Serafina Olivia mencintai Ravin Haryaka Arthadipa sejak ia berusia 17 tahun. Pria yang setahun lebih tua darinya itu, merupakan anak dari rekan bisnis sang papa. Tumbuh dan besar di lingkungan yang sama, membuat Sera semakin menyukai Ravin. Hingga suatu hari, rencana perjodohan dua keluarga pun terdengar. Tanpa berpikir dua kali, Sera pun menerima perjodohan itu demi bisa hidup bersama pria pujaan hatinya. Bahagia hanya terasa di awal cerita. Semuanya berubah, saat rahasia hati Ravin terungkap. Pria itu tidak pernah mencintai Sera. Hatinya hanya untuk wanita lain. Di tengah lelah menanti cinta Ravin yang tak kunjung berlabuh padanya. Sera pun di hadapkan pada dua pilihan. Bertahan dalam ketidakpastian dan sakit hati. Atau pergi untuk membebaskan hati dengan cinta yang baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Hari Pernikahan Sera Dan Ravin.
Serafina Olivia merasa sangat bahagia bisa menikah dengan Ravin Haryaka Arthadipa. Pria yang menjadi cinta pertamanya sejak berusia 17 tahun, dan saat masih duduk di bangku sekolah menengah atas kala itu.
Ravin bukanlah orang asing untuk Serafina. Mereka tumbuh di lingkungan yang sama. Hidup bertetangga, serta menjalin hubungan kerja sama bisnis sejak lama.
Cinta yang Sera pendam selama hampir sepuluh tahun, akhirnya bersambut ketika sang papa — Bayu Mahendra menerima perjodohan dari keluarga Arthadipa.
Tentu Sera tidak berpikir dua kali untuk mempertimbangkan perjodohan itu. Impiannya hidup bersama Ravin akhirnya terwujud.
Ketika sang papa bertanya, gadis berusia 27 tahun itu pun dengan mantap memberikan jawaban.
“Aku setuju, pa.”
Dan hari ini, Sera pun telah resmi menyandang status sebagai istri dari Ravin Haryaka Arthadipa.
Senyum tak pernah luntur dari wajah cantik Sera. Kebahagiaan telah ia rasakan sejak hari pertama perjodohan ini di kumandangkan.
“Apa kamu lelah?” Tanya Ravin pada Sera yang sejak tadi berdiri di sampingnya.
Mereka tengah berdiri di atas pelaminan. Menyambut para tamu yang datang memberikan ucapan selamat.
“Tidak, kak.” Jawab Sera dengan penuh senyuman. Meski nyatanya gadis itu merasa lelah. Namun demi bisa berdiri di pelaminan bersama Ravin, ia pun menyangkalnya.
Sera memang memanggil sang suami dengan sebutan Kak Ravin. Karena pria itu setahun lebih tua darinya.
“Tamunya masih banyak. Para kolega ku baru datang setengah. Belum lagi, para kolega keluarga kamu. Duduk saja dulu.” Ucap Ravin lagi.
Ravin Haryaka Arthadipa, pria berusia 28 tahun itu kini tengah menjabat sebagai Direktur Utama dari Artha Mandiri Group. Menggantikan sang papa — Rajendra Arthadipa, yang terkena stroke beberapa bulan lalu.
Sementara Serafina Olivia, gadis berusia 27 tahun itu juga bekerja sebagai Manager Keuangan di perusahaan sang papa — Mahendra Corporation.
Tentu para tamu undangan yang datang tidaklah sedikit. Kedua keluarga memiliki nama besar dan menjalin banyak hubungan kerja sama.
Ravin memberikan isyarat kepada sang mama — Irene Arthadipa, yang berada di salah satu meja, agar membawakan minuman untuk mereka.
Sang mama dengan cepat meminta salah satu pekerja di tempat minuman untuk membawakan sepasang suami istri itu jus jeruk.
“Mereka sangat serasi ya, Jeng Safina.” Ucap mama Irene kepada mama Safina — mama Sera, yang duduk di sebelahnya.
Mama Safina tersenyum tipis. Sang putri memang cocok bersanding dengan Ravin. Tetapi, wanita paruh baya itu tidak pernah merestui hubungan keduanya.
Entah kenapa, mama Safina merasa jika Sera dan Ravin lebih cocok menjadi adik kakak. Bukan pasangan suami istri. Ia tidak pernah melihat binar cinta di mata Ravin untuk Sera.
“Semoga mereka bisa menjadi pasangan suami istri yang bahagia. Apalagi sudah saling mengenal sejak kecil.” Imbuh mama Irene.
Mama Safina hanya menanggapi dengan anggukkan pelan.
Entah akan seperti apa rumah tangga Sera dan Ravin kedepannya? Semoga saja, tidak ada yang tersakiti diantara mereka.
.
.
.
Acara resepsi itu selesai pukul sepuluh malam. Ravin membawa Sera ke salah satu kamar hotel yang sudah di pesan untuk mereka berdua. Dengan diantar oleh seorang petugas hotel.
Serafina kembali tersenyum senang. Malam ini, ia dan Ravin akan menghabiskan malam yang begitu panjang untuk mereka berdua.
“Silahkan masuk, bapak dan ibu Arthadipa.” Ucap petugas hotel itu.
Ravin mengangguk pelan. Ia pun menuntun sang istri untuk masuk lebih dulu.
Mata Sera berbinar melihat dekorasi ruang tamu kamar hotel itu. Di penuhi banyak rangkaian bunga dan balon bernuasa putih dan merah muda.
“Cantik sekali.” Ucap gadis itu.
“Kamu suka dekorasinya?” Tanya Ravin sembari melepas jas yang ia gunakan.
“Sangat suka, kak. Terima kasih.” Ucap Sera dengan tulus. Warna merah muda adalah warna kesukaannya. Dan Ravin, tanpa banyak protes pun menuruti keinginan gadis itu.
“Kamu bersihkan diri lebih dulu.” Ucap Ravin kemudian.
Sera mengangguk pelan. Ia pun melangkah menuju kamar.
Gadis itu kembali menyunggingkan sudut bibirnya, saat melihat di dalam kamar tidur juga sudah dihias dengan rangkaian bunga, serta balon berwarna merah muda.
“Akhirnya hari yang aku nantikan selama ini, terjadi juga dalam hidup.” Ucap Sera.
Gadis itu bergegas melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, agar Ravin tidak terlalu lama menunggunya.
Untung saja resleting gaun yang Sera gunakan berada di sisi sebelah kiri tubuhnya. Jadi, gadis itu tidak perlu meminta bantuan orang lain untuk membukanya.
Gadis itu menatap sejenak pantulan tubuh polosnya pada cermin wastafel. Pipinya bersemu merah, ketika bayangan yang tak senonoh hadir di benaknya.
Dengan cepat Sera mengggelengkan kepalanya.
“Apa yang kamu pikirkan, Sera?” Ia pun memukul pelan keningnya.
“Aku harus cepat. Jangan sampai kak Ravin menunggu kebosanan.” Sera bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Sera melakukan ritual mandi besar. Ia harus tampil dengan segar dan bersih di hadapan sang suami.
Setengah jam kemudian, Sera pun selesai dengan kegiatannya di dalam kamar mandi.
“Apa kak Ravin masih ada di ruang tamu?” Monolog Sera ketika tak melihat sang suami di dalam kamar.
Dengan berbalut jubah mandi, dan sebuah handuk yang menggulung rambut basahnya, Sera pun keluar dari kamar untuk melihat keberadaan sang suami.
Dan benar saja, Ravin masih berada di ruang tamu. Duduk atas sofa, dan tengah serius menatap layar ponselnya.
“Kak.” Panggil Sera dari ambang pintu.
“Hmm.” Ravin menanggapi, namun tak menoleh sedikit pun ke arah sang istri.
“Kak, aku sudah selesai mandi.” Ucap Sera lagi.
Ravin pun berdiri dari tempat duduknya. Tetapi, bukan untuk menghampiri sang istri.
Pria itu justru melakukan panggilan telepon. “Kamu serius?” Tanya Ravin dengan wajah yang begitu tegang.
Sera pun ikut mengerutkan keningnya.
Entah apa yang di katakan oleh lawan bicara pria itu, Sera sama sekali tak dapat mendengarnya.
“Baiklah. Saya akan segera kesana.” Ucap Ravin kemudian memutuskan panggilan telepon.
“Kak.” Panggil Sera sekali lagi.
Sang suami yang seolah tak menyadari keberadaannya, pun menoleh ke arah gadis itu.
“Kakak mau pergi kemana?” Tanya Sera sembari berjalan mendekat.
Ravin menghela nafas kasar. Ia pun mendekati sang istri.
“Aku harus keluar sebentar, Ra. Ada hal penting yang harus aku urus.” Ucap pria itu.
“Urusan penting apa? Haruskah pergi sekarang? Ini ‘kan malam pernikahan kita, kak.” Tanya gadis itu penasaran.
“Hmm. Harus sekarang. Aku janji akan kembali secepatnya.” Pria itu melabuhkan kecupan singkat di atas kening sang istri.
“Hati - hati, kak.” Ucap Sera.
Ravin mengangguk pelan. Ia kemudian melangkah meninggalkan sang istri sendiri di dalam kamar hotel bertipe President Suite Room itu.
“Memangnya ada urusan apa? Hingga kak Ravin terlihat begitu cemas, dan terburu - buru?”