Aku Laila, santriwati hafizah yang dianggap calon ustadzah. Malam itu, tangan yang biasa memegang tasbih merobek kerudungku di ruang khusus pondok. Aku lapor, aku malah diusir dan dibilang fitnah kyai.
Aku kabur ke Seruyan, melepas hijabku, dan menyamar jadi cewek nakal demi satu tujuan: membongkar topeng Kyai Rahman, sugar daddy berkedok agama yang sudah menghancurkan banyak santriwati.
"Tuhan, izinkan aku berdosa sekali saja, untuk membuka dosa orang suci."
Dengan HP jadul dan nyali yang tersisa, ia masuk ke dalam lingkarannya. Ia merekam, mengumpulkan bukti transfer, chat mesum berkedok dalil, dan daftar korban lain yang jumlahnya belasan.
Tujuannya cuma satu: naik ke panggung pengajian akbar yang dihadiri ribuan orang, dan memutar semua kebusukan itu di depan mata sang kyai.
Mampukah seorang santriwati yang sudah dilepas hijabnya mengalahkan seorang kyai yang dianggap wali?
Atau justru Laila yang akan hancur untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ulva k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 26
Aku tidak tidur.
HP kusam itu aku taruh di lantai. Layar masih nyala. Foto peci putih bersih itu masih di situ.
Kyai Rahman. Pondok Al-Hidayah.
Bagaimana dia dapat nomor ku? Nomor ini baru aku beli di counter dekat Terminal Kampung Rambutan hari pertama turun. Nomor Kalimantan ku yang lama sudah aku buang di tong sampah terminal, takut dilacak Alia dari kos pink pudar.
Aku buka lagi WA itu. Centang dua biru. Berarti dia tau aku sudah baca.
Aku ketik, hapus. Ketik lagi, hapus.
Kalau aku blokir, dia akan cari cara lain. Orang kayak Kyai Rahman tidak pernah berhenti kalau belum dapat.
Kalau aku balas, dia menang.
Akhirnya aku balas satu kata:
Siapa?
Langsung dibalas. Cepat sekali. Seolah dia pegang HP menunggu.
Laila, ini Kyai Rahman. Peci putih yang kamu lihat tiap hari di pondok. Kamu lupa suara adzan ku? Pulang. Ayah kamu sakit.
Ayah sakit. Kalimat yang paling gampang buat anak rantau panik.
Aku langsung telepon Bapak. Nomor HP butut Bapak.
Tut... tut... tidak diangkat. Tiga kali aku telepon. Tidak diangkat.
Jam 9.30 malam. sekarang jam 10.30 malam. Bapak biasanya sudah tidur jam 8. Pintu rumah terbuka lebar, tidak digembok.
Aku telepon lagi. Baru diangkat.
"Halo? Laila?"
Suara Bapak ngantuk.
"Pak, Bapak sakit?
"Hah? Tidak, Laila. Bapak sehat. Kenapa?"
Dada ku lega, tapi tangan ku tambah dingin. Jadi Kyai Rahman bohong.
"Pak, kalau ada orang pakai peci putih datang ke rumah, jangan dibuka pintunya ya, Pak. Bilang Laila tidak ada."
Bapak diam lama. "Kyai Rahman ya, Laila?"
Bapak tau.
"Pak, Bapak simpan flashdisk merah baik-baik ya. Jangan kasih siapa-siapa."
"Iya, Laila. Kotak kayu Bapak kunci sekarang. Tidak kayak dulu terbuka."
Telepon putus.
Aku lihat lagi WA Kyai Rahman. Dia kirim foto.
Foto rumah ku.
Foto itu baru. Hari ini. Karena di foto ada ember biru yang baru Bapak beli minggu lalu, yang aku lihat di video call.
Berarti ada orang disuruh Kyai Rahman Foto rumah ku.
Aku gemetar.
Langsung aku screenshot, aku kirim ke Arfan. Jam 9.40 malam. Aku tidak tau kenapa ke Arfan. Padahal baru kenal 2 minggu. Tapi cuma dia yang baik di Jakarta.
Kak, maaf ganggu malam. Ini orang ganggu saya terus dari kampung. Dia kirim foto rumah Bapak saya.
Tidak sampai 2 menit, Arfan balas. Telpon, bukan WA.
"Laila, kamu di kos? Kunci pintu. Jangan keluar. Saya kesana sekarang."
"Kak, jangan. Sudah malam. Gang sepi."
"Diam di kos. 10 menit saya sampai."
Aku kunci pintu kos. Pintu triplek tipis yang kalau didobrak bisa jebol. Aku taruh kursi di belakang pintu.
Di luar gang, suara motor Arfan lagi. Kali ini ngebut.
Tok tok tok.
"Laila, ini Arfan."
Aku buka. Arfan masih pakai kemeja tadi, tapi sekarang pakai jaket hitam. Napasnya ngos-ngosan.
Dia lihat HP ku. Lihat foto rumah papan ku. Lihat foto peci putih bersih.
Mukanya berubah.
"Laila, ini Kyai di pondok,ini kyai sekolah kamu dulu ya?
Aku angguk.
Arfan duduk di lantai kos ku, di atas kasur tipis.
"Laila, dengar. Di Jakarta, kalau ada yang teror WA, bisa lapor polisi. Tapi kalau dia di kampung kamu, susah. Satu cara,kamu jangan takut. Kalau kamu takut, dia menang."
"Dia punya foto rumah Bapak, Kak."
"Rumah Bapak kamu tidak akan kenapa-kenapa. Ayah kamu laki-laki. Dia berani. Kamu yang di sini, saya jaga. Mulai besok, kamu pulang kerja saya antar sampai gang. Tidak usah jalan kaki jam 8 malam lagi."
Untuk kedua kalinya, aku dibela laki-laki. Pertama ibu bela aku dari Bapak. Kedua sekarang Arfan bela aku dari Kyai Rahman.
Beda dengan Ustadz Mahmud yang cuma diam waktu aku diusir pondok.
Arfan ambil HP ku. Dia ketik, pakai jempolnya yang besar.
Dia balas WA Kyai Rahman:
Assalamualaikum Pak Kyai. Saya Arfan, manager PT. HIJAB BAROKAH Jakarta, tempat Laila kerja. Laila sekarang di bawah tanggung jawab saya. Kalau Bapak butuh Laila, hubungi saya. Jangan teror anak orang malam-malam. Terima kasih.
Lalu dia blokir nomor Kyai Rahman. Klik blokir. Merah.
"Udah. Selesai," dia bilang.
Sesimpel itu. Hal yang 1 jam aku takutkan, Arfan selesaikan dalam 10 detik.
Aku nangis. Kali ini air mata keluar. Tidak kayak di bus jam 6.30 yang kering. Kali ini basah, netes ke kasur tipis kos 500 ribu itu.
Arfan tidak pegang aku. Dia cuma kasih tisu dari saku jaketnya.
Jam 10.15 malam, Arfan pulang. Dia jalan kaki keluar gang, tuntun motornya, biar tidak berisik kos putri.
Aku kunci lagi pintu triplek. Lihat Al-Quran kecil di bawahnya ada amplop 500 ribu.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidur nyenyak di Jakarta tanpa mimpi kuburan ibu berlumpur merah.
Di luar, HP ku yang kusam sudah tidak ada WA peci putih bersih lagi. Hanya ada satu chat baru dari Arfan:
Sudah tidur? Lampu kos mu sudah mati. Saya baru sampai ruko. Besok jam 8 pagi saya jemput. Jangan jalan kaki lagi.
Aku balas:
Sudah, Kak. Terima kasih.
Lalu aku matikan HP. Dingin. Kayak flashdisk merah di kotak kayu.