Alya Kirana menerima Arga Pratama sebagai suaminya dengan harapan membangun rumah tangga yang bahagia. Namun, dia tidak pernah tahu bahwa sebelum menikah dengannya, Arga telah lebih dahulu memiliki seorang istri bernama Nadira Permata. Di antara rahasia yang disembunyikan, janji yang tak kunjung ditepati, dan cinta yang terbagi, Alya dihadapkan pada kenyataan pahit yang tak pernah dia bayangkan. Dia tidak ingin menjadi musuh bagi perempuan lain. Namun, apakah itu berarti dia harus mengorbankan kebahagiaannya sendiri? Sementara Arga berusaha mempertahankan dua pernikahannya, seorang pria dari masa lalu Alya kembali hadir membawa perasaan yang tak pernah benar-benar padam. Ketika cinta terasa manis di awal, siapa yang harus menanggung pahitnya di akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nittagiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Pilihan
Malam mulai turun ketika Arga meninggalkan perusahaan. Sebagian besar pekerjaannya sudah selesai, sehingga ia memutuskan menepati janjinya untuk datang ke apartemen Alya.
Sepanjang perjalanan, ia memikirkan apa yang akan dibicarakannya dengan perempuan itu. Sebenarnya, tidak ada persoalan khusus yang ingin ia bahas. Ia hanya merasa sudah waktunya mereka berbicara lebih terbuka mengenai kehidupan pernikahan yang selama ini berjalan tanpa banyak komunikasi.
Ketika tiba di apartemen, Arga mengetuk pintu dan menunggu beberapa saat.
Alya membukakan pintu. Perempuan itu mengenakan gamis dan hijab andalannya. Alya sudah memutuskan, ia tidak akan memanjakan mata Arga dengan penampilan layaknya seorang istri yang menunggu suaminya pulang.
Rasa malu saat malam pengantin masih terngiang di dalam ingatannya. Ia yang berusaha berdandan, mengenakan piyama yang dengan belahan di mana-mana, hanya untuk ditunjukan pada Arga. Namun, malam itu juatru ia merasa kehilangan harga dirinya sendiri. Bagaimana tidak, ia sibuk menampilkan yang terbaik di hadapan Arga, sementara suaminya ini sibuk menenangkan wanita lain.
“Mas sudah datang,” ucap Alya tenang.
Arga mengangguk. “Iya. Kamu sudah makan malam?”
“Sudah. Mas mau makan? Aku bisa menyiapkan sesuatu.”
“Nggak usah. Aku sudah makan di kantor.”
Alya mempersilakannya masuk, lalu menutup pintu. Ia mengambil segelas air putih dan meletakkannya di meja ruang tengah sebelum duduk di hadapan Arga.
Tidak ada kecanggungan berlebihan di wajahnya. Alya memperlakukan kedatangan Arga sebagaimana ia akan menyambut tamu yang memang sudah berjanji datang.
Arga memperhatikan sikap istrinya sebentar sebelum akhirnya membuka percakapan. “Aku merasa kita perlu membicarakan pernikahan kita.”
Alya mengangguk. “Silakan, Mas. Aku juga punya sesuatu yang ingin kusampaikan.”
Arga mempersilakannya berbicara lebih dahulu.
Alya menatapnya dengan tenang. “Aku ingin kita memahami hubungan ini dengan jelas. Aku menerima pernikahan kita dan akan menjalankan tanggung jawabku sebagai istrimu. Aku akan mengurus rumah, memasak, dan memenuhi kebutuhanmu selama kamu tinggal di sini. Kalau ada keperluanmu yang bisa kubantu, aku akan melakukannya.”
Ia berhenti sebentar, memastikan Arga mendengarkan setiap perkataannya.
“Tapi aku ingin kita menjalani pernikahan ini seperti teman. Aku tidak ingin menggantungkan kebahagiaanku pada perasaanmu. Aku juga tidak ingin memaksakan diriku untuk mencintaimu.”
Arga terdiam. Ia tidak menyangka Alya akan menyampaikan pendiriannya secara langsung dan begitu tenang. “Apa kamu memang tidak ingin mencintaiku?” tanyanya.
“Bukan begitu, Mas. Aku memilih untuk tidak membiarkan diriku berharap pada sesuatu yang belum tentu bisa kudapatkan.”
Alya merapikan posisi duduknya sebelum melanjutkan.
“Malam pertama kita sudah cukup membuatku memahami posisiku dalam pernikahan ini. Aku tidak ingin mengulang kesalahan dengan memberikan seluruh perasaanku kepada seseorang yang belum tentu bisa membalasnya.”
Tidak ada nada menyalahkan dalam suaranya. Alya hanya menyampaikan kenyataan sebagaimana yang ia pahami.
“Aku memilih bertahan karena mempertimbangkan kedua keluarga kita. Aku tidak ingin pernikahan ini menjadi alasan hubungan mereka rusak. Jadi, selama kita bisa saling menghormati, aku akan menjalani bagian tanggung jawabku dengan baik.”
Arga menunduk sesaat. Ia tahu malam pertama mereka bukan kenangan yang menyenangkan bagi Alya. Namun, mendengar perempuan itu membicarakannya dengan tenang justru membuatnya sulit menemukan jawaban.
Alya kemudian melanjutkan, masih dengan nada yang sama.
“Kalau Mas ingin aku menjalani pernikahan ini sebagaimana yang Mas inginkan, boleh. Aku bisa memberikan diriku, kehormatanku, seluruh hati dan cinta yang aku punya untuk Mas.”
Arga mengangkat wajahnya.
“Tapi aku ingin hanya ada aku dalam pernikahan ini. Tidak ada perempuan lain, Mas. Jika Mas ingin aku menjadi istrimu sepenuhnya, aku bisa melakukannya. Aku bisa memberikan seluruh komitmenku untuk pernikahan ini. Tapi aku tidak bisa melakukannya jika Mas masih ingin mempertahankan perempuan lain dalam kehidupan pernikahan kita.”
Ruangan itu hening beberapa saat. Arga memahami siapa yang dimaksud Alya. Ia tidak perlu menyebut nama Nadira untuk membuat maksudnya jelas.
“Kamu ingin aku memilih?” tanyanya akhirnya.
“Aku tidak sedang memaksamu memilih malam ini,” jawab Alya. “Aku hanya ingin Mas memahami bahwa aku tidak akan berpura-pura menjadi istri yang bahagia berbagi suami. Kalau Mas ingin kita menjalani hubungan seperti teman, aku bisa menerima itu. Tapi kalau Mas menginginkan pernikahan yang utuh, aku hanya bersedia menjalaninya jika memang hanya ada kita berdua.”
Alya tidak menambahkan apa-apa lagi. Baginya, hal yang perlu disampaikan sudah cukup jelas.
Arga menyandarkan punggungnya ke sofa. Selama ini, ia terbiasa memikirkan bagaimana mempertahankan hubungannya dengan Nadira tanpa harus kehilangan kestabilan hubungan kedua keluarga. Ia juga menganggap Alya akan menerima keadaan selama kebutuhan hidupnya terpenuhi.
Namun, malam itu Alya menjelaskan bahwa uang dan tanggung jawab sehari-hari bukanlah satu-satunya hal yang menentukan bagaimana ia akan menjalani pernikahan mereka.
Alya tidak menuntut cinta. Ia bahkan bersedia menjalani kehidupan bersama Arga sebagai teman, selama keduanya saling menghormati.
Tetapi ia juga tidak bersedia menyerahkan seluruh dirinya dalam pernikahan yang harus dibaginya dengan perempuan lain.
“Aku perlu memikirkan perkataanmu,” kata Arga setelah beberapa saat.
Alya mengangguk. “Baiklah, Mas. Aku tidak meminta Mas memberikan jawaban sekarang.”
Arga menatap perempuan di hadapannya. Ia datang malam itu dengan niat membicarakan hubungan mereka, tetapi ternyata Alya sudah memiliki pendirian yang jelas.
“Ada satu hal lagi,” ucap Alya sebelum Arga sempat melanjutkan.
“Apa?”
“Aku akan tetap menjalankan tanggung jawabku sebagai istri. Kalau Mas datang ke sini, aku akan menyambut Mas dengan baik. Aku akan mengurus kebutuhan rumah tangga kita sebagaimana mestinya. Dan mengenai uang yang Mas berikan, aku menerimanya sebagai bagian dari tanggung jawab Mas terhadapku. Kita tidak perlu berpura-pura bahwa semua itu adalah bentuk cinta.”
Arga tidak segera menjawab.
Alya berdiri untuk mengambil gelas kosong di meja, kemudian membawanya ke dapur. Setelah kembali, ia bertanya apakah Arga masih ingin minum.
Sikapnya tidak berubah. Tidak ada kemarahan, tidak ada tuntutan tambahan, dan tidak ada usaha membuat Arga merasa bersalah.
Justru karena itulah Arga memahami bahwa Alya tidak sedang mengucapkan semua itu untuk mengujinya.
Perempuan itu benar-benar sudah menentukan bagaimana ia akan menjalani pernikahan mereka.
Malam semakin larut. Setelah beberapa saat berbicara tentang hal-hal praktis mengenai apartemen dan kebutuhan rumah tangga, Arga akhirnya bersiap pulang.
Alya mengantarnya sampai ke pintu.
“Hati-hati di jalan, Mas.”
Arga mengangguk. “Iya.”
Ia sempat ingin mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya mengurungkan niatnya. Setelah berpamitan, ia meninggalkan apartemen dan berjalan menuju lift.
Di dalam mobil, Arga duduk beberapa saat sebelum menyalakan mesin. Ia masih mencintai Nadira. Perasaan itu tidak berubah hanya karena percakapan malam ini. Namun, sekarang ia mengetahui dengan jelas bahwa Alya tidak akan memberikan seluruh dirinya jika ia tetap mempertahankan hubungan dengan perempuan lain.
Kali ini, Arga tidak bisa lagi menganggap pernikahannya dengan Alya sebagai urusan yang dapat dibiarkannya berjalan tanpa keputusan. Ia harus menentukan bagaimana pernikahan itu akan dijalani. Dan apa pun pilihannya nanti, ia tahu bahwa Alya sudah menyampaikan pendiriannya dengan jelas.