**Perjodohan Pembunuh Naga dan Putri Naga**
Veronica, seorang naga setengah manusia, harus menikah dengan Altres Vanguard, kesatria terkenal yang dijuluki pembunuh naga. Pernikahan mereka merupakan syarat perdamaian antara bangsa naga dan manusia yang telah lama bermusuhan. Namun, menyatukan dua makhluk dari ras berbeda bukanlah perkara mudah. Veronica yang tidak memahami kehidupan manusia sering berselisih dengan Altres, sementara Altres sulit menerima kenyataan bahwa wanita yang menjadi istrinya adalah seekor naga.
Di balik pertentangan mereka, tersimpan luka masa lalu yang perlahan terungkap. Veronica kehilangan ibunya yang seorang manusia, menyaksikan bagaimana usia singkat sang ibu memisahkan mereka untuk selamanya. Sementara itu, Altres kehilangan ayah dan kedua kakaknya dalam perang melawan bangsa naga, meninggalkan kebencian yang sulit dihapuskan.
Seiring waktu, keduanya mulai memahami kesedihan dan ketakutan masing-masing. Di antara perbedaan, dendam, dan luka masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EMPIRE RAJA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 perubahan pandangan orang-orang
Tak lama kemudian, para prajurit mulai membawa keluar beberapa penambang dari dalam tambang dengan tandu darurat dari kayu dan kain kasar. Beberapa di antara mereka berjalan terpincang sambil memegangi lengan, tetapi ada pula yang terluka cukup serius, dengan darah yang merembes di balik perban seadanya dan napas yang tersengal menahan sakit. Erin segera melangkah maju dengan gaun yang sedikit terangkat dan berseru tegas pada para perawat yang datang tergopoh-gopoh dari bangunan di dekat gudang. "Cepat tolong mereka semua! Jangan biarkan ada satu pun yang terlambat ditangani!" Para perawat mengangguk cepat dan langsung berlutut di samping para penambang tanpa membuang waktu, tangan mereka bergerak cekatan membuka perban dan memeriksa luka.
Count Regurd ikut turun tangan memerintahkan para prajurit membantu mengangkat yang terluka, suaranya berat dan penuh rasa bersalah karena tambang miliknya hampir merenggut nyawa rakyatnya. Para penambang dibaringkan di atas tanah beralaskan tikar, sementara para warga yang ikut membantu berlarian membawa air bersih, kain, dan ramuan obat dari rumah masing-masing. Veronica berdiri tak jauh dari sana dengan kedua tangan saling menggenggam di depan dada, jubahnya masih berdebu dan sedikit hangus di ujungnya, matanya menyapu satu per satu wajah yang meringis itu dan menghitung dalam hati sampai ia yakin tak ada yang hilang. Ketika perawat terakhir mengangguk bahwa semuanya masih bernapas, bahunya yang tegang akhirnya turun dan ia menghembuskan napas panjang penuh kelegaan. Seorang penambang yang lengannya dibebat sempat menoleh padanya dan mengangguk lemah penuh terima kasih, dan tatapan itu membuat dadanya terasa hangat sekaligus sesak. Entah kenapa, perasaannya terasa sedikit berat, dan untuk pertama kalinya ia mulai menyadari bahwa menjadi penguasa bukan sekadar menikmati hasil panen dan batu-batu berkilau, melainkan memikul nyawa orang-orang yang bergantung padanya.
Saat ia masih termenung, seseorang menarik-narik ujung gaunnya dengan pelan. Veronica menunduk dan mendapati seorang gadis kecil berpipi bulat dengan rambut dikepang dua sedang mendongak ke arahnya dengan senyum riang tanpa sedikit pun rasa takut. Veronica mengerjapkan mata sambil melirik ke kiri dan ke kanan mencari orang tua anak itu, bingung apakah anak itu menginginkan sesuatu darinya. "Ada apa, adik kecil? Kau butuh sesuatu? Atau kau tersesat dari ibumu?"
Gadis kecil itu tidak menjawab, ia hanya mengulurkan tangannya yang mungil dan menyerahkan setangkai bunga liar berwarna kuning yang kelopaknya sedikit kusut karena terlalu lama digenggam. "Ini untuk Nyonya, terima kasih sudah menyelamatkan ayahku! Tadi Rina lihat Nyonya terbang seperti burung besar!" katanya lantang dengan suara cempreng yang membuat beberapa orang menoleh. Veronica tertegun sejenak, kata-kata yang hendak keluar dari mulutnya mendadak lenyap, lalu tersenyum lembut dan berjongkok untuk menerima bunga itu dengan kedua tangan, seolah yang ia terima adalah sebutir permata paling berharga.
Seorang wanita yang melihat kejadian itu langsung pucat dan berlari menghampiri, lalu menarik putrinya ke belakang tubuhnya sambil membungkuk berkali-kali. "Mohon maafkan putri saya, Nyonya Duchess! Dia masih kecil dan tidak tahu sopan santun. Saya tidak bermaksud membiarkannya selancang itu. Sungguh, saya akan menegurnya nanti di rumah."
"Tidak apa-apa, sungguh, jangan marahi dia," sahut Veronica sambil terkekeh kecil dan memutar tangkai bunga itu di antara jemarinya. "Anakmu manis sekali. Siapa namamu, adik kecil?"
"Rina!" jawab gadis kecil itu sambil menyembul dari balik rok ibunya dengan dada membusung bangga. "Nanti kalau Rina sudah besar, Rina akan melayani Nyonya Duchess sebagai ucapan terima kasih!"
Veronica tertawa kecil dan tersenyum lebar mendengar janji polos itu, hatinya menghangat tanpa ia sadari, lalu ia mengacak pelan rambut Rina dengan ujung jarinya. "Baiklah, aku akan menunggu hari itu, Rina. Jangan lupa makan yang banyak supaya cepat besar. Makan banyak itu penting sekali, aku sangat tahu itu." Emma yang berdiri di belakangnya terbatuk kecil menahan tawa, sementara ibu Rina membungkuk sekali lagi dengan mata berkaca-kaca penuh syukur.
Count Regurd mengantar mereka sampai ke kereta dan membungkuk dalam-dalam. "Atas nama seluruh warga Skypia, saya mengucapkan terima kasih, Nyonya Duchess. Kami berutang budi pada Anda hari ini." Veronica hanya mengangguk dengan canggung sambil menggenggam bunganya erat-erat, pipinya sedikit memerah, tidak terbiasa menerima ucapan sebesar itu. Setelah memastikan keadaan para pekerja sudah cukup stabil, rombongan kembali menaiki kereta kuda untuk pulang. Roda kereta mulai bergulir menuruni jalan berbatu. Para warga berdiri berjajar di tepi jalan mengiringi kepergian mereka, sebagian melambaikan tangan, sebagian lagi membungkuk dalam-dalam, dan Rina melompat-lompat sambil melambai paling heboh di barisan depan dengan bunga lain di tangannya. Tak ada lagi tatapan gemetar seperti saat mereka datang kemarin pagi. Di dalam kereta, Emma yang duduk di samping Veronica akhirnya tak tahan lagi untuk berbicara dengan mata berbinar. "Nyonya benar-benar hebat tadi, sampai-sampai para prajurit Count lupa bernapas. Monster sebesar itu Nyonya tarik hanya dengan satu tangan, lalu dalam sekejap mata sudah menjadi arang!"
"Itu bukan apa-apa, Emma," sahut Veronica sambil menyandarkan punggung dengan wajah bangga dan hidung sedikit terangkat, seolah baru saja memenangkan perlombaan makan. "Aku ini naga yang kuat. Kalau aku menggunakan wujud naga yang sebenarnya, monster seperti itu pasti hanya seperti menepuk nyamuk."
Erin yang duduk di seberang mereka sejak tadi hanya mendengarkan sambil menyesap air dari botol kecilnya, lalu tersenyum sambil menatap menantunya dengan sorot hangat. "Apa yang kau lakukan hari ini sungguh luar biasa, Veronica. Aku yakin setelah kejadian tadi, para warga akan memandangmu dengan cara yang berbeda, tanpa rasa takut lagi."
"Aku kan sudah berjanji akan menjaga mereka semua, Ibu, dan aku tidak pernah mengingkari janji," jawab Veronica sambil memutar-mutar bunga kuning di tangannya. "Aku akan menjaga wilayah Brune dari apa pun yang menyerang, siapa pun itu."
Erin tertawa pelan sambil menggeleng. "Tugas utamamu sebenarnya adalah membantu suamimu mengurus rumah, bukan menghajar monster. Tapi sudahlah, kekuatanmu itu memang kelebihanmu, dan kurasa tidak ada salahnya sesekali kau memakainya untuk melindungi orang lain. Hanya saja, lain kali beri tahu aku dulu sebelum terbang seperti tadi. Jantungku hampir copot, dan aku tidak mau mengalaminya lagi."
Mata Veronica langsung berbinar dan ia menggeser duduknya mendekat dengan senyum penuh harap. "Kalau begitu, Ibu, karena aku sudah melakukan hal sehebat itu, apakah Ibu akan membatalkan hukumanku nanti?"
"Oh?" Erin mengangkat sebelah alisnya dengan geli, bibirnya berkedut menahan senyum. "Jadi sekarang menantuku sudah belajar menawar hukuman dengan aksi penyelamatan?"
"Bukan begitu, Ibu!" sergah Veronica cepat sambil mengibaskan kedua tangannya dengan wajah memerah. "Aku menolong mereka bukan supaya bebas dari hukuman, tapi karena itu memang tugasku sebagai Duchess!"
Erin menatapnya lama tanpa berkedip, seakan sedang menimbang sesuatu yang berat, sementara Veronica menahan napas menunggu putusan itu, lalu senyumnya melembut dan ia mengulurkan tangan untuk mengelus rambut Veronica dengan penuh sayang. "Baiklah, aku akan melepaskanmu dari hukuman untuk saat ini."
"Sungguh?" Wajah Veronica langsung berseri-seri dan ia nyaris melompat dari kursinya, membayangkan bahwa ia tak perlu lagi menghabiskan malam-malam panjang yang menyiksa bersama buku sejarah kekaisaran yang tebal. Namun senyum itu tak bertahan lama, sebab Erin menambahkan dengan nada tenang, "Tapi kau tetap harus belajar dansa dan menyiapkan pesta untuk festival panen nanti."
Wajah bahagia Veronica lenyap seketika dan ia mengerang pelan, bahunya merosot dan bibirnya mengerucut, karena ia sadar bahwa bagi dirinya hukuman yang sesungguhnya memang belajar. Emma di sudut kereta menunduk dalam-dalam agar tawanya tidak terdengar, sementara Erin hanya terkekeh geli melihat perubahan raut wajah itu yang begitu cepat dan kembali mengelus kepala menantunya dengan lembut, seolah sedang menghibur seorang anak kecil. Dalam hatinya, ia mengakui bahwa terkadang ia masih bisa melihat sosok naga yang mengerikan dalam diri gadis itu, namun di sisi lain ia juga melihat seorang gadis yang begitu menggemaskan.