Tiga tahun menjadi istri Anugrah Pratama, Cynara hanya dianggap sebagai beban. Pernikahan mereka bahkan disembunyikan karena Anugrah mengaku lajang demi mendapatkan pekerjaan. Ketika Anugrah memilih membuka hati untuk perempuan lain, Cynara menyerah dan perceraian pun terjadi.
Dua bulan kemudian, Cynara mengetahui dirinya hamil.
Lima tahun berlalu. Cynara kembali sebagai pemimpin Narendra Group, bersama putranya, Naren. Takdir mempertemukannya kembali dengan Anugrah, kini menjadi seorang manajer di perusahaan besar. Namun, bukan Anugrah yang akan mengubah hidupnya.
Ada Alvin Mahendra, CEO dingin yang diam-diam menyimpan luka kehilangan istrinya.
Pertemuan mereka membuka kembali rahasia masa lalu yang seharusnya terkubur.
#anakrahasia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Aku Bisa Menjalaninya
Pagi itu, Cynara bangun lebih awal. Bukan untuk menyiapkan sarapan. Bukan untuk mencuci pakaian keluarga ini. Bukan pula untuk memastikan Liam sudah makan atau belum.
Hari ini, ia memilih untuk pergi. Cynara membuka lemari dan mengambil koper yang selama tiga tahun hampir tidak pernah digunakannya.
Satu per satu pakaian dimasukkan. Tidak banyak. Hanya pakaian miliknya dan beberapa buku, dan laptop miliknya semenjak kuliah dulu. Yang terakhir, dokumen pribadi.
Dan sebuah kotak kecil berisi barang-barang yang memiliki kenangan dengan Anugrah. Kotak itu sempat dibuka. Di dalamnya ada foto pernikahan mereka.
Cynara menatap foto tersebut cukup lama. Dulu, ia berdiri di samping Anugrah dengan senyum paling bahagia yang pernah dimilikinya.
Sekarang, melihat foto itu justru membuat dadanya terasa sesak. Ia mengambil foto tersebut. Kemudian memasukkannya kembali ke dalam kotak. Bukan karena ingin menyimpannya sebagai kenangan. Melainkan karena ia belum cukup kuat untuk membuangnya.
Cynara menutup koper. Selesai. Ia memandang kamar itu untuk terakhir kalinya.
Tiga tahun.
Ternyata selama itu ia tinggal di tempat yang tidak pernah benar-benar menganggapnya sebagai keluarga.
.
.
Ketika Cynara keluar membawa koper, Danisha sedang memberikan sarapan kepada Liam.
Perempuan itu langsung menoleh. “Kau mau pergi?”
Cynara hanya menjawab dengan datar. “Iya.”
“Sekarang?”
“Sekarang.”
Danisha melihat koper besar di tangan Cynara.
Kemudian tersenyum tipis. “Jangan menyesal nanti.”
Cynara tidak menjawab.
Ibu mertuanya keluar dari dapur. “Kau benar-benar akan pergi?”
“Iya, Bu.”
“Setelah itu jangan kembali meminta bantuan keluarga ini.”
Cynara kembali memasang wajah datarnya. “Tidak akan.”
Ibu mertuanya tampak sedikit terkejut. Mungkin ia berharap Cynara akan memohon. Meminta agar diizinkan tetap tinggal. Tetapi Cynara sudah tidak memiliki alasan untuk melakukan itu.
Liam tiba-tiba turun dari kursinya. “Tante!”
Bocah itu berlari mendekat. Cynara langsung berlutut.
Liam memeluk lehernya.“Tante mau pergi?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Cynara tersenyum sedih. “Karena Tante harus pulang ke rumah Tante.”
“Liam ikut.”
Cynara menggeleng.
“Tidak bisa.”
“Kenapa?”
Cynara mengusap rambutnya. “Liam harus bersama Mama.”
Liam mulai cemberut. “Tante jangan pergi.”
Hati Cynara mencelos. Bagaimanapun, Liam bukan penyebab semua ini. Bocah itu justru salah satu alasan mengapa selama ini Cynara bertahan di rumah bagaikan neraka ini.
Ia memeluk Liam untuk terakhir kalinya. “Tante sayang Liam.”
“Aku juga sayang Tante.”
Cynara tersenyum. Kemudian ia bangkit kembali.
Pada saat yang sama, Anugrah turun dari tangga. Tatapan mereka bertemu. Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara.
Cynara menggenggam gagang kopernya. “Mas.”
Anugrah menatapnya. “Kau benar-benar pergi?”
Cynara mengangguk. “Iya.”
“Kau mau tinggal di mana?”
“Sudah ada tempat.”
Anugrah mengerutkan kening.
“Kau sudah menyiapkannya?”
“Sudah.” Dia sendiri sebenarnya tidak ingin menjelaskan lebih jauh.
Tiga tahun terakhir, Anugrah selalu mengira Cynara tidak memiliki apa-apa selain dirinya. Hari ini, biarlah dia tetap berpikir seperti itu. Cynara berjalan menuju pintu. Namun, sebelum keluar, ia berhenti.
“Mas, aku pergi.”
Anugrah masih menatapnya.
“Sampai jumpa saat di pengadilan nanti.” Setelah itu, Cynara menarik kopernya. Tidak menunggu jawaban. Tidak menoleh lagi.
Pintu rumah tertutup di belakangnya. Sebuah taksi membawanya menjauh dari rumah yang selama tiga tahun disebutnya sebagai rumah.
Cynara duduk di kursi belakang. Untuk beberapa menit, ia hanya memandangi jalan dari balik jendela. Kemudian ponselnya bergetar.
Bukan pesan dari Anugrah. Bukan dari keluarga mertuanya. Melainkan notifikasi dari aplikasi perdagangan saham.
Cynara membukanya. Beberapa angka bergerak di layar. Ia menghela napas.
Sejak tiga tahun lalu, ketika Anugrah memintanya berhenti bekerja setelah menikah, Cynara memang tidak benar-benar berhenti melakukan apa pun.
Ia hanya tidak pernah memberitahukan satu hal kepada suaminya. Cynara adalah seorang trader. Awalnya, ia hanya menggunakan sebagian kecil uang tabungannya.
Ia belajar sendiri. Membaca laporan perusahaan. Mempelajari pergerakan pasar. Mengikuti perkembangan ekonomi.
Tidak selalu berhasil. Ada keuntungan. Ada pula kerugian. Namun, selama tiga tahun itu, ia terus belajar.
Dan sedikit demi sedikit, portofolionya berkembang. Bahkan ada satu perusahaan yang sahamnya menjadi salah satu kepemilikan terbesarnya.
JM Corporation.
Perusahaan besar yang namanya hampir setiap hari muncul dalam berita bisnis. Perusahaan tempat suaminya bekerja.
Cynara membuka laporan portofolionya. Angka yang tertera di sana membuatnya tersenyum tipis. Tidak fantastis. Tetapi cukup.
Cukup untuk membayar tempat tinggal. Cukup untuk memulai hidup baru. Dan cukup untuk membuktikan bahwa dirinya tidak benar-benar tidak punya apa-apa.
Cynara mengunci layar ponsel. Ia menyandarkan kepala ke kursi. Selama ini keluarganya menganggap dirinya hanya perempuan yang menumpang.
Anugrah menganggap dirinya tidak mampu hidup tanpa dirinya. Mereka semua salah. Cynara memang pernah berhenti bekerja. Tetapi ia tidak pernah berhenti membangun kehidupannya sendiri. Tatapannya kembali mengarah ke luar jendela.
“Mulai hari ini…” Ia menarik napas. “…aku hanya akan bertanggung jawab atas hidupku sendiri.”
Tanpa Cynara sadari, keputusan untuk meninggalkan rumah itu akan menjadi awal dari kehidupan yang sama sekali berbeda.
*bersambung*