NovelToon NovelToon
Kaisar Naga Bela Diri

Kaisar Naga Bela Diri

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di ujung terlupakan Kerajaan Tianhe, seorang anak yatim bernama Qin Mu tumbuh di Desa Canglan bersama seorang pemabuk tua yang mengaku petani. Yang ia miliki hanyalah pisau berburu berkarat, liontin batu hitam peninggalan ayah yang tak pernah kembali, dan satu pertanyaan yang tak terjawab: mengapa ia ditinggalkan?

Ketika dunia kultivator yang selama ini hanya ia dengar sebagai legenda tiba-tiba menghancurkan kedamaian desanya, Qin Mu dipaksa memasuki jalan yang telah ditentukan jauh sebelum ia lahir jalan yang berlumuran darah, penuh pengkhianatan, dan dibayar dengan harga yang tak seorang pun mau membayarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 31

Rasa sakit adalah hal pertama yang menyadarkan Qin Mu bahwa dirinya belum mati.

Bukan rasa sakit yang membakar seperti saat tulangnya dihantam oleh Qi Cair milik Su Kuang di Paviliun Awan Emas, melainkan sensasi ngilu yang dingin dan menusuk seolah ribuan semut es sedang merayap di sepanjang retakan tulang rusuk dan menjahit kembali urat meridiannya yang koyak.

Di balik kelopak matanya yang masih berat, telinga tajam Qin Mu lebih dulu menangkap suara pertengkaran dari balik tirai bambu.

"Tidak masuk akal! Benar-benar orang tua gila yang tidak punya perasaan!"

Suara seorang pria tua yang cerewet dan bernada tinggi menggema di ruangan sebelah, disusul bunyi dentingan botol porselen yang diletakkan kasar ke atas meja kayu. "Dia menghilang entah ke mana selama berbulan-bulan, lalu begitu kembali di tengah malam, dia langsung mendobrak atap paviliunku, melemparkan bocah asing yang tulangnya nyaris jadi bubur ini ke atas ranjang, dan memaksaku mengeluarkan Cairan Sumsum Giok Seratus Tahun dari gudang pribadiku! Apa dia pikir tanaman spiritual di gunung ini tumbuh seperti rumput liar di pinggir selokan?!"

"Tetua Mu, kecilkan sedikit suara Anda," sahut suara lain suara seorang pemuda yang terdengar santai dan menahan tawa. "Meskipun Leluhur sudah kembali tidur ke Puncak Terlarang, kalau angin kebetulan membawa keluhan Anda sampai ke telinganya, bisa-bisa besok pagi tungku kesayangan Anda dipakai beliau untuk memanggang ubi lagi."

"Kau berani menakut-nakutiku, Bai He?! Bukannya cepat mengipas api tungku di luar, kau malah ikut mengoceh!" semprot pria tua yang dipanggil Tetua Mu itu dengan jengkel. "Sudah tiga hari tiga malam bocah ini berendam di dalam cairan obat. Detak jantungnya sudah stabil, tapi aneh sekali... setiap kali obatku masuk untuk menambal tulangnya yang retak, sumsum tulangnya sendiri justru menyedot esensi obat itu seperti binatang kelaparan! Aku belum pernah melihat fisik manusia yang sekejam ini terhadap tubuhnya sendiri!"

Di balik tirai bambu, jari tangan kiri Qin Mu yang terendam di dalam air obat bergerak perlahan.

Tiga hari?

Matanya yang hitam kelam terbuka tanpa suara.

Hal pertama yang dilihatnya adalah langit-langit kayu cendana yang bersih, tempat berkas-berkas cahaya matahari pagi menyusup masuk bersama kabut putih tipis yang beraroma ribuan tanaman obat segar. Udara di tempat ini begitu murni dan kaya akan energi spiritual jauh lebih pekat dibandingkan ruang kultivasi terbaik di Akademi Kekaisaran Tianhe maupun gua kristal di bawah Kota Cangzhou.

Tubuh Qin Mu saat ini sedang duduk terendam sebatas dada di dalam sebuah tong kayu besar berisi cairan hijau zamrud yang mulai memudar warnanya menjadi bening.

Refleks pertamanya sebagai seorang penyintas yang selalu diburu adalah meraba ke bagian dadanya dan punggungnya.

Bilah Kembar Taring Hantu, kantung penyimpan miliknya, serta pakaian hitamnya yang compang-camping tergeletak rapi di atas bangku kayu tepat di sebelah tong tidak ada satu pun yang diambil atau dibuka paksa. Sementara di dadanya, Cincin Giok Retak dan Pecahan Logam Hitam masih terikat aman di balik perban tebal yang membungkus tulang rusuknya.

Qin Mu memejamkan matanya sejenak, memeriksa kondisi bagian dalam tubuhnya.

Empat tulang rusuknya yang retak dan tulang lengan kanannya yang patah akibat pukulan dua ahli Foundation Establishment tiga malam lalu kini telah tersambung kembali. Lebih dari itu, persis seperti prinsip Sutra Penempaan Tulang Kehampaan kehancuran ekstrem di ambang kematian yang dipadukan dengan cairan obat tingkat tinggi di dalam tong ini telah memicu perombakan sumsum tulangnya ke tingkat yang lebih padat!

Meski meridiannya masih terasa sedikit perih dan kaku, pusaran Qi di dalam Dantiannya kini berputar jauh lebih berat dan stabil di Tahap Tengah Qi Gathering. Sementara di dasar bayangan tong kayu di bawahnya, ia bisa merasakan Klone Bayangannya sedang tertidur tenang memulihkan diri.

"Tetua Mu! Ketua Sekte mengirim pesan dari Puncak Awan Utama, meminta seluruh tetua balai berkumpul sekarang juga untuk membahas laporan dari Provinsi Cangzhou!"

Suara teriakan seorang pelayan dari luar halaman memotong keheningan pagi.

Di balik tirai bambu, Mu Qinghe Tetua Balai Alkimia yang berada di ranah Soul Transformation Awal itu mendengus kesal sambil merapikan jubahnya.

"Pasti urusan yang ditinggalkan Orang Tua Gila itu lagi! Bai He, jaga bocah di dalam tong itu. Kalau dia bangun, suruh dia minum semangkuk rebusan Akar Penenang Meridian di atas meja, lalu serahkan lempeng kayu yang ditinggalkan Leluhur itu padanya. Jangan biarkan dia menyentuh rak obatku sedikit pun!"

"Siap, Tetua!"

Langkah kaki Mu Qinghe menjauh dengan tergesa-gesa keluar dari paviliun.

Begitu langkah kaki sang tetua menghilang di kejauhan, pemuda bernama Bai He itu menyibakkan tirai bambu sambil menguap kecil dan membawa semangkuk obat hitam yang mengepulkan uap pahit. Bai He tampak berusia sekitar delapan belas atau sembilan belas tahun, berwajah ramah dengan jubah alkemis muda yang ujung lengannya penuh noda abu arang, dan memancarkan fluktuasi Qi yang matang di Puncak Foundation Establishment.

"Nah, kawan kecil yang membuat Tetua Mu kehilangan stok obat berharganya, sampai kapan kau mau berpura-pura pingsan—"

Kata-kata Bai He terhenti di tenggorokan.

Di dalam tong kayu, Qin Mu tidak sedang memejamkan mata. Pemuda berusia empat belas tahun itu sudah berdiri setengah badan dari dalam air obat, dan di tangan kirinya yang masih basah, sebilah Bilah Taring Hantu yang entah kapan telah ia sambar dari bangku samping sudah terhunus setengah inci dari sarungnya mengunci tepat ke arah garis leher Bai He dengan tatapan mata sedingin serigala yang terpojok!

Senyum santai di wajah Bai He sedikit membeku.

Meskipun ia berada di puncak Foundation Establishment satu ranah besar di atas Qin Mu dan tahu bahwa tebasan pemuda yang baru sembuh itu tidak akan bisa menembus pertahanan Qi Cairnya dengan mudah, namun niat membunuh yang murni dan dingin dari sepasang mata hitam Qin Mu membuat bulu kuduk sang alkemis muda meremang.

Itu bukan tatapan seorang murid perguruan bela diri biasa. Itu adalah tatapan seseorang yang baru saja merangkak keluar dari lautan mayat.

"Tenang, tenang! Kalau kau menumpahkan mangkuk obat ini, Tetua Mu benar-benar akan mengulitiku hidup-hidup," Bai He mengangkat kedua tangannya yang memegang mangkuk obat sambil tersenyum kecut, sama sekali tidak melepaskan tekanan Qi-nya agar tidak memicu pertarungan. "Kalau kami ingin membunuhmu, kami tidak perlu menghabiskan Cairan Sumsum Giok yang harganya setara dengan seribu Batu Roh untuk menyambung tulangmu selama tiga hari, bukan?"

Qin Mu menatap wajah Bai He selama tiga tarikan napas. Melihat tidak ada niat jahat maupun fluktuasi serangan dari pemuda alkemis itu, tangan kiri Qin Mu perlahan menurunkan bilahnya, meski belum menyarungkannya kembali.

"Di mana ini?" suara Qin Mu terdengar serak dan kering setelah tiga hari tidak berbicara. "Dan siapa kakek tua berpakaian rami yang membawaku dari Cangzhou?"

Bai He meletakkan mangkuk obat di meja samping, lalu mengambil sehelai jubah bersih dan sebuah lempeng kayu hitam berukir pola awan untuk diserahkan kepada Qin Mu.

"Selamat datang di Pegunungan Awan Sembilan Puncak markas Sekte Awan Langit," jawab Bai He sambil tersenyum lebar. "Saat ini kau berada di paviliun pemulihan antara Puncak Mata Air Kehidupan dan Puncak Seribu Tungku. Sedangkan kakek berpakaian gembel yang membawamu ke sini... yah, di seluruh dunia kultivasi ini, orang-orang memanggil beliau Orang Tua Gila, Leluhur Tertinggi sekte kami."

Qin Mu menerima jubah kering itu, melompat keluar dari tong air obat, dan mengenakannya dengan cepat di balik tirai.

Sekte Awan Langit. Orang Tua Gila, Qin Mu mengulang nama itu di dalam kepalanya. Ia teringat bagaimana kakek tua itu menghentikan waktu, meledakkan tetua Foundation Establishment Sekte Bayangan Darah hanya dengan satu jentikan jari, dan memaki Kaisar Tian Dao layaknya memarahi seorang bocah!

"Mengapa dia membawaku ke sini?" tanya Qin Mu datar sambil melihat lempeng kayu hitam di tangannya. Di lempeng itu tertulis dua kata sederhana: Murid Luar — Qin Mu.

"Soal apa yang ada di pikiran Leluhur, bahkan Ketua Sekte pun tidak pernah tahu," Bai He mengangkat bahunya. "Tiga malam lalu beliau hanya melemparmu ke sini, lalu berpesan bahwa begitu lukamu sembuh, kau harus tinggal di Puncak Murid dan memulai dari bawah sebagai Murid Luar tanpa perlakuan khusus. Tapi jujur saja, namamu sudah membuat penasaran separuh penghuni gunung karena selama puluhan tahun, Leluhur tidak pernah membawa satu pun orang luar masuk ke sekte."

Bai He menunjuk ke arah mangkuk obat di meja. "Minumlah selagi hangat. Namaku Bai He dari Balai Alkimia. Meski racikan ini rasanya seperti air cucian kaki, ini bagus untuk membersihkan sisa Qi asing yang sempat merusak meridianmu."

Qin Mu mengambil mangkuk itu dan mencium aromanya sejenak.

Berkat pengetahuan dari Warisan Alkimia dan Seribu Racun Luo Tua yang ada di kepalanya, hidung Qin Mu langsung mengenali komposisi di dalam mangkuk tersebut: Akar Penenang Meridian, Daun Embun Perak, dan sedikit Bubuk Tulang Teratai. Tidak ada racun, bahkan takaran pemurniannya sangat rapi dan bersih.

Tanpa ragu lagi, Qin Mu menenggak habis cairan pahit itu dalam sekali teguk.

Namun, tepat ketika Qin Mu meletakkan mangkuk kosong itu kembali ke meja—

DUAAAAR—!

Suara ledakan keras yang disertai kepulan asap merah muda tiba-tiba menggelegar dari arah halaman kebun obat di samping paviliun!

Tanah di bawah kaki mereka bergetar kecil, disusul oleh suara lengkingan belasan burung spiritual yang berhamburan terbang ke langit dan teriakan marah para penjaga kebun obat:

"Berhenti!! Xiao Mei! Kali ini kau meledakkan petak Rumput Api Ungu yang baru ditanam kemarin! Jangan lari!!"

Wajah Bai He yang tadinya santai langsung berubah pucat pasi. "Celaka! Leluhur kecil itu beraksi lagi saat Tetua Mu baru saja pergi!"

Belum sempat Bai He berlari ke pintu depan untuk mengunci palang kayu, jendela kayu di sisi kanan ruangan tempat Qin Mu berdiri tiba-tiba terbuka lebar dari luar!

Brak!

Sesosok bayangan kecil yang sangat lincah melompat masuk melewati jendela bagaikan kucing gunung, berputar sekali di udara tanpa mengeluarkan suara langkah kaki, lalu mendarat tepat di belakang meja tempat Qin Mu berdiri!

Itu adalah seorang gadis kecil berusia sekitar dua belas tahun.

Ia mengenakan pakaian latihan berwarna merah terang yang ujung lengan dan pipinya belepotan jelaga hitam bekas ledakan. Rambutnya diikat menjadi dua kuncir kuda yang bergoyang-goyang, dan di pelukannya terdapat seekor kelinci spiritual berbulu seputih salju yang sedang mengunyah sebatang akar tanaman obat langka dengan santai.

Meskipun usianya baru dua belas tahun, mata bulat gadis kecil itu bersinar sangat cerah, cerdik, dan nakal sementara fluktuasi Qi yang bocor sedikit dari tubuhnya justru membuat pupil mata Qin Mu mengecil: Puncak Qi Gathering!

Dua tahun lebih muda darinya, namun sudah berada di puncak Qi Gathering!

"Kakak Bai He! Kalau penjaga kebun bertanya, bilang saja tadi ada musang api liar yang lewat dan buang angin di petak obat!" bisik gadis kecil itu Xiao Mei sambil menempelkan jari telunjuknya yang kotor oleh abu ke bibirnya.

"Musang api kepalamu!" Bai He memegangi kepalanya yang mendadak pening. "Xiao Mei, kau tahu sendiri Tetua Mu baru saja pergi ke Puncak Awan Utama! Kalau dia kembali dan melihat petak Rumput Api Ungu-nya meledak, aku yang akan digantung di pohon depan gerbang!"

"Tenang saja, paling-paling aku tinggal bilang pada Kakek Buyut kalau Kakek Mu pelit memberi makan kelinciku," Xiao Mei menjulurkan lidahnya tanpa rasa bersalah sedikit pun, sebelum akhirnya mata bulatnya yang jernih bergeser dan berhenti tepat pada sosok Qin Mu yang berdiri diam di sebelahnya.

Xiao Mei memiringkan kepalanya, mengamati Qin Mu dari ujung rambut hingga ke sepasang Bilah Kembar Taring Hantu yang tergantung di pinggang pemuda itu.

"Eh? Jadi kau bocah yang dibawa pulang oleh Kakek Buyut tiga malam lalu itu?"

Xiao Mei melangkah mendekat satu tindak, mengendus-endus udara di sekitar Qin Mu seperti anak serigala yang penasaran. "Kata orang-orang di Puncak Murid, kau habis dikeroyok dua kultivator Foundation Establishment tapi tidak mati. Padahal kulihat-lihat, ranahmu baru di Tahap Tengah Qi Gathering bahkan masih lebih rendah dariku!"

Biasanya, setiap kali ada murid baru atau murid luar yang mendengar Xiao Mei berbicara seperti itu apalagi mengetahui bahwa gadis dua belas tahun ini adalah putri tunggal Ketua Sekte Xiao Ying sekaligus cicit kesayangan sang Leluhur Xiao Beichen mereka akan langsung membungkuk takut atau buru-buru memuji bakatnya.

Namun Qin Mu hanya menatap gadis kecil di depannya itu dengan tatapan datar, lalu pandangannya turun ke arah tangan kanan Xiao Mei yang menyembunyikan dua butir Buah Roh Api di balik bulu kelinci putihnya.

"Tangan kananmu gemetar sedikit, dan nadi di leher kelincimu berdenyut terlalu cepat," ucap Qin Mu dengan suara dingin tanpa ekspresi. "Kau tidak hanya meledakkan petak rumput di luar. Kau baru saja mencuri buah yang belum matang dari pohon yang dilindungi formasi panas, lalu menggunakan kelinci itu untuk menyerap hawa panasnya. Kalau kau tidak mengeluarkan buah itu dari balik bulu kelincimu dalam lima tarikan napas, kelinci itu akan mati kepanasan dan telapak tanganmu akan melepuh."

Senyum nakal di wajah Xiao Mei langsung membeku.

Mata bulat gadis dua belas tahun itu membelalak lebar karena terkejut. Sejak tadi ia memang merasakan telapak tangannya yang menyembunyikan buah curian itu terasa semakin panas seperti terbakar, namun ia menahannya karena gengsi di depan Bai He! Bagaimana mungkin bocah yang baru bangun dari koma ini bisa menebak semuanya hanya dengan sekali lirik?!

"Cepat keluarkan buahnya, Xiao Mei!" Bai He yang mendengar kata-kata Qin Mu langsung panik dan buru-buru mengambil sehelai kain es untuk membungkus kedua Buah Roh Api yang akhirnya dijatuhkan Xiao Mei dari balik pelukannya. Tangan kecil Xiao Mei memang sudah memerah karena hawa panas buah tersebut!

Xiao Mei meniup-niup telapak tangannya yang memerah sambil menatap Qin Mu dengan sorot mata yang berubah total tidak lagi memandang rendah, melainkan dipenuhi rasa penasaran yang menyala-nyala.

"Kau tidak takut padaku, dan matamu tajam sekali," ujar Xiao Mei sambil mengangkat dagunya yang mungil. "Siapa namamu? Mulai hari ini, kau ikut denganku saja! Di Sekte Awan Langit ini, selama kau menyebut namaku, Xiao Mei, tidak ada satu pun murid di Puncak Murid yang berani menyentuhmu!"

Qin Mu mengikat sarung bilah kembarnya ke punggung, mengambil lempeng kayu Murid Luar dari atas meja, dan berjalan melewati Xiao Mei menuju pintu keluar paviliun tanpa menoleh sedikit pun.

"Nama keluargamu dan perlindunganmu bukan milikku," ucap Qin Mu datar saat langkah kakinya menginjak ambang pintu yang bermandikan cahaya matahari pagi. "Di tempat asalku, orang yang berlindung di balik nama anak kecil adalah orang yang paling cepat mati."

Xiao Mei terpaku di tengah ruangan, mulutnya sedikit terbuka melihat punggung pemuda berjubah abu-abu itu melangkah keluar begitu saja mengabaikan tawarannya.

Seumur hidupnya di Sekte Awan Langit, semua orang selalu mengalah padanya atau berusaha mencari muka karena nama besar keluarganya. Ini adalah pertama kalinya seseorang menolak perlindungannya mentah-mentah tepat di depan hidungnya!

"Hei! Bocah sombong! Berhenti di sana! Aku belum selesai bicara denganmu!"

Xiao Mei menghentakkan kakinya dengan kesal namun matanya justru berbinar senang karena menemukan "mainan" baru yang tidak membosankan. Sambil memeluk kelincinya, ia hendak berlari mengejar Qin Mu keluar pintu.

Namun, tepat ketika kaki Qin Mu melangkah keluar ke halaman batu di depan paviliun, langkahnya terhenti.

Di luar gerbang halaman Puncak Mata Air Kehidupan, di bawah bayangan pohon pinus raksasa yang menghadap ke jembatan gantung menuju Puncak Murid, telah berdiri dua orang pemuda berseragam Sekte Awan Langit yang tampaknya sudah menunggu kemunculannya sejak pagi.

Pemuda di sebelah kiri bertubuh sangat besar dan gemuk seperti beruang gunung, sedang mengunyah bakpao daging berukuran raksasa dengan wajah polos (He Bao). Sedangkan pemuda di sebelah kanan bertubuh kurus dengan mata sipit yang bergerak lincah seperti pedagang pasar yang sedang menghitung koin di kepalanya (Liu Shan).

Begitu melihat Qin Mu keluar dengan memegang lempeng kayu hitam di tangannya, pemuda kurus bernama Liu Shan itu langsung melangkah maju sambil menggosok kedua telapak tangannya dan tersenyum penuh arti:

"Wah, akhirnya kau bangun juga, Saudara Baru Qin Mu! Perkenalkan, aku Liu Shan dan ini He Bao dari asrama timur Puncak Murid. Kami sengaja datang menjemputmu pagi ini untuk memberi tahu satu kabar buruk... sebelum kau bangun tadi, kamar jatahmu di Puncak Murid sudah dipakai oleh orang-orang dari kelompok senior murid luar, dan mereka bilang kalau bocah yang dibawa Leluhur ingin tidur di bawah atap malam ini, kau harus merebutnya sendiri di lapangan latihan!"

1
Liang Hou
pake Sreettt aja tor kalo ranting, sring! lebih cocok suara besi 🙏
Sang_Imajinasi: siap terimakasih sarannya
total 1 replies
Am Mi
up
ibarumbung
👍👍👍👍👍
ibarumbung
💪💪💪💪💪
ibarumbung
⭐⭐⭐⭐⭐
Asta Hariadi
bagus, ceritanya menarik
Sang_Imajinasi: Terima Kasih Bintang 5 nya 🙏
total 1 replies
Sang_Imajinasi
Halo Para Reader.

Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.

Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.

TERIMA KASIH.... ✌️
Sang_Imajinasi: oke lanjut 4 bab
total 4 replies
Budi Wahyono
biasanya tokoh jahat ketika mau mati,ada aja yg nyelametin...
ini enak nih gak bertele2,tinggal musuh yg lebih kuat udah nunggu
Begin Bae
/Determined/
Sang_Imajinasi: Terima Kasih Bintang 5 nya 🙏
total 1 replies
Sang_Imajinasi
Halo Para Reader.

Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.

Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.

TERIMA KASIH.... ✌️
ibarumbung
keren 👍👍👍👍👍
Sang_Imajinasi: Terima Kasih Bintang 5 nya 🙏
total 1 replies
ibarumbung
💪💪💪💪💪
ibarumbung
⭐⭐⭐⭐⭐
ibarumbung
👍👍👍👍👍
ibarumbung
💛💛💛💛💛
ibarumbung
💪💪💪💪💪
ibarumbung
⭐⭐⭐⭐⭐
ibarumbung
👍👍👍👍👍
ibarumbung
💛💛💛💛💛
ibarumbung
💪💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!