatikan hal-hal kecil tentang dirinya.

Jika Mita kemudian memilih Budi, Reihan tidak akan memiliki alasan untuk menyalahkannya. Ia sendiri yang membiarkan kesempatan itu berlalu.

"Kapten, bagaimana kalau kita menempatkan petugas lebih banyak di partai final? Saya lihat banyak penonton dari negara Malaysia yang berdatangan, bahkan ada yang menggunakan bus parawisata.” Pertanyaan salah seorang anggota membuat Reihan mengangkat kepala.

Ia segera kembali memusatkan perhatian pada rapat, “Kita lihat situasi dan kondisi di lapangan. Jangan mengambil keputusan hanya berdasarkan perkiraan. Kalau besok sore babak penentuan voly putra penonton masih seperti hari ini, petugas jaga kita tambah, jadwal patroli kita atur kembali."

"Siap, Kapten."

Reihan melanjutkan pembahasan dengan profesional. Ia memastikan seluruh strategi dipahami sebelum rapat ditutup.

Setelah semua anggota meninggalkan ruangan, ia tetap duduk beberapa saat. Tangannya memainkan ujung pena, sementara pikirannya kembali melayang pada persoalan yang sejak tadi berusaha ia singkirkan.

Ia belum tahu kapan akan bertemu dan berbicara secara pribadi pada Mita. Ia juga belum tahu bagaimana perempuan itu akan menanggapi perasaannya.

Akan tetapi, untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa diam bukan selalu bentuk pengendalian diri. Terkadang, diam hanyalah ketakutan yang disamarkan sebagai kesabaran.

Reihan berdiri, merapikan catatan, lalu melangkah menuju pintu. Ia tidak ingin terus-menerus terjebak dalam dugaan yang hanya akan menyiksanya sendiri.

Jika Budi memang sedang menyatakan perasaannya kepada Mita, ia harus menerima kenyataan bahwa bawahannya itu memiliki hak yang sama untuk memperjuangkan kebahagiaannya.

Namun, menerima hak Budi bukan berarti Reihan harus terus menyangkal perasaannya sendiri.

Ia juga berhak memperjuangkan sesuatu yang dianggapnya berharga, selama ia tidak memaksakan kehendak kepada siapa pun. Dan Mita, pada akhirnya, tetap menjadi seseorang yang berhak menentukan pilihannya.

Pikiran itu membuat langkah Reihan terasa sedikit lebih ringan, meskipun kegelisahan di dadanya belum benar-benar hilang. Ia tidak akan mendatangi Mita untuk menuntut jawaban. Ia tidak akan menggunakan kedudukannya sebagai kapten untuk mencampuri urusan pribadi perempuan itu. Jika suatu hari ia memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya, ia akan melakukannya dengan jujur dan siap menerima apa pun jawaban yang diberikan.

Sebab, mencintai seseorang seharusnya bukan tentang memenangkan persaingan dengan laki-laki lain. Melainkan tentang keberanian untuk menyampaikan perasaan tanpa merampas kebebasan orang yang dicintai.

Reihan berhenti sejenak di depan area gedung sekolah yang masih ramai dengan penonton, walau pun pertandingan telah usai.

Sore mulai meredup, meninggalkan semburat jingga di langit. Dari kejauhan, ia masih bisa melihat beberapa anggota tim membereskan perlengkapan pertandingan.

Mita dan Budi sudah tidak terlihat di sudut lapangan. Entah ke mana mereka pergi setelah percakapan itu selesai.

Reihan tidak tahu apakah Budi telah mengungkapkan perasaannya. Ia juga tidak tahu apakah Mita telah memberikan jawaban. Ketidakpastian itu masih ada, tetapi kini ia memahami bahwa ia tidak bisa mengendalikan segala sesuatu hanya dengan memikirkannya berulang kali.

Ia harus berani mengambil langkah. Jika ia terus menunggu tanpa pernah berani mendekat, suatu hari nanti ia mungkin harus menyaksikan perempuan yang diam-diam ia kagumi dan menjadi bunga tidur di malam hari, memilih seseorang yang lebih dahulu datang dan menyatakan perasaan.

Seseorang yang tidak membiarkan keraguan mengalahkan keberanian. Seseorang yang tidak menunggu sampai semuanya terlambat.

Reihan menarik napas panjang, kemudian memasukkan kedua tangannya ke saku celana.

Dalam diam, ia membuat keputusan sederhana untuk dirinya sendiri. Ia tidak akan membiarkan waktu terlalu lama dalam menentukan apa yang boleh dan tidak boleh ia lakukan. Ia akan mencari kesempatan untuk berbicara dengan Mita, bukan untuk menuntut balasan, melainkan agar perempuan itu mengetahui apa yang selama ini ia simpan.

Setidaknya, jika kelak Mita memilih jalan yang berbeda, Reihan tidak harus hidup dengan pertanyaan tentang apa yang mungkin terjadi seandainya ia berani mencoba. Ia mengangkat wajah, menatap langit yang semakin gelap.

Sore itu mengajarinya sesuatu yang tidak pernah ia pelajari selama pendidikan maupun dalam tugas-tugasnya: tidak semua hal bisa dimenangkan dengan strategi, dan tidak semua kesempatan akan datang dua kali.

Dalam urusan hati, keberanian dan tekad terkadang berarti bersedia menerima kemungkinan terluka. Dan jika ia tidak ingin menyesali kesempatan yang hilang, ia harus berhenti bersembunyi di balik alasan-alasan yang selama ini diciptakannya sendiri. Sebab, waktu mungkin masih memberinya kesempatan.

Tetapi Reihan tidak lagi yakin bahwa waktu akan terus berpihak kepadanya.

1
Heti Supriyati Laela
ikutan senyum sendiri
Heti Supriyati Laela
semangat up othor
Heti Supriyati Laela
gasss kapten
rayhan dirgantara
up lg ga ka aku rayhan kls 4sd ka slm knal ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!